Meski tidak terlalu rapat, gelap mulai menyulami malam. Udara bergerak lambat, terbebani oleh basah. Pucuk-pucuk daun waru di sepanjang jalan hanya mampu melambai layu. Menanggung lelah, mungkin. Atau, bisa juga, sedikit sebal dengan malam yang terlalu dini berasyik masyuk dengan sunyi.
Usai membalas anggukan mas penjaga pintu, aku mulai menjadi bagian dari kesunyian. Hanya saja, di jejalan dari kantor menuju tempat parkir, sepi tidak hadir dalam wujud suram menghitam. Ia lebih mirip gadis yang belajar dandan. Lampu-lampu mengapit sisi jalan, menyepuh pipinya. Menghadirkan cipratan warna kuning merona. Lurus aku menapaki bahu jalan, beberapa kaca gedung terlihat tetap menyala, menemani tiap petak langkahku mendekati tempat parkir.
‘Mas,’ bermula dari kelebat sebuah motor, sebuah suara menyapa. Tak ada siapa. Hanya tersisa aku di sini. Pastilah suara itu menyeru padaku. Aku menghentikan langkah. Mencoba mengenali sosok di atas sepeda motor yang juga berbalik kembali menujuku. Dari jarak ini, beberapa tapak lagi aku tiba di tempat parkir.
Senyum itu datang di saat aku belum jua mampu mengenalinya. Ketika bayangnya mulai mewujud, ia melepaskan genggaman di setang sepeda motornya. Tangannya terjulur. Senyumnya masih tetap terjaga.
‘Baru pulang, mas?’ wujud dia mulai menghadirkan makna. Tetapi, tetap saja, aku tidak mampu mengingat namanya. Seragam dan senyum itu yang mendekatkanku pada bayang identitas dirinya.
‘Iya. Banyak kerjaan.’
‘Masuk malam nih?’ balasku. Memoriku belum utuh. Meski bayangnya mulai mewujud, aku tak jua mampu mengambil satu nama untuk menyebutnya.
‘Lagi piket, mas. Persiapan menghadapi 28.’
28? Seragam petugas pengaman? Gedung DPR?
Simpuls otakku menata tiga deret kata yang seketika hadir tersebut. Merangkainya. Tak berapa lama, menyuguhkan sebuah makna.
‘Antisipasi demo, ya?’
‘Iya mas. Semoga tidak terjadi apa-apa.’
Detik itu, aku sudah mengingat sosoknya. Ia adalah petugas pengamanan dalam gedung Nusantara I DPR RI. Kami pernah berbincang. Di suatu sore. Di ruang kerjaku. Melihatnya terkantuk sendirian di kursi jaga, aku menawarinya kopi. Ternyata, ia banyak bicara juga.
‘Tidak kuliah?’ Aku ingat, ia pernah bercerita tentang mimpinya menyelesaikan kuliah.
‘Hari ini tidak ada jadwal, mas. Tapi besok mulai ujian semester. Ini juga bawa buku buat belajar.’ Ia menunduk. Tangannya menggapai menyembulkan tas plastik yang merimbun oleh gerombolan buku.
Aku tersenyum. Terkagum oleh hasrat belajarnya. Meski, pekerjaannya membuat ia kerap kewalahan mengatur jadwal, ia tak lantas mematikan percik semangatnya. Sekali lagi, berkelebat tutur dia tentang hasrat dan cita-citanya. Menjadi tentara. Bekerja di lingkungan DPR RI. Dan, apabila ada kesempatan, menjadi sarjana.
‘Saya ingin terus belajar, mas. Ingin terus berkembang,’ ucapnya sore dulu. ‘Saya tidak ingin seperti teman-teman yang menjadi kehilangan minat untuk menambah pengetahuan.’
‘Sering-sering aja main kemari,' demikian aku mengakhiri bincang sore itu. Meski berada tak berbilang jauh, tetapi, sekat-sekat di sini membuat tiap penghuni terasa jauh. Benar saja, aku tidak lagi menjumpainya sejak sore itu. Petugas pengamanan dalam tidak pernah menetap. Mereka berpindah dari lantai ke lantai. Beberapa, aku sempat mengenali mereka. Tetapi, ketika sapaan mulai saling mengalir, esok hari tidak lagi aku dapati mereka menduduki tempat jaga di lantaiku berada.
Kesunyian malam rupanya kembali memunculkan dia dari endapan lamat-lamat bayang memori jiwa. Begitu banyak bayang tercetak setiap hari. Dan selalu, aku tertatih dalam urusan mengingat nama. Memegang bayang wajah sepertinya lebih mudah dari sekadar mengurutkan beberapa potong huruf membentuk nama.
‘Semoga tidak terjadi apa-apa mas tanggal 28.’
‘Insyaallah. Semoga dijauhkan dari kerusuhan dan bahaya.’
‘Amin, mas.’
‘Tetap semangat belajar, ya.’
Tidak terlalu jelas, tetapi ia kelihatan tersipu. Wajahnya mengguratkan senyum. Kepalanya terangguk pelan. Irama tubuh itu, bagiku, lebih dari cukup untuk mengguratkan jawaban ‘iya’.
Gelap berbaris makin rapat. Udara kian melaju lambat terbebani basah. Usai melambai berpisah, aku meneruskan langkah menuju tempat parkir.
Aku berderap melaju pulang. Malam membujur memenuhi pekarangan panjang. Di antara rona-rona lampu yang menyepuh jalan menuju pintu keluar, berderet beberapa tenda dengan atap lesu melambai terseret angin. Sekelompok polisi berserak menduduki rerumputan dan bahu jalan. Beberapa menatapi langit. Sebagian saling bertukar kata, memainkan bidak catur. Atau sekadar menghayutkan petik gitar menemani irama-irama lagu yang sayup terdengar.
1 bulan sudah 4 tenda polisi itu berdiam di kompleks gedung DPR. Jiwa-jiwa terkurung seragam itu pastilah merindukan keluarga, kekasih, atau belahan hati yang sudah sekian lama mereka tinggalkan. Entah sampai kapan rindu itu hanya menggelantungi laju angin malam.
Semoga kekacauan ini segera menghilang di ujung kedamaian. Semoga hati-hati yang terpisah dapat segera disatukan. Dan semoga, keberkahan dan kemuliaan dilimpahkan untuk negeri tercinta ini.
Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts
Wednesday, January 27, 2010
Wednesday, October 29, 2008
My Sassy Girl
Lihatlah dia. Cantik. Pintar. Seksi. Dan terlebih lagi, benar-benar gila.
Di sebuah stasiun kereta, di atas rel dengan kereta yang beberapa detik lagi berlalu, dia menggelantungkan tubuh manisnya tanpa rasa peduli. Slayer yang menghangati lehernya terburai menjuntai ditiup angin stasiun. Ceria sekali wajahnya. Perhatikan juga betapa teduh dan manis senyum bibirnya. Ia sama sekali tidak peduli dengan sekelilingnya. Bahkan ia tidak peduli dengan nyawanya. Ia terus saja melambaikan tubuhnya. Menaiki tangga yang membujur memisahkan rel kereta dengan tempat tunggu penumpang. Sesekali tawa riangnya berderai keluar. Dan ketika ia cukup lelah, dengan jenaka, ia menekuk wajahnya. Menyandarkan tubuhnya di atas tiang yang mematoki tangga panjang itu. Ia sama sekali tidak peduli. Meski sebentar lagi kereta akan melaju datang.
Atau perhatikan, ketika ia dengan tanpa rasa dosa mengacaukan ruang kelas itu. Kepada dosen yang mengajar, dengan seenaknya ia berbincang bahwa ia hamil. Meski wajah manisnya tak sepenuhnya bisa menutupi rasa serius ketika ia berbohong, tapi sang dosen berhasil ia yakinkan. Dan lelaki itu, yang memang tidak pernah tidur dengannya, apalagi menghamilinya, berhasil ia ajak kabur dari kelas hanya untuk menemani ia berjalan-jalan.
Dan demikianlah. Kegilaan demi kegilaan terus ia letupkan mengiringi derai tawa lepasnya. Dan terlebih, dan sebenarnya inilah yang sesungguhnya, untuk menghidupkan orang-orang di sekelilingnya.
Kawan, aku pernah mengenal jenis perempuan seperti ini. Dan percayalah, ia memang diciptakan Tuhan untuk sesuatu yang special. Keceriannya seperti kembang-kembang api yang ditembakkan ke atas langit. Berpedar merobek keheningan. Menebarkan berjuta warna menyinari dan mewarnai dunia yang telah kehilangan rasa. Rasa tidak pedulinya bertengger angkuh seperti puncak himalaya yang tidak tersentuh oleh sembarang orang. Spontaniasnya seringkali meletup seperti meriam yang segera menghancurkan kerak-kerak rutinitas yang membekukan jiwa manusia. Tindakannya sering tidak bisa diterka. Tapi percayalah, penuh dengan pesona yang segera membius mereka menjadi seperti kerbau yang dipacung mengikuti segala polah tuannya.
Aku curiga, sepertinya Tuhan memang menginginkan dunia tampil dengan segala spontanitas dan kegilaannya. Tahukah kawan, pribadi-pribadi seperti ini biasanya dikarunia pesona kecantikan yang nyaris sempurna. Berpedar meremukkan. Anggun mempesona seperti bolam lampu yang dikelilingi oleh berjuta laron.
Dan seperti Jesse Braddord yang tertawan oleh kegilaan Elisha Cutbert, demikianlah aku pernah melewatkan hariku. Bersama mereka, tiap hari seperti perjalanan berliku mendaki lembah dan kemudian terjun bebas menyelam ke dasar lautan Hindia Belanda. Ketika tubuh masih menggigil digigit suhu minus kutub utara, dengan tanpa rasa kasihan, kegilaan dia telah melontarkan tubuh untuk secara drastis gosong terpanggang suhu 39 derajat cuaca di kota kecil di ujung utara pulau Jawa bernama Demak.
Anda yang menginginkan kehidupan, carilah perempuan seperti ini. Bila anda tidak cukup beruntung seperti saya yang pernah mendapatkannya, resapilah potret dirinya dalam ‘My Sassy Girl’. Tapi apabila anda telah mendapatkan separoh jiwa anda saat ini, atau bahasa terjemahannya: anda sudah berpacaran, dan anda tetap nekad nonton ‘My Sassy Girl’, jangan salahkan saya bila kalimat ini juga menghantui hari-hari anda: Betapa membosankannya pacar saya.
Selamat menonton. Selamat berjuang mendapatkan ‘Sassy Girl Anda’. Dan apabila anda mau mencoba, selesaikan dulu pacar anda.
Di sebuah stasiun kereta, di atas rel dengan kereta yang beberapa detik lagi berlalu, dia menggelantungkan tubuh manisnya tanpa rasa peduli. Slayer yang menghangati lehernya terburai menjuntai ditiup angin stasiun. Ceria sekali wajahnya. Perhatikan juga betapa teduh dan manis senyum bibirnya. Ia sama sekali tidak peduli dengan sekelilingnya. Bahkan ia tidak peduli dengan nyawanya. Ia terus saja melambaikan tubuhnya. Menaiki tangga yang membujur memisahkan rel kereta dengan tempat tunggu penumpang. Sesekali tawa riangnya berderai keluar. Dan ketika ia cukup lelah, dengan jenaka, ia menekuk wajahnya. Menyandarkan tubuhnya di atas tiang yang mematoki tangga panjang itu. Ia sama sekali tidak peduli. Meski sebentar lagi kereta akan melaju datang.
Atau perhatikan, ketika ia dengan tanpa rasa dosa mengacaukan ruang kelas itu. Kepada dosen yang mengajar, dengan seenaknya ia berbincang bahwa ia hamil. Meski wajah manisnya tak sepenuhnya bisa menutupi rasa serius ketika ia berbohong, tapi sang dosen berhasil ia yakinkan. Dan lelaki itu, yang memang tidak pernah tidur dengannya, apalagi menghamilinya, berhasil ia ajak kabur dari kelas hanya untuk menemani ia berjalan-jalan.
Dan demikianlah. Kegilaan demi kegilaan terus ia letupkan mengiringi derai tawa lepasnya. Dan terlebih, dan sebenarnya inilah yang sesungguhnya, untuk menghidupkan orang-orang di sekelilingnya.
Kawan, aku pernah mengenal jenis perempuan seperti ini. Dan percayalah, ia memang diciptakan Tuhan untuk sesuatu yang special. Keceriannya seperti kembang-kembang api yang ditembakkan ke atas langit. Berpedar merobek keheningan. Menebarkan berjuta warna menyinari dan mewarnai dunia yang telah kehilangan rasa. Rasa tidak pedulinya bertengger angkuh seperti puncak himalaya yang tidak tersentuh oleh sembarang orang. Spontaniasnya seringkali meletup seperti meriam yang segera menghancurkan kerak-kerak rutinitas yang membekukan jiwa manusia. Tindakannya sering tidak bisa diterka. Tapi percayalah, penuh dengan pesona yang segera membius mereka menjadi seperti kerbau yang dipacung mengikuti segala polah tuannya.
Aku curiga, sepertinya Tuhan memang menginginkan dunia tampil dengan segala spontanitas dan kegilaannya. Tahukah kawan, pribadi-pribadi seperti ini biasanya dikarunia pesona kecantikan yang nyaris sempurna. Berpedar meremukkan. Anggun mempesona seperti bolam lampu yang dikelilingi oleh berjuta laron.
Dan seperti Jesse Braddord yang tertawan oleh kegilaan Elisha Cutbert, demikianlah aku pernah melewatkan hariku. Bersama mereka, tiap hari seperti perjalanan berliku mendaki lembah dan kemudian terjun bebas menyelam ke dasar lautan Hindia Belanda. Ketika tubuh masih menggigil digigit suhu minus kutub utara, dengan tanpa rasa kasihan, kegilaan dia telah melontarkan tubuh untuk secara drastis gosong terpanggang suhu 39 derajat cuaca di kota kecil di ujung utara pulau Jawa bernama Demak.
Anda yang menginginkan kehidupan, carilah perempuan seperti ini. Bila anda tidak cukup beruntung seperti saya yang pernah mendapatkannya, resapilah potret dirinya dalam ‘My Sassy Girl’. Tapi apabila anda telah mendapatkan separoh jiwa anda saat ini, atau bahasa terjemahannya: anda sudah berpacaran, dan anda tetap nekad nonton ‘My Sassy Girl’, jangan salahkan saya bila kalimat ini juga menghantui hari-hari anda: Betapa membosankannya pacar saya.
Selamat menonton. Selamat berjuang mendapatkan ‘Sassy Girl Anda’. Dan apabila anda mau mencoba, selesaikan dulu pacar anda.
Thursday, October 9, 2008
ada peri di tumpukan serbuk kopi
Kawan, aku pikir, penyakit gilaku mulai kambuh.
Kegilaan yang berawal dari simpul syaraf otak yang berhimpitan tak beraturan. Saling menindih. Mencoba untuk saling menjegal. Melenyapkan. Mengapungkan. Menghapus. Merekonstruksi ulang. Sebagian menginginkan wajah itu ada. Tapi sepasukan lain berjuang keras untuk melenyapkannya.
Tidak jelas siapa yang menang dalam pertempuran ini. Dan akibatnya, hampir sepanjang malam ini, aku pusing harus berlarian kesana kemari. Ketika simpuls saraf lupa yang di atas angin, seurat kelegakaan dan persiapan tidur segera aku gelar. Tapi tak berapa lama, pasukan syaraf ingat berhasil menguasai keadaan. Aku pun dipaksa untuk menggulung kembali tenda dan alas tidur yang telah tergelar.
Dan, kawan, percayalah, sepanjang malam ini, aku hanya berpindah dari 2 kegiatan menjengkelkan itu. Seperti tombol on off yang sedang dimainkan oleh bocah nakal kurang kerjaan. Jadinya, beginilah hasilnya, pukul 1:34 aku terbangun, terjebak kembali dalam nostalgia: antara menelpon dia atau tidak.
Kawan, andai kamu penasaran, siapa gerangan lakon dari pertempuran dalam jiwa ini. Siapa pemilik wajah yang telah membuat beribu-ribu armada infantry syaraf berbaris untuk saling menyerang. Berebut menghancurkan.
Siapa pemilik senyum yang kembali membuat aku mengaduh tersungkur dalam dramatisasi kekalahan.
Siapa pemilik jiwa yang karenanya aku harus membuat perjanjian dengan dewa langit paling kuat agar menahan jari tanganku untuk tidak menarikan tuts berkirim sms kepadanya.
Siapakah wanita jahanam sialan memuakkan itu yang gara-gara dia aku harus terhuyung-huyung menuang air ke dalam panci, memutar tombol on, dan meringkuk menunggu air mendidih untuk sekadar membuat kopi. Semata-mata agar ada temen yang menemani curahan hati di malam pukul 1: 38 ini.
Apakah wajah dia begitu mulia? Apakah dia salah satu pelarian dari penduduk surga? Apakah ia putri dari dewa yang sedang menjalani ujian dengan mendamparkan diri di dunia? Ataukah dia hanya sekadar perempuan pencuri yang dengan tega mencokel kulit wajah peri untuk kemudian dipakainya?
Ah, masa bodoh dengan itu semua. Persoalan mendesak sekarang adalah bagaimana aku memperkuat barisan pasukan lupa untuk memperdahsyat serangannya. Ada baiknya aku menjatuhkan bom APC agar otak ini terberai dalam tidur panjang. Atau hujan serbuk kopi yang akan segera menghantam pertahanan mataku. Atau mungkin aku bersiap diri dengan tajam belati. Berlari menebas jarak yang hanya beberapa meter. Menyibak dingin yang mengapung. Mendobrak lurus ke dalam. Menghujamkan sebuah cium sebelum kemudian takjib larut dalam drama pembantaian.
Dan esok harinya, kampung akan tenggelam dalam satu buah cerita saja: seorang wanita terbunuh dengan luka gigit di bibir dan sebuah sobekan lebar di dada.
Ah, apapun itu, kau membuat aku terjaga malam ini.
Kegilaan yang berawal dari simpul syaraf otak yang berhimpitan tak beraturan. Saling menindih. Mencoba untuk saling menjegal. Melenyapkan. Mengapungkan. Menghapus. Merekonstruksi ulang. Sebagian menginginkan wajah itu ada. Tapi sepasukan lain berjuang keras untuk melenyapkannya.
Tidak jelas siapa yang menang dalam pertempuran ini. Dan akibatnya, hampir sepanjang malam ini, aku pusing harus berlarian kesana kemari. Ketika simpuls saraf lupa yang di atas angin, seurat kelegakaan dan persiapan tidur segera aku gelar. Tapi tak berapa lama, pasukan syaraf ingat berhasil menguasai keadaan. Aku pun dipaksa untuk menggulung kembali tenda dan alas tidur yang telah tergelar.
Dan, kawan, percayalah, sepanjang malam ini, aku hanya berpindah dari 2 kegiatan menjengkelkan itu. Seperti tombol on off yang sedang dimainkan oleh bocah nakal kurang kerjaan. Jadinya, beginilah hasilnya, pukul 1:34 aku terbangun, terjebak kembali dalam nostalgia: antara menelpon dia atau tidak.
Kawan, andai kamu penasaran, siapa gerangan lakon dari pertempuran dalam jiwa ini. Siapa pemilik wajah yang telah membuat beribu-ribu armada infantry syaraf berbaris untuk saling menyerang. Berebut menghancurkan.
Siapa pemilik senyum yang kembali membuat aku mengaduh tersungkur dalam dramatisasi kekalahan.
Siapa pemilik jiwa yang karenanya aku harus membuat perjanjian dengan dewa langit paling kuat agar menahan jari tanganku untuk tidak menarikan tuts berkirim sms kepadanya.
Siapakah wanita jahanam sialan memuakkan itu yang gara-gara dia aku harus terhuyung-huyung menuang air ke dalam panci, memutar tombol on, dan meringkuk menunggu air mendidih untuk sekadar membuat kopi. Semata-mata agar ada temen yang menemani curahan hati di malam pukul 1: 38 ini.
Apakah wajah dia begitu mulia? Apakah dia salah satu pelarian dari penduduk surga? Apakah ia putri dari dewa yang sedang menjalani ujian dengan mendamparkan diri di dunia? Ataukah dia hanya sekadar perempuan pencuri yang dengan tega mencokel kulit wajah peri untuk kemudian dipakainya?
Ah, masa bodoh dengan itu semua. Persoalan mendesak sekarang adalah bagaimana aku memperkuat barisan pasukan lupa untuk memperdahsyat serangannya. Ada baiknya aku menjatuhkan bom APC agar otak ini terberai dalam tidur panjang. Atau hujan serbuk kopi yang akan segera menghantam pertahanan mataku. Atau mungkin aku bersiap diri dengan tajam belati. Berlari menebas jarak yang hanya beberapa meter. Menyibak dingin yang mengapung. Mendobrak lurus ke dalam. Menghujamkan sebuah cium sebelum kemudian takjib larut dalam drama pembantaian.
Dan esok harinya, kampung akan tenggelam dalam satu buah cerita saja: seorang wanita terbunuh dengan luka gigit di bibir dan sebuah sobekan lebar di dada.
Ah, apapun itu, kau membuat aku terjaga malam ini.
Saturday, March 15, 2008
Bait-Bait Cinta
Ketika semakin tua, kita sepertinya semakin lambat untuk menangkap waktu. Kita tak lagi segesit dulu untuk bisa menangkap dan mengurungnya. Saat tangan kita baru mengapai, sang waktu telah terbang melesat. Waktu ibarat burung yang gesit menghindar ketika tangan kita bergerak menggapai untuk mengurungnya. Waktu terasa berjalan begitu cepat.
Kita menginginkan waktu diam. Terkurung dalam sangkarnya. Sehingga kita masih punya kesempatan untuk mencecap aroma teratai yang berhembus lewat percikan telaga. Masih terjaga kekuatan dan ketampanan kita. Dan masih ada kesempatan untuk menghafal lekuk tubuh dia. Menikmati setiap kehidupan yang tumbuh ketika kasih orang yang kita cintai meneteskan embun pemuas dahaga jiwa.
Tapi rupanya kita sudah terlalu lambat untuk menangkap sang waktu.
Pun demikianlah… burung waktu tetap beterbangan riang hingga tak terasa, sudah tiga tahun aku mengenal dia. Sosok anggun yang karenanya keperjakaan ini aku jaga. Lima tahun melesat begitu cepat. Secepat busur Arjuna yang merajam tubuh Bisma. Sepertinya baru saja kemarin Dewi Ratih mengejangkan perutnya, mendorong sesosok bidadari yang karenanya kecantikannya angin berhenti bertiup, air sungai berhenti mengalir, burung berhenti berkicau, dan panah serta gada Pandawa berhenti menghancurkan dada.
Burung waktu, rupanya, terbang dan tetap terbang semakin tinggi. Bergerak semakin menjauhi tempat pertama kali ia menghentakkan kaki.
Aku masih saja menyimpan getaran rasa ketika pertama kali dunia menghadirkan dia di depanku. Pertemuan yang begitu tiba-tiba. Tanpa rencana. Tanpa banyak kata-kata.
“Rama.”
“Sinta.”
Hanya itu. Tak lebih.
Tapi, saat itu, aku tahu, bahwa panah itu telah tertancap di sana. Buddy, I’m in love. Greattt. Hati ini bisa robek juga. Sesaat tak percaya, tapi darah cinta telah mengucur membasahi jiwaku. Apakah telah tiba saat untuk merogoh jiwa dan menyerahkannya pada sang dewi Sinta. Cinta-ku.
Dia begitu luar biasa. Kecantikan dia berpejar meremas hati. Ketika dia tersenyum, beribu-ribu malaikat seolah meletupkan cairan hangat menggenangi bumi. Senyum yang tersulam demikian teduh. Indah. Udara akan membeku ketika senyum itu terkulum menghangati dunia. Seolah tertambat oleh tali suci, burung-burung terpatri kaku di langit-langit nirwana. Wajah-wajah garang prajurit peminta nyawa luruh menjadi sosok manja rengek bocah yang terdiam menetek susu ibunya.
Beribu kunang seolah menyepuh kulitnya, membungkusnya dalam tabir pancaran cahaya suci. Melindungi halus kulitnya dari percikan noda. Cahaya kulitnya menerabat keluar. Menyusup ke dalam relung setiap hati manusia. Menawarkan sebentuk kehangatan. Sebuah perlindungan. Sebuah keteduhan. Sesosok tangan mungil yang akan mengangkat siapapun yang sedang jatuh, mengusap air mata yang sedang menangis, dan tanpa lelah mengabarkan kepada dunia, bahwa selalu ada pancaran kehangatan dalam dunia.
Rambutnya yang sebahu tergerai seperti ayunan yang akan melemparkan kita ke dalam elok taman penuh wangi bunga. Taman yang pekat dengan keindahan, dimana mengalun suara-suara anak kecil bermain, sesosok wanita tua tampak lekang menatap foto tampan anaknya, sepasang kekasih yang sedang berciuman, dan lebah yang tak bisa terbang karena bibir bunga erat menghisap bibir dia.
Tak ada cela dalam penciptaan dia. Dunia seolah memamerkan kehebatannya. Sebuah mahakarya yang karenanya damai dan indah dunia tetap bisa tercecap, terjaga, dan terus mengalir membasahi sungai kehidupan. Sungguh sebuah kesempurnaan penciptaan.
Aku hanya bisa terdiam ketika itu. Membiarkan keindahan itu meletupkan dirinya dan kemudian berpedar meninggalkanku. Aku hanya mengumpati diri sendiri ketika menyadari dia tak lagi berada di depanku.
“Sinta.” Suara lirihku bergetar. Dan ketika mata ini sanggup kembali melihat sekelilingku, angin telah menerbangkan bidadari itu pergi.
Siapa dia. Pertanyaan itu pun menyandera prajurit pengontrol pikiranku. Membuatku tak bisa berpikir lain selain keinginan untuk bertemu dan terus merasai kembali keindahan itu.
Tahukah kamu, siapa sejatinya Sinta yang karenanya aku rela menyeberang samudera, berperang mengalahkan kesaktian Dasamuka. Duduklah sebentar. Cobalah untuk tersenyum. Hanya tersenyum. Sebuah senyuman yang tulus. Tanpa dibuat-buat.
Atau cobalah untuk sekedar mengamati kulit kamu. Berdiamlah di tempat yang gelap. Tanpa cahaya.
Apa yang kamu lihat dan kamu rasakan, dewi Sinta-ku?
Dunia rupanya mengutus engkau untuk menghancurkan kesombonganku. Menumbangkan ketampanan yang selama ini tak tersentuh oleh sebuah makhluk pun. Ketika bersamamu, damai itu aku rasakan. Aku tak keberatan untuk melepaskan semua kedirianku, berlari telanjang ke dalam pelukan kamu. Hanya dengan membawa sebuah hati. Sebuah niat yang suci.
Sosok angkuh ini tak lagi malu untuk menjongkokkan diri. Mengakui bahwa sekelebat panah tak lagi mampu ia pentalkan menjauhi dinding jiwanya. Mengakui bahwa ia tak lagi mampu menjaga setiap jengkal jiwa dia.
Darah terus mengucur dari hati sang ksatria. Ia pun mengaduh. Meratap. Mengharap sang dewi datang. Menambal lubang dihatinya dengan sebuah rajutan cinta.
Selama lima tahun, aku berupaya menghentikan sang waktu. Menangkap dirimu agar selalu lekang dalam pikiranku. Tapi aku sadar, waktu semakin menua, dan aku tak akan lagi punya kuasa untuk terus mengejar waktu.
Untuk itulah, dewi, saat ini aku datang. Tak ada tentara atau samudera yang aku seberangi memang. Aku hanya berbekalkan satu panah mulia yang selama ini selalu ku simpan dalam setiap peperanganku. Panah yang hanya akan kucabut dari warangkanya ketika aku menemukan musuh yang sepadan. Musuh yang sanggup meneteskan darah dari jiwaku.
Sinta, busur itu aku rentangkan. Panah mulia telah terpasang di sana. Sediakan dadamu, kekasih. Darah cinta dan kesetiaan penuh membasahi panah cinta ini.
Aisha, aku sayang sama kamu. Maukah kamu menjadi kekasihku?
Monday, March 10, 2008
Apakah (bukan) ini...
Tiba-tiba aku jadi tak acuh dengan dia. Entahlah. Rasa yang digelontorkan sedemikian vulgar. Gejolak yang dituangkan terlalu awal. Hentakan hasrat yang dikirim secara bertubi: rupanya bukanlah sesuatu yang aku nanti.
Aku memang merindui akan hadirnya sebentuk rasa. Tapi.. bukan rasa yang seperti ini. Bukan rasa yang diucap secara liar. Bukan rasa yang dibungkus dalam sebuah letup jiwa transparan.
Aku memang ingin mencinta. Tapi aku merindukan sebuah cinta yang dibalut dalam rona sederhana. Bukan cinta yang menderu. Bukan riak yang menghantam tanpa peduli siang atau malam.
Bukanlah aku berungkali berucap: ajari aku kembali cara untuk mencinta. Tidakkah itu terucap cukup jelas? Aku tidak meminta untuk diajari hasrat yang menggelora. Atau emosi yang meletup. Atau hasrat yang terlepas dari tali kekangnya. Bukan.. bukan itu yang aku pinta.
Mungkin tak adil bila aku meminta kamu untuk mengerti. Atau setidaknya belajar untuk mengerti. Sama dengan tidak adilnya kamu untuk terus merecoki aku dengan igau rasa yang melumuri bibir dan hatimu. Aku berharap kita bisa bertaut rasa dengan tiada banyak berucap. Cukup dengan menengok hati melalui tatap mata. Atau sekadar bertukar hasrat melalui bahasa jiwa yang terkoyak. Tapi.. ah, ternyata, memang aku belum bisa terbebas dari kepungan egois jiwa.
Dan bila akhirnya aku memilih untuk menunduk, membiarkan rasa yang aku sangkakan akan menderu itu kembali menelungkup, aku tidak bisa meminta lebih lagi. Aku tak bisa memaksakan kamu memaknai sesuatu berdasarkan kemauanku. Tapi, aku juga tak kuasa untuk paksakan hatiku mengikuti deras rasa hatimu. Biarlah setelah semua keributan yang pernah tercipta itu, tercipta kehengingan yang sublim. Keheningan yang, semoga, bisa menyadarkan kita akan apa yang sebenarnya kita tunggu selama ini. Akan hadirnya sebentuk rasa. Sesosok jiwa. Sebentuk hangat keteduhan yang berujud dalam rupa manusia.
Bila memang tidak malam ini, semoga saja malam berikutnya. Dan bila saja tidak dengan aku atau kamu, semoga saja dengan dia yang ada di tikungan hidup di kelokan jalan hidup kita berikutnya.
Yakinlah.. Ketika waktunya tiba, semua akan menjadi indah.
Monday, February 4, 2008
Kangen..
'... apapun yang terjadi, kamu tetaplah teman, sahabat, kakak, .......- ku yang paling baik.'
Betapa cepatnya waktu berlalu. Dan betapa cepatnya warna hati berubah. Dan, acapkali, kita tanpa daya harus mengunyah apa yang alam berikan. Meski, teramat tidak ingin kita menginginkannya.
Aku merindui dia saat ini. Sangat.
Semoga segala kebaikan Allah dilimpahkan kepadamu, adik.
Betapa cepatnya waktu berlalu. Dan betapa cepatnya warna hati berubah. Dan, acapkali, kita tanpa daya harus mengunyah apa yang alam berikan. Meski, teramat tidak ingin kita menginginkannya.
Aku merindui dia saat ini. Sangat.
Semoga segala kebaikan Allah dilimpahkan kepadamu, adik.
Monday, May 28, 2007
dalam kenangan...
Aku tidak pernah mengenal dia
Tidak bertegur
Apalagi bersua
Aku hanya pernah mengakrabi percikan darah dia
Darah yang menjelma
Mengubah bentuk
Moksa
Darah yang terbentik di kulitku
Lalu merembes ke nadi
Mencengkeram seluruh kedirian diri
Sebelum akhirnya...
Luruh menghilang dalam kepungan hati
Aku tidak pernah menyapa dia
Memberikan senyum kepadanya
Ato sekadar menggarukkan punggunya
Aku hanya mengenalnya melalui percikan darah
Butiran merah yang menetes di suatu malam
Di suatu kegelapan
Bercampur dengan desah basah
Dia memberiku sebuah darah
Yang kemudian juga melahirkan darah
Tidak bertegur
Apalagi bersua
Aku hanya pernah mengakrabi percikan darah dia
Darah yang menjelma
Mengubah bentuk
Moksa
Darah yang terbentik di kulitku
Lalu merembes ke nadi
Mencengkeram seluruh kedirian diri
Sebelum akhirnya...
Luruh menghilang dalam kepungan hati
Aku tidak pernah menyapa dia
Memberikan senyum kepadanya
Ato sekadar menggarukkan punggunya
Aku hanya mengenalnya melalui percikan darah
Butiran merah yang menetes di suatu malam
Di suatu kegelapan
Bercampur dengan desah basah
Dia memberiku sebuah darah
Yang kemudian juga melahirkan darah
Tuesday, January 30, 2007
Selembar Tiket untuk Cinta
‘Beri aja dia selembar tiket ke Singapura, pasti akan beres,’ ucap papa sambil menghisap cerutu kesukaannya. Mama yang sedang menuang kopi ke cangkir, tiba-tiba meletakkan teko ke meja. Lalu serius menatap papa. ‘Maksud papa?’. Mama sudah duduk manis di samping papa. ’Ya kita kirim Kiki ke Singapura. Kita sekolahkan, atau carikan kerja di sana. Atau suruh tinggal sama mbaknyunya.’ Papa menjetikkan abu cerutu ke asbak putih yang ada di meja, sebelum meneruskan ucapnya. ’Pasti semua akan beres.’
’Maksud papa,’ mama kelihatan belum yakin dengan ucapan papa. ’Maksud papa cara yang kita lakukan untuk si Bulan dulu juga kita terapkan untuk si Kiki.’ Wajah mama kelihatan serius. Lima tahun yang lalu, mama dan papa terpaksa mengirim Bulan ke Singapura gara-gara Bulan susah dibilangin untuk tidak deket-deket dengan Dendi. Entah apa yang membuat mama dan papa demikian kompak menolak Dendi. Padahal kalau dilihat, Dendi juga cakep, baik, dan kaya. Segala cara sudah dicoba oleh mama dan papa. Tapi Bulan tetep kekeh. Jangankan bergerak, bergeming sedikitpun Bulan tidak lakukan. ’Saya tidak setuju, pa.’ Mama tiba-tiba berucap dengan keras. ’Ide macam apa ini. Saya tidak akan setuju si Kiki dikirim ke Singapura.’ Kali ini giliran papa yang mengeryitkan dahi. ’Mama ini gimana? Bukankah mama yang bersikeras tidak mau Kiki berhubungan dengan Joni.’ ’Iya, sih pa. Tapi bukan ini solusinya.’ Muka mama kelihatan makin cemberut. Mama tidak begitu dekat dengan Bulan, jadi ketika mama dan papa terpaksa ngirim bulan ke Singapura, hati mama tidak demikian berat. Tapi si Kiki, dia kan anak kesayangan mama. Jangankan pisah dengan jarak yang beratus-ratus mil seperti itu, Kiki pergi camping aja mama bingungnya setengah mati. Khawatir gimana makannya lah, gimana tidurnya, gimana mandinya. Mama memang demikian sayang dengan Kiki, hingga mama lupa bahwa Kiki sudah 19 tahun. Sudah bisa suka sama laki-laki.
’Jadi mama gak setuju nih,’ ucap papa sambil mencubit pipi mama. Mama dan papa sudah 27 menikah, tapi mereka tetap romantis. Entah apa rahasia mama hingga papa bisa sedemikian takluk. ’Iya,’ ucap mama sambil melengoskan kepalanya. ’Iya apa? Iya setuju atau iya tidak setuju.’ Muka papa jadi lucu kalo lagi bingung. ’Yang jelas dong ma. Papa bingung nih.’ Mama yang sudah kembali memegang teko untuk kembali menuang kopi, lagi-lagi meletakkan tekonya. Wajah mama nampak gusar. Hidung mama yang mancung nampak kembang kempis. Bila sudah begini, tanpa perlu sepatah katapun, kita semua sudah maklum, bahwa mama sedang dilanda amarah. ’Mama tidak setuju. Kiki tidak akan ke Singapura,’ ucap mama keras. Tuh kan, betul, mama memang sedang marah.
’Trus gimana, berarti mama sudah setuju Kiki pacaran dengan Joni?’ Papa kelihatan serius dengan ucapannya ini. Bukannya tambah adem, udara di sekitar kepala mama sontak menjadi tambah panas. ’Tidak....’ Mama tiba-tiba menjerit. ’Tidak akan pernah mama memberi restu sama si Joni.’ ’Kita sewa preman saja. Biar mereka gebuki si Joni.’ Cerutu yang ada di mulut papa melompat ketika papa tersedak kaget. ’Pasti si Joni akan jera dan berhenti berhubungan dengan Kiki.’ Wajah mama tiba-tiba menjadi ceria. Setan mana yang memberi ide gila pada mama hingga berpikiran seperti itu.
’Ma, tapi apakah itu..’ Belum sempat papa menyelesaikan ucapannya, mama sudah menyerang kembali. ’Sudah pa. Mama akan telpon Bondan sekarang.’ Sebentar kemudian mama telah berada di samping meja telpon. ’Halo Bondan.’ ’Iya tante. Ada pekerjaan apa buat saya?’
[]
’Mama panggil saya?’ ucap Kiki pada mamanya yang sedang berlenggok-lenggok di cermin mencoba gaun baru. ’Iya, duduk sayang.’ Mama melepas gaun yang sedang ia coba sebelum kemudian duduk di dekat Kiki. Mama menatap Kiki sebentar. Senyum mama mengembang bersamaan dengan tangan mama yang bergerak membelai rambut Kiki. Kiki memang anak yang manis. Tidak salah bila mama demikian menyayanginya. Rambut Kiki yang lurus terawat, nampak berpedar mengelilingi wajah cantiknya. Meskipun mama dan papa adalah pribumi asli, tapi wajah Kiki sangat terkesan oriental. Demikian imut dan cantik. Siapapun yang berada di dekat Kiki, pasti akan gemas dan kecantikan dan keimutannya. Kulit Kiki juga putih. Bersih terawat. ’Kiki benar-benar gadis yang sangat manis,’ demikian selalu puji mama untuk Kiki kepada teman-teman arisannya. Hal ini lah yang membuat mama terbelalak kaget dan berteriak histeris ketika mengetahui Kiki berpacaran dengan Joni. Joni adalah teman sekampus Kiki. Dibanding dengan anak-anak teman arisan mama, Joni memang bukan siapa-siapa. Joni hanya pemuda biasa. Terlalu biasa malah. ’Ia adalah anak kampung. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari dia,’ demikian selalu yang dibilang oleh mama tiapkali ada yang menyebut nama Joni.
’Mama punya sesuatu untuk kamu, sayang,’ ucap mama sambil membawa tubuh Kiki rebahan di pahanya. ’Mama ada hadiah buat Kiki?’, jawab Kiki dengan heran. ’Iya.’ ’Tapi Kiki kan tidak sedang ulang tahun, ma?’ Kiki nampak menatap mata Mama. Hubungan mereka memang dekat. Jadi mama terkadang hanya mencandai Kiki. Tapi kali ini, mata mama kelihatan serius. Mama kemudian nampak merogoh sesuatu dari laci meja. Sebentar kemudian, mama telah menyodorkan sebuah amplop pada Kiki. ’Apa ini, ma?’, tanya Kiki penasaran. ’Buka sendiri dong. Nanti kalo mama kasih tahu, bukan surprise namanya.’ Mama ada-ada saja, batin Kiki. Karena tidak ingin dilanda penasaran lebih lanjut, Kiki pun membuka amplop berwarna coklat tersebut.
[]
Kiki bergelanyut manja di boncengan motor Joni. Meski mama selalu berpesan agar Kiki pergi kuliah pake mobil, Kiki tetep memilih untuk naik angkot. Meski harus berdesak-desakkan ketika berangkat, tapi Kiki rela. Bayangan pulang kuliah dengan diantar Joni naik motor, membuat penderitaan di angkot tidak terlalu berarti buat Kiki. Padahal 1 tahun yang lalu, ketika Kiki belum ketemu Joni, Kiki tidak akan meninggalkan rumah bila tidak ditemani dengan si kuning, mobil kesayangannya. Takut kulitnya terbakar lah, takut rambutnya menjadi keringlah, dan sejuta ketakutan laen akan dengan sigap digelontor oleh Kiki sebagai alasannya.
’Ki, udah sampai,’ ucap Joni lembut sambil menyentuh tangan Kiki yang melingkar di pinggangnya. Kiki memang paling suka merem ketika dibonceng Joni. Joni sering protes dengan kebiasaan Kiki ini. Ia takut kalo Kiki tiba-tiba ketiduran dan tidak bisa berpegangan dengan erat. ’Tidak apa-apa kok Jon. Aku hanya ingin merasakan kedamaian tiap kali bersama kamu,’ demikian Kiki selalu bilang tiap kali Joni bertanya kebiasaannya tersebut. ’Kita kan tidak punya waktu banyak untuk bersama. Jadi aku ingin menikmati tiap kebersamaan kita dengan sepenuh hati.’’Meski itu dengan memejamkan mata tiap kali aku bonceng?’ kata Joni masih heran dengan kebiasaan Kiki. ’Iya.’ ’Oke deh. Tapi janji ya. Jangan ngantuk kalo aku bonceng. Ntar kamu jatuh lagi,’ ucap Joni sambil membelai rambut Kiki. Bila sudah begini, Kiki akan memeluk Joni erat. Semenjak Joni berterus terang kepada mama tentang perasaanya kepada Kiki, mereka berdua menjadi susah bertemu. Hanya ketika waktu-waktu sela di kampus dan ketika Joni berkesempatan mengantar Kiki pulang, mereka bisa bersama. Maka, tiap kali perjumpaan itu terjadi, baik Joni dan Kiki benar-benar ingin menikmatinya sepenuh hati.
’Ki, kita sudah sampai.’ Joni mengulang ucapannya karena Kiki tidak segera menanggapi dirinya. Tangannya kembali menyentuh tangan Kiki pelan. Dan lembut. ’Ki,’ Joni kembali berucap lembut. Joni baru hendak menyebut nama Kiki lagi ketika ia merasakan tangan Kiki bergerak. ’Sudah sampai ya, yank.’ ’Iya, turun gih.’ Joni melepas helm yang menutup kepalanya. ’Masih kangen, yank,’ rajuk Kiki dengan manja. Kiki tetap tidak mau turun dari boncengan Joni. Joni memalingkan kepalanya. Lalu melepas helm yang menutup kepala Kiki. Dipandanginya Kiki dengan berjuta sayang yang berluruhan dalam jiwa. ’Kamu harus pulang, Ki. Nanti mama kamu nyariin,’ ucap Joni sambil merapikan rambut Kiki yang kusut tertindih helm. ’Biarin.’ Telunjuk Joni bergerak lembut menyentuh bibir Kiki. ’Kamu gak boleh ngomong seperti itu. Bagaimanapun, mereka adalah orang tua kamu.’ ’Tapi kenapa mereka jahat sama kamu?’ tangan Kiki bergerak menyentuh telunjukku. Matanya nampak berkaca-kaca. ’Mereka pasti punya alasan untuk itu, Ki.’ ’Iya. Karena mereka sayang sama aku. Karena mereka pedul sama aku. Tapi kenapa mereka tidak mau mengerti perasaanku. Karena mereka ...’ Kiki tidak sempat menyelesaikan perkataannya. Tangis pelannya telah memaksa Joni menarik Kiki dalam dekapannya. ’Aku sayang kamu, Jon,’ ucap Kiki lirih.
Beberapa waktu lamanya, Kiki larut dalam pelukan Joni. Joni menghentikan motornya tepat di depan portal di kelokan jalan menuju rumah Kiki. Sesekali nampak sepeda motor berlalu melewati mereka. ’Tidur nyenyak ya, Ki. Jangan begadang. Kasian kan murid-murid kamu.’ Kiki hanya mencubit lengan Joni mendengar sindiran tersebut. Joni membimbing wajah Kiki dari dekapannya. ’Aku sayang kamu, Ki,’ ucap Joni lembut. ’Sangat sayang.’ Udara seperti berhenti dalam takzim ketika kepala Kiki bergerak mendekat Joni. Sesaat keduanya bertemu dalam ciuman yang dalam. Hangat. Penuh dengan tumpahan keintiman rasa sayang. ’Met bobo, switi. Jaga diri ya, ucap Joni kemudian. ’ Kiki masih rekat menatap wajah Joni. Bekas air mata nampak masih tersisa di sana. Malam semakin tenggelam. Kiki mendekatkan kepalanya ke arah Joni. ’Sekali lagi boleh ya, yank?’
[]
Joni menarik nafas berat. Ia nampak terduduk di salah satu sudut bandara. Ia sama sekali tidak pernah berfikir ia dan Kiki harus berpisah dengan cara seperti ini. Tidak ada pertemuan yang terjadi. Tidak ada nafas yang bisa dibaui. Tidak ada rasa yang dibagi. Hanya sepucuk surat yang dibawa oleh Indah, teman sekolah Kiki. Ada sebentuk rasa marah menjalar di hati Joni. Tapi sebuah tarikan nafas panjang kemudian menghalau rasa itu pergi. Lagi-lagi Joni menghela nafas panjang. Semua telah pergi. Semua telah berlalu. Tak ada lagi yang tersisa. Selain setitik air mata yang bersembunyi di ujung kelopak mata Joni.
[]
...dan sayang, dari sini kita akan mulai langkah kita berdua. Akan kemana kita sekarang? (from the one who loves you). Dan surat itu pun terlipat. Terdiam. Terkungkung dalam keheningan yang panjang.
’Maksud papa,’ mama kelihatan belum yakin dengan ucapan papa. ’Maksud papa cara yang kita lakukan untuk si Bulan dulu juga kita terapkan untuk si Kiki.’ Wajah mama kelihatan serius. Lima tahun yang lalu, mama dan papa terpaksa mengirim Bulan ke Singapura gara-gara Bulan susah dibilangin untuk tidak deket-deket dengan Dendi. Entah apa yang membuat mama dan papa demikian kompak menolak Dendi. Padahal kalau dilihat, Dendi juga cakep, baik, dan kaya. Segala cara sudah dicoba oleh mama dan papa. Tapi Bulan tetep kekeh. Jangankan bergerak, bergeming sedikitpun Bulan tidak lakukan. ’Saya tidak setuju, pa.’ Mama tiba-tiba berucap dengan keras. ’Ide macam apa ini. Saya tidak akan setuju si Kiki dikirim ke Singapura.’ Kali ini giliran papa yang mengeryitkan dahi. ’Mama ini gimana? Bukankah mama yang bersikeras tidak mau Kiki berhubungan dengan Joni.’ ’Iya, sih pa. Tapi bukan ini solusinya.’ Muka mama kelihatan makin cemberut. Mama tidak begitu dekat dengan Bulan, jadi ketika mama dan papa terpaksa ngirim bulan ke Singapura, hati mama tidak demikian berat. Tapi si Kiki, dia kan anak kesayangan mama. Jangankan pisah dengan jarak yang beratus-ratus mil seperti itu, Kiki pergi camping aja mama bingungnya setengah mati. Khawatir gimana makannya lah, gimana tidurnya, gimana mandinya. Mama memang demikian sayang dengan Kiki, hingga mama lupa bahwa Kiki sudah 19 tahun. Sudah bisa suka sama laki-laki.
’Jadi mama gak setuju nih,’ ucap papa sambil mencubit pipi mama. Mama dan papa sudah 27 menikah, tapi mereka tetap romantis. Entah apa rahasia mama hingga papa bisa sedemikian takluk. ’Iya,’ ucap mama sambil melengoskan kepalanya. ’Iya apa? Iya setuju atau iya tidak setuju.’ Muka papa jadi lucu kalo lagi bingung. ’Yang jelas dong ma. Papa bingung nih.’ Mama yang sudah kembali memegang teko untuk kembali menuang kopi, lagi-lagi meletakkan tekonya. Wajah mama nampak gusar. Hidung mama yang mancung nampak kembang kempis. Bila sudah begini, tanpa perlu sepatah katapun, kita semua sudah maklum, bahwa mama sedang dilanda amarah. ’Mama tidak setuju. Kiki tidak akan ke Singapura,’ ucap mama keras. Tuh kan, betul, mama memang sedang marah.
’Trus gimana, berarti mama sudah setuju Kiki pacaran dengan Joni?’ Papa kelihatan serius dengan ucapannya ini. Bukannya tambah adem, udara di sekitar kepala mama sontak menjadi tambah panas. ’Tidak....’ Mama tiba-tiba menjerit. ’Tidak akan pernah mama memberi restu sama si Joni.’ ’Kita sewa preman saja. Biar mereka gebuki si Joni.’ Cerutu yang ada di mulut papa melompat ketika papa tersedak kaget. ’Pasti si Joni akan jera dan berhenti berhubungan dengan Kiki.’ Wajah mama tiba-tiba menjadi ceria. Setan mana yang memberi ide gila pada mama hingga berpikiran seperti itu.
’Ma, tapi apakah itu..’ Belum sempat papa menyelesaikan ucapannya, mama sudah menyerang kembali. ’Sudah pa. Mama akan telpon Bondan sekarang.’ Sebentar kemudian mama telah berada di samping meja telpon. ’Halo Bondan.’ ’Iya tante. Ada pekerjaan apa buat saya?’
[]
’Mama panggil saya?’ ucap Kiki pada mamanya yang sedang berlenggok-lenggok di cermin mencoba gaun baru. ’Iya, duduk sayang.’ Mama melepas gaun yang sedang ia coba sebelum kemudian duduk di dekat Kiki. Mama menatap Kiki sebentar. Senyum mama mengembang bersamaan dengan tangan mama yang bergerak membelai rambut Kiki. Kiki memang anak yang manis. Tidak salah bila mama demikian menyayanginya. Rambut Kiki yang lurus terawat, nampak berpedar mengelilingi wajah cantiknya. Meskipun mama dan papa adalah pribumi asli, tapi wajah Kiki sangat terkesan oriental. Demikian imut dan cantik. Siapapun yang berada di dekat Kiki, pasti akan gemas dan kecantikan dan keimutannya. Kulit Kiki juga putih. Bersih terawat. ’Kiki benar-benar gadis yang sangat manis,’ demikian selalu puji mama untuk Kiki kepada teman-teman arisannya. Hal ini lah yang membuat mama terbelalak kaget dan berteriak histeris ketika mengetahui Kiki berpacaran dengan Joni. Joni adalah teman sekampus Kiki. Dibanding dengan anak-anak teman arisan mama, Joni memang bukan siapa-siapa. Joni hanya pemuda biasa. Terlalu biasa malah. ’Ia adalah anak kampung. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari dia,’ demikian selalu yang dibilang oleh mama tiapkali ada yang menyebut nama Joni.
’Mama punya sesuatu untuk kamu, sayang,’ ucap mama sambil membawa tubuh Kiki rebahan di pahanya. ’Mama ada hadiah buat Kiki?’, jawab Kiki dengan heran. ’Iya.’ ’Tapi Kiki kan tidak sedang ulang tahun, ma?’ Kiki nampak menatap mata Mama. Hubungan mereka memang dekat. Jadi mama terkadang hanya mencandai Kiki. Tapi kali ini, mata mama kelihatan serius. Mama kemudian nampak merogoh sesuatu dari laci meja. Sebentar kemudian, mama telah menyodorkan sebuah amplop pada Kiki. ’Apa ini, ma?’, tanya Kiki penasaran. ’Buka sendiri dong. Nanti kalo mama kasih tahu, bukan surprise namanya.’ Mama ada-ada saja, batin Kiki. Karena tidak ingin dilanda penasaran lebih lanjut, Kiki pun membuka amplop berwarna coklat tersebut.
[]
Kiki bergelanyut manja di boncengan motor Joni. Meski mama selalu berpesan agar Kiki pergi kuliah pake mobil, Kiki tetep memilih untuk naik angkot. Meski harus berdesak-desakkan ketika berangkat, tapi Kiki rela. Bayangan pulang kuliah dengan diantar Joni naik motor, membuat penderitaan di angkot tidak terlalu berarti buat Kiki. Padahal 1 tahun yang lalu, ketika Kiki belum ketemu Joni, Kiki tidak akan meninggalkan rumah bila tidak ditemani dengan si kuning, mobil kesayangannya. Takut kulitnya terbakar lah, takut rambutnya menjadi keringlah, dan sejuta ketakutan laen akan dengan sigap digelontor oleh Kiki sebagai alasannya.
’Ki, udah sampai,’ ucap Joni lembut sambil menyentuh tangan Kiki yang melingkar di pinggangnya. Kiki memang paling suka merem ketika dibonceng Joni. Joni sering protes dengan kebiasaan Kiki ini. Ia takut kalo Kiki tiba-tiba ketiduran dan tidak bisa berpegangan dengan erat. ’Tidak apa-apa kok Jon. Aku hanya ingin merasakan kedamaian tiap kali bersama kamu,’ demikian Kiki selalu bilang tiap kali Joni bertanya kebiasaannya tersebut. ’Kita kan tidak punya waktu banyak untuk bersama. Jadi aku ingin menikmati tiap kebersamaan kita dengan sepenuh hati.’’Meski itu dengan memejamkan mata tiap kali aku bonceng?’ kata Joni masih heran dengan kebiasaan Kiki. ’Iya.’ ’Oke deh. Tapi janji ya. Jangan ngantuk kalo aku bonceng. Ntar kamu jatuh lagi,’ ucap Joni sambil membelai rambut Kiki. Bila sudah begini, Kiki akan memeluk Joni erat. Semenjak Joni berterus terang kepada mama tentang perasaanya kepada Kiki, mereka berdua menjadi susah bertemu. Hanya ketika waktu-waktu sela di kampus dan ketika Joni berkesempatan mengantar Kiki pulang, mereka bisa bersama. Maka, tiap kali perjumpaan itu terjadi, baik Joni dan Kiki benar-benar ingin menikmatinya sepenuh hati.
’Ki, kita sudah sampai.’ Joni mengulang ucapannya karena Kiki tidak segera menanggapi dirinya. Tangannya kembali menyentuh tangan Kiki pelan. Dan lembut. ’Ki,’ Joni kembali berucap lembut. Joni baru hendak menyebut nama Kiki lagi ketika ia merasakan tangan Kiki bergerak. ’Sudah sampai ya, yank.’ ’Iya, turun gih.’ Joni melepas helm yang menutup kepalanya. ’Masih kangen, yank,’ rajuk Kiki dengan manja. Kiki tetap tidak mau turun dari boncengan Joni. Joni memalingkan kepalanya. Lalu melepas helm yang menutup kepala Kiki. Dipandanginya Kiki dengan berjuta sayang yang berluruhan dalam jiwa. ’Kamu harus pulang, Ki. Nanti mama kamu nyariin,’ ucap Joni sambil merapikan rambut Kiki yang kusut tertindih helm. ’Biarin.’ Telunjuk Joni bergerak lembut menyentuh bibir Kiki. ’Kamu gak boleh ngomong seperti itu. Bagaimanapun, mereka adalah orang tua kamu.’ ’Tapi kenapa mereka jahat sama kamu?’ tangan Kiki bergerak menyentuh telunjukku. Matanya nampak berkaca-kaca. ’Mereka pasti punya alasan untuk itu, Ki.’ ’Iya. Karena mereka sayang sama aku. Karena mereka pedul sama aku. Tapi kenapa mereka tidak mau mengerti perasaanku. Karena mereka ...’ Kiki tidak sempat menyelesaikan perkataannya. Tangis pelannya telah memaksa Joni menarik Kiki dalam dekapannya. ’Aku sayang kamu, Jon,’ ucap Kiki lirih.
Beberapa waktu lamanya, Kiki larut dalam pelukan Joni. Joni menghentikan motornya tepat di depan portal di kelokan jalan menuju rumah Kiki. Sesekali nampak sepeda motor berlalu melewati mereka. ’Tidur nyenyak ya, Ki. Jangan begadang. Kasian kan murid-murid kamu.’ Kiki hanya mencubit lengan Joni mendengar sindiran tersebut. Joni membimbing wajah Kiki dari dekapannya. ’Aku sayang kamu, Ki,’ ucap Joni lembut. ’Sangat sayang.’ Udara seperti berhenti dalam takzim ketika kepala Kiki bergerak mendekat Joni. Sesaat keduanya bertemu dalam ciuman yang dalam. Hangat. Penuh dengan tumpahan keintiman rasa sayang. ’Met bobo, switi. Jaga diri ya, ucap Joni kemudian. ’ Kiki masih rekat menatap wajah Joni. Bekas air mata nampak masih tersisa di sana. Malam semakin tenggelam. Kiki mendekatkan kepalanya ke arah Joni. ’Sekali lagi boleh ya, yank?’
[]
Joni menarik nafas berat. Ia nampak terduduk di salah satu sudut bandara. Ia sama sekali tidak pernah berfikir ia dan Kiki harus berpisah dengan cara seperti ini. Tidak ada pertemuan yang terjadi. Tidak ada nafas yang bisa dibaui. Tidak ada rasa yang dibagi. Hanya sepucuk surat yang dibawa oleh Indah, teman sekolah Kiki. Ada sebentuk rasa marah menjalar di hati Joni. Tapi sebuah tarikan nafas panjang kemudian menghalau rasa itu pergi. Lagi-lagi Joni menghela nafas panjang. Semua telah pergi. Semua telah berlalu. Tak ada lagi yang tersisa. Selain setitik air mata yang bersembunyi di ujung kelopak mata Joni.
[]
...dan sayang, dari sini kita akan mulai langkah kita berdua. Akan kemana kita sekarang? (from the one who loves you). Dan surat itu pun terlipat. Terdiam. Terkungkung dalam keheningan yang panjang.
Sunday, January 14, 2007
Saat Cinta Menyentuh Hati Kita
Hari ini aku terbangun dengan cairan cinta menggenang di pelupuk mataku. Dan ketika kubuka mata, bening getah cinta pun merayap. Bergulir menggelinding ke dalam retina mataku. Bening cairan cinta lalu mengubah dirinya menjadi tangan-tangan mungil bersepuhkan hangat menenangkan. Mengusap kelopak yang masih mendekap erat bola mataku.
Aku lalu beranjak menggelajar sajadah. Mengecup pucuk-pucuk hangat pertemuan dengan Kekasih. Dan ketika aku telah merampungkan perjumpaan dengan Kekasihku, cinta telah mengubah dirinya menjadi laksa air menyejukkan. Ia menelusuri seluruh lekuk tubuhku. Menawarkan kesegarannya mengusir penat yang menggantung. Menyalakan kilau tajamnya untuk menghela perompak-perompak yang menawan cerah jiwa. Cinta telah membungkus diriku dengan aroma wangi. Dan mengguyur diriku dengan kesegaran jasmani.
Aku, kemudian, mulai mengepak diriku dalam balutan busana untuk bekerja. Ketika sepatu aku pasangkan, cinta melesak ke bawah. Mengepakkan sayapnya. Mendekap erat tiap-tiap sisi bawah sepatuku. Cinta mengangkat tubuhku. Menerbangkan diriku dalam langkah-langkah riang. Penuh senandung menyegarkan. Betapa elok perjalanan di pagi hari ini. Dengan cinta menempel di sepatuku, setiap persentuhanku dengan tanah, dengan rumput, adalah perjalanan pulang ke pangkuan kekasih yang telah 2 tahun aku tinggalkan.
Dan ketika aku memasuki bus, cinta telah berbaring membentuk empuk merdu kursi. Melindungi diriku dari penat dan lelah. Menjauhkan diriku dari bau-bau jiwa yang tiada pernah dipeluk oleh cinta. Pun ketika bus oleh jalan yang berlubang, cinta dengan cepat mengantupkan kedua tangannya. Melingkar di pinggangku. Memberikan dekap hangat melegakan.
Dalam perjalanan bisu tanpa teman, cinta mengubah dirinya menjadi burung perkutut. Sayapnya terjulur ke depan. Membentuk elok saxospon. Lalu, mengalirlah nada-nada indah itu. Mengusir sepi yang menyeringai. Menghadirkan sesosok teman hangat. Menghalau rasa sunyi sepi.
30 menit pun berlalu. Perjalanan pun usai. Cinta melompat turun ketika kakiku menggapai aspal depan kantorku. Cinta mengubah dirinya menjadi rumpai-rumpai yang menjulur. Melambai keluar dari gerbang kantorku. Membentangkan tangannya. Menyambut, dan berucap lembut: selamat datang.
Cinta lalu menyusup ke dalam bibir para penjaga pintu. Wajah-wajah sangar yang terbiasa kaku, yang terbiasa terbalut dalam sinis penuh selidik, pergi sudah. Pagi itu, cinta telah memangkas wajah-wajah itu menjauh. Dan menghadirkan sejuta arjuna berbaris. Menenggelamkan dunia dalam senyum penuh aroma cinta.
Cinta yang telah tersebar, rupanya masih saja tersisa di setiap sisi sepatuku. Langkah masih saja ringan. Penuh dengan senandung bahagia. Dan, aku pun sudah terduduk di belakang mejaku.
Cinta. Andai kita tak lagi punya apa. Cukup saja ada cinta di hati. Cinta akan memberi lebih dari apa yang kita ingini. Karena cinta akan selalu ada di sana. Selalu.
Aku lalu beranjak menggelajar sajadah. Mengecup pucuk-pucuk hangat pertemuan dengan Kekasih. Dan ketika aku telah merampungkan perjumpaan dengan Kekasihku, cinta telah mengubah dirinya menjadi laksa air menyejukkan. Ia menelusuri seluruh lekuk tubuhku. Menawarkan kesegarannya mengusir penat yang menggantung. Menyalakan kilau tajamnya untuk menghela perompak-perompak yang menawan cerah jiwa. Cinta telah membungkus diriku dengan aroma wangi. Dan mengguyur diriku dengan kesegaran jasmani.
Aku, kemudian, mulai mengepak diriku dalam balutan busana untuk bekerja. Ketika sepatu aku pasangkan, cinta melesak ke bawah. Mengepakkan sayapnya. Mendekap erat tiap-tiap sisi bawah sepatuku. Cinta mengangkat tubuhku. Menerbangkan diriku dalam langkah-langkah riang. Penuh senandung menyegarkan. Betapa elok perjalanan di pagi hari ini. Dengan cinta menempel di sepatuku, setiap persentuhanku dengan tanah, dengan rumput, adalah perjalanan pulang ke pangkuan kekasih yang telah 2 tahun aku tinggalkan.
Dan ketika aku memasuki bus, cinta telah berbaring membentuk empuk merdu kursi. Melindungi diriku dari penat dan lelah. Menjauhkan diriku dari bau-bau jiwa yang tiada pernah dipeluk oleh cinta. Pun ketika bus oleh jalan yang berlubang, cinta dengan cepat mengantupkan kedua tangannya. Melingkar di pinggangku. Memberikan dekap hangat melegakan.
Dalam perjalanan bisu tanpa teman, cinta mengubah dirinya menjadi burung perkutut. Sayapnya terjulur ke depan. Membentuk elok saxospon. Lalu, mengalirlah nada-nada indah itu. Mengusir sepi yang menyeringai. Menghadirkan sesosok teman hangat. Menghalau rasa sunyi sepi.
30 menit pun berlalu. Perjalanan pun usai. Cinta melompat turun ketika kakiku menggapai aspal depan kantorku. Cinta mengubah dirinya menjadi rumpai-rumpai yang menjulur. Melambai keluar dari gerbang kantorku. Membentangkan tangannya. Menyambut, dan berucap lembut: selamat datang.
Cinta lalu menyusup ke dalam bibir para penjaga pintu. Wajah-wajah sangar yang terbiasa kaku, yang terbiasa terbalut dalam sinis penuh selidik, pergi sudah. Pagi itu, cinta telah memangkas wajah-wajah itu menjauh. Dan menghadirkan sejuta arjuna berbaris. Menenggelamkan dunia dalam senyum penuh aroma cinta.
Cinta yang telah tersebar, rupanya masih saja tersisa di setiap sisi sepatuku. Langkah masih saja ringan. Penuh dengan senandung bahagia. Dan, aku pun sudah terduduk di belakang mejaku.
Cinta. Andai kita tak lagi punya apa. Cukup saja ada cinta di hati. Cinta akan memberi lebih dari apa yang kita ingini. Karena cinta akan selalu ada di sana. Selalu.
Kenapa Kita Musti Mencinta..
Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab,Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan,Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian,Mereka yang mencintai, menyebutnya takdir.
Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kesusahan untuk menguji kita. Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam.
Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya. Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.
Mengapa menunggu?Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa.Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono.Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai, kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian itu.
Jika ingin berlari, belajarlah berjalan duhulu,Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.
Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada.Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat, Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah, karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.
Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,Kota Roma tidak dibangun dalam sehari,Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan.
Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama, Dan penantian kita tidaklah sia-sia.
Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal - iman, keberanian, dan pengharapan - penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan.
Pada akhirnya. Tuhan dalam segala hikmat-Nya, meminta kita menunggu, karena alasan yang penting.
Dalam menunggu itulah, terbangun rumah cinta ini. Tempat mengungsikan segala resah jiwa. Tempat merebahkan lelah jiwa. Tungku perapian yang akan selalu memantik gelora semangat jiwa.
Subscribe to:
Posts (Atom)