Untuk membuktikan kesuciannya, Sinta melakukan obong diri. Api yang mendidih, menggunung menjilat, tak menciutkan nyalinya. Andai ia suci, seperti teguh keyakinannya, Dewata pasti akan mendinginkan api tersebut. Seperti Ibrahim yang merasakan hangat di rahim api, demikian juga Sinta akhirnya mengalaminya. Penyucian diri, seperti halnya diajarkan oleh Nabi dan para ksatria, memang selalu dilakukan dengan pengorbanan.
Di era sekarang, penyucian diri, ternyata, tetap ada. Hanya, ia tidak lagi dilakukan dengan pengorbanan, tetapi dengan cara yang sungguh teramat nyaman, hal-hal yang mematik kesenangan.
Tengoklah panggung Senayan pada waktu mementaskan lakon ‘Goro-Goro Century.’ Century yang dianggap penuh skandal, yang seharusnya menebarkan bau anyir, justru menjadi wewangi penyuci bagi sebagian kalangan. Lihatlah bagaimana anggota dewan berebut ‘jimat Century’. Dalam konteks penyucian diri, Century tidak lagi berujud bank. Century telah dijelmakan menjadi sumur yang penuh berisi wewangian penyuci diri.
Maka, tak usah heran apabila kemudian anggota dewan saling sikut untuk mengayun gayung mengaduk air Century. Semakin keras mereka berteriak, maka dalam sangkaannya, semakin deras ia mengguyurkan air penyuci diri. Teriakan demi teriakan atas nama ‘pencarian kebenaran’, sebenarnya, tak lebih dari sekadar acara rebutan gayung dan panggung untuk menyucikan diri.
Bilangan hari pekat mencatat bagaimana panjang deret dosa para politisi. Apabila dirajut menjadi alas kaki, sungguh, dosa politisi tak lagi mewujud dalam rupa sandal. Andai pun dosa-dosa itu diraum menjadi benang, maka ia akan menenggelamkan politisi dalam kelam baju kebusukan. Bagi orang-orang yang sadar dan menyadari dirinya penuh berkalang noda dan dosa, maka kesempatan penyucian ibarat guyuran galon air di padang Mahsyar.
Ketika mereka berteriak menggemakan ‘kebenaran yang disangkakan’, sejatinya, mereka sedang mengharap dosa mereka tersembunyikan. Dosa dan pahala, iblis dan malaikat, dalam lakon politisi, hanyalah masalah kesempatan kemunculan.
Perhatikanlah bagaimana mereka berteriak lantang meneriakkan ‘kesucian’. Simak pula bagaimana mereka selalu menyeret dogma ‘kepentingan rakyat’ demi menyusun konstruksi penyucian. Tidak saja sebagai jimat penyucian, Century pun diubah menjadi pupur dan gincu pemanis rupa.
Hanya saja, mereka, politisi yang kerap berteriak, ternyata tak menyadari, bahwa penyucian mereka ini hanyalah sia-sia.
Penyucian diri, seperti diajarkan nabi dan para satria, haruslah ditempuh dengan penderitaan dan pengorbanan, bukan dengan umpatan dan pengangkangan klaim ‘kebenaran’. Penyucian diri dengan menggunakan caci maki, penghujatan kepada pihak yang disangkakan, hanya akan mengeruk kubur mereka sendiri. Seperti lembah yang menggema, pada akhirnya, lemparan kotoran yang dilakukan demi penyucian diri, justru berbalik lebih keras menampar.
Alam selalu punya cara untuk mengajarkan bijak dan mawas diri. Tidak perlu hiruk pikuk. Tidak jua deru sedu caci maki. Catatan Malaikat rapi tiada meninggalkan celah. Gusti tidak pernah jua tertidur. Hingga kemudian, panggung yang disangkakan akan menjadi penyucian diri, tak lebih dari selembar kain kusam yang ketika semakin diakrabi, menyembulkan larit demi larit anyir bau dosa nista keburukan mereka sendiri.
‘Goro-Goro Century’ mementaskan kenyataan: mereka yang mencaci, berteriak berlagak suci, ternyata lebih kotor dari yang dilempari teriak dan hujatan. Para politisi pemain ‘Goro-goro Century’, yang pentas di Senayan nyaris selama 3 bulan, ternyata hanya kumpulan lidi kotor yang mencoba menyucikan ruang. Perhatikan Misbakhun yang terciprat L/C bodong. Panda Nababan dan Tjahyo Kumolo yang mengidap anyir suap pemilihan Deputi BI, Mirandha Gultom. Setya Novanto dan Idrus Marham yang terendus di antara kutu impor korupsi pengadaan beras dari Vietnam.
Suluh panggung dunia, akhirnya, menerbitkan terang. Tokoh yang bertopeng terkuak sudah. Siapa maling, siapa juragan jelas sudah. Dunia selalu punya cara untuk memperlihatkan kesucian seseorang. Bau wangi tidak terlahir dari teriakan dan klaim ‘pemilik kebenaran’. Aroma wangi lahir dari ketulusan tekad, jalan lurus yang setia disisir, dan kepatuhan abadi terhadap nilai-nilai agung kemanusiaan.
Menjadi suci adalah mimpi setiap insan. Tetapi, apabila manusia masih dalam tataran tidak suci, bukan dengan teriak, hujat, hasut, dan caci yang dapat menjadi media penyucian diri. Kesucian diri hanya terlahir lewat penyucian yang dilakukan dengan menempuh penderitaan dan pengorbanan. Seperti dulu berlaku untuk Sinta, sampai kapanpun, demikian halnya berlaku untuk kita semua, umat manusia.
gambar diambil dari sini
Showing posts with label resah. Show all posts
Showing posts with label resah. Show all posts
Saturday, April 3, 2010
Friday, March 19, 2010
Lalu, setelah ini apa?
Setelah satu babak hidup terlewati, acap, dalam ketermanguan sehabis perayaan, manusia tercenung dalam sebuah absurditas tanya: lalu, setelah ini apa? Setelah tujuan teraih, target tercapai, resolusi terpenuhi, cinta terengkuh, nafsu terpuaskan, bonus di kantong, lalu, setelah ini apa?Hidup, memang, adalah rangkaian demi rangkaian keberhasilan. Seperti Chinmi yang mengembara kembali tiapkali memenangkan pertempuran, demikian lah manusia mengelana demi memuaskan hasrat demi hasrat kehidupan. Hanya, setelah sekian kemenangan, setelah puluhan selebrasi kepuasan, tiba juga saat dimana pertanyaan itu muncul juga: lalu, setelah ini apa?
Sebuah kalimat yang teramat simpel, memang, tetapi sungguh, menghabiskan beberapa cangkir kopi untuk beranjak dengan mengantongi jawabnya.
Lalu, setelah ini apa?
Perayaan demi perayaan keberhasilan ternyata tidak semakin memudahkan menjawab pertanyaan tersebut. Layaknya skenario, jawab atas kegelisahan tadi, ternyata, sangat terkait dengan sistematika kisah yang sedari awal kita mainkan. Apabila kita hanya sekadar hidup, mengelana tanpa tujuan yang terpola, maka sungguh, sukar untuk mendapat jawab atas tanya: lalu, setelah ini apa?
Hidup yang tidak runut dalam seri, akan mengalun seperti lompatan-lompatan nada tanpa birama. Not yang terpetik tidak utuh menghadirkan komposisi irama. Mereka sekadar mengada. Tidak tersusun jelas bilangan nada apa yang membunyi setelah ini nada ini. Tidak terpola tinggi rendah suara setelah suara yang tadi. Musik tanpa kontinuitas sistematika harmoni, hanya akan terdengar seperti bocah sedang berlatih piano. Asal pencet. Sekadar bunyi. Tidak akan pernah tahu: setelah ini, harus memencet tombol apa.
Lalu, setelah ini apa?
Sebuah tanya yang simpel. Intonasi nada atas tanya tersebut dapat melahirkan makna ganda: dapat saja beraroma semangat menghadapi tantangan selanjutnya, atau putus asa mencari-cari acara sesudahnya.
Bagi mereka yang telah mengetahui apa yang akan diraih dalam hidup, pertanyaan ini akan menghadirkan gelora semangat menapaki tantangan yang lebih besar. Seolah membuka dada, ia berteriak lantang: datanglah tantangan, akan aku kalahkan. Mereka yang hidup dalam resolusi runtut tertata, tanya ini menjadi mantra sakti yang menandakan kemenangan peperangan dalam sebuah pertempuran. Setelah selebrasi, setelah letupan sampanye, mereka sudah mengetahui tangga mana yang musti didaki. Lalu, setelah ini apa? Bagi manusia yang hidup dengan mengetahui tujuan hidup dan alasan keberadaannya adalah sebuah tanda selebrasi kemenangan dalam rangkaian jalan yang gilang gemilang.
Tetapi, bagi sebagian orang, mereka yang hidup asal mengasal: asal bernafas, asal mengelana, asal makan, asal tidur, asal bekerja, asal dalam segala hal, tanya sederhana ini sungguh menghadirkan nyeri dan pusing tiada terkira. Seperti petinju yang terpojok di sudut ring, seperti kesebelasan yang sedang kepayahan diserang, seperti kuda yang tertutup kacamata hitam, tanya ini hanya menghadirkan tembok nyata di depan mata mereka.
Manusia yang tidak mempunyai tujuan besar dalam hidup, akan berada di persimpangan tiap kali ia selesai melakukan selebrasi atas kesuksesan kecil yang diperoleh. Bukannya bersiap menapaki tangga demi menggapai kemuliaan lebih tinggi, ia sibuk mencari arah yang musti dituju untuk terus melangkah setelah selebrasi usai. Tiap hari yang berulang, bagi manusia jenis ini, hanyalah pagi yang sekadar mengada, hanya ritual tidak lebih dari sebuah repetisi.
Lalu, setelah ini apa?
Anda ingin tahu di kategori manusia mana Anda ditempatkan? Bangunlah di pagi hari. Rasakan damai dan kesejukannya. Hayati apa yang Anda rasakan. Apakah pagi yang sedang Anda hirup keindahannya tersebut hanyalah rangkaian berulang dari pagi-pagi sebelumnya? Apabila Anda menjawab ia, sungguh, Anda layak masuk dalam kategori manusia usang. Manusia yang selalu tergagap tiap kali berhadapan dengan tanya: lalu, setelah ini apa?
Apabila di pagi hari, di antara keheningan yang sublim membius, terduduk usai melipat sajadah, membuka jendela menatap keremangan yang berangsur menjadi jelas, Anda menatap pagi dengan perasaan cinta yang selalu terbarui, menyadari pagi itu adalah hari baru, hari baru di antara hari-hari masa bakti hidup Anda, maka sungguh, Anda adalah termasuk orang-orang yang terbekati. Mereka yang menyambut hari dengan sekantung surprise, tidak pernah menganggap pagi hanyalah sekadar waktu yang mengada: sebuah pendulum yang berulang yang selalu datang sehabis ia terlempar menjadi malam.
Lalu, setelah ini apa?
Kant, sekian abad lalu, telah membantu kita dengan ucapannya: Penciptaan tak pernah usai. Pagi bukanlah serangkaian repetisi.
Lalu, setelah ini apa?
Gambar diambil dari sini
Friday, March 5, 2010
Matikanlah daripada Menggelandang
1
Seperti layar, tak terlihat setitik pun huruf atau sekadar pendek coretan di pikiranku. Kosong. Melompong. Hampa. Seperti tuts piano yang terdiam. Rupanya elok sungguh. Tetapi, tetap, tidak menghasilkan bunyi nada. Meski lirih satu not sekalipun.
2
Semuanya baik-baik saja. Itu apabila kamu akan berucap bahwa mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikiran atau perasaan. Everything is all right. Keseimbangan itu tetap ada. Kesinambungan waktu tetap terjaga. Pintu kantor tetap membuka. Kasur di rumah masih menanti setia. Dan, tak jua ada pertempuran yang meledakkan jiwa maupun pikiran.
Seperti hamparan air, semua terbaring tenang. Tak ada riak. Tak tersaji percik gelembung. Apalagi amuk bongkahan ombak.
3
Tapi, sungguh, aku tidak merasa hidup sekarang. Saat ini. Hidungku menghirup. Mata mengedip. Jantung tetap berdegup. Hanya, tak ada rembesan hasrat yang meletup. Aku telah mati. Raga yang berjalan tak lebih dari onggok petasan gagal dinyalakan. Ia terberai. Tegak berdiri, memang. Tapi dengan sumbu yang telah hilang. Atau, jika tersisa sedikit, ia sudah tak dapat dinyalakan.
Lalu, apa guna mesin keren bila tak mampu dinyalakan. Apa guna Ferrari Lambhorgini apabila ia mogok untuk dilesakkan. Apa juga guna bibir seksi bila ia tak dapat dicumbui..
4
Aku, mungkin juga, telah mati dalam kehidupanku. Dan, mati sebelum kematian, hidup tanpa kehidupan, tidak kah itu lebih tragis dari kematian itu sendiri. Jasad yang menggelandang tanpa letup hasrat, organ yang bekerja hanya demi menopang raga tanpa makna, haruskah ia tetap dipertahakankan keberadaannya?
5
Matikanlah aku apabila itu dapat menemukan kehidupanku kembali. Menghilang untuk kembali datang, mungkin, lebih elok daripada tetap menggelandang.
6
Tapi, maaf, aku tidak ingin menandatangani kesepakatan dengan setan..
Seperti layar, tak terlihat setitik pun huruf atau sekadar pendek coretan di pikiranku. Kosong. Melompong. Hampa. Seperti tuts piano yang terdiam. Rupanya elok sungguh. Tetapi, tetap, tidak menghasilkan bunyi nada. Meski lirih satu not sekalipun.
2
Semuanya baik-baik saja. Itu apabila kamu akan berucap bahwa mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikiran atau perasaan. Everything is all right. Keseimbangan itu tetap ada. Kesinambungan waktu tetap terjaga. Pintu kantor tetap membuka. Kasur di rumah masih menanti setia. Dan, tak jua ada pertempuran yang meledakkan jiwa maupun pikiran.
Seperti hamparan air, semua terbaring tenang. Tak ada riak. Tak tersaji percik gelembung. Apalagi amuk bongkahan ombak.
3
Tapi, sungguh, aku tidak merasa hidup sekarang. Saat ini. Hidungku menghirup. Mata mengedip. Jantung tetap berdegup. Hanya, tak ada rembesan hasrat yang meletup. Aku telah mati. Raga yang berjalan tak lebih dari onggok petasan gagal dinyalakan. Ia terberai. Tegak berdiri, memang. Tapi dengan sumbu yang telah hilang. Atau, jika tersisa sedikit, ia sudah tak dapat dinyalakan.
Lalu, apa guna mesin keren bila tak mampu dinyalakan. Apa guna Ferrari Lambhorgini apabila ia mogok untuk dilesakkan. Apa juga guna bibir seksi bila ia tak dapat dicumbui..
4
Aku, mungkin juga, telah mati dalam kehidupanku. Dan, mati sebelum kematian, hidup tanpa kehidupan, tidak kah itu lebih tragis dari kematian itu sendiri. Jasad yang menggelandang tanpa letup hasrat, organ yang bekerja hanya demi menopang raga tanpa makna, haruskah ia tetap dipertahakankan keberadaannya?
5
Matikanlah aku apabila itu dapat menemukan kehidupanku kembali. Menghilang untuk kembali datang, mungkin, lebih elok daripada tetap menggelandang.
6
Tapi, maaf, aku tidak ingin menandatangani kesepakatan dengan setan..
Hening dalam Gaduh
1
Hidup, dalam segala rupa dan wujudnya, pada akhirnya, adalah medium pencarian jalan untuk menemukan rasa aman dan nyaman. Pencarian itu, mungkin saja, menghabiskan sebagian besar hidup manusia. Meski, tetap saja ada, beberapa orang yang telah mendapatkan aman dan nyaman dalam bilangan kecil masa hidupnya.
2
Saat terlahir, manusia menyisir jalan dari rahim hingga menyembul ke bumi, hanya seorang diri. Sejak masih dalam penciptaan, manusia telah lekat dengan aroma kesendirian. Ia menantikan pergantian fase darah menjadi daging, membentuk struktur organ, hingga membulat utuh mewujud sosok manusia, dengan tanpa alun atau canda teman. Di awal keberadaan, manusia mendiami rahim tanpa suara. Menendang tanpa bercakap. Menyusu tanpa berteriak meminta.
3
Dan, ketika terlahir, Tuhan menyempurnakan sifat kesendirian manusia dengan keriangan guyup dengan sanak saudara. Demi mendapati dunia dan tatapan mata yang masi asing, Tuhan memberikan kekuatan kepada bayi untuk meledakkan tangisnya, memulai awal periode kegaduhan. Saat kelahiran, sesungguhnya, adalah transformasi dari keheningan menjadi kegaduhan. Hingga, kemudian, lengkaplah sudah: manusia terberkati oleh kesendirian dan kebersamaan. Sesuatu yang, kemudian, oleh ahli ilmu sosial dikenal sebagai ‘makhluk pribadi dan makhluk sosial’.
4
Kegaduhan menarik manusia untuk mendekati keserakahan, membangun peradaban dengan hiruk pikuk persekongkolan.
5
Keheningan, acap seiring dengan kesendirian, keteduhan, dan memberikan kehangatan tak terucap yang membawa manusia pada dalam makna fitrah keberadaan.
6
Lalu, haruskah keduanya terpisah dan dipisah dalam sekat-sekat baja ruang dan waktu kehidupan?
7
Keheningan, tak disangka, acapkali, datang bersamaan bersama kegaduhan...
Hidup, dalam segala rupa dan wujudnya, pada akhirnya, adalah medium pencarian jalan untuk menemukan rasa aman dan nyaman. Pencarian itu, mungkin saja, menghabiskan sebagian besar hidup manusia. Meski, tetap saja ada, beberapa orang yang telah mendapatkan aman dan nyaman dalam bilangan kecil masa hidupnya.
2
Saat terlahir, manusia menyisir jalan dari rahim hingga menyembul ke bumi, hanya seorang diri. Sejak masih dalam penciptaan, manusia telah lekat dengan aroma kesendirian. Ia menantikan pergantian fase darah menjadi daging, membentuk struktur organ, hingga membulat utuh mewujud sosok manusia, dengan tanpa alun atau canda teman. Di awal keberadaan, manusia mendiami rahim tanpa suara. Menendang tanpa bercakap. Menyusu tanpa berteriak meminta.
3
Dan, ketika terlahir, Tuhan menyempurnakan sifat kesendirian manusia dengan keriangan guyup dengan sanak saudara. Demi mendapati dunia dan tatapan mata yang masi asing, Tuhan memberikan kekuatan kepada bayi untuk meledakkan tangisnya, memulai awal periode kegaduhan. Saat kelahiran, sesungguhnya, adalah transformasi dari keheningan menjadi kegaduhan. Hingga, kemudian, lengkaplah sudah: manusia terberkati oleh kesendirian dan kebersamaan. Sesuatu yang, kemudian, oleh ahli ilmu sosial dikenal sebagai ‘makhluk pribadi dan makhluk sosial’.
4
Kegaduhan menarik manusia untuk mendekati keserakahan, membangun peradaban dengan hiruk pikuk persekongkolan.
5
Keheningan, acap seiring dengan kesendirian, keteduhan, dan memberikan kehangatan tak terucap yang membawa manusia pada dalam makna fitrah keberadaan.
6
Lalu, haruskah keduanya terpisah dan dipisah dalam sekat-sekat baja ruang dan waktu kehidupan?
7
Keheningan, tak disangka, acapkali, datang bersamaan bersama kegaduhan...
Thursday, February 18, 2010
RPM Konten Multimedia: Harmonisasi berujung Tirani
Menteri Tifatul, seperti Percy Jackson dalam serial Percy Jackson & The Olympians, sedang suka bermain petir. Setelah beberapa waktu lalu melemparkan RPP Penyadapan, Tifatul kembali mengayunkan petir melalui rencana penerbitan Peraturan Menteri tentang Konten Multimedia. Uji publik RPM Konten Multimedia menghadirkan banyak kecaman. Kebebasan berpendapat, atas nama formulasi tunggal harmoni kemaslahatan, sedang menuju lembah pengekangan. Dalam negeri yang mengklaim menganut demokrasi, haruskah kebebasan selalu dipertentangkan dan dikejar-kejar untuk dimasukkan ke dalam bakul otoritas kekuasaan?
Cacat Kelahiran
Setidaknya, ada dua hal yang bisa digunakan untuk melihat legal tidaknya keberadaan RPM Konten Multimedia ini. Pertama adalah dari segi landasan hukum keberadaan, dan kedua dari segi substansi muatan. Hirarki peraturan perundangan, seperti diatur dalam pasal 7 UU 10 tahun 2004, tidak mengenal adanya Peraturan Menteri. Meski demikian, tidak lantas Peraturan Menteri hilang dari hirarki hukum positif. Pasal 7 dan UU 10 tahun 2004, apabila dibaca berdasarkan interpretasi dan logika hukum, tidak bersifat limitatif. Setiap pejabat negara, dimungkinkan untuk membentuk peraturan perundangan dengan kewenangan atributif atau kewenangan delegatif/derivatif. Dengan payung kewenangan atributif, menteri dapat mengeluarkan Peraturan Menteri berdasarkan kekuasaan delegasi yang diamanatkan oleh peraturan hukum yang lebih tinggi, seperti Undang-Undang. Di samping kewenangan atributif langsung dari Undang-Undang, kemunculan Peraturan Menteri juga dapat berasal dari sub delegate legislation, Undang-Undang memerintahkan kepada pemerintah, dan kemudian pemerintah mendelegasikan kewenangan tersebut kepada menteri.
Mencermati konsideran yang digunakan dalam penyusunan RPM Konten Multimedia, tidak ditemui pasal Undang-undang atau Peraturan Pemerintah yang dapat digunakan sebagai cantolan hukum kelahiran RPM tersebut. Tidak ada pasal dalam UU Penyiaran, UU Pers, ataupun UU ITE yang memerintahkan kepada menteri, atau bahkan delegasi langsung kepada pemerintah, untuk menerbitkan aturan turunan tentang Konten Multimedia. Jelas terlihat, menteri Tifatul sedang melakukan akrobatik kewenangan di sini. Seperti Percy Jackson yang masih gagap mengendalikan kekuatan petir yang tiba-tiba ia punya, Tifatul pun tak kalah kerepotan mengendalikan kekuatan yang mendadak ia punya. Sang Menteri masih kagok, ia belum terbiasa bermain petir.
Substansi RPM
Hal pertama yang sangat dilematis mengenai RMP Konten Multimedia adalah: apakah persoalan mendasar mengenai hak asasi manusia untuk berpendapat, berekspresi akan diatur dan dibatasi oleh peraturan sekelas Peraturan Menteri? Pasal 28F UUD 1945 jelas menyebutkan bahwa setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi, berhak memperoleh, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Pasal 28 UUD 1945 terang benderang mengatur bahwa kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.
Akibat tidak tepat dari segi wujud, pembatasan hak asasi manusia oleh Peraturan Menteri, jelas akan berbenturan dengan kebebasan berpendapat yang secara tegas diatur dalam UU Pers dan UU Penyiaran. Dua Undang-undang tersebut, secara ironi justru dijadikan konsideran kelahiran RPM Konten Multimedia. Hukum dasar perundangan, bahwa perundangan lebih tinggi mengalahkan perundangan lebih rendah, membuat Peraturan Menteri tak akan mempunyai daya ketika diadu dengan Undang-Undang dalam judicial review oleh Mahkamah Agung.
Terlepas dari lemahnya alasan hukum keberadaan RPM Konten Multimedia, hal paling mendasar yang patut disayangkan dari kemunculan RPM ini adalah masih adanya pemikiran untuk mengambil otoritas kebebasan individu oleh negara. Meski tidak selalu bergandeng tangan, demokrasi, paham yang menjunjung kedaulatan rakyat, sangat berkait erat dengan penghormatan atas kebebasan individu. Di negara yang menganut demokrasi, kebebasan individu mendapatkan pengakuan dan dijamin sepenuhnya oleh konstitusi.
Negara seharusnya tidak terlalu jauh turut campur mengatur urusan pribadi warga negara. Ada pembatasan yang jelas mengenai apa yang diatur oleh negara dan wilayah mana yang menjadi milik masyarakat. Demokrasi yang telah dewasa mempercayai bahwa tiap pribadi warga masyarakatnya mampu memilih nilai yang terbaik bagi kemuliaan dirinya sendiri. Apabila masyarakat dipaksa terjerumus ke dalam mediokritas kolektif, maka nilai-nilai pembentuk peradabatan seperti kreatifitas, spontanitas, ataupun daya imajinasi akan terkebiri. Proses pendewasaan akan mandek. Masyarakat menjadi bayi yang selalu disuapi mengenai apa yang terbaik. Dengan dalih kebebasan positif demi tercapainya suatu tatanan ideal yang selaras dan harmonis, negara justru terjebak ke dalam despotisme dan tirani.
Tidak mudah memang untuk merumuskan batas kebebasan. Akan tetapi, dalam demokrasi, kebebasan individu akan menemukan batasnya apabila ia sudah mengancam kebebasan orang lain. Dan, dalam rangka menuju masyarakat yang dewasa, satu dua tiga kali memilih sesuatu yang salah, adalah lebih baik sebagai proses pembelajaran, dibandingkan dengan dicocok hidungnya untuk diarahkan memilih yang telah dipilih oleh otoritas negeri. Masyarakat yang dewasa adalah masyarakat yang lahir dari proses belajar. Individu yang tumbuh dalam suasana penuh dengan larangan, tidak akan pernah tumbuh menjadi dewasa. Sesuatu yang dilarang, dalam segala bentuknya, hanya akan makin menumbuhkan rasa penasaran dan keinginan untuk melanggarnya.
Dualisme liberalisme
RPM Konten Multimedia, dalam spektrum yang lebih luas, menunjukkan dualisme pengelolaan negara oleh pemerintah. Di satu sisi, dalam dunia yang telah menjelma menjadi kampung global, pemerintah melakukan liberalisme di sektor ekonomi dan perdagangan. Sektor yang mengurusi hajat hidup orang banyak, dengan alasan memacu anak negeri menjadi lebih tangguh dan mandiri, dibuka bebas bercampur baur dengan komoditi luar negeri. Sejak Januari 2010, dengan berlakunya CAFTA Agreement, pojok pasar di seluruh negeri tak jauh beda dengan sudut pasar di China, Bangkok, atau Thailand. Keterbukaan pasar, dengan segala konsekuensi dan harga yang musti dibayar, cukup terbukti mampu mendorong perekonomian.
Negara terbukti tak berdaya melawan tuntutan dunia untuk masuk ke dalam perdagangan bebas. Lalu, atas dasar apa, pejabata sekelas menteri berani menerbitkan peraturan yang dimaksudkan memutus komunikasi masyarakat ke dalam jejaring global? Perdagangan dan industri memerlukan dukungan infrastruktur berat seperti jalan, listrik, pelabuhan, bandara, dan konstruksi material lain. Sedangkan komunikasi global, atau internet, hanya memerlukan sambungan data yang, dalam segala hal, lebih mudah diwujudkan dibandingkan infrastruktur penunjang perdagangan. Dengan adanya pasal yang dimaksudkan untuk menjerat pengelola layanan konten multimedia, akankah negara mempunyai daya ketika harus bertarung melawan Google, Wordpress, Blogspot, atau penyedia layanan lain yang secara legal tidak berada dalam otoritas hukum Indonesia?
Jalan menuju surga tidak selamanya dibangun atas dasar niatan baik. Demikian bunyi sebuah diktum. Harmoni kedamaian masyarakat tidak akan lantas terbangun dengan pembatasan konten multimedia. Pengambilan hak individu oleh negara, atas nama apapun, hanya akan melahirkan apatisme dan menarik negara kembali ke era tradisional dan kegelapan. Kemajuan peradabatan tidak dibangun oleh serangkaian peraturan berlabel ‘tidak’, tetapi pemberian kepercayaan kepada masyarakat disertai dengan penegakkan hukum yang konsisten adalah jalan keluarnya.
Apabila dalam perjalanannya menjadi dewasa ternyata dijumpai penyimpangan atau kesalahan, ada lembaga peradilan, dewan pers, komisi Ombusman, atau kode etik jurnalistik, yang secara konstitusi sah untuk menindak. Pembuatan aturan dan badan baru, hanya akan semakin membawa negara ini ke dalam labirin birokrasi yang makin ruwet tiada berujung.
Masyarakat telah semakin dewasa. Keberhasilan melewati transisi demokrasi, proses pemilu yang berjalan aman, dan rasionalitas yang tetap terjaga ketika melewati kisruh antara lembaga tinggi negeri, menunjukkan tingkat masyarakat yang semakin matang. Tak seharusnya pemerintah meremehkan kedewasaan masyarakat negeri ini. Sebagai negara hukum, mari kembali kepada konstitusi sebagai sumber perundangan tertinggi. Hak mengeluarkan pendapat adalah hak asasi yang tidak boleh dihilangkan dengan alasan apapun juga. Dan apabila harus dibatas, kemuliaan kedudukan hak asasi, hanya pantas dipagari dalam peraturan dalam bentuk undang-undang.
Dalam sebuah artikelnya, Rizal Mallareng memulai dengan pertanyaan: kapan saya bisa berkata bahwa saya orang bebas? Jawaban atas pertanyaan sederhana ini bisa mengubah arah sejarah. Semoga menteri Tifatul dapat memahami bahwa kebebasan manusia membuatnya memiliki banyak keinginan. Serangan bertubi kebebasan positif atas kebebasan negatif, terbukti tidak mampu menurunkan derajat kebebasan negatif sebagai sebuah falsafah kebebasan. Pengingkaran terhadap kebebasan untuk memilih, dan percaya berlebihan terhadap formula tunggal untuk mengejar harmoni, justru akan mengingkari fitrah manusia itu sendiri. Semoga juga sang menteri, seperti halnya Percy Jackson, dapat bertindak arif sehingga upaya membangun peradaban di negeri ini tidak berujung pada despotisme dan tirani.
Cacat Kelahiran
Setidaknya, ada dua hal yang bisa digunakan untuk melihat legal tidaknya keberadaan RPM Konten Multimedia ini. Pertama adalah dari segi landasan hukum keberadaan, dan kedua dari segi substansi muatan. Hirarki peraturan perundangan, seperti diatur dalam pasal 7 UU 10 tahun 2004, tidak mengenal adanya Peraturan Menteri. Meski demikian, tidak lantas Peraturan Menteri hilang dari hirarki hukum positif. Pasal 7 dan UU 10 tahun 2004, apabila dibaca berdasarkan interpretasi dan logika hukum, tidak bersifat limitatif. Setiap pejabat negara, dimungkinkan untuk membentuk peraturan perundangan dengan kewenangan atributif atau kewenangan delegatif/derivatif. Dengan payung kewenangan atributif, menteri dapat mengeluarkan Peraturan Menteri berdasarkan kekuasaan delegasi yang diamanatkan oleh peraturan hukum yang lebih tinggi, seperti Undang-Undang. Di samping kewenangan atributif langsung dari Undang-Undang, kemunculan Peraturan Menteri juga dapat berasal dari sub delegate legislation, Undang-Undang memerintahkan kepada pemerintah, dan kemudian pemerintah mendelegasikan kewenangan tersebut kepada menteri.
Mencermati konsideran yang digunakan dalam penyusunan RPM Konten Multimedia, tidak ditemui pasal Undang-undang atau Peraturan Pemerintah yang dapat digunakan sebagai cantolan hukum kelahiran RPM tersebut. Tidak ada pasal dalam UU Penyiaran, UU Pers, ataupun UU ITE yang memerintahkan kepada menteri, atau bahkan delegasi langsung kepada pemerintah, untuk menerbitkan aturan turunan tentang Konten Multimedia. Jelas terlihat, menteri Tifatul sedang melakukan akrobatik kewenangan di sini. Seperti Percy Jackson yang masih gagap mengendalikan kekuatan petir yang tiba-tiba ia punya, Tifatul pun tak kalah kerepotan mengendalikan kekuatan yang mendadak ia punya. Sang Menteri masih kagok, ia belum terbiasa bermain petir.
Substansi RPM
Hal pertama yang sangat dilematis mengenai RMP Konten Multimedia adalah: apakah persoalan mendasar mengenai hak asasi manusia untuk berpendapat, berekspresi akan diatur dan dibatasi oleh peraturan sekelas Peraturan Menteri? Pasal 28F UUD 1945 jelas menyebutkan bahwa setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi, berhak memperoleh, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Pasal 28 UUD 1945 terang benderang mengatur bahwa kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.
Akibat tidak tepat dari segi wujud, pembatasan hak asasi manusia oleh Peraturan Menteri, jelas akan berbenturan dengan kebebasan berpendapat yang secara tegas diatur dalam UU Pers dan UU Penyiaran. Dua Undang-undang tersebut, secara ironi justru dijadikan konsideran kelahiran RPM Konten Multimedia. Hukum dasar perundangan, bahwa perundangan lebih tinggi mengalahkan perundangan lebih rendah, membuat Peraturan Menteri tak akan mempunyai daya ketika diadu dengan Undang-Undang dalam judicial review oleh Mahkamah Agung.
Terlepas dari lemahnya alasan hukum keberadaan RPM Konten Multimedia, hal paling mendasar yang patut disayangkan dari kemunculan RPM ini adalah masih adanya pemikiran untuk mengambil otoritas kebebasan individu oleh negara. Meski tidak selalu bergandeng tangan, demokrasi, paham yang menjunjung kedaulatan rakyat, sangat berkait erat dengan penghormatan atas kebebasan individu. Di negara yang menganut demokrasi, kebebasan individu mendapatkan pengakuan dan dijamin sepenuhnya oleh konstitusi.
Negara seharusnya tidak terlalu jauh turut campur mengatur urusan pribadi warga negara. Ada pembatasan yang jelas mengenai apa yang diatur oleh negara dan wilayah mana yang menjadi milik masyarakat. Demokrasi yang telah dewasa mempercayai bahwa tiap pribadi warga masyarakatnya mampu memilih nilai yang terbaik bagi kemuliaan dirinya sendiri. Apabila masyarakat dipaksa terjerumus ke dalam mediokritas kolektif, maka nilai-nilai pembentuk peradabatan seperti kreatifitas, spontanitas, ataupun daya imajinasi akan terkebiri. Proses pendewasaan akan mandek. Masyarakat menjadi bayi yang selalu disuapi mengenai apa yang terbaik. Dengan dalih kebebasan positif demi tercapainya suatu tatanan ideal yang selaras dan harmonis, negara justru terjebak ke dalam despotisme dan tirani.
Tidak mudah memang untuk merumuskan batas kebebasan. Akan tetapi, dalam demokrasi, kebebasan individu akan menemukan batasnya apabila ia sudah mengancam kebebasan orang lain. Dan, dalam rangka menuju masyarakat yang dewasa, satu dua tiga kali memilih sesuatu yang salah, adalah lebih baik sebagai proses pembelajaran, dibandingkan dengan dicocok hidungnya untuk diarahkan memilih yang telah dipilih oleh otoritas negeri. Masyarakat yang dewasa adalah masyarakat yang lahir dari proses belajar. Individu yang tumbuh dalam suasana penuh dengan larangan, tidak akan pernah tumbuh menjadi dewasa. Sesuatu yang dilarang, dalam segala bentuknya, hanya akan makin menumbuhkan rasa penasaran dan keinginan untuk melanggarnya.
Dualisme liberalisme
RPM Konten Multimedia, dalam spektrum yang lebih luas, menunjukkan dualisme pengelolaan negara oleh pemerintah. Di satu sisi, dalam dunia yang telah menjelma menjadi kampung global, pemerintah melakukan liberalisme di sektor ekonomi dan perdagangan. Sektor yang mengurusi hajat hidup orang banyak, dengan alasan memacu anak negeri menjadi lebih tangguh dan mandiri, dibuka bebas bercampur baur dengan komoditi luar negeri. Sejak Januari 2010, dengan berlakunya CAFTA Agreement, pojok pasar di seluruh negeri tak jauh beda dengan sudut pasar di China, Bangkok, atau Thailand. Keterbukaan pasar, dengan segala konsekuensi dan harga yang musti dibayar, cukup terbukti mampu mendorong perekonomian.
Negara terbukti tak berdaya melawan tuntutan dunia untuk masuk ke dalam perdagangan bebas. Lalu, atas dasar apa, pejabata sekelas menteri berani menerbitkan peraturan yang dimaksudkan memutus komunikasi masyarakat ke dalam jejaring global? Perdagangan dan industri memerlukan dukungan infrastruktur berat seperti jalan, listrik, pelabuhan, bandara, dan konstruksi material lain. Sedangkan komunikasi global, atau internet, hanya memerlukan sambungan data yang, dalam segala hal, lebih mudah diwujudkan dibandingkan infrastruktur penunjang perdagangan. Dengan adanya pasal yang dimaksudkan untuk menjerat pengelola layanan konten multimedia, akankah negara mempunyai daya ketika harus bertarung melawan Google, Wordpress, Blogspot, atau penyedia layanan lain yang secara legal tidak berada dalam otoritas hukum Indonesia?
Jalan menuju surga tidak selamanya dibangun atas dasar niatan baik. Demikian bunyi sebuah diktum. Harmoni kedamaian masyarakat tidak akan lantas terbangun dengan pembatasan konten multimedia. Pengambilan hak individu oleh negara, atas nama apapun, hanya akan melahirkan apatisme dan menarik negara kembali ke era tradisional dan kegelapan. Kemajuan peradabatan tidak dibangun oleh serangkaian peraturan berlabel ‘tidak’, tetapi pemberian kepercayaan kepada masyarakat disertai dengan penegakkan hukum yang konsisten adalah jalan keluarnya.
Apabila dalam perjalanannya menjadi dewasa ternyata dijumpai penyimpangan atau kesalahan, ada lembaga peradilan, dewan pers, komisi Ombusman, atau kode etik jurnalistik, yang secara konstitusi sah untuk menindak. Pembuatan aturan dan badan baru, hanya akan semakin membawa negara ini ke dalam labirin birokrasi yang makin ruwet tiada berujung.
Masyarakat telah semakin dewasa. Keberhasilan melewati transisi demokrasi, proses pemilu yang berjalan aman, dan rasionalitas yang tetap terjaga ketika melewati kisruh antara lembaga tinggi negeri, menunjukkan tingkat masyarakat yang semakin matang. Tak seharusnya pemerintah meremehkan kedewasaan masyarakat negeri ini. Sebagai negara hukum, mari kembali kepada konstitusi sebagai sumber perundangan tertinggi. Hak mengeluarkan pendapat adalah hak asasi yang tidak boleh dihilangkan dengan alasan apapun juga. Dan apabila harus dibatas, kemuliaan kedudukan hak asasi, hanya pantas dipagari dalam peraturan dalam bentuk undang-undang.
Dalam sebuah artikelnya, Rizal Mallareng memulai dengan pertanyaan: kapan saya bisa berkata bahwa saya orang bebas? Jawaban atas pertanyaan sederhana ini bisa mengubah arah sejarah. Semoga menteri Tifatul dapat memahami bahwa kebebasan manusia membuatnya memiliki banyak keinginan. Serangan bertubi kebebasan positif atas kebebasan negatif, terbukti tidak mampu menurunkan derajat kebebasan negatif sebagai sebuah falsafah kebebasan. Pengingkaran terhadap kebebasan untuk memilih, dan percaya berlebihan terhadap formula tunggal untuk mengejar harmoni, justru akan mengingkari fitrah manusia itu sendiri. Semoga juga sang menteri, seperti halnya Percy Jackson, dapat bertindak arif sehingga upaya membangun peradaban di negeri ini tidak berujung pada despotisme dan tirani.
Friday, February 12, 2010
Benih di Dalam Lift
Jadual rapat yang mirip gerbong kereta api membuatku lesu siang itu. Huff.. andai bisa mengepak sayap, sudah aku lontarkan tubuh menjauhi pintu. Merayapi jendela. Menelusup ke ruang-ruang sebelah sekadar mencuri satu toples cemilan. Hihi..
Setengah agak malas, setengah lagi akibat tubuh lemas, setengah lainnya karena lapar, (kebanyakan setengah ya? Cuekin aja) aku meneguhkan hati menuju ruang rapat. Juga. Akhirnya. Menyusuri koridor, mbak OB suka menyebutnya sebagai zona, menyibak pintu, terlihatlah mas dan mbak penjaga lantai. Mudah saja mengenali sosok para penjaga di gedung ini. Berpakaian biru, pernik ala tentara. Tapi, mereka tidak pelit senyum, kok. Kalau kita mau menyapa, pasti mereka akan segera keluar aura sok akrabnya. Hehe.. entah karena sungkan atau tidak percaya diri, mereka biasanya jarang menyapa duluan. Paling-paling hanya mengunyah senyum dan melempar sebuah lembut anggukan.
Tanda panah ke bawah aku tekan. Menyala-lah lingkar warna merah. Mengapit berkas, manis aku posisikan diri menunggu lift membuka. Ada 7 lift di gedung Nusantara I. Tetapi, di lantai 1 dan 2, lift yang dapat diakses bebas hanya 3. 4 lift lainnya, hanya dapat dibuka oleh pin kuning kecil bergambar Garuda yang menggantung di dada kiri atau kerah jaket bagian kiri.
Lift terbuka juga. 2 orang di dalam. Aku masuk. Tombol lantai 1 sudah menyala. Aku pun hanya memposisikan diri menikmati ayunan lift. Tak lupa juga, hehe..., menyempatkan diri mengaca. Tubuh lift yang dibungkus bening kaca, membuat sifat sok ayu dan cakepku, dan sepertinya juga semua yang naik lift, langsung meluap. Tengak tengok bak di salon. Cengar cengir ke-gr-an. Atau sekadar menata kerah baju yang sebenarnya juga tidak perlu ditata. Hihi..
Lampu panel menunjuk angka 9. Artinya? Masak aku harus beritahu juga. Lift membuka. Perempuan berblazer hitam, stocking panjang menjilati lutut, rambut merona keemasan tersiram pewarna. Di lehernya menggantung aksesoris bulat seperti layaknya bhiksu. Tas, juga berwarna hitam, menggantung di lengan. Dengan handphone ayu terus berkedip dipijit jemari. Di sebelahnya, sosok lelaki juga ikut melangkah memasuki lift. Tak usah aku deskripsikan, deh. Cukup saja dibilang, ia lelaki. Hehe.. Mereka, sepertinya, sedang akrab berbincang. Sisa tawa masih pekat mengambang. Beberapa derainya bahkan terbawa ikut masuk ke dalam lift.
Aku menyiapkan diri. Hehe.. bukan mengaca untuk menggoda. Tetapi, seperti hari-hari yang lalu, kelas di lift selalu saja menghadirkan pemandangan atau percakapan seru. Setengah berdoa, aku usil berharap agar mereka juga membawa topik baru nan segar. Lift menutup. Kotak sakti itu perlahan mulai mengayun kami menuju lantai 1.
‘Dre,’ si perempuan mulai berucap. Aku menebak, mungkin nama lelaki itu Andre, Kodre, atau Condre. Hehe.. gak pentinglah siapa. Yang pasti, Ndre.
‘Aku ulang tahun, lho.’ Sumpah, aku sempatkan untuk menengok wajah perempuan itu. Ayu. Waktu itu, ia agak berkedip kepada si lelaki. Busyet. Aku dan 2 orang lainnya dianggep kemana.
‘Kasih hadiah, dong.’ Aku mengedip ke arah panel. Lantai 7. Hm.. kalo lift ini sebentar macet, kayaknya asyik. Hihi..
‘Mo hadiah apa?’ balas si lelaki. Mereka berdiri bersebelahan. Bagian lengan si lelaki agak mendapat keuntungan karena mengapit lengan si perempuan. Huh, padahal di sebelahnya juga longgar. Lift ini berkapasitas 11 orang. Penghuni saat itu cuman 5. Hehe.., dasar akunya aja yang ngiri.
‘Apa aja deh,’ jawab si perempuan. Nada suaranya? Merajuk. ‘Yang berbekas gitu.’
Whuih, berbekas? Kasih aja tip-ex atau boardmarker, ucap sirik hatiku. Hehe..
‘Berbekas gimana?’ Hatiku makin dongkol. Ini lelaki bego atau emang berpengalaman menggoda?
‘Yang berbekas. Biar berkesan,’ ringan jawab si perempuan. Tangannya memainkan ujung rambut kuning ‘trio macan-nya’. Rambut itu bergelombang. Huh.. mengingatkanku akan Taylor Shift aja.
‘Hadiah apa?’ Halah.. beneran bego ni cowok.
‘Apa aja deh. Yang penting bukan benih.’
Hah.. Panel menunjuk lantai 3. Hidup memang aneh, kadang. Pas lagi gak ada yang seru, lift berhenti di tiap lantai. Eh, pas lagi ada topik hot gini, lift nyelonong mulus tanpa hambatan.
Benih? Busyet.. Emang di gedung ini juga melayani profesi bercocok tanam ala nun jauh di kampung bapak sana. Seingatku, di sekitar memang ada lahan kosong. Tetapi, tidak dijadikan sawah atau ladang, kok. Lahan kosong itu justru ditanami gawang di kedua sisinya. Iyalah, la wong itu lapangan bola.
Benih? Haha.. aku gak selugu dan senaif itu kok. I know what she meant. Tapi, yah, belum ada kelanjutan jawaban dari si lelaki, lift sudah membuka. Aku tengok panel, lantai 1. Gosh... kenapa gak terjadi terjadi gangguan sesaat. Pintu lift gak membuka atau tiba-tiba ada yang menarik ke atas lagi. Hehe.. dasar, pemimpi.
Kita pun keluar sudah. Entah apa yang terjadi dengan transaksi ‘persawahan’ itu. Ketika kemudian, aku mendapati si cewek juga terlihat di ruang rapat, aku tak punya cukup alasan untuk menindaklanjuti urusan perbenihan tadi. Tinggal ditunggu saja. Andai, kemudian ada ayu padi yang menguning, berarti benih telah disemaikan. Dengan catatan, tidak ada hama atau tikus yang mengganggunya. Atau juga, burung iseng yang merusak konsentrasi bertumbuhnya. Hehe..
Setengah agak malas, setengah lagi akibat tubuh lemas, setengah lainnya karena lapar, (kebanyakan setengah ya? Cuekin aja) aku meneguhkan hati menuju ruang rapat. Juga. Akhirnya. Menyusuri koridor, mbak OB suka menyebutnya sebagai zona, menyibak pintu, terlihatlah mas dan mbak penjaga lantai. Mudah saja mengenali sosok para penjaga di gedung ini. Berpakaian biru, pernik ala tentara. Tapi, mereka tidak pelit senyum, kok. Kalau kita mau menyapa, pasti mereka akan segera keluar aura sok akrabnya. Hehe.. entah karena sungkan atau tidak percaya diri, mereka biasanya jarang menyapa duluan. Paling-paling hanya mengunyah senyum dan melempar sebuah lembut anggukan.
Tanda panah ke bawah aku tekan. Menyala-lah lingkar warna merah. Mengapit berkas, manis aku posisikan diri menunggu lift membuka. Ada 7 lift di gedung Nusantara I. Tetapi, di lantai 1 dan 2, lift yang dapat diakses bebas hanya 3. 4 lift lainnya, hanya dapat dibuka oleh pin kuning kecil bergambar Garuda yang menggantung di dada kiri atau kerah jaket bagian kiri.
Lift terbuka juga. 2 orang di dalam. Aku masuk. Tombol lantai 1 sudah menyala. Aku pun hanya memposisikan diri menikmati ayunan lift. Tak lupa juga, hehe..., menyempatkan diri mengaca. Tubuh lift yang dibungkus bening kaca, membuat sifat sok ayu dan cakepku, dan sepertinya juga semua yang naik lift, langsung meluap. Tengak tengok bak di salon. Cengar cengir ke-gr-an. Atau sekadar menata kerah baju yang sebenarnya juga tidak perlu ditata. Hihi..
Lampu panel menunjuk angka 9. Artinya? Masak aku harus beritahu juga. Lift membuka. Perempuan berblazer hitam, stocking panjang menjilati lutut, rambut merona keemasan tersiram pewarna. Di lehernya menggantung aksesoris bulat seperti layaknya bhiksu. Tas, juga berwarna hitam, menggantung di lengan. Dengan handphone ayu terus berkedip dipijit jemari. Di sebelahnya, sosok lelaki juga ikut melangkah memasuki lift. Tak usah aku deskripsikan, deh. Cukup saja dibilang, ia lelaki. Hehe.. Mereka, sepertinya, sedang akrab berbincang. Sisa tawa masih pekat mengambang. Beberapa derainya bahkan terbawa ikut masuk ke dalam lift.
Aku menyiapkan diri. Hehe.. bukan mengaca untuk menggoda. Tetapi, seperti hari-hari yang lalu, kelas di lift selalu saja menghadirkan pemandangan atau percakapan seru. Setengah berdoa, aku usil berharap agar mereka juga membawa topik baru nan segar. Lift menutup. Kotak sakti itu perlahan mulai mengayun kami menuju lantai 1.
‘Dre,’ si perempuan mulai berucap. Aku menebak, mungkin nama lelaki itu Andre, Kodre, atau Condre. Hehe.. gak pentinglah siapa. Yang pasti, Ndre.
‘Aku ulang tahun, lho.’ Sumpah, aku sempatkan untuk menengok wajah perempuan itu. Ayu. Waktu itu, ia agak berkedip kepada si lelaki. Busyet. Aku dan 2 orang lainnya dianggep kemana.
‘Kasih hadiah, dong.’ Aku mengedip ke arah panel. Lantai 7. Hm.. kalo lift ini sebentar macet, kayaknya asyik. Hihi..
‘Mo hadiah apa?’ balas si lelaki. Mereka berdiri bersebelahan. Bagian lengan si lelaki agak mendapat keuntungan karena mengapit lengan si perempuan. Huh, padahal di sebelahnya juga longgar. Lift ini berkapasitas 11 orang. Penghuni saat itu cuman 5. Hehe.., dasar akunya aja yang ngiri.
‘Apa aja deh,’ jawab si perempuan. Nada suaranya? Merajuk. ‘Yang berbekas gitu.’
Whuih, berbekas? Kasih aja tip-ex atau boardmarker, ucap sirik hatiku. Hehe..
‘Berbekas gimana?’ Hatiku makin dongkol. Ini lelaki bego atau emang berpengalaman menggoda?
‘Yang berbekas. Biar berkesan,’ ringan jawab si perempuan. Tangannya memainkan ujung rambut kuning ‘trio macan-nya’. Rambut itu bergelombang. Huh.. mengingatkanku akan Taylor Shift aja.
‘Hadiah apa?’ Halah.. beneran bego ni cowok.
‘Apa aja deh. Yang penting bukan benih.’
Hah.. Panel menunjuk lantai 3. Hidup memang aneh, kadang. Pas lagi gak ada yang seru, lift berhenti di tiap lantai. Eh, pas lagi ada topik hot gini, lift nyelonong mulus tanpa hambatan.
Benih? Busyet.. Emang di gedung ini juga melayani profesi bercocok tanam ala nun jauh di kampung bapak sana. Seingatku, di sekitar memang ada lahan kosong. Tetapi, tidak dijadikan sawah atau ladang, kok. Lahan kosong itu justru ditanami gawang di kedua sisinya. Iyalah, la wong itu lapangan bola.
Benih? Haha.. aku gak selugu dan senaif itu kok. I know what she meant. Tapi, yah, belum ada kelanjutan jawaban dari si lelaki, lift sudah membuka. Aku tengok panel, lantai 1. Gosh... kenapa gak terjadi terjadi gangguan sesaat. Pintu lift gak membuka atau tiba-tiba ada yang menarik ke atas lagi. Hehe.. dasar, pemimpi.
Kita pun keluar sudah. Entah apa yang terjadi dengan transaksi ‘persawahan’ itu. Ketika kemudian, aku mendapati si cewek juga terlihat di ruang rapat, aku tak punya cukup alasan untuk menindaklanjuti urusan perbenihan tadi. Tinggal ditunggu saja. Andai, kemudian ada ayu padi yang menguning, berarti benih telah disemaikan. Dengan catatan, tidak ada hama atau tikus yang mengganggunya. Atau juga, burung iseng yang merusak konsentrasi bertumbuhnya. Hehe..
Wednesday, January 27, 2010
Rindu. Malam. Kedamaian
Meski tidak terlalu rapat, gelap mulai menyulami malam. Udara bergerak lambat, terbebani oleh basah. Pucuk-pucuk daun waru di sepanjang jalan hanya mampu melambai layu. Menanggung lelah, mungkin. Atau, bisa juga, sedikit sebal dengan malam yang terlalu dini berasyik masyuk dengan sunyi.
Usai membalas anggukan mas penjaga pintu, aku mulai menjadi bagian dari kesunyian. Hanya saja, di jejalan dari kantor menuju tempat parkir, sepi tidak hadir dalam wujud suram menghitam. Ia lebih mirip gadis yang belajar dandan. Lampu-lampu mengapit sisi jalan, menyepuh pipinya. Menghadirkan cipratan warna kuning merona. Lurus aku menapaki bahu jalan, beberapa kaca gedung terlihat tetap menyala, menemani tiap petak langkahku mendekati tempat parkir.
‘Mas,’ bermula dari kelebat sebuah motor, sebuah suara menyapa. Tak ada siapa. Hanya tersisa aku di sini. Pastilah suara itu menyeru padaku. Aku menghentikan langkah. Mencoba mengenali sosok di atas sepeda motor yang juga berbalik kembali menujuku. Dari jarak ini, beberapa tapak lagi aku tiba di tempat parkir.
Senyum itu datang di saat aku belum jua mampu mengenalinya. Ketika bayangnya mulai mewujud, ia melepaskan genggaman di setang sepeda motornya. Tangannya terjulur. Senyumnya masih tetap terjaga.
‘Baru pulang, mas?’ wujud dia mulai menghadirkan makna. Tetapi, tetap saja, aku tidak mampu mengingat namanya. Seragam dan senyum itu yang mendekatkanku pada bayang identitas dirinya.
‘Iya. Banyak kerjaan.’
‘Masuk malam nih?’ balasku. Memoriku belum utuh. Meski bayangnya mulai mewujud, aku tak jua mampu mengambil satu nama untuk menyebutnya.
‘Lagi piket, mas. Persiapan menghadapi 28.’
28? Seragam petugas pengaman? Gedung DPR?
Simpuls otakku menata tiga deret kata yang seketika hadir tersebut. Merangkainya. Tak berapa lama, menyuguhkan sebuah makna.
‘Antisipasi demo, ya?’
‘Iya mas. Semoga tidak terjadi apa-apa.’
Detik itu, aku sudah mengingat sosoknya. Ia adalah petugas pengamanan dalam gedung Nusantara I DPR RI. Kami pernah berbincang. Di suatu sore. Di ruang kerjaku. Melihatnya terkantuk sendirian di kursi jaga, aku menawarinya kopi. Ternyata, ia banyak bicara juga.
‘Tidak kuliah?’ Aku ingat, ia pernah bercerita tentang mimpinya menyelesaikan kuliah.
‘Hari ini tidak ada jadwal, mas. Tapi besok mulai ujian semester. Ini juga bawa buku buat belajar.’ Ia menunduk. Tangannya menggapai menyembulkan tas plastik yang merimbun oleh gerombolan buku.
Aku tersenyum. Terkagum oleh hasrat belajarnya. Meski, pekerjaannya membuat ia kerap kewalahan mengatur jadwal, ia tak lantas mematikan percik semangatnya. Sekali lagi, berkelebat tutur dia tentang hasrat dan cita-citanya. Menjadi tentara. Bekerja di lingkungan DPR RI. Dan, apabila ada kesempatan, menjadi sarjana.
‘Saya ingin terus belajar, mas. Ingin terus berkembang,’ ucapnya sore dulu. ‘Saya tidak ingin seperti teman-teman yang menjadi kehilangan minat untuk menambah pengetahuan.’
‘Sering-sering aja main kemari,' demikian aku mengakhiri bincang sore itu. Meski berada tak berbilang jauh, tetapi, sekat-sekat di sini membuat tiap penghuni terasa jauh. Benar saja, aku tidak lagi menjumpainya sejak sore itu. Petugas pengamanan dalam tidak pernah menetap. Mereka berpindah dari lantai ke lantai. Beberapa, aku sempat mengenali mereka. Tetapi, ketika sapaan mulai saling mengalir, esok hari tidak lagi aku dapati mereka menduduki tempat jaga di lantaiku berada.
Kesunyian malam rupanya kembali memunculkan dia dari endapan lamat-lamat bayang memori jiwa. Begitu banyak bayang tercetak setiap hari. Dan selalu, aku tertatih dalam urusan mengingat nama. Memegang bayang wajah sepertinya lebih mudah dari sekadar mengurutkan beberapa potong huruf membentuk nama.
‘Semoga tidak terjadi apa-apa mas tanggal 28.’
‘Insyaallah. Semoga dijauhkan dari kerusuhan dan bahaya.’
‘Amin, mas.’
‘Tetap semangat belajar, ya.’
Tidak terlalu jelas, tetapi ia kelihatan tersipu. Wajahnya mengguratkan senyum. Kepalanya terangguk pelan. Irama tubuh itu, bagiku, lebih dari cukup untuk mengguratkan jawaban ‘iya’.
Gelap berbaris makin rapat. Udara kian melaju lambat terbebani basah. Usai melambai berpisah, aku meneruskan langkah menuju tempat parkir.
Aku berderap melaju pulang. Malam membujur memenuhi pekarangan panjang. Di antara rona-rona lampu yang menyepuh jalan menuju pintu keluar, berderet beberapa tenda dengan atap lesu melambai terseret angin. Sekelompok polisi berserak menduduki rerumputan dan bahu jalan. Beberapa menatapi langit. Sebagian saling bertukar kata, memainkan bidak catur. Atau sekadar menghayutkan petik gitar menemani irama-irama lagu yang sayup terdengar.
1 bulan sudah 4 tenda polisi itu berdiam di kompleks gedung DPR. Jiwa-jiwa terkurung seragam itu pastilah merindukan keluarga, kekasih, atau belahan hati yang sudah sekian lama mereka tinggalkan. Entah sampai kapan rindu itu hanya menggelantungi laju angin malam.
Semoga kekacauan ini segera menghilang di ujung kedamaian. Semoga hati-hati yang terpisah dapat segera disatukan. Dan semoga, keberkahan dan kemuliaan dilimpahkan untuk negeri tercinta ini.
Usai membalas anggukan mas penjaga pintu, aku mulai menjadi bagian dari kesunyian. Hanya saja, di jejalan dari kantor menuju tempat parkir, sepi tidak hadir dalam wujud suram menghitam. Ia lebih mirip gadis yang belajar dandan. Lampu-lampu mengapit sisi jalan, menyepuh pipinya. Menghadirkan cipratan warna kuning merona. Lurus aku menapaki bahu jalan, beberapa kaca gedung terlihat tetap menyala, menemani tiap petak langkahku mendekati tempat parkir.
‘Mas,’ bermula dari kelebat sebuah motor, sebuah suara menyapa. Tak ada siapa. Hanya tersisa aku di sini. Pastilah suara itu menyeru padaku. Aku menghentikan langkah. Mencoba mengenali sosok di atas sepeda motor yang juga berbalik kembali menujuku. Dari jarak ini, beberapa tapak lagi aku tiba di tempat parkir.
Senyum itu datang di saat aku belum jua mampu mengenalinya. Ketika bayangnya mulai mewujud, ia melepaskan genggaman di setang sepeda motornya. Tangannya terjulur. Senyumnya masih tetap terjaga.
‘Baru pulang, mas?’ wujud dia mulai menghadirkan makna. Tetapi, tetap saja, aku tidak mampu mengingat namanya. Seragam dan senyum itu yang mendekatkanku pada bayang identitas dirinya.
‘Iya. Banyak kerjaan.’
‘Masuk malam nih?’ balasku. Memoriku belum utuh. Meski bayangnya mulai mewujud, aku tak jua mampu mengambil satu nama untuk menyebutnya.
‘Lagi piket, mas. Persiapan menghadapi 28.’
28? Seragam petugas pengaman? Gedung DPR?
Simpuls otakku menata tiga deret kata yang seketika hadir tersebut. Merangkainya. Tak berapa lama, menyuguhkan sebuah makna.
‘Antisipasi demo, ya?’
‘Iya mas. Semoga tidak terjadi apa-apa.’
Detik itu, aku sudah mengingat sosoknya. Ia adalah petugas pengamanan dalam gedung Nusantara I DPR RI. Kami pernah berbincang. Di suatu sore. Di ruang kerjaku. Melihatnya terkantuk sendirian di kursi jaga, aku menawarinya kopi. Ternyata, ia banyak bicara juga.
‘Tidak kuliah?’ Aku ingat, ia pernah bercerita tentang mimpinya menyelesaikan kuliah.
‘Hari ini tidak ada jadwal, mas. Tapi besok mulai ujian semester. Ini juga bawa buku buat belajar.’ Ia menunduk. Tangannya menggapai menyembulkan tas plastik yang merimbun oleh gerombolan buku.
Aku tersenyum. Terkagum oleh hasrat belajarnya. Meski, pekerjaannya membuat ia kerap kewalahan mengatur jadwal, ia tak lantas mematikan percik semangatnya. Sekali lagi, berkelebat tutur dia tentang hasrat dan cita-citanya. Menjadi tentara. Bekerja di lingkungan DPR RI. Dan, apabila ada kesempatan, menjadi sarjana.
‘Saya ingin terus belajar, mas. Ingin terus berkembang,’ ucapnya sore dulu. ‘Saya tidak ingin seperti teman-teman yang menjadi kehilangan minat untuk menambah pengetahuan.’
‘Sering-sering aja main kemari,' demikian aku mengakhiri bincang sore itu. Meski berada tak berbilang jauh, tetapi, sekat-sekat di sini membuat tiap penghuni terasa jauh. Benar saja, aku tidak lagi menjumpainya sejak sore itu. Petugas pengamanan dalam tidak pernah menetap. Mereka berpindah dari lantai ke lantai. Beberapa, aku sempat mengenali mereka. Tetapi, ketika sapaan mulai saling mengalir, esok hari tidak lagi aku dapati mereka menduduki tempat jaga di lantaiku berada.
Kesunyian malam rupanya kembali memunculkan dia dari endapan lamat-lamat bayang memori jiwa. Begitu banyak bayang tercetak setiap hari. Dan selalu, aku tertatih dalam urusan mengingat nama. Memegang bayang wajah sepertinya lebih mudah dari sekadar mengurutkan beberapa potong huruf membentuk nama.
‘Semoga tidak terjadi apa-apa mas tanggal 28.’
‘Insyaallah. Semoga dijauhkan dari kerusuhan dan bahaya.’
‘Amin, mas.’
‘Tetap semangat belajar, ya.’
Tidak terlalu jelas, tetapi ia kelihatan tersipu. Wajahnya mengguratkan senyum. Kepalanya terangguk pelan. Irama tubuh itu, bagiku, lebih dari cukup untuk mengguratkan jawaban ‘iya’.
Gelap berbaris makin rapat. Udara kian melaju lambat terbebani basah. Usai melambai berpisah, aku meneruskan langkah menuju tempat parkir.
Aku berderap melaju pulang. Malam membujur memenuhi pekarangan panjang. Di antara rona-rona lampu yang menyepuh jalan menuju pintu keluar, berderet beberapa tenda dengan atap lesu melambai terseret angin. Sekelompok polisi berserak menduduki rerumputan dan bahu jalan. Beberapa menatapi langit. Sebagian saling bertukar kata, memainkan bidak catur. Atau sekadar menghayutkan petik gitar menemani irama-irama lagu yang sayup terdengar.
1 bulan sudah 4 tenda polisi itu berdiam di kompleks gedung DPR. Jiwa-jiwa terkurung seragam itu pastilah merindukan keluarga, kekasih, atau belahan hati yang sudah sekian lama mereka tinggalkan. Entah sampai kapan rindu itu hanya menggelantungi laju angin malam.
Semoga kekacauan ini segera menghilang di ujung kedamaian. Semoga hati-hati yang terpisah dapat segera disatukan. Dan semoga, keberkahan dan kemuliaan dilimpahkan untuk negeri tercinta ini.
Monday, October 20, 2008
Suatu Pagi
Aku terbangun di suatu pagi. Duduk di tepian ranjang. Lalu mengunyah makanan. Aku tidak mandi. Hanya berganti pakaian.
Aku terbangun di suatu pagi. Mengunyah makanan di tepi ranjang. Aku tetap tidak mandi. tidak juga berganti pakaian. Aku hanya meminta jendela dibuka. Aku ingin merasakan udara hari ini.
Aku terbangun di pagi hari. Aku berganti pakaian. Aku tidak makan. Hanya meminum segelas air. Aku ingin ke kamar mandi hari ini. Ingin menggosok gigi. Ketika aku menoleh: kenapa kamar mandi terasa jauh sekali.
Aku kembali terbangun di pagi hari. Aku menyalakan televise. Aku ingin mendengarkan suara bernyanyi. Tanganku menggapai tepian ranjang. Tidak aku temukan makanan. Aku mendongak ke meja di sudut ruangan. Tada ada sesuatu di sana. Aku amati sekeliling. Nenek masih tidur di sana.
Aku terbangun di pagi hari. Di tepi ranjang aku temukan sekotak lontong opor. Adikku yang bawa. Aku ingin mandi hari ini. Hingga akhirnya tangan-tangan lentik itu menggapaiku. Menyapukan percik air ke seluruh tubuhku. Mereka menawari menggosok gigi. Aku hanya tersenyum. Biar nanti aku sendiri yang menggosok gigi.
Aku terbangun di pagi hari. Kepalaku terasa berat. Pening. Ketika hari beranjak siang, kakakku membawa gunting. Aku potong rambut hari ini.
Aku terbangun di pagi hari. Tanganku menggapai mencari makanan. Aku seperti melihat bayang seseorang. Lamat. Hingga makin lama makin pekat. Ini aku, terdengar sebuah suara. Aku hanya mendongak. Aku tersenyum. Meski aku tak tahu pemilik bayang itu.
Aku terbangun di pagi hari. Aku menggapai. Tapi tak kutemukan makanan. Pekat masih terasa merambat. Aku merasakan sesuatu menusuk tulang belakangku. Pandanganku mengabur. Tubuhku mengambang. Ringan. Aku mendengar suara bergemuruh. Mendesis. Saling bersahutan berkejaran. Tubuhku terasa makin ringan. Dan sangat ringan.
Aku terbangun di pagi hari. Aku ingin jalan-jalan. Aku ingin melihat cahaya siang. Aku bergerak. Tetapi mengapa semua diam? Aku terus bergerak. Tapi kenapa semua tetap diam? Aku mendengar isak tangis. Tapi aku tetap terus bergerak. Aku ingin melihat cahaya siang. Tapi, kenapa semua tetap pada diam?
Aku terbangun di pagi hari. Aku mencari nenek. Tapi tidak kutemukan. Aku merasa lapar.
Aku terbangun di pagi hari. Aku menggapai. Aku tidak lapar. Tapi aku tetap menggapai. Aku ambil tongkatku. Aku ingin jalan-jalan.
Aku terbangun di pagi hari. Di mana handphoneku. Aku ingin berkirim kabar. Lalu aku menggapai mencari makan. Aku melihat seseorang mendekat. Hangat mulai merembesi kakiku. Tangannya bergerak cepat mencerabuti balut-balut putih di kakiku. Aku melihat dia tersenyum. Lalu sebelum dia berbalik menghilang, aku mendengar: sampai jumpa 3 hari lagi.
Aku terbangun di pagi hari. Entah di pagi yang keberapa.
Aku terbangun di pagi hari. Aku menyandarkan kepala. Aku ingin kehidupanku yang dulu kembali.
Aku terbangun di suatu pagi. Mengunyah makanan di tepi ranjang. Aku tetap tidak mandi. tidak juga berganti pakaian. Aku hanya meminta jendela dibuka. Aku ingin merasakan udara hari ini.
Aku terbangun di pagi hari. Aku berganti pakaian. Aku tidak makan. Hanya meminum segelas air. Aku ingin ke kamar mandi hari ini. Ingin menggosok gigi. Ketika aku menoleh: kenapa kamar mandi terasa jauh sekali.
Aku kembali terbangun di pagi hari. Aku menyalakan televise. Aku ingin mendengarkan suara bernyanyi. Tanganku menggapai tepian ranjang. Tidak aku temukan makanan. Aku mendongak ke meja di sudut ruangan. Tada ada sesuatu di sana. Aku amati sekeliling. Nenek masih tidur di sana.
Aku terbangun di pagi hari. Di tepi ranjang aku temukan sekotak lontong opor. Adikku yang bawa. Aku ingin mandi hari ini. Hingga akhirnya tangan-tangan lentik itu menggapaiku. Menyapukan percik air ke seluruh tubuhku. Mereka menawari menggosok gigi. Aku hanya tersenyum. Biar nanti aku sendiri yang menggosok gigi.
Aku terbangun di pagi hari. Kepalaku terasa berat. Pening. Ketika hari beranjak siang, kakakku membawa gunting. Aku potong rambut hari ini.
Aku terbangun di pagi hari. Tanganku menggapai mencari makanan. Aku seperti melihat bayang seseorang. Lamat. Hingga makin lama makin pekat. Ini aku, terdengar sebuah suara. Aku hanya mendongak. Aku tersenyum. Meski aku tak tahu pemilik bayang itu.
Aku terbangun di pagi hari. Aku menggapai. Tapi tak kutemukan makanan. Pekat masih terasa merambat. Aku merasakan sesuatu menusuk tulang belakangku. Pandanganku mengabur. Tubuhku mengambang. Ringan. Aku mendengar suara bergemuruh. Mendesis. Saling bersahutan berkejaran. Tubuhku terasa makin ringan. Dan sangat ringan.
Aku terbangun di pagi hari. Aku ingin jalan-jalan. Aku ingin melihat cahaya siang. Aku bergerak. Tetapi mengapa semua diam? Aku terus bergerak. Tapi kenapa semua tetap diam? Aku mendengar isak tangis. Tapi aku tetap terus bergerak. Aku ingin melihat cahaya siang. Tapi, kenapa semua tetap pada diam?
Aku terbangun di pagi hari. Aku mencari nenek. Tapi tidak kutemukan. Aku merasa lapar.
Aku terbangun di pagi hari. Aku menggapai. Aku tidak lapar. Tapi aku tetap menggapai. Aku ambil tongkatku. Aku ingin jalan-jalan.
Aku terbangun di pagi hari. Di mana handphoneku. Aku ingin berkirim kabar. Lalu aku menggapai mencari makan. Aku melihat seseorang mendekat. Hangat mulai merembesi kakiku. Tangannya bergerak cepat mencerabuti balut-balut putih di kakiku. Aku melihat dia tersenyum. Lalu sebelum dia berbalik menghilang, aku mendengar: sampai jumpa 3 hari lagi.
Aku terbangun di pagi hari. Entah di pagi yang keberapa.
Aku terbangun di pagi hari. Aku menyandarkan kepala. Aku ingin kehidupanku yang dulu kembali.
Saturday, December 29, 2007
Y
Kata itulah yang pertama kali muncul di kepala ketika sebuah kenyataan tidak seperti yang kita perkirakan sebelumnya. Ketika sebuah peristiwa tidak menyenangkan terjadi, kita terusik untuk mencari tahu sebabnya. Ketika sebuah kepedihan merajam, kita melolong untuk mengoyak fakta di baliknya. Sebenarnya tidak hanya dalam artian negative, pertanyaan ini pun seharusnya muncul ketika peristiwa baik terjadi pada kita. Tetapi, untuk yang terakhir ini, kita jarang melakukannya. Peristiwa baik cenderung kita terima tanpa Tanya. Kalau tidak ada penyesalan, kenapa kita harus meributkannya? Demikian mungkin yang kita anut selama ini.
Wajah ayu aktris muda itu mendandak menjadi basah ketika lelaki yang dicintainya kedapatan tidur dengan wanita lain. Dan setelah sebuah tamparan yang ia hadiahkan kepada lelaki tersebut, bibir mungilnya terbuka untuk mengucap sebuah kata: why?
Dalam sebuah temaram bilik warnet, lelaki muda itu lama terdiam ketika sang kekasih mengurai hasratnya untuk bekerja di luar negeri. Kesepian yang menganga. Kesendirian yang mengiris. Kehampaan yang melilit jiwa. Semua berkelebat bergantian di benak pemuda tersebut. Dengan tatapan kosong ke arah wajah yang teramat dia cinta tersebut, mata pemuda tersebut pun mengurai sebuah tanya: why?
Cinta memang kerap melahirkan berbagai tanya. Wajahnya yang senantiasa menyamar. Ketidakpastian yang selalu menghadang, membuat jiwa tak pernah luput dari kerubutan berjuta tanya.
Mengapa?
Subscribe to:
Posts (Atom)
