Untuk membuktikan kesuciannya, Sinta melakukan obong diri. Api yang mendidih, menggunung menjilat, tak menciutkan nyalinya. Andai ia suci, seperti teguh keyakinannya, Dewata pasti akan mendinginkan api tersebut. Seperti Ibrahim yang merasakan hangat di rahim api, demikian juga Sinta akhirnya mengalaminya. Penyucian diri, seperti halnya diajarkan oleh Nabi dan para ksatria, memang selalu dilakukan dengan pengorbanan.
Di era sekarang, penyucian diri, ternyata, tetap ada. Hanya, ia tidak lagi dilakukan dengan pengorbanan, tetapi dengan cara yang sungguh teramat nyaman, hal-hal yang mematik kesenangan.
Tengoklah panggung Senayan pada waktu mementaskan lakon ‘Goro-Goro Century.’ Century yang dianggap penuh skandal, yang seharusnya menebarkan bau anyir, justru menjadi wewangi penyuci bagi sebagian kalangan. Lihatlah bagaimana anggota dewan berebut ‘jimat Century’. Dalam konteks penyucian diri, Century tidak lagi berujud bank. Century telah dijelmakan menjadi sumur yang penuh berisi wewangian penyuci diri.
Maka, tak usah heran apabila kemudian anggota dewan saling sikut untuk mengayun gayung mengaduk air Century. Semakin keras mereka berteriak, maka dalam sangkaannya, semakin deras ia mengguyurkan air penyuci diri. Teriakan demi teriakan atas nama ‘pencarian kebenaran’, sebenarnya, tak lebih dari sekadar acara rebutan gayung dan panggung untuk menyucikan diri.
Bilangan hari pekat mencatat bagaimana panjang deret dosa para politisi. Apabila dirajut menjadi alas kaki, sungguh, dosa politisi tak lagi mewujud dalam rupa sandal. Andai pun dosa-dosa itu diraum menjadi benang, maka ia akan menenggelamkan politisi dalam kelam baju kebusukan. Bagi orang-orang yang sadar dan menyadari dirinya penuh berkalang noda dan dosa, maka kesempatan penyucian ibarat guyuran galon air di padang Mahsyar.
Ketika mereka berteriak menggemakan ‘kebenaran yang disangkakan’, sejatinya, mereka sedang mengharap dosa mereka tersembunyikan. Dosa dan pahala, iblis dan malaikat, dalam lakon politisi, hanyalah masalah kesempatan kemunculan.
Perhatikanlah bagaimana mereka berteriak lantang meneriakkan ‘kesucian’. Simak pula bagaimana mereka selalu menyeret dogma ‘kepentingan rakyat’ demi menyusun konstruksi penyucian. Tidak saja sebagai jimat penyucian, Century pun diubah menjadi pupur dan gincu pemanis rupa.
Hanya saja, mereka, politisi yang kerap berteriak, ternyata tak menyadari, bahwa penyucian mereka ini hanyalah sia-sia.
Penyucian diri, seperti diajarkan nabi dan para satria, haruslah ditempuh dengan penderitaan dan pengorbanan, bukan dengan umpatan dan pengangkangan klaim ‘kebenaran’. Penyucian diri dengan menggunakan caci maki, penghujatan kepada pihak yang disangkakan, hanya akan mengeruk kubur mereka sendiri. Seperti lembah yang menggema, pada akhirnya, lemparan kotoran yang dilakukan demi penyucian diri, justru berbalik lebih keras menampar.
Alam selalu punya cara untuk mengajarkan bijak dan mawas diri. Tidak perlu hiruk pikuk. Tidak jua deru sedu caci maki. Catatan Malaikat rapi tiada meninggalkan celah. Gusti tidak pernah jua tertidur. Hingga kemudian, panggung yang disangkakan akan menjadi penyucian diri, tak lebih dari selembar kain kusam yang ketika semakin diakrabi, menyembulkan larit demi larit anyir bau dosa nista keburukan mereka sendiri.
‘Goro-Goro Century’ mementaskan kenyataan: mereka yang mencaci, berteriak berlagak suci, ternyata lebih kotor dari yang dilempari teriak dan hujatan. Para politisi pemain ‘Goro-goro Century’, yang pentas di Senayan nyaris selama 3 bulan, ternyata hanya kumpulan lidi kotor yang mencoba menyucikan ruang. Perhatikan Misbakhun yang terciprat L/C bodong. Panda Nababan dan Tjahyo Kumolo yang mengidap anyir suap pemilihan Deputi BI, Mirandha Gultom. Setya Novanto dan Idrus Marham yang terendus di antara kutu impor korupsi pengadaan beras dari Vietnam.
Suluh panggung dunia, akhirnya, menerbitkan terang. Tokoh yang bertopeng terkuak sudah. Siapa maling, siapa juragan jelas sudah. Dunia selalu punya cara untuk memperlihatkan kesucian seseorang. Bau wangi tidak terlahir dari teriakan dan klaim ‘pemilik kebenaran’. Aroma wangi lahir dari ketulusan tekad, jalan lurus yang setia disisir, dan kepatuhan abadi terhadap nilai-nilai agung kemanusiaan.
Menjadi suci adalah mimpi setiap insan. Tetapi, apabila manusia masih dalam tataran tidak suci, bukan dengan teriak, hujat, hasut, dan caci yang dapat menjadi media penyucian diri. Kesucian diri hanya terlahir lewat penyucian yang dilakukan dengan menempuh penderitaan dan pengorbanan. Seperti dulu berlaku untuk Sinta, sampai kapanpun, demikian halnya berlaku untuk kita semua, umat manusia.
gambar diambil dari sini
Showing posts with label Perenungan. Show all posts
Showing posts with label Perenungan. Show all posts
Saturday, April 3, 2010
Friday, March 19, 2010
Lalu, setelah ini apa?
Setelah satu babak hidup terlewati, acap, dalam ketermanguan sehabis perayaan, manusia tercenung dalam sebuah absurditas tanya: lalu, setelah ini apa? Setelah tujuan teraih, target tercapai, resolusi terpenuhi, cinta terengkuh, nafsu terpuaskan, bonus di kantong, lalu, setelah ini apa?Hidup, memang, adalah rangkaian demi rangkaian keberhasilan. Seperti Chinmi yang mengembara kembali tiapkali memenangkan pertempuran, demikian lah manusia mengelana demi memuaskan hasrat demi hasrat kehidupan. Hanya, setelah sekian kemenangan, setelah puluhan selebrasi kepuasan, tiba juga saat dimana pertanyaan itu muncul juga: lalu, setelah ini apa?
Sebuah kalimat yang teramat simpel, memang, tetapi sungguh, menghabiskan beberapa cangkir kopi untuk beranjak dengan mengantongi jawabnya.
Lalu, setelah ini apa?
Perayaan demi perayaan keberhasilan ternyata tidak semakin memudahkan menjawab pertanyaan tersebut. Layaknya skenario, jawab atas kegelisahan tadi, ternyata, sangat terkait dengan sistematika kisah yang sedari awal kita mainkan. Apabila kita hanya sekadar hidup, mengelana tanpa tujuan yang terpola, maka sungguh, sukar untuk mendapat jawab atas tanya: lalu, setelah ini apa?
Hidup yang tidak runut dalam seri, akan mengalun seperti lompatan-lompatan nada tanpa birama. Not yang terpetik tidak utuh menghadirkan komposisi irama. Mereka sekadar mengada. Tidak tersusun jelas bilangan nada apa yang membunyi setelah ini nada ini. Tidak terpola tinggi rendah suara setelah suara yang tadi. Musik tanpa kontinuitas sistematika harmoni, hanya akan terdengar seperti bocah sedang berlatih piano. Asal pencet. Sekadar bunyi. Tidak akan pernah tahu: setelah ini, harus memencet tombol apa.
Lalu, setelah ini apa?
Sebuah tanya yang simpel. Intonasi nada atas tanya tersebut dapat melahirkan makna ganda: dapat saja beraroma semangat menghadapi tantangan selanjutnya, atau putus asa mencari-cari acara sesudahnya.
Bagi mereka yang telah mengetahui apa yang akan diraih dalam hidup, pertanyaan ini akan menghadirkan gelora semangat menapaki tantangan yang lebih besar. Seolah membuka dada, ia berteriak lantang: datanglah tantangan, akan aku kalahkan. Mereka yang hidup dalam resolusi runtut tertata, tanya ini menjadi mantra sakti yang menandakan kemenangan peperangan dalam sebuah pertempuran. Setelah selebrasi, setelah letupan sampanye, mereka sudah mengetahui tangga mana yang musti didaki. Lalu, setelah ini apa? Bagi manusia yang hidup dengan mengetahui tujuan hidup dan alasan keberadaannya adalah sebuah tanda selebrasi kemenangan dalam rangkaian jalan yang gilang gemilang.
Tetapi, bagi sebagian orang, mereka yang hidup asal mengasal: asal bernafas, asal mengelana, asal makan, asal tidur, asal bekerja, asal dalam segala hal, tanya sederhana ini sungguh menghadirkan nyeri dan pusing tiada terkira. Seperti petinju yang terpojok di sudut ring, seperti kesebelasan yang sedang kepayahan diserang, seperti kuda yang tertutup kacamata hitam, tanya ini hanya menghadirkan tembok nyata di depan mata mereka.
Manusia yang tidak mempunyai tujuan besar dalam hidup, akan berada di persimpangan tiap kali ia selesai melakukan selebrasi atas kesuksesan kecil yang diperoleh. Bukannya bersiap menapaki tangga demi menggapai kemuliaan lebih tinggi, ia sibuk mencari arah yang musti dituju untuk terus melangkah setelah selebrasi usai. Tiap hari yang berulang, bagi manusia jenis ini, hanyalah pagi yang sekadar mengada, hanya ritual tidak lebih dari sebuah repetisi.
Lalu, setelah ini apa?
Anda ingin tahu di kategori manusia mana Anda ditempatkan? Bangunlah di pagi hari. Rasakan damai dan kesejukannya. Hayati apa yang Anda rasakan. Apakah pagi yang sedang Anda hirup keindahannya tersebut hanyalah rangkaian berulang dari pagi-pagi sebelumnya? Apabila Anda menjawab ia, sungguh, Anda layak masuk dalam kategori manusia usang. Manusia yang selalu tergagap tiap kali berhadapan dengan tanya: lalu, setelah ini apa?
Apabila di pagi hari, di antara keheningan yang sublim membius, terduduk usai melipat sajadah, membuka jendela menatap keremangan yang berangsur menjadi jelas, Anda menatap pagi dengan perasaan cinta yang selalu terbarui, menyadari pagi itu adalah hari baru, hari baru di antara hari-hari masa bakti hidup Anda, maka sungguh, Anda adalah termasuk orang-orang yang terbekati. Mereka yang menyambut hari dengan sekantung surprise, tidak pernah menganggap pagi hanyalah sekadar waktu yang mengada: sebuah pendulum yang berulang yang selalu datang sehabis ia terlempar menjadi malam.
Lalu, setelah ini apa?
Kant, sekian abad lalu, telah membantu kita dengan ucapannya: Penciptaan tak pernah usai. Pagi bukanlah serangkaian repetisi.
Lalu, setelah ini apa?
Gambar diambil dari sini
Fragmen Berbalut Anyir
Mencermati kepingan foto itu, terkadang, terbentik dendam. Fragmen demi fragmen kesakitan tempo dulu, seolah kembali rapi berjajar. Kenangan yang telah amblas, berderak menggoncang kembali. Ketenangan yang terbina sekian tahun, dengan segala pengorbanan, amblas tiad bersisa. Dendam mengambang. Memanggil anak pinak kesumat penuntutan rasa balas. Demi sebentuk imbas. Demi pemenuhan sebuah lingkaran setan berlabel pembalasan.
Kenangan, memang, ibarat repihan hewan purba yang berjuta tahun telah rubuh. Ia mengendap di dasar jiwa. Mengaliri sukma. Luruh memutari metabolisme menumpang aliran pembuluh darah. Meski jarang naik ke permukaan, sejatinya, kenangan selalu berenang dalam lautan pikir manusia. Ia hanya mengendap. Atau terpinggirkan oleh deru gelombang persoalan yang sekarang sedang mengemuka. Tetapi, saat pikiran sedang rata, kala laut jiwa datar tiada pengawal, kenangan akan kembali beriak datang. Ia laksana ombak yang bersetia. Ia tak memerlukan mentari untuk datang. Seperti halnya ia tak membutuhkan rembulan untuk berkemas menghilang. Kenangan, dengan segala aromanya, telah menjadi bayang yang menjangkiti seluruh gerak pemiliknya.
Mendapati kepingan foto itu, kenangan bergulung tahun lalu kembali menggenang. Baunya, meski telah terdiam beberapa lama, ternyata tetap saja sama. Sengir. Berenda mendekati busuk. Waktu dan jiwaku gagal sudah mengurai bau anyir itu berdamai menghadirkan wangi. Jangankan wangi, tiada berbau pun tak sanggup jiwa ini melakukannya. Bau anyir foto itu demikian kuat membekap. Ia tak sekalipun mengendur, meski beragam doa mengguyur, meski aneka foto baru terlayang menumpukinya. Foto itu, ya foto itu, tetap saja menyimpan aroma anyir. Aroma dendam. Aroma yang menuntut pembalasan.
Tak mudah melupakan penghinaan. Juga pelecehan kemanusiaan. Betapapun kerap diri menyuci, fragmen itu kerap saja menyembul. Beragam hal bergilir menjadi penyebabnya. Lalu, ketika diri tak lagi kuasa berdamai, ketika bau anyir dendam sudah menguap menuntut pemenuhan, akankah bau anyir darah yang akan menjadi penyucinya? Haruskah anyir dibersihkan juga oleh anyir? Haruskah hina berbalas dengan hina? Haruskah mata digenapkan oleh mata?
Dendam memang mendatangkan kenikmatan. Ia adalah penjaga setia yang tak akan membiarkan kita terlelap sebelum terlampiaskan. Ia adalah kayu bakar yang tak pernah lelah menerbitkan bara untuk menghanguskan. Ia adalah topeng jelita yang tak akan pernah melepaskan kecupan sebelum ritual balas rampung dituntaskan. Dendam tidak mengenal jalan pulang. Ia adalah pengelana yang tiada mengenal ujung. Mengikutinya, bersiaplah, untuk mendaki tanpa pernah menurun. Untuk mencebur tanpa pernah mengeringkan diri.
Bau anyir dari kelebatan foto itu adalah pertanda keberadaan dendam. Cukuplah aku menenggak anyir penghinaan itu. Cukuplah aku menggelandang menanggungkan aroma anyir itu mengendam di dalam jiwa. Tak akan aku tambah anyir itu dengan busuk dendam tiada berkesudahan. Anyir kenangan foto itu bukanlah berasal dariku. Aku hanya menanggungnya. Sedang, apabila mengalir anyir dari dendam, itulah anyir dari busuk aromaku. Meski aku menggelandang menggandeng anyir, setidaknya, Tuhan dan ia tahu, anyir ini adalah ludah seseorang yang aku tanggungkan. Jiwaku tidak menerbitkan aroma ini.
Kepingan fragmen foto yang hadir di sore ini, itulah ufuk yang menerbitkan semburat anyir.
Kenangan, memang, ibarat repihan hewan purba yang berjuta tahun telah rubuh. Ia mengendap di dasar jiwa. Mengaliri sukma. Luruh memutari metabolisme menumpang aliran pembuluh darah. Meski jarang naik ke permukaan, sejatinya, kenangan selalu berenang dalam lautan pikir manusia. Ia hanya mengendap. Atau terpinggirkan oleh deru gelombang persoalan yang sekarang sedang mengemuka. Tetapi, saat pikiran sedang rata, kala laut jiwa datar tiada pengawal, kenangan akan kembali beriak datang. Ia laksana ombak yang bersetia. Ia tak memerlukan mentari untuk datang. Seperti halnya ia tak membutuhkan rembulan untuk berkemas menghilang. Kenangan, dengan segala aromanya, telah menjadi bayang yang menjangkiti seluruh gerak pemiliknya.
Mendapati kepingan foto itu, kenangan bergulung tahun lalu kembali menggenang. Baunya, meski telah terdiam beberapa lama, ternyata tetap saja sama. Sengir. Berenda mendekati busuk. Waktu dan jiwaku gagal sudah mengurai bau anyir itu berdamai menghadirkan wangi. Jangankan wangi, tiada berbau pun tak sanggup jiwa ini melakukannya. Bau anyir foto itu demikian kuat membekap. Ia tak sekalipun mengendur, meski beragam doa mengguyur, meski aneka foto baru terlayang menumpukinya. Foto itu, ya foto itu, tetap saja menyimpan aroma anyir. Aroma dendam. Aroma yang menuntut pembalasan.
Tak mudah melupakan penghinaan. Juga pelecehan kemanusiaan. Betapapun kerap diri menyuci, fragmen itu kerap saja menyembul. Beragam hal bergilir menjadi penyebabnya. Lalu, ketika diri tak lagi kuasa berdamai, ketika bau anyir dendam sudah menguap menuntut pemenuhan, akankah bau anyir darah yang akan menjadi penyucinya? Haruskah anyir dibersihkan juga oleh anyir? Haruskah hina berbalas dengan hina? Haruskah mata digenapkan oleh mata?
Dendam memang mendatangkan kenikmatan. Ia adalah penjaga setia yang tak akan membiarkan kita terlelap sebelum terlampiaskan. Ia adalah kayu bakar yang tak pernah lelah menerbitkan bara untuk menghanguskan. Ia adalah topeng jelita yang tak akan pernah melepaskan kecupan sebelum ritual balas rampung dituntaskan. Dendam tidak mengenal jalan pulang. Ia adalah pengelana yang tiada mengenal ujung. Mengikutinya, bersiaplah, untuk mendaki tanpa pernah menurun. Untuk mencebur tanpa pernah mengeringkan diri.
Bau anyir dari kelebatan foto itu adalah pertanda keberadaan dendam. Cukuplah aku menenggak anyir penghinaan itu. Cukuplah aku menggelandang menanggungkan aroma anyir itu mengendam di dalam jiwa. Tak akan aku tambah anyir itu dengan busuk dendam tiada berkesudahan. Anyir kenangan foto itu bukanlah berasal dariku. Aku hanya menanggungnya. Sedang, apabila mengalir anyir dari dendam, itulah anyir dari busuk aromaku. Meski aku menggelandang menggandeng anyir, setidaknya, Tuhan dan ia tahu, anyir ini adalah ludah seseorang yang aku tanggungkan. Jiwaku tidak menerbitkan aroma ini.
Kepingan fragmen foto yang hadir di sore ini, itulah ufuk yang menerbitkan semburat anyir.
Friday, March 5, 2010
Matikanlah daripada Menggelandang
1
Seperti layar, tak terlihat setitik pun huruf atau sekadar pendek coretan di pikiranku. Kosong. Melompong. Hampa. Seperti tuts piano yang terdiam. Rupanya elok sungguh. Tetapi, tetap, tidak menghasilkan bunyi nada. Meski lirih satu not sekalipun.
2
Semuanya baik-baik saja. Itu apabila kamu akan berucap bahwa mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikiran atau perasaan. Everything is all right. Keseimbangan itu tetap ada. Kesinambungan waktu tetap terjaga. Pintu kantor tetap membuka. Kasur di rumah masih menanti setia. Dan, tak jua ada pertempuran yang meledakkan jiwa maupun pikiran.
Seperti hamparan air, semua terbaring tenang. Tak ada riak. Tak tersaji percik gelembung. Apalagi amuk bongkahan ombak.
3
Tapi, sungguh, aku tidak merasa hidup sekarang. Saat ini. Hidungku menghirup. Mata mengedip. Jantung tetap berdegup. Hanya, tak ada rembesan hasrat yang meletup. Aku telah mati. Raga yang berjalan tak lebih dari onggok petasan gagal dinyalakan. Ia terberai. Tegak berdiri, memang. Tapi dengan sumbu yang telah hilang. Atau, jika tersisa sedikit, ia sudah tak dapat dinyalakan.
Lalu, apa guna mesin keren bila tak mampu dinyalakan. Apa guna Ferrari Lambhorgini apabila ia mogok untuk dilesakkan. Apa juga guna bibir seksi bila ia tak dapat dicumbui..
4
Aku, mungkin juga, telah mati dalam kehidupanku. Dan, mati sebelum kematian, hidup tanpa kehidupan, tidak kah itu lebih tragis dari kematian itu sendiri. Jasad yang menggelandang tanpa letup hasrat, organ yang bekerja hanya demi menopang raga tanpa makna, haruskah ia tetap dipertahakankan keberadaannya?
5
Matikanlah aku apabila itu dapat menemukan kehidupanku kembali. Menghilang untuk kembali datang, mungkin, lebih elok daripada tetap menggelandang.
6
Tapi, maaf, aku tidak ingin menandatangani kesepakatan dengan setan..
Seperti layar, tak terlihat setitik pun huruf atau sekadar pendek coretan di pikiranku. Kosong. Melompong. Hampa. Seperti tuts piano yang terdiam. Rupanya elok sungguh. Tetapi, tetap, tidak menghasilkan bunyi nada. Meski lirih satu not sekalipun.
2
Semuanya baik-baik saja. Itu apabila kamu akan berucap bahwa mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikiran atau perasaan. Everything is all right. Keseimbangan itu tetap ada. Kesinambungan waktu tetap terjaga. Pintu kantor tetap membuka. Kasur di rumah masih menanti setia. Dan, tak jua ada pertempuran yang meledakkan jiwa maupun pikiran.
Seperti hamparan air, semua terbaring tenang. Tak ada riak. Tak tersaji percik gelembung. Apalagi amuk bongkahan ombak.
3
Tapi, sungguh, aku tidak merasa hidup sekarang. Saat ini. Hidungku menghirup. Mata mengedip. Jantung tetap berdegup. Hanya, tak ada rembesan hasrat yang meletup. Aku telah mati. Raga yang berjalan tak lebih dari onggok petasan gagal dinyalakan. Ia terberai. Tegak berdiri, memang. Tapi dengan sumbu yang telah hilang. Atau, jika tersisa sedikit, ia sudah tak dapat dinyalakan.
Lalu, apa guna mesin keren bila tak mampu dinyalakan. Apa guna Ferrari Lambhorgini apabila ia mogok untuk dilesakkan. Apa juga guna bibir seksi bila ia tak dapat dicumbui..
4
Aku, mungkin juga, telah mati dalam kehidupanku. Dan, mati sebelum kematian, hidup tanpa kehidupan, tidak kah itu lebih tragis dari kematian itu sendiri. Jasad yang menggelandang tanpa letup hasrat, organ yang bekerja hanya demi menopang raga tanpa makna, haruskah ia tetap dipertahakankan keberadaannya?
5
Matikanlah aku apabila itu dapat menemukan kehidupanku kembali. Menghilang untuk kembali datang, mungkin, lebih elok daripada tetap menggelandang.
6
Tapi, maaf, aku tidak ingin menandatangani kesepakatan dengan setan..
Hening dalam Gaduh
1
Hidup, dalam segala rupa dan wujudnya, pada akhirnya, adalah medium pencarian jalan untuk menemukan rasa aman dan nyaman. Pencarian itu, mungkin saja, menghabiskan sebagian besar hidup manusia. Meski, tetap saja ada, beberapa orang yang telah mendapatkan aman dan nyaman dalam bilangan kecil masa hidupnya.
2
Saat terlahir, manusia menyisir jalan dari rahim hingga menyembul ke bumi, hanya seorang diri. Sejak masih dalam penciptaan, manusia telah lekat dengan aroma kesendirian. Ia menantikan pergantian fase darah menjadi daging, membentuk struktur organ, hingga membulat utuh mewujud sosok manusia, dengan tanpa alun atau canda teman. Di awal keberadaan, manusia mendiami rahim tanpa suara. Menendang tanpa bercakap. Menyusu tanpa berteriak meminta.
3
Dan, ketika terlahir, Tuhan menyempurnakan sifat kesendirian manusia dengan keriangan guyup dengan sanak saudara. Demi mendapati dunia dan tatapan mata yang masi asing, Tuhan memberikan kekuatan kepada bayi untuk meledakkan tangisnya, memulai awal periode kegaduhan. Saat kelahiran, sesungguhnya, adalah transformasi dari keheningan menjadi kegaduhan. Hingga, kemudian, lengkaplah sudah: manusia terberkati oleh kesendirian dan kebersamaan. Sesuatu yang, kemudian, oleh ahli ilmu sosial dikenal sebagai ‘makhluk pribadi dan makhluk sosial’.
4
Kegaduhan menarik manusia untuk mendekati keserakahan, membangun peradaban dengan hiruk pikuk persekongkolan.
5
Keheningan, acap seiring dengan kesendirian, keteduhan, dan memberikan kehangatan tak terucap yang membawa manusia pada dalam makna fitrah keberadaan.
6
Lalu, haruskah keduanya terpisah dan dipisah dalam sekat-sekat baja ruang dan waktu kehidupan?
7
Keheningan, tak disangka, acapkali, datang bersamaan bersama kegaduhan...
Hidup, dalam segala rupa dan wujudnya, pada akhirnya, adalah medium pencarian jalan untuk menemukan rasa aman dan nyaman. Pencarian itu, mungkin saja, menghabiskan sebagian besar hidup manusia. Meski, tetap saja ada, beberapa orang yang telah mendapatkan aman dan nyaman dalam bilangan kecil masa hidupnya.
2
Saat terlahir, manusia menyisir jalan dari rahim hingga menyembul ke bumi, hanya seorang diri. Sejak masih dalam penciptaan, manusia telah lekat dengan aroma kesendirian. Ia menantikan pergantian fase darah menjadi daging, membentuk struktur organ, hingga membulat utuh mewujud sosok manusia, dengan tanpa alun atau canda teman. Di awal keberadaan, manusia mendiami rahim tanpa suara. Menendang tanpa bercakap. Menyusu tanpa berteriak meminta.
3
Dan, ketika terlahir, Tuhan menyempurnakan sifat kesendirian manusia dengan keriangan guyup dengan sanak saudara. Demi mendapati dunia dan tatapan mata yang masi asing, Tuhan memberikan kekuatan kepada bayi untuk meledakkan tangisnya, memulai awal periode kegaduhan. Saat kelahiran, sesungguhnya, adalah transformasi dari keheningan menjadi kegaduhan. Hingga, kemudian, lengkaplah sudah: manusia terberkati oleh kesendirian dan kebersamaan. Sesuatu yang, kemudian, oleh ahli ilmu sosial dikenal sebagai ‘makhluk pribadi dan makhluk sosial’.
4
Kegaduhan menarik manusia untuk mendekati keserakahan, membangun peradaban dengan hiruk pikuk persekongkolan.
5
Keheningan, acap seiring dengan kesendirian, keteduhan, dan memberikan kehangatan tak terucap yang membawa manusia pada dalam makna fitrah keberadaan.
6
Lalu, haruskah keduanya terpisah dan dipisah dalam sekat-sekat baja ruang dan waktu kehidupan?
7
Keheningan, tak disangka, acapkali, datang bersamaan bersama kegaduhan...
Thursday, March 4, 2010
Wake Up Mr. President..
Pagi. Hari yang lain telah datang. Menggantikan hari yang terlewat. Apapun rasa yang tersaji kemarin, mari tetap melangkah, mengikhtiarkan kebaikan di setiap hari yang tersaji.
Hoaamm.. Kantuk, sebenarnya, masih mendera mata. Tetapi, tugas harus ditunaikan. Tombak musti disandang. Baju zirah dikenakan. Meski, tiada iringan terompet, iringan ke medan tugas harus tetap diberangkatkan.
Satu laga peperangan usai sudah. Opsi C telak mengalahkan opsi A. Berteriak, menari, menghujat, bernyanyi, semua lengkap tersaji. Tidak hanya oleh kubu C, juga kubu A. Hanya, soliditas kubu C patut diapresiasi. Bahkan, balkon pun elok mereka kuasai. Apabila ada yang relatif sama, semua, seperti yang selalu terdengar, dilakukan atas nama rakyat. Demi menelisik kebenaran. Demi lebih erat mendekap suara Tuhan.
Apa yang terjadi, kiranya, sudah jelaslah sudah. Alam dan rakyat mempunyai cara untuk menilainya sendiri. Keseimbangan alami yang ada, tak membutuhkan hiruk pikuk untuk tetap mengendalikan laju jalan harmoni kehidupan. Tak perlu pembelaan. Tak perlu klaim kepemilikan kebenaran. Tak perlu juga paspor teriak atas nama perwakilan.
Opsi A atau opsi C, muaranya tetaplah sama. Keputusan politik tetaplah berbeda dengan keputusan hukum. Meski pedang keadilan (masih) tetap kerap patah tertumpulkan, telisik hukum tetaplah lebih terpercaya dibandingkan kegaduhan politik yang tetap tak mampu lepas dari jerat nafsu kepentingan.
Apa yang terjadi, selalu menghadirkan manfaat bagi mereka yang bersedia belajar. Untuk sebagian, heboh Century mampu menaikkan rating mereka. Sebagian lagi, kisruh ini menjadi luluran make up yang (sejenak) mampu menyembunyikan bopeng sejarah perilakunya. Bagi pemerintah, peperangan ini kiranya mampu meruntuhkan premis yang dibangun ketika memutuskan membangun koalisi.
Kesalahan, sebenarnya, bukan ada pada partai koalisi yang dianggap membangkang. Kesalahan, apabila kita jernih menelisik, ada pada presiden yang terlalu menginginkan harmoni. Alam bekerja dengan mekanisme keseimbangan. Fitrah alam meniscayakan keberadaan check and balances. Pengingkaran terhadap fitrah alam, hanya akan melahirkan kegaduhan dan kerusakan.
Tugas pemerintah adalah untuk bekerja demi kemaslahatan umat. Tugas parlemen, seperti jelas tercantum di konstitusi, adalah sebagai media penyeimbang. Kekuatan kritis yang mengawasi laju jalan pemerintah. Pencampuran di antara kedua senyawa tersebut, betapapun baik niatan yang disangkakan, tetap akan melahirkan ketidakseimbangan. Kebaikan, seperti esensi demokrasi, tidak dibangun di atas jalan mayoritas absolut. Kebaikan, seperti yang tertutur di setiap kitab suci, dibangun diatas jalan kebenaran dan keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keluhuran.
Kisruh Century mengajarkan kepada kita bagaimana kebaikan yang diupayakan di jalan mayoritas absolut hanya akan terberai dalam pecah keping kepentingan. Pencampuran fungsi, pengingkaran terhadap fitrah keberadaan, pada akhirnya, akan melahirkan ketidakseimbangan yang justru berbalik menghancurkan.
Bapak Presiden, cukuplah sudah. Pimpin kami dengan tegak keberanian dan kemuliaan harga diri. Bekerjalah dengan istiqomah. Tegakkan konstitusi. Tak perlu lama mencoba eksperimen mencampur senyawa-senyawa pilar penopang demokrasi. Lepaskan koalisi. Kembalikan PKS dan Golkar (hanya) sebagai penghuni parlemen. Apabila kebijakan Anda nantinya kembali digoyang, tak usah takut. Asalkan kebenaran itu ada, selama Anda tidak menyimpang, selama kesejahteraan dan kemuliaan rakyat benar-benar menjadi tujuan Anda, tak perlu koalisi untuk membela. Rakyat akan berbaris di belakang Anda --tanpa perlu 40 ribu dan sebungkus nasi padang.
Bangunlah mister Presiden. Peperangan (mungkin) telah usai. Tetapi pertempuran tetaplah masih panjang. Apa yang dilakukan dengan cinta, bagaimanapun dihalangi, selalu, akan tetap berbalas dengan cinta.
Hoaamm.. Kantuk, sebenarnya, masih mendera mata. Tetapi, tugas harus ditunaikan. Tombak musti disandang. Baju zirah dikenakan. Meski, tiada iringan terompet, iringan ke medan tugas harus tetap diberangkatkan.
Satu laga peperangan usai sudah. Opsi C telak mengalahkan opsi A. Berteriak, menari, menghujat, bernyanyi, semua lengkap tersaji. Tidak hanya oleh kubu C, juga kubu A. Hanya, soliditas kubu C patut diapresiasi. Bahkan, balkon pun elok mereka kuasai. Apabila ada yang relatif sama, semua, seperti yang selalu terdengar, dilakukan atas nama rakyat. Demi menelisik kebenaran. Demi lebih erat mendekap suara Tuhan.
Apa yang terjadi, kiranya, sudah jelaslah sudah. Alam dan rakyat mempunyai cara untuk menilainya sendiri. Keseimbangan alami yang ada, tak membutuhkan hiruk pikuk untuk tetap mengendalikan laju jalan harmoni kehidupan. Tak perlu pembelaan. Tak perlu klaim kepemilikan kebenaran. Tak perlu juga paspor teriak atas nama perwakilan.
Opsi A atau opsi C, muaranya tetaplah sama. Keputusan politik tetaplah berbeda dengan keputusan hukum. Meski pedang keadilan (masih) tetap kerap patah tertumpulkan, telisik hukum tetaplah lebih terpercaya dibandingkan kegaduhan politik yang tetap tak mampu lepas dari jerat nafsu kepentingan.
Apa yang terjadi, selalu menghadirkan manfaat bagi mereka yang bersedia belajar. Untuk sebagian, heboh Century mampu menaikkan rating mereka. Sebagian lagi, kisruh ini menjadi luluran make up yang (sejenak) mampu menyembunyikan bopeng sejarah perilakunya. Bagi pemerintah, peperangan ini kiranya mampu meruntuhkan premis yang dibangun ketika memutuskan membangun koalisi.
Kesalahan, sebenarnya, bukan ada pada partai koalisi yang dianggap membangkang. Kesalahan, apabila kita jernih menelisik, ada pada presiden yang terlalu menginginkan harmoni. Alam bekerja dengan mekanisme keseimbangan. Fitrah alam meniscayakan keberadaan check and balances. Pengingkaran terhadap fitrah alam, hanya akan melahirkan kegaduhan dan kerusakan.
Tugas pemerintah adalah untuk bekerja demi kemaslahatan umat. Tugas parlemen, seperti jelas tercantum di konstitusi, adalah sebagai media penyeimbang. Kekuatan kritis yang mengawasi laju jalan pemerintah. Pencampuran di antara kedua senyawa tersebut, betapapun baik niatan yang disangkakan, tetap akan melahirkan ketidakseimbangan. Kebaikan, seperti esensi demokrasi, tidak dibangun di atas jalan mayoritas absolut. Kebaikan, seperti yang tertutur di setiap kitab suci, dibangun diatas jalan kebenaran dan keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keluhuran.
Kisruh Century mengajarkan kepada kita bagaimana kebaikan yang diupayakan di jalan mayoritas absolut hanya akan terberai dalam pecah keping kepentingan. Pencampuran fungsi, pengingkaran terhadap fitrah keberadaan, pada akhirnya, akan melahirkan ketidakseimbangan yang justru berbalik menghancurkan.
Bapak Presiden, cukuplah sudah. Pimpin kami dengan tegak keberanian dan kemuliaan harga diri. Bekerjalah dengan istiqomah. Tegakkan konstitusi. Tak perlu lama mencoba eksperimen mencampur senyawa-senyawa pilar penopang demokrasi. Lepaskan koalisi. Kembalikan PKS dan Golkar (hanya) sebagai penghuni parlemen. Apabila kebijakan Anda nantinya kembali digoyang, tak usah takut. Asalkan kebenaran itu ada, selama Anda tidak menyimpang, selama kesejahteraan dan kemuliaan rakyat benar-benar menjadi tujuan Anda, tak perlu koalisi untuk membela. Rakyat akan berbaris di belakang Anda --tanpa perlu 40 ribu dan sebungkus nasi padang.
Bangunlah mister Presiden. Peperangan (mungkin) telah usai. Tetapi pertempuran tetaplah masih panjang. Apa yang dilakukan dengan cinta, bagaimanapun dihalangi, selalu, akan tetap berbalas dengan cinta.
Thursday, February 18, 2010
RPM Konten Multimedia: Harmonisasi berujung Tirani
Menteri Tifatul, seperti Percy Jackson dalam serial Percy Jackson & The Olympians, sedang suka bermain petir. Setelah beberapa waktu lalu melemparkan RPP Penyadapan, Tifatul kembali mengayunkan petir melalui rencana penerbitan Peraturan Menteri tentang Konten Multimedia. Uji publik RPM Konten Multimedia menghadirkan banyak kecaman. Kebebasan berpendapat, atas nama formulasi tunggal harmoni kemaslahatan, sedang menuju lembah pengekangan. Dalam negeri yang mengklaim menganut demokrasi, haruskah kebebasan selalu dipertentangkan dan dikejar-kejar untuk dimasukkan ke dalam bakul otoritas kekuasaan?
Cacat Kelahiran
Setidaknya, ada dua hal yang bisa digunakan untuk melihat legal tidaknya keberadaan RPM Konten Multimedia ini. Pertama adalah dari segi landasan hukum keberadaan, dan kedua dari segi substansi muatan. Hirarki peraturan perundangan, seperti diatur dalam pasal 7 UU 10 tahun 2004, tidak mengenal adanya Peraturan Menteri. Meski demikian, tidak lantas Peraturan Menteri hilang dari hirarki hukum positif. Pasal 7 dan UU 10 tahun 2004, apabila dibaca berdasarkan interpretasi dan logika hukum, tidak bersifat limitatif. Setiap pejabat negara, dimungkinkan untuk membentuk peraturan perundangan dengan kewenangan atributif atau kewenangan delegatif/derivatif. Dengan payung kewenangan atributif, menteri dapat mengeluarkan Peraturan Menteri berdasarkan kekuasaan delegasi yang diamanatkan oleh peraturan hukum yang lebih tinggi, seperti Undang-Undang. Di samping kewenangan atributif langsung dari Undang-Undang, kemunculan Peraturan Menteri juga dapat berasal dari sub delegate legislation, Undang-Undang memerintahkan kepada pemerintah, dan kemudian pemerintah mendelegasikan kewenangan tersebut kepada menteri.
Mencermati konsideran yang digunakan dalam penyusunan RPM Konten Multimedia, tidak ditemui pasal Undang-undang atau Peraturan Pemerintah yang dapat digunakan sebagai cantolan hukum kelahiran RPM tersebut. Tidak ada pasal dalam UU Penyiaran, UU Pers, ataupun UU ITE yang memerintahkan kepada menteri, atau bahkan delegasi langsung kepada pemerintah, untuk menerbitkan aturan turunan tentang Konten Multimedia. Jelas terlihat, menteri Tifatul sedang melakukan akrobatik kewenangan di sini. Seperti Percy Jackson yang masih gagap mengendalikan kekuatan petir yang tiba-tiba ia punya, Tifatul pun tak kalah kerepotan mengendalikan kekuatan yang mendadak ia punya. Sang Menteri masih kagok, ia belum terbiasa bermain petir.
Substansi RPM
Hal pertama yang sangat dilematis mengenai RMP Konten Multimedia adalah: apakah persoalan mendasar mengenai hak asasi manusia untuk berpendapat, berekspresi akan diatur dan dibatasi oleh peraturan sekelas Peraturan Menteri? Pasal 28F UUD 1945 jelas menyebutkan bahwa setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi, berhak memperoleh, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Pasal 28 UUD 1945 terang benderang mengatur bahwa kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.
Akibat tidak tepat dari segi wujud, pembatasan hak asasi manusia oleh Peraturan Menteri, jelas akan berbenturan dengan kebebasan berpendapat yang secara tegas diatur dalam UU Pers dan UU Penyiaran. Dua Undang-undang tersebut, secara ironi justru dijadikan konsideran kelahiran RPM Konten Multimedia. Hukum dasar perundangan, bahwa perundangan lebih tinggi mengalahkan perundangan lebih rendah, membuat Peraturan Menteri tak akan mempunyai daya ketika diadu dengan Undang-Undang dalam judicial review oleh Mahkamah Agung.
Terlepas dari lemahnya alasan hukum keberadaan RPM Konten Multimedia, hal paling mendasar yang patut disayangkan dari kemunculan RPM ini adalah masih adanya pemikiran untuk mengambil otoritas kebebasan individu oleh negara. Meski tidak selalu bergandeng tangan, demokrasi, paham yang menjunjung kedaulatan rakyat, sangat berkait erat dengan penghormatan atas kebebasan individu. Di negara yang menganut demokrasi, kebebasan individu mendapatkan pengakuan dan dijamin sepenuhnya oleh konstitusi.
Negara seharusnya tidak terlalu jauh turut campur mengatur urusan pribadi warga negara. Ada pembatasan yang jelas mengenai apa yang diatur oleh negara dan wilayah mana yang menjadi milik masyarakat. Demokrasi yang telah dewasa mempercayai bahwa tiap pribadi warga masyarakatnya mampu memilih nilai yang terbaik bagi kemuliaan dirinya sendiri. Apabila masyarakat dipaksa terjerumus ke dalam mediokritas kolektif, maka nilai-nilai pembentuk peradabatan seperti kreatifitas, spontanitas, ataupun daya imajinasi akan terkebiri. Proses pendewasaan akan mandek. Masyarakat menjadi bayi yang selalu disuapi mengenai apa yang terbaik. Dengan dalih kebebasan positif demi tercapainya suatu tatanan ideal yang selaras dan harmonis, negara justru terjebak ke dalam despotisme dan tirani.
Tidak mudah memang untuk merumuskan batas kebebasan. Akan tetapi, dalam demokrasi, kebebasan individu akan menemukan batasnya apabila ia sudah mengancam kebebasan orang lain. Dan, dalam rangka menuju masyarakat yang dewasa, satu dua tiga kali memilih sesuatu yang salah, adalah lebih baik sebagai proses pembelajaran, dibandingkan dengan dicocok hidungnya untuk diarahkan memilih yang telah dipilih oleh otoritas negeri. Masyarakat yang dewasa adalah masyarakat yang lahir dari proses belajar. Individu yang tumbuh dalam suasana penuh dengan larangan, tidak akan pernah tumbuh menjadi dewasa. Sesuatu yang dilarang, dalam segala bentuknya, hanya akan makin menumbuhkan rasa penasaran dan keinginan untuk melanggarnya.
Dualisme liberalisme
RPM Konten Multimedia, dalam spektrum yang lebih luas, menunjukkan dualisme pengelolaan negara oleh pemerintah. Di satu sisi, dalam dunia yang telah menjelma menjadi kampung global, pemerintah melakukan liberalisme di sektor ekonomi dan perdagangan. Sektor yang mengurusi hajat hidup orang banyak, dengan alasan memacu anak negeri menjadi lebih tangguh dan mandiri, dibuka bebas bercampur baur dengan komoditi luar negeri. Sejak Januari 2010, dengan berlakunya CAFTA Agreement, pojok pasar di seluruh negeri tak jauh beda dengan sudut pasar di China, Bangkok, atau Thailand. Keterbukaan pasar, dengan segala konsekuensi dan harga yang musti dibayar, cukup terbukti mampu mendorong perekonomian.
Negara terbukti tak berdaya melawan tuntutan dunia untuk masuk ke dalam perdagangan bebas. Lalu, atas dasar apa, pejabata sekelas menteri berani menerbitkan peraturan yang dimaksudkan memutus komunikasi masyarakat ke dalam jejaring global? Perdagangan dan industri memerlukan dukungan infrastruktur berat seperti jalan, listrik, pelabuhan, bandara, dan konstruksi material lain. Sedangkan komunikasi global, atau internet, hanya memerlukan sambungan data yang, dalam segala hal, lebih mudah diwujudkan dibandingkan infrastruktur penunjang perdagangan. Dengan adanya pasal yang dimaksudkan untuk menjerat pengelola layanan konten multimedia, akankah negara mempunyai daya ketika harus bertarung melawan Google, Wordpress, Blogspot, atau penyedia layanan lain yang secara legal tidak berada dalam otoritas hukum Indonesia?
Jalan menuju surga tidak selamanya dibangun atas dasar niatan baik. Demikian bunyi sebuah diktum. Harmoni kedamaian masyarakat tidak akan lantas terbangun dengan pembatasan konten multimedia. Pengambilan hak individu oleh negara, atas nama apapun, hanya akan melahirkan apatisme dan menarik negara kembali ke era tradisional dan kegelapan. Kemajuan peradabatan tidak dibangun oleh serangkaian peraturan berlabel ‘tidak’, tetapi pemberian kepercayaan kepada masyarakat disertai dengan penegakkan hukum yang konsisten adalah jalan keluarnya.
Apabila dalam perjalanannya menjadi dewasa ternyata dijumpai penyimpangan atau kesalahan, ada lembaga peradilan, dewan pers, komisi Ombusman, atau kode etik jurnalistik, yang secara konstitusi sah untuk menindak. Pembuatan aturan dan badan baru, hanya akan semakin membawa negara ini ke dalam labirin birokrasi yang makin ruwet tiada berujung.
Masyarakat telah semakin dewasa. Keberhasilan melewati transisi demokrasi, proses pemilu yang berjalan aman, dan rasionalitas yang tetap terjaga ketika melewati kisruh antara lembaga tinggi negeri, menunjukkan tingkat masyarakat yang semakin matang. Tak seharusnya pemerintah meremehkan kedewasaan masyarakat negeri ini. Sebagai negara hukum, mari kembali kepada konstitusi sebagai sumber perundangan tertinggi. Hak mengeluarkan pendapat adalah hak asasi yang tidak boleh dihilangkan dengan alasan apapun juga. Dan apabila harus dibatas, kemuliaan kedudukan hak asasi, hanya pantas dipagari dalam peraturan dalam bentuk undang-undang.
Dalam sebuah artikelnya, Rizal Mallareng memulai dengan pertanyaan: kapan saya bisa berkata bahwa saya orang bebas? Jawaban atas pertanyaan sederhana ini bisa mengubah arah sejarah. Semoga menteri Tifatul dapat memahami bahwa kebebasan manusia membuatnya memiliki banyak keinginan. Serangan bertubi kebebasan positif atas kebebasan negatif, terbukti tidak mampu menurunkan derajat kebebasan negatif sebagai sebuah falsafah kebebasan. Pengingkaran terhadap kebebasan untuk memilih, dan percaya berlebihan terhadap formula tunggal untuk mengejar harmoni, justru akan mengingkari fitrah manusia itu sendiri. Semoga juga sang menteri, seperti halnya Percy Jackson, dapat bertindak arif sehingga upaya membangun peradaban di negeri ini tidak berujung pada despotisme dan tirani.
Cacat Kelahiran
Setidaknya, ada dua hal yang bisa digunakan untuk melihat legal tidaknya keberadaan RPM Konten Multimedia ini. Pertama adalah dari segi landasan hukum keberadaan, dan kedua dari segi substansi muatan. Hirarki peraturan perundangan, seperti diatur dalam pasal 7 UU 10 tahun 2004, tidak mengenal adanya Peraturan Menteri. Meski demikian, tidak lantas Peraturan Menteri hilang dari hirarki hukum positif. Pasal 7 dan UU 10 tahun 2004, apabila dibaca berdasarkan interpretasi dan logika hukum, tidak bersifat limitatif. Setiap pejabat negara, dimungkinkan untuk membentuk peraturan perundangan dengan kewenangan atributif atau kewenangan delegatif/derivatif. Dengan payung kewenangan atributif, menteri dapat mengeluarkan Peraturan Menteri berdasarkan kekuasaan delegasi yang diamanatkan oleh peraturan hukum yang lebih tinggi, seperti Undang-Undang. Di samping kewenangan atributif langsung dari Undang-Undang, kemunculan Peraturan Menteri juga dapat berasal dari sub delegate legislation, Undang-Undang memerintahkan kepada pemerintah, dan kemudian pemerintah mendelegasikan kewenangan tersebut kepada menteri.
Mencermati konsideran yang digunakan dalam penyusunan RPM Konten Multimedia, tidak ditemui pasal Undang-undang atau Peraturan Pemerintah yang dapat digunakan sebagai cantolan hukum kelahiran RPM tersebut. Tidak ada pasal dalam UU Penyiaran, UU Pers, ataupun UU ITE yang memerintahkan kepada menteri, atau bahkan delegasi langsung kepada pemerintah, untuk menerbitkan aturan turunan tentang Konten Multimedia. Jelas terlihat, menteri Tifatul sedang melakukan akrobatik kewenangan di sini. Seperti Percy Jackson yang masih gagap mengendalikan kekuatan petir yang tiba-tiba ia punya, Tifatul pun tak kalah kerepotan mengendalikan kekuatan yang mendadak ia punya. Sang Menteri masih kagok, ia belum terbiasa bermain petir.
Substansi RPM
Hal pertama yang sangat dilematis mengenai RMP Konten Multimedia adalah: apakah persoalan mendasar mengenai hak asasi manusia untuk berpendapat, berekspresi akan diatur dan dibatasi oleh peraturan sekelas Peraturan Menteri? Pasal 28F UUD 1945 jelas menyebutkan bahwa setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi, berhak memperoleh, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Pasal 28 UUD 1945 terang benderang mengatur bahwa kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.
Akibat tidak tepat dari segi wujud, pembatasan hak asasi manusia oleh Peraturan Menteri, jelas akan berbenturan dengan kebebasan berpendapat yang secara tegas diatur dalam UU Pers dan UU Penyiaran. Dua Undang-undang tersebut, secara ironi justru dijadikan konsideran kelahiran RPM Konten Multimedia. Hukum dasar perundangan, bahwa perundangan lebih tinggi mengalahkan perundangan lebih rendah, membuat Peraturan Menteri tak akan mempunyai daya ketika diadu dengan Undang-Undang dalam judicial review oleh Mahkamah Agung.
Terlepas dari lemahnya alasan hukum keberadaan RPM Konten Multimedia, hal paling mendasar yang patut disayangkan dari kemunculan RPM ini adalah masih adanya pemikiran untuk mengambil otoritas kebebasan individu oleh negara. Meski tidak selalu bergandeng tangan, demokrasi, paham yang menjunjung kedaulatan rakyat, sangat berkait erat dengan penghormatan atas kebebasan individu. Di negara yang menganut demokrasi, kebebasan individu mendapatkan pengakuan dan dijamin sepenuhnya oleh konstitusi.
Negara seharusnya tidak terlalu jauh turut campur mengatur urusan pribadi warga negara. Ada pembatasan yang jelas mengenai apa yang diatur oleh negara dan wilayah mana yang menjadi milik masyarakat. Demokrasi yang telah dewasa mempercayai bahwa tiap pribadi warga masyarakatnya mampu memilih nilai yang terbaik bagi kemuliaan dirinya sendiri. Apabila masyarakat dipaksa terjerumus ke dalam mediokritas kolektif, maka nilai-nilai pembentuk peradabatan seperti kreatifitas, spontanitas, ataupun daya imajinasi akan terkebiri. Proses pendewasaan akan mandek. Masyarakat menjadi bayi yang selalu disuapi mengenai apa yang terbaik. Dengan dalih kebebasan positif demi tercapainya suatu tatanan ideal yang selaras dan harmonis, negara justru terjebak ke dalam despotisme dan tirani.
Tidak mudah memang untuk merumuskan batas kebebasan. Akan tetapi, dalam demokrasi, kebebasan individu akan menemukan batasnya apabila ia sudah mengancam kebebasan orang lain. Dan, dalam rangka menuju masyarakat yang dewasa, satu dua tiga kali memilih sesuatu yang salah, adalah lebih baik sebagai proses pembelajaran, dibandingkan dengan dicocok hidungnya untuk diarahkan memilih yang telah dipilih oleh otoritas negeri. Masyarakat yang dewasa adalah masyarakat yang lahir dari proses belajar. Individu yang tumbuh dalam suasana penuh dengan larangan, tidak akan pernah tumbuh menjadi dewasa. Sesuatu yang dilarang, dalam segala bentuknya, hanya akan makin menumbuhkan rasa penasaran dan keinginan untuk melanggarnya.
Dualisme liberalisme
RPM Konten Multimedia, dalam spektrum yang lebih luas, menunjukkan dualisme pengelolaan negara oleh pemerintah. Di satu sisi, dalam dunia yang telah menjelma menjadi kampung global, pemerintah melakukan liberalisme di sektor ekonomi dan perdagangan. Sektor yang mengurusi hajat hidup orang banyak, dengan alasan memacu anak negeri menjadi lebih tangguh dan mandiri, dibuka bebas bercampur baur dengan komoditi luar negeri. Sejak Januari 2010, dengan berlakunya CAFTA Agreement, pojok pasar di seluruh negeri tak jauh beda dengan sudut pasar di China, Bangkok, atau Thailand. Keterbukaan pasar, dengan segala konsekuensi dan harga yang musti dibayar, cukup terbukti mampu mendorong perekonomian.
Negara terbukti tak berdaya melawan tuntutan dunia untuk masuk ke dalam perdagangan bebas. Lalu, atas dasar apa, pejabata sekelas menteri berani menerbitkan peraturan yang dimaksudkan memutus komunikasi masyarakat ke dalam jejaring global? Perdagangan dan industri memerlukan dukungan infrastruktur berat seperti jalan, listrik, pelabuhan, bandara, dan konstruksi material lain. Sedangkan komunikasi global, atau internet, hanya memerlukan sambungan data yang, dalam segala hal, lebih mudah diwujudkan dibandingkan infrastruktur penunjang perdagangan. Dengan adanya pasal yang dimaksudkan untuk menjerat pengelola layanan konten multimedia, akankah negara mempunyai daya ketika harus bertarung melawan Google, Wordpress, Blogspot, atau penyedia layanan lain yang secara legal tidak berada dalam otoritas hukum Indonesia?
Jalan menuju surga tidak selamanya dibangun atas dasar niatan baik. Demikian bunyi sebuah diktum. Harmoni kedamaian masyarakat tidak akan lantas terbangun dengan pembatasan konten multimedia. Pengambilan hak individu oleh negara, atas nama apapun, hanya akan melahirkan apatisme dan menarik negara kembali ke era tradisional dan kegelapan. Kemajuan peradabatan tidak dibangun oleh serangkaian peraturan berlabel ‘tidak’, tetapi pemberian kepercayaan kepada masyarakat disertai dengan penegakkan hukum yang konsisten adalah jalan keluarnya.
Apabila dalam perjalanannya menjadi dewasa ternyata dijumpai penyimpangan atau kesalahan, ada lembaga peradilan, dewan pers, komisi Ombusman, atau kode etik jurnalistik, yang secara konstitusi sah untuk menindak. Pembuatan aturan dan badan baru, hanya akan semakin membawa negara ini ke dalam labirin birokrasi yang makin ruwet tiada berujung.
Masyarakat telah semakin dewasa. Keberhasilan melewati transisi demokrasi, proses pemilu yang berjalan aman, dan rasionalitas yang tetap terjaga ketika melewati kisruh antara lembaga tinggi negeri, menunjukkan tingkat masyarakat yang semakin matang. Tak seharusnya pemerintah meremehkan kedewasaan masyarakat negeri ini. Sebagai negara hukum, mari kembali kepada konstitusi sebagai sumber perundangan tertinggi. Hak mengeluarkan pendapat adalah hak asasi yang tidak boleh dihilangkan dengan alasan apapun juga. Dan apabila harus dibatas, kemuliaan kedudukan hak asasi, hanya pantas dipagari dalam peraturan dalam bentuk undang-undang.
Dalam sebuah artikelnya, Rizal Mallareng memulai dengan pertanyaan: kapan saya bisa berkata bahwa saya orang bebas? Jawaban atas pertanyaan sederhana ini bisa mengubah arah sejarah. Semoga menteri Tifatul dapat memahami bahwa kebebasan manusia membuatnya memiliki banyak keinginan. Serangan bertubi kebebasan positif atas kebebasan negatif, terbukti tidak mampu menurunkan derajat kebebasan negatif sebagai sebuah falsafah kebebasan. Pengingkaran terhadap kebebasan untuk memilih, dan percaya berlebihan terhadap formula tunggal untuk mengejar harmoni, justru akan mengingkari fitrah manusia itu sendiri. Semoga juga sang menteri, seperti halnya Percy Jackson, dapat bertindak arif sehingga upaya membangun peradaban di negeri ini tidak berujung pada despotisme dan tirani.
Friday, February 12, 2010
Benih di Dalam Lift
Jadual rapat yang mirip gerbong kereta api membuatku lesu siang itu. Huff.. andai bisa mengepak sayap, sudah aku lontarkan tubuh menjauhi pintu. Merayapi jendela. Menelusup ke ruang-ruang sebelah sekadar mencuri satu toples cemilan. Hihi..
Setengah agak malas, setengah lagi akibat tubuh lemas, setengah lainnya karena lapar, (kebanyakan setengah ya? Cuekin aja) aku meneguhkan hati menuju ruang rapat. Juga. Akhirnya. Menyusuri koridor, mbak OB suka menyebutnya sebagai zona, menyibak pintu, terlihatlah mas dan mbak penjaga lantai. Mudah saja mengenali sosok para penjaga di gedung ini. Berpakaian biru, pernik ala tentara. Tapi, mereka tidak pelit senyum, kok. Kalau kita mau menyapa, pasti mereka akan segera keluar aura sok akrabnya. Hehe.. entah karena sungkan atau tidak percaya diri, mereka biasanya jarang menyapa duluan. Paling-paling hanya mengunyah senyum dan melempar sebuah lembut anggukan.
Tanda panah ke bawah aku tekan. Menyala-lah lingkar warna merah. Mengapit berkas, manis aku posisikan diri menunggu lift membuka. Ada 7 lift di gedung Nusantara I. Tetapi, di lantai 1 dan 2, lift yang dapat diakses bebas hanya 3. 4 lift lainnya, hanya dapat dibuka oleh pin kuning kecil bergambar Garuda yang menggantung di dada kiri atau kerah jaket bagian kiri.
Lift terbuka juga. 2 orang di dalam. Aku masuk. Tombol lantai 1 sudah menyala. Aku pun hanya memposisikan diri menikmati ayunan lift. Tak lupa juga, hehe..., menyempatkan diri mengaca. Tubuh lift yang dibungkus bening kaca, membuat sifat sok ayu dan cakepku, dan sepertinya juga semua yang naik lift, langsung meluap. Tengak tengok bak di salon. Cengar cengir ke-gr-an. Atau sekadar menata kerah baju yang sebenarnya juga tidak perlu ditata. Hihi..
Lampu panel menunjuk angka 9. Artinya? Masak aku harus beritahu juga. Lift membuka. Perempuan berblazer hitam, stocking panjang menjilati lutut, rambut merona keemasan tersiram pewarna. Di lehernya menggantung aksesoris bulat seperti layaknya bhiksu. Tas, juga berwarna hitam, menggantung di lengan. Dengan handphone ayu terus berkedip dipijit jemari. Di sebelahnya, sosok lelaki juga ikut melangkah memasuki lift. Tak usah aku deskripsikan, deh. Cukup saja dibilang, ia lelaki. Hehe.. Mereka, sepertinya, sedang akrab berbincang. Sisa tawa masih pekat mengambang. Beberapa derainya bahkan terbawa ikut masuk ke dalam lift.
Aku menyiapkan diri. Hehe.. bukan mengaca untuk menggoda. Tetapi, seperti hari-hari yang lalu, kelas di lift selalu saja menghadirkan pemandangan atau percakapan seru. Setengah berdoa, aku usil berharap agar mereka juga membawa topik baru nan segar. Lift menutup. Kotak sakti itu perlahan mulai mengayun kami menuju lantai 1.
‘Dre,’ si perempuan mulai berucap. Aku menebak, mungkin nama lelaki itu Andre, Kodre, atau Condre. Hehe.. gak pentinglah siapa. Yang pasti, Ndre.
‘Aku ulang tahun, lho.’ Sumpah, aku sempatkan untuk menengok wajah perempuan itu. Ayu. Waktu itu, ia agak berkedip kepada si lelaki. Busyet. Aku dan 2 orang lainnya dianggep kemana.
‘Kasih hadiah, dong.’ Aku mengedip ke arah panel. Lantai 7. Hm.. kalo lift ini sebentar macet, kayaknya asyik. Hihi..
‘Mo hadiah apa?’ balas si lelaki. Mereka berdiri bersebelahan. Bagian lengan si lelaki agak mendapat keuntungan karena mengapit lengan si perempuan. Huh, padahal di sebelahnya juga longgar. Lift ini berkapasitas 11 orang. Penghuni saat itu cuman 5. Hehe.., dasar akunya aja yang ngiri.
‘Apa aja deh,’ jawab si perempuan. Nada suaranya? Merajuk. ‘Yang berbekas gitu.’
Whuih, berbekas? Kasih aja tip-ex atau boardmarker, ucap sirik hatiku. Hehe..
‘Berbekas gimana?’ Hatiku makin dongkol. Ini lelaki bego atau emang berpengalaman menggoda?
‘Yang berbekas. Biar berkesan,’ ringan jawab si perempuan. Tangannya memainkan ujung rambut kuning ‘trio macan-nya’. Rambut itu bergelombang. Huh.. mengingatkanku akan Taylor Shift aja.
‘Hadiah apa?’ Halah.. beneran bego ni cowok.
‘Apa aja deh. Yang penting bukan benih.’
Hah.. Panel menunjuk lantai 3. Hidup memang aneh, kadang. Pas lagi gak ada yang seru, lift berhenti di tiap lantai. Eh, pas lagi ada topik hot gini, lift nyelonong mulus tanpa hambatan.
Benih? Busyet.. Emang di gedung ini juga melayani profesi bercocok tanam ala nun jauh di kampung bapak sana. Seingatku, di sekitar memang ada lahan kosong. Tetapi, tidak dijadikan sawah atau ladang, kok. Lahan kosong itu justru ditanami gawang di kedua sisinya. Iyalah, la wong itu lapangan bola.
Benih? Haha.. aku gak selugu dan senaif itu kok. I know what she meant. Tapi, yah, belum ada kelanjutan jawaban dari si lelaki, lift sudah membuka. Aku tengok panel, lantai 1. Gosh... kenapa gak terjadi terjadi gangguan sesaat. Pintu lift gak membuka atau tiba-tiba ada yang menarik ke atas lagi. Hehe.. dasar, pemimpi.
Kita pun keluar sudah. Entah apa yang terjadi dengan transaksi ‘persawahan’ itu. Ketika kemudian, aku mendapati si cewek juga terlihat di ruang rapat, aku tak punya cukup alasan untuk menindaklanjuti urusan perbenihan tadi. Tinggal ditunggu saja. Andai, kemudian ada ayu padi yang menguning, berarti benih telah disemaikan. Dengan catatan, tidak ada hama atau tikus yang mengganggunya. Atau juga, burung iseng yang merusak konsentrasi bertumbuhnya. Hehe..
Setengah agak malas, setengah lagi akibat tubuh lemas, setengah lainnya karena lapar, (kebanyakan setengah ya? Cuekin aja) aku meneguhkan hati menuju ruang rapat. Juga. Akhirnya. Menyusuri koridor, mbak OB suka menyebutnya sebagai zona, menyibak pintu, terlihatlah mas dan mbak penjaga lantai. Mudah saja mengenali sosok para penjaga di gedung ini. Berpakaian biru, pernik ala tentara. Tapi, mereka tidak pelit senyum, kok. Kalau kita mau menyapa, pasti mereka akan segera keluar aura sok akrabnya. Hehe.. entah karena sungkan atau tidak percaya diri, mereka biasanya jarang menyapa duluan. Paling-paling hanya mengunyah senyum dan melempar sebuah lembut anggukan.
Tanda panah ke bawah aku tekan. Menyala-lah lingkar warna merah. Mengapit berkas, manis aku posisikan diri menunggu lift membuka. Ada 7 lift di gedung Nusantara I. Tetapi, di lantai 1 dan 2, lift yang dapat diakses bebas hanya 3. 4 lift lainnya, hanya dapat dibuka oleh pin kuning kecil bergambar Garuda yang menggantung di dada kiri atau kerah jaket bagian kiri.
Lift terbuka juga. 2 orang di dalam. Aku masuk. Tombol lantai 1 sudah menyala. Aku pun hanya memposisikan diri menikmati ayunan lift. Tak lupa juga, hehe..., menyempatkan diri mengaca. Tubuh lift yang dibungkus bening kaca, membuat sifat sok ayu dan cakepku, dan sepertinya juga semua yang naik lift, langsung meluap. Tengak tengok bak di salon. Cengar cengir ke-gr-an. Atau sekadar menata kerah baju yang sebenarnya juga tidak perlu ditata. Hihi..
Lampu panel menunjuk angka 9. Artinya? Masak aku harus beritahu juga. Lift membuka. Perempuan berblazer hitam, stocking panjang menjilati lutut, rambut merona keemasan tersiram pewarna. Di lehernya menggantung aksesoris bulat seperti layaknya bhiksu. Tas, juga berwarna hitam, menggantung di lengan. Dengan handphone ayu terus berkedip dipijit jemari. Di sebelahnya, sosok lelaki juga ikut melangkah memasuki lift. Tak usah aku deskripsikan, deh. Cukup saja dibilang, ia lelaki. Hehe.. Mereka, sepertinya, sedang akrab berbincang. Sisa tawa masih pekat mengambang. Beberapa derainya bahkan terbawa ikut masuk ke dalam lift.
Aku menyiapkan diri. Hehe.. bukan mengaca untuk menggoda. Tetapi, seperti hari-hari yang lalu, kelas di lift selalu saja menghadirkan pemandangan atau percakapan seru. Setengah berdoa, aku usil berharap agar mereka juga membawa topik baru nan segar. Lift menutup. Kotak sakti itu perlahan mulai mengayun kami menuju lantai 1.
‘Dre,’ si perempuan mulai berucap. Aku menebak, mungkin nama lelaki itu Andre, Kodre, atau Condre. Hehe.. gak pentinglah siapa. Yang pasti, Ndre.
‘Aku ulang tahun, lho.’ Sumpah, aku sempatkan untuk menengok wajah perempuan itu. Ayu. Waktu itu, ia agak berkedip kepada si lelaki. Busyet. Aku dan 2 orang lainnya dianggep kemana.
‘Kasih hadiah, dong.’ Aku mengedip ke arah panel. Lantai 7. Hm.. kalo lift ini sebentar macet, kayaknya asyik. Hihi..
‘Mo hadiah apa?’ balas si lelaki. Mereka berdiri bersebelahan. Bagian lengan si lelaki agak mendapat keuntungan karena mengapit lengan si perempuan. Huh, padahal di sebelahnya juga longgar. Lift ini berkapasitas 11 orang. Penghuni saat itu cuman 5. Hehe.., dasar akunya aja yang ngiri.
‘Apa aja deh,’ jawab si perempuan. Nada suaranya? Merajuk. ‘Yang berbekas gitu.’
Whuih, berbekas? Kasih aja tip-ex atau boardmarker, ucap sirik hatiku. Hehe..
‘Berbekas gimana?’ Hatiku makin dongkol. Ini lelaki bego atau emang berpengalaman menggoda?
‘Yang berbekas. Biar berkesan,’ ringan jawab si perempuan. Tangannya memainkan ujung rambut kuning ‘trio macan-nya’. Rambut itu bergelombang. Huh.. mengingatkanku akan Taylor Shift aja.
‘Hadiah apa?’ Halah.. beneran bego ni cowok.
‘Apa aja deh. Yang penting bukan benih.’
Hah.. Panel menunjuk lantai 3. Hidup memang aneh, kadang. Pas lagi gak ada yang seru, lift berhenti di tiap lantai. Eh, pas lagi ada topik hot gini, lift nyelonong mulus tanpa hambatan.
Benih? Busyet.. Emang di gedung ini juga melayani profesi bercocok tanam ala nun jauh di kampung bapak sana. Seingatku, di sekitar memang ada lahan kosong. Tetapi, tidak dijadikan sawah atau ladang, kok. Lahan kosong itu justru ditanami gawang di kedua sisinya. Iyalah, la wong itu lapangan bola.
Benih? Haha.. aku gak selugu dan senaif itu kok. I know what she meant. Tapi, yah, belum ada kelanjutan jawaban dari si lelaki, lift sudah membuka. Aku tengok panel, lantai 1. Gosh... kenapa gak terjadi terjadi gangguan sesaat. Pintu lift gak membuka atau tiba-tiba ada yang menarik ke atas lagi. Hehe.. dasar, pemimpi.
Kita pun keluar sudah. Entah apa yang terjadi dengan transaksi ‘persawahan’ itu. Ketika kemudian, aku mendapati si cewek juga terlihat di ruang rapat, aku tak punya cukup alasan untuk menindaklanjuti urusan perbenihan tadi. Tinggal ditunggu saja. Andai, kemudian ada ayu padi yang menguning, berarti benih telah disemaikan. Dengan catatan, tidak ada hama atau tikus yang mengganggunya. Atau juga, burung iseng yang merusak konsentrasi bertumbuhnya. Hehe..
Wednesday, January 27, 2010
Rindu. Malam. Kedamaian
Meski tidak terlalu rapat, gelap mulai menyulami malam. Udara bergerak lambat, terbebani oleh basah. Pucuk-pucuk daun waru di sepanjang jalan hanya mampu melambai layu. Menanggung lelah, mungkin. Atau, bisa juga, sedikit sebal dengan malam yang terlalu dini berasyik masyuk dengan sunyi.
Usai membalas anggukan mas penjaga pintu, aku mulai menjadi bagian dari kesunyian. Hanya saja, di jejalan dari kantor menuju tempat parkir, sepi tidak hadir dalam wujud suram menghitam. Ia lebih mirip gadis yang belajar dandan. Lampu-lampu mengapit sisi jalan, menyepuh pipinya. Menghadirkan cipratan warna kuning merona. Lurus aku menapaki bahu jalan, beberapa kaca gedung terlihat tetap menyala, menemani tiap petak langkahku mendekati tempat parkir.
‘Mas,’ bermula dari kelebat sebuah motor, sebuah suara menyapa. Tak ada siapa. Hanya tersisa aku di sini. Pastilah suara itu menyeru padaku. Aku menghentikan langkah. Mencoba mengenali sosok di atas sepeda motor yang juga berbalik kembali menujuku. Dari jarak ini, beberapa tapak lagi aku tiba di tempat parkir.
Senyum itu datang di saat aku belum jua mampu mengenalinya. Ketika bayangnya mulai mewujud, ia melepaskan genggaman di setang sepeda motornya. Tangannya terjulur. Senyumnya masih tetap terjaga.
‘Baru pulang, mas?’ wujud dia mulai menghadirkan makna. Tetapi, tetap saja, aku tidak mampu mengingat namanya. Seragam dan senyum itu yang mendekatkanku pada bayang identitas dirinya.
‘Iya. Banyak kerjaan.’
‘Masuk malam nih?’ balasku. Memoriku belum utuh. Meski bayangnya mulai mewujud, aku tak jua mampu mengambil satu nama untuk menyebutnya.
‘Lagi piket, mas. Persiapan menghadapi 28.’
28? Seragam petugas pengaman? Gedung DPR?
Simpuls otakku menata tiga deret kata yang seketika hadir tersebut. Merangkainya. Tak berapa lama, menyuguhkan sebuah makna.
‘Antisipasi demo, ya?’
‘Iya mas. Semoga tidak terjadi apa-apa.’
Detik itu, aku sudah mengingat sosoknya. Ia adalah petugas pengamanan dalam gedung Nusantara I DPR RI. Kami pernah berbincang. Di suatu sore. Di ruang kerjaku. Melihatnya terkantuk sendirian di kursi jaga, aku menawarinya kopi. Ternyata, ia banyak bicara juga.
‘Tidak kuliah?’ Aku ingat, ia pernah bercerita tentang mimpinya menyelesaikan kuliah.
‘Hari ini tidak ada jadwal, mas. Tapi besok mulai ujian semester. Ini juga bawa buku buat belajar.’ Ia menunduk. Tangannya menggapai menyembulkan tas plastik yang merimbun oleh gerombolan buku.
Aku tersenyum. Terkagum oleh hasrat belajarnya. Meski, pekerjaannya membuat ia kerap kewalahan mengatur jadwal, ia tak lantas mematikan percik semangatnya. Sekali lagi, berkelebat tutur dia tentang hasrat dan cita-citanya. Menjadi tentara. Bekerja di lingkungan DPR RI. Dan, apabila ada kesempatan, menjadi sarjana.
‘Saya ingin terus belajar, mas. Ingin terus berkembang,’ ucapnya sore dulu. ‘Saya tidak ingin seperti teman-teman yang menjadi kehilangan minat untuk menambah pengetahuan.’
‘Sering-sering aja main kemari,' demikian aku mengakhiri bincang sore itu. Meski berada tak berbilang jauh, tetapi, sekat-sekat di sini membuat tiap penghuni terasa jauh. Benar saja, aku tidak lagi menjumpainya sejak sore itu. Petugas pengamanan dalam tidak pernah menetap. Mereka berpindah dari lantai ke lantai. Beberapa, aku sempat mengenali mereka. Tetapi, ketika sapaan mulai saling mengalir, esok hari tidak lagi aku dapati mereka menduduki tempat jaga di lantaiku berada.
Kesunyian malam rupanya kembali memunculkan dia dari endapan lamat-lamat bayang memori jiwa. Begitu banyak bayang tercetak setiap hari. Dan selalu, aku tertatih dalam urusan mengingat nama. Memegang bayang wajah sepertinya lebih mudah dari sekadar mengurutkan beberapa potong huruf membentuk nama.
‘Semoga tidak terjadi apa-apa mas tanggal 28.’
‘Insyaallah. Semoga dijauhkan dari kerusuhan dan bahaya.’
‘Amin, mas.’
‘Tetap semangat belajar, ya.’
Tidak terlalu jelas, tetapi ia kelihatan tersipu. Wajahnya mengguratkan senyum. Kepalanya terangguk pelan. Irama tubuh itu, bagiku, lebih dari cukup untuk mengguratkan jawaban ‘iya’.
Gelap berbaris makin rapat. Udara kian melaju lambat terbebani basah. Usai melambai berpisah, aku meneruskan langkah menuju tempat parkir.
Aku berderap melaju pulang. Malam membujur memenuhi pekarangan panjang. Di antara rona-rona lampu yang menyepuh jalan menuju pintu keluar, berderet beberapa tenda dengan atap lesu melambai terseret angin. Sekelompok polisi berserak menduduki rerumputan dan bahu jalan. Beberapa menatapi langit. Sebagian saling bertukar kata, memainkan bidak catur. Atau sekadar menghayutkan petik gitar menemani irama-irama lagu yang sayup terdengar.
1 bulan sudah 4 tenda polisi itu berdiam di kompleks gedung DPR. Jiwa-jiwa terkurung seragam itu pastilah merindukan keluarga, kekasih, atau belahan hati yang sudah sekian lama mereka tinggalkan. Entah sampai kapan rindu itu hanya menggelantungi laju angin malam.
Semoga kekacauan ini segera menghilang di ujung kedamaian. Semoga hati-hati yang terpisah dapat segera disatukan. Dan semoga, keberkahan dan kemuliaan dilimpahkan untuk negeri tercinta ini.
Usai membalas anggukan mas penjaga pintu, aku mulai menjadi bagian dari kesunyian. Hanya saja, di jejalan dari kantor menuju tempat parkir, sepi tidak hadir dalam wujud suram menghitam. Ia lebih mirip gadis yang belajar dandan. Lampu-lampu mengapit sisi jalan, menyepuh pipinya. Menghadirkan cipratan warna kuning merona. Lurus aku menapaki bahu jalan, beberapa kaca gedung terlihat tetap menyala, menemani tiap petak langkahku mendekati tempat parkir.
‘Mas,’ bermula dari kelebat sebuah motor, sebuah suara menyapa. Tak ada siapa. Hanya tersisa aku di sini. Pastilah suara itu menyeru padaku. Aku menghentikan langkah. Mencoba mengenali sosok di atas sepeda motor yang juga berbalik kembali menujuku. Dari jarak ini, beberapa tapak lagi aku tiba di tempat parkir.
Senyum itu datang di saat aku belum jua mampu mengenalinya. Ketika bayangnya mulai mewujud, ia melepaskan genggaman di setang sepeda motornya. Tangannya terjulur. Senyumnya masih tetap terjaga.
‘Baru pulang, mas?’ wujud dia mulai menghadirkan makna. Tetapi, tetap saja, aku tidak mampu mengingat namanya. Seragam dan senyum itu yang mendekatkanku pada bayang identitas dirinya.
‘Iya. Banyak kerjaan.’
‘Masuk malam nih?’ balasku. Memoriku belum utuh. Meski bayangnya mulai mewujud, aku tak jua mampu mengambil satu nama untuk menyebutnya.
‘Lagi piket, mas. Persiapan menghadapi 28.’
28? Seragam petugas pengaman? Gedung DPR?
Simpuls otakku menata tiga deret kata yang seketika hadir tersebut. Merangkainya. Tak berapa lama, menyuguhkan sebuah makna.
‘Antisipasi demo, ya?’
‘Iya mas. Semoga tidak terjadi apa-apa.’
Detik itu, aku sudah mengingat sosoknya. Ia adalah petugas pengamanan dalam gedung Nusantara I DPR RI. Kami pernah berbincang. Di suatu sore. Di ruang kerjaku. Melihatnya terkantuk sendirian di kursi jaga, aku menawarinya kopi. Ternyata, ia banyak bicara juga.
‘Tidak kuliah?’ Aku ingat, ia pernah bercerita tentang mimpinya menyelesaikan kuliah.
‘Hari ini tidak ada jadwal, mas. Tapi besok mulai ujian semester. Ini juga bawa buku buat belajar.’ Ia menunduk. Tangannya menggapai menyembulkan tas plastik yang merimbun oleh gerombolan buku.
Aku tersenyum. Terkagum oleh hasrat belajarnya. Meski, pekerjaannya membuat ia kerap kewalahan mengatur jadwal, ia tak lantas mematikan percik semangatnya. Sekali lagi, berkelebat tutur dia tentang hasrat dan cita-citanya. Menjadi tentara. Bekerja di lingkungan DPR RI. Dan, apabila ada kesempatan, menjadi sarjana.
‘Saya ingin terus belajar, mas. Ingin terus berkembang,’ ucapnya sore dulu. ‘Saya tidak ingin seperti teman-teman yang menjadi kehilangan minat untuk menambah pengetahuan.’
‘Sering-sering aja main kemari,' demikian aku mengakhiri bincang sore itu. Meski berada tak berbilang jauh, tetapi, sekat-sekat di sini membuat tiap penghuni terasa jauh. Benar saja, aku tidak lagi menjumpainya sejak sore itu. Petugas pengamanan dalam tidak pernah menetap. Mereka berpindah dari lantai ke lantai. Beberapa, aku sempat mengenali mereka. Tetapi, ketika sapaan mulai saling mengalir, esok hari tidak lagi aku dapati mereka menduduki tempat jaga di lantaiku berada.
Kesunyian malam rupanya kembali memunculkan dia dari endapan lamat-lamat bayang memori jiwa. Begitu banyak bayang tercetak setiap hari. Dan selalu, aku tertatih dalam urusan mengingat nama. Memegang bayang wajah sepertinya lebih mudah dari sekadar mengurutkan beberapa potong huruf membentuk nama.
‘Semoga tidak terjadi apa-apa mas tanggal 28.’
‘Insyaallah. Semoga dijauhkan dari kerusuhan dan bahaya.’
‘Amin, mas.’
‘Tetap semangat belajar, ya.’
Tidak terlalu jelas, tetapi ia kelihatan tersipu. Wajahnya mengguratkan senyum. Kepalanya terangguk pelan. Irama tubuh itu, bagiku, lebih dari cukup untuk mengguratkan jawaban ‘iya’.
Gelap berbaris makin rapat. Udara kian melaju lambat terbebani basah. Usai melambai berpisah, aku meneruskan langkah menuju tempat parkir.
Aku berderap melaju pulang. Malam membujur memenuhi pekarangan panjang. Di antara rona-rona lampu yang menyepuh jalan menuju pintu keluar, berderet beberapa tenda dengan atap lesu melambai terseret angin. Sekelompok polisi berserak menduduki rerumputan dan bahu jalan. Beberapa menatapi langit. Sebagian saling bertukar kata, memainkan bidak catur. Atau sekadar menghayutkan petik gitar menemani irama-irama lagu yang sayup terdengar.
1 bulan sudah 4 tenda polisi itu berdiam di kompleks gedung DPR. Jiwa-jiwa terkurung seragam itu pastilah merindukan keluarga, kekasih, atau belahan hati yang sudah sekian lama mereka tinggalkan. Entah sampai kapan rindu itu hanya menggelantungi laju angin malam.
Semoga kekacauan ini segera menghilang di ujung kedamaian. Semoga hati-hati yang terpisah dapat segera disatukan. Dan semoga, keberkahan dan kemuliaan dilimpahkan untuk negeri tercinta ini.
Tuesday, January 26, 2010
Motif, Gembira, Bahagia
Untuk mencapai kemuliaan, seorang harus bangga terhadap apapun yang ia lakukan. Kebanggaan tersebut bukan disandarkan pada justifikasi sosial, atau legitimasi status yang ia peroleh dari, apapun, profesinya tersebut. Keagungan nilai pribadi seseorang, bagiku, lebih dituntut oleh alasan yang ia punya dalam mengerjakan apa yang ia lakukan. Alasan, dalam keyakinanku, tidak harus seturut dengan kemuliaan definisi rancangan kebanyakan orang. Keagungan alasan, aku menamainya demikian, lebih aku percaya dalam arti seberapa dalam seorang menyakini dan menghargai apa yang ia lakukan.
Manusia, terlepas dari apapun status dan pendidikannya, adalah makhluk yang digerakkan oleh motif. Seperti laju tinta dalam kumpulan zat cair, motif akan mewarnai perasaan dan totalitas seorang dalam melakukan tindakan. Alasan, motif, atau apapun definisi yang disematkan, seturut kita meyakini dan menghayatinya dengan sungguh, bagiku adalah menghadirkan kecintaan terhadap pekerjaan. Meski keabsahan dan kelurusan alasan adalah sesuatu yang sah diperdebatkan, tetapi, keyakinan seorang terhadap alasan tersebut, kegigihannya akan kebenaran alasan tersebut, akan melahirkan keikhlasan dan kedamaian bagi pribadi bersangkutan. Saya tidak sedang berbicara tentang alasan-alasan yang biasa diterima umum. Saya juga tidak sedang menginventaris jenis-jenis alasan yang biasa diakui sebagai konvensi umum sebagai hal yang dapat diterima.
Tiap manusia boleh hadir dengan beragam motif dalam melakukan apa yang ia lakukan sekarang. Sepanjang ia meyakini, meneguhi, dan menjadikan alasan tersebut untuk membantunya luruh menghayati dan mencintai apa yang ia lakukan, bagiku, ia telah menumbuhkan cinta dalam pekerjaan. Jalan ke surga tidak selalu harus dibangun dengan maksud baik. Penduduk surga tidak selalu harus dipahami sebagai insan suci, atau manusia yang mengklaim terbebas dari dosa dan angkara. Klaim terhadap nilai motif, tidak akan seturut serta menyajikan kemuliaan atau kehinaan yang tersaji sesudahnya.
Bagiku pribadi, kecintaan, keikhlasan, dan kegembiraan kita dalam meneguhi motif, selalu akan menghadirkan kemuliaan pada setiap apapun yang manusia lakukan. Kita tidak bisa mengulangi apa yang terjadi, kita juga tidak bisa mendikte apa yang harus tampil di esok hari. Sepanjang kemurniaan dan keceriaan hati kita terjaga, pasir yang semula terdiam di genggaman, dengan kehendak alam, akan menjadi butiran emas yang memuliakan tangan, raga, dan jiwa kita.
Jadi, mari kita bergembira untuk apapun yang sedang kita lakukan.
Manusia, terlepas dari apapun status dan pendidikannya, adalah makhluk yang digerakkan oleh motif. Seperti laju tinta dalam kumpulan zat cair, motif akan mewarnai perasaan dan totalitas seorang dalam melakukan tindakan. Alasan, motif, atau apapun definisi yang disematkan, seturut kita meyakini dan menghayatinya dengan sungguh, bagiku adalah menghadirkan kecintaan terhadap pekerjaan. Meski keabsahan dan kelurusan alasan adalah sesuatu yang sah diperdebatkan, tetapi, keyakinan seorang terhadap alasan tersebut, kegigihannya akan kebenaran alasan tersebut, akan melahirkan keikhlasan dan kedamaian bagi pribadi bersangkutan. Saya tidak sedang berbicara tentang alasan-alasan yang biasa diterima umum. Saya juga tidak sedang menginventaris jenis-jenis alasan yang biasa diakui sebagai konvensi umum sebagai hal yang dapat diterima.
Tiap manusia boleh hadir dengan beragam motif dalam melakukan apa yang ia lakukan sekarang. Sepanjang ia meyakini, meneguhi, dan menjadikan alasan tersebut untuk membantunya luruh menghayati dan mencintai apa yang ia lakukan, bagiku, ia telah menumbuhkan cinta dalam pekerjaan. Jalan ke surga tidak selalu harus dibangun dengan maksud baik. Penduduk surga tidak selalu harus dipahami sebagai insan suci, atau manusia yang mengklaim terbebas dari dosa dan angkara. Klaim terhadap nilai motif, tidak akan seturut serta menyajikan kemuliaan atau kehinaan yang tersaji sesudahnya.
Bagiku pribadi, kecintaan, keikhlasan, dan kegembiraan kita dalam meneguhi motif, selalu akan menghadirkan kemuliaan pada setiap apapun yang manusia lakukan. Kita tidak bisa mengulangi apa yang terjadi, kita juga tidak bisa mendikte apa yang harus tampil di esok hari. Sepanjang kemurniaan dan keceriaan hati kita terjaga, pasir yang semula terdiam di genggaman, dengan kehendak alam, akan menjadi butiran emas yang memuliakan tangan, raga, dan jiwa kita.
Jadi, mari kita bergembira untuk apapun yang sedang kita lakukan.
Dunia Fantasi Taylor Shift
Tingkah lentik Taylor Shift dalam ‘You Belong with Me’ membangkitkan beberapa khayal dalam benakku. Pertama, mungkin, akan menyenangkan andai untuk beberapa saat dapat melipat waktu, kembali kemasa usia belasan tahun. Meski tidak semua usia muda menyenangkan, tetapi, lihatlah, siapa dapat menolak pesona dunia remaja dalam wujud lingkar hidup Taylor Shift. Tunggu, maksudku di sini bukan dalam hidup nyata Taylor Shift. Kalau itu, memang pastilah sangat menyenangkan. Tetapi, lebih pada pedar-pedar gairah remaja yang demikin kuat memeluk video clip Taylor tersebut. Sepasang remaja yang hidup dalam rumah berdampingan. Terlilit oleh gejolak jiwa yang, tentu saja, tidak jauh-jauh dari persoalan rasa. Terpisah hanya oleh tirai jendela, dunia seolah kemudian mewujud indah.
Fantasi kedua, mungkin, alangkah menyenangkannya andai punya rumah berdampingan dimana jendela kamarku berhadapan jendela kamar gadis menawan. You belong with me memang bukan kelebatan slide pertama yang menawarkan godaan romantis tersebut. Girl Next Door, dimana Elisha Cutchbert demikian menggoda ketika tertangkap lewat tirai kamar sebelah sedang berganti baju; Like boy and girl, dimana untuk berpindah kamar yang saling berhadapan cukup menggunakan batang pohon yang tumbuh tepat di antara kedua kamar; atau beberapa film lain yang, hehe…, aku sudah tidak ingat. Bayangkan: kamar saling berhadapan, saat menarik tirai akan langsung menatap lurus jendela dia, hm… tidakkan itu sebuah imaji indah yang ‘pantas’ diwujudkan? Andai aku seorang pengembang, akan aku wujudkan impian yang pasti menjadi imajinasi tiap pemuda pemudi di negeri tercinta ini.
Fantasi ketiga, ingin segera merampungkan terapi, menyembuhkan luka agar dapat lekas kembali berlari. Pusat pesona lelaki, seringkali dilukiskan, hanya terpusat pada 2 hal simpel: bintang lapangan olahraga atau jago bermain musik. Mengingat aku masih tertatih menata jari untuk membujuk senar gitar menghasilkan irama mempesona, maka aku harus kembali menegakkan kaki untuk dapat berlari. Tetapi, belajar metik gitar tidakkah lebih mudah daripada menyambung tulang kaki yang terberai patah? Ah, dua-duanya sama susah. Hehe..
Fantasi keempat, ingin memelihara rambut agar tampil cute dan acak-acakan seperti pemeran pria dalam video clip tersebut. Hehe.. Tidak yakin juga konstruksi wajahku nyambung dengan potongan rambut seperti itu. Tetapi, kalau tidak menambah cakep, setidaknya kalau itu tidak akan menambah jelek, tidak apa-apalah untuk dicoba. Haha.. ngarep.
Fantasi kelima, ingin mematikan segala gadget komunikasi agar kembali merasai romansa berkirim berita lewat kertas yang dicoret. Agak ribet memang, tetapi, hm.. pesona romantisme-nya demikian legit menggoda. ketika menggoresi kertas dengan aneka huruf yang luruh dari hati, hati pastilah tiada henti bersenandung indah. Lalu, kemudian, ketika meletakkan kertas itu di depan dada agar terbaca si dia, hm.. pesona kontak mata yang tercipta sanggup menghadirkan berjuta-juta tegangan listrik yang anehnya, berasa mak nyes, menentramkan dada. Di samping aura goda romantisme, satu lagi, metode berkirim kata ini juga tidak memerlukan pulsa, sehingga dapat lebih menghemat biaya. Hehe…
Fantasi keenam, hm.. bilang gak ya, fantasi keenam adalah, seperti terlihat di akhir video clip, membiarkan rasa sayang itu menggerakkan mata untuk membujuk bibir agar menemui pasangannya. Hm.. setelah beberapa detik merasai tatap mata yang penuh mengembuskan ekspresi sayang, maka tak ada cara lebih indah untuk mengakhirinya selain memenuhi rongga bibir dengan lembut bibirnya. Hm.. jangan berpikir macam-macam. Terkadang, memang demikianlah adanya cinta diterjemahkan. Hihi..
Fantasi ketujuh, ini mungkin fantasi paling berat di antara deret fantasi sebelumnya, mengirim lamaran agar dapat terpilih menjadi pemain pria di video clip Taylor Shift selanjutnya. Berat? Memang. Mustahil? Tidak juga. Hehe.. kalau tidak dicoba, mana ada peluang untuk berhasil. Kalau pun ditolak, setidaknya, itulah hukum alam yang seharusnya terjadi. Haha..
Taylor Shift menjadi alasan yang wajar bagi semua pria untuk berkhayal. Ia cantik. Muda. Berbakat. Dan penuh dengan ledakan pesona. Bagiku pribadi, Taylor Shift adalah perwujudkan feminim dari Avril Lavigne. Penuh ledakan pesona. Karakter vokal keduanya juga nyaris serupa. Dan, yang penting, mereka berdua memenuhi ruas bilangan muda usianya dengan bekerja menghasilkan karya-karya indah pemanja rasa dan mata.
Berkaryalah selagi muda ataupun ketika telah menjadi tua?[]
Fantasi kedua, mungkin, alangkah menyenangkannya andai punya rumah berdampingan dimana jendela kamarku berhadapan jendela kamar gadis menawan. You belong with me memang bukan kelebatan slide pertama yang menawarkan godaan romantis tersebut. Girl Next Door, dimana Elisha Cutchbert demikian menggoda ketika tertangkap lewat tirai kamar sebelah sedang berganti baju; Like boy and girl, dimana untuk berpindah kamar yang saling berhadapan cukup menggunakan batang pohon yang tumbuh tepat di antara kedua kamar; atau beberapa film lain yang, hehe…, aku sudah tidak ingat. Bayangkan: kamar saling berhadapan, saat menarik tirai akan langsung menatap lurus jendela dia, hm… tidakkan itu sebuah imaji indah yang ‘pantas’ diwujudkan? Andai aku seorang pengembang, akan aku wujudkan impian yang pasti menjadi imajinasi tiap pemuda pemudi di negeri tercinta ini.
Fantasi ketiga, ingin segera merampungkan terapi, menyembuhkan luka agar dapat lekas kembali berlari. Pusat pesona lelaki, seringkali dilukiskan, hanya terpusat pada 2 hal simpel: bintang lapangan olahraga atau jago bermain musik. Mengingat aku masih tertatih menata jari untuk membujuk senar gitar menghasilkan irama mempesona, maka aku harus kembali menegakkan kaki untuk dapat berlari. Tetapi, belajar metik gitar tidakkah lebih mudah daripada menyambung tulang kaki yang terberai patah? Ah, dua-duanya sama susah. Hehe..
Fantasi keempat, ingin memelihara rambut agar tampil cute dan acak-acakan seperti pemeran pria dalam video clip tersebut. Hehe.. Tidak yakin juga konstruksi wajahku nyambung dengan potongan rambut seperti itu. Tetapi, kalau tidak menambah cakep, setidaknya kalau itu tidak akan menambah jelek, tidak apa-apalah untuk dicoba. Haha.. ngarep.
Fantasi kelima, ingin mematikan segala gadget komunikasi agar kembali merasai romansa berkirim berita lewat kertas yang dicoret. Agak ribet memang, tetapi, hm.. pesona romantisme-nya demikian legit menggoda. ketika menggoresi kertas dengan aneka huruf yang luruh dari hati, hati pastilah tiada henti bersenandung indah. Lalu, kemudian, ketika meletakkan kertas itu di depan dada agar terbaca si dia, hm.. pesona kontak mata yang tercipta sanggup menghadirkan berjuta-juta tegangan listrik yang anehnya, berasa mak nyes, menentramkan dada. Di samping aura goda romantisme, satu lagi, metode berkirim kata ini juga tidak memerlukan pulsa, sehingga dapat lebih menghemat biaya. Hehe…
Fantasi keenam, hm.. bilang gak ya, fantasi keenam adalah, seperti terlihat di akhir video clip, membiarkan rasa sayang itu menggerakkan mata untuk membujuk bibir agar menemui pasangannya. Hm.. setelah beberapa detik merasai tatap mata yang penuh mengembuskan ekspresi sayang, maka tak ada cara lebih indah untuk mengakhirinya selain memenuhi rongga bibir dengan lembut bibirnya. Hm.. jangan berpikir macam-macam. Terkadang, memang demikianlah adanya cinta diterjemahkan. Hihi..
Fantasi ketujuh, ini mungkin fantasi paling berat di antara deret fantasi sebelumnya, mengirim lamaran agar dapat terpilih menjadi pemain pria di video clip Taylor Shift selanjutnya. Berat? Memang. Mustahil? Tidak juga. Hehe.. kalau tidak dicoba, mana ada peluang untuk berhasil. Kalau pun ditolak, setidaknya, itulah hukum alam yang seharusnya terjadi. Haha..
Taylor Shift menjadi alasan yang wajar bagi semua pria untuk berkhayal. Ia cantik. Muda. Berbakat. Dan penuh dengan ledakan pesona. Bagiku pribadi, Taylor Shift adalah perwujudkan feminim dari Avril Lavigne. Penuh ledakan pesona. Karakter vokal keduanya juga nyaris serupa. Dan, yang penting, mereka berdua memenuhi ruas bilangan muda usianya dengan bekerja menghasilkan karya-karya indah pemanja rasa dan mata.
Berkaryalah selagi muda ataupun ketika telah menjadi tua?[]
Monday, November 17, 2008
Blessing in Disguise
Sore datang dengan perlahan. Pedar siang yang menerangi bumi semakin redup tertindih senja yang bergulung-gulung turun. Segerombolan burung bangau masih enggan beranjak dari pematang tambak. Lambung mereka sebenarnya sudah menggelembung. Tapi sepertinya mereka berpikir, satu dua ekor ikan lagi akan masih sanggup berjejalan untuk bekal malam yang dingin.
Sore yang teramat demikian biasa. Sejauh mata memandang, masih nampak 2 alumunium yang dibentuk menjadi tongkat; kawan setiaku hampir 2 bulan ini, dan akan demikian selama 4 bulan ke depan. Kipas yang terus berputar tiap kali jarum aku lontarkan menjauhi angka nol. Meja cokelat separo kumal yang tergolek di tengah ruangan. Terkadang ia seperti pemuda yang kelelahan menanggungkan berbagai beban di atasnya. Ada televise kuno keluaran 80-an, dispenser yang isinya sudah hampir seminggu kosong, dan kotak cokelat bekas tempat roti yang entah sedari kapan telah aku habiskan. Sperai putih yang memeluk meja itu, sebagai pembatas punggung meja dengan benda-benda di atasnya, juga sudah lama ditinggalkan oleh keputihannya. Rice cooker yang tergolek di bawah meja pun masih setia dengan kerlip lampu indicator berwarna kuningnya. Tempat yang bisa menanak nasi itu aku beli pada bulan Ramadhan yang lalu. Sahur yang berlangsung di penghujung malam, dan dingin yang terkadang tidak bisa membuat manusia bangun seperti yang diinginkan, membuat nenek merasa benda ajaib ini akan banyak membantu.
‘Seandainya terlambat bangun, paling tidak kita hanya cukup membuat lauk saja. Kan nasih sudah ada di mejik jer itu,’ demikian argumentasi hebat nenek. Perempuan tua itu memang luar biasa. Ia lebih dari seorang nenek. Dedikasi dan kesabarannya terentang luas melebihi samudra dunia. Semoga Allah memberi aku kesempatan untuk membahagiakan beliau.
Meja belajar berpelitur itu juga setia di samping tempat tidurku. Meja itu adalah kenangan dari almarhum ayah. Waktu itu aku masih berseragam putih abu. Ketika melihat televise, aku melihat bahwa gaya belajar lesehan di lantai sepertinya demikian nyaman. Dan setelah berbincang dengan lek Maman, tukang kayu handal di kampungku, ayah menghadiahi aku meja belajar itu. Sebagai balasannya, aku selalu berperingkat 1 di kelasku. Apabila seorang anak gadis, tentunya meja belajar itu telah tumbuh dewasa. Dan sekarang, meja belajar itu aku gunakan untuk menaruh laptop kesayanganku. Cangkir besar tempat kopi dan kaleng cemilan juga selalu menenami meja itu. Sungguh sebuah perkawanan yang indah.
Dan tak jauh dari tubuhku sekarang, di ujung tempat tidur, terdiam dengan anggun tas hitam kesayanganku, Eiger. Aku selalu senang memandangi tas itu. Bahkan ketika aku tidak ada urusan dengannya, aku pun menyempatkan diri untuk menatapnya. Bentuknya yang indah, dengan sandaran empuk di belakangnya, membuatku selalu rindu untuk menyandangnya. Sebelum kecelakaan itu, ia selalu menemaniku kemana aku pergi. Ketika tergoncang di kereta sewaktu ke Bandung; ketika meliuk di atas sepeda motor dalam perjalanan ke Klaten, atau sewaktu melepas penat dengan mengunjungi Gedong Songo. Dan sekarang, ketika aku tidak bisa kemana-mana, tas Eiger hitam itu pun masih selalu bersamaku.
Waktu memang demikian cepat melesat. Kepakannya yang terentang konstan, berjalan berputar seperti roda pedati yang tiada pernah berhenti. Dan lagi, ketika mataku terantuk pada tongkat alumunium itu, kembali aku menghela nafas. Ada bintik rasa tidak berterima menyusup licik ke dalam hatiku. Mengapa diantara sekian banyak orang, diantara sekian banyak kecelakaan, harus aku yang dipilih untuk menanggungkan ini. Mengapa kakiku yang harus bersinggungan dengan truk itu. Mengapa juga kantuk musti datang menyerang di pagi buta itu. Dan mengapa juga aku musti kurang tidur di malam-malam sebelumnya hingga akhirnya melahirkan peristiwa di pagi itu.
Hidup memang aneh. Atau gila, barangkali. Loncatan-loncatan nasib yang dibungkus takdir kerap mengepung tanpa sebuah pola yang konstan. Mereka hadir seperti anomaly yang, pada suatu saat, ketika kita masih punya semangat untuk percaya, akan membentuk sebuah rangkaian cerita indah. Seorang teman pernah bilang bahwa: all you need is to believe that everthing happens for good reason. Tapi, darimana sudut keindahan itu terlihat ketika kaki ini terenggut patah. Bagaimana dunia akan mewartakan keindahannya ketika hari-hari belakangan ini hanya dihabiskan menemani kamar dan kasur ini.
Saat seperti ini, mendengar derap langkah nenek, mengamati kerut tua makin mengakrabinya, dan mendengar setiap derail cerita yang tertata rapi dari ingatan tuanya, adalah rembesan hujan yang masih mengalir di tengah keringnya hati. Dan sesekali, melihat adik kecilku tumbuh, melihatnya menata seragam sekolah di pagi hari, adalah sebentuk hadiah dari terengguhnya pijakan kaki kiri.
… untuk melihat itu semua, ternyata, semesta harus mematahkan kaki kiriku telebih dulu. Untuk membuatku memperlambat gerak. Untuk membuatku lebih lama mengeja arti dan makna hidup ini.
Sore yang teramat demikian biasa. Sejauh mata memandang, masih nampak 2 alumunium yang dibentuk menjadi tongkat; kawan setiaku hampir 2 bulan ini, dan akan demikian selama 4 bulan ke depan. Kipas yang terus berputar tiap kali jarum aku lontarkan menjauhi angka nol. Meja cokelat separo kumal yang tergolek di tengah ruangan. Terkadang ia seperti pemuda yang kelelahan menanggungkan berbagai beban di atasnya. Ada televise kuno keluaran 80-an, dispenser yang isinya sudah hampir seminggu kosong, dan kotak cokelat bekas tempat roti yang entah sedari kapan telah aku habiskan. Sperai putih yang memeluk meja itu, sebagai pembatas punggung meja dengan benda-benda di atasnya, juga sudah lama ditinggalkan oleh keputihannya. Rice cooker yang tergolek di bawah meja pun masih setia dengan kerlip lampu indicator berwarna kuningnya. Tempat yang bisa menanak nasi itu aku beli pada bulan Ramadhan yang lalu. Sahur yang berlangsung di penghujung malam, dan dingin yang terkadang tidak bisa membuat manusia bangun seperti yang diinginkan, membuat nenek merasa benda ajaib ini akan banyak membantu.
‘Seandainya terlambat bangun, paling tidak kita hanya cukup membuat lauk saja. Kan nasih sudah ada di mejik jer itu,’ demikian argumentasi hebat nenek. Perempuan tua itu memang luar biasa. Ia lebih dari seorang nenek. Dedikasi dan kesabarannya terentang luas melebihi samudra dunia. Semoga Allah memberi aku kesempatan untuk membahagiakan beliau.
Meja belajar berpelitur itu juga setia di samping tempat tidurku. Meja itu adalah kenangan dari almarhum ayah. Waktu itu aku masih berseragam putih abu. Ketika melihat televise, aku melihat bahwa gaya belajar lesehan di lantai sepertinya demikian nyaman. Dan setelah berbincang dengan lek Maman, tukang kayu handal di kampungku, ayah menghadiahi aku meja belajar itu. Sebagai balasannya, aku selalu berperingkat 1 di kelasku. Apabila seorang anak gadis, tentunya meja belajar itu telah tumbuh dewasa. Dan sekarang, meja belajar itu aku gunakan untuk menaruh laptop kesayanganku. Cangkir besar tempat kopi dan kaleng cemilan juga selalu menenami meja itu. Sungguh sebuah perkawanan yang indah.
Dan tak jauh dari tubuhku sekarang, di ujung tempat tidur, terdiam dengan anggun tas hitam kesayanganku, Eiger. Aku selalu senang memandangi tas itu. Bahkan ketika aku tidak ada urusan dengannya, aku pun menyempatkan diri untuk menatapnya. Bentuknya yang indah, dengan sandaran empuk di belakangnya, membuatku selalu rindu untuk menyandangnya. Sebelum kecelakaan itu, ia selalu menemaniku kemana aku pergi. Ketika tergoncang di kereta sewaktu ke Bandung; ketika meliuk di atas sepeda motor dalam perjalanan ke Klaten, atau sewaktu melepas penat dengan mengunjungi Gedong Songo. Dan sekarang, ketika aku tidak bisa kemana-mana, tas Eiger hitam itu pun masih selalu bersamaku.
Waktu memang demikian cepat melesat. Kepakannya yang terentang konstan, berjalan berputar seperti roda pedati yang tiada pernah berhenti. Dan lagi, ketika mataku terantuk pada tongkat alumunium itu, kembali aku menghela nafas. Ada bintik rasa tidak berterima menyusup licik ke dalam hatiku. Mengapa diantara sekian banyak orang, diantara sekian banyak kecelakaan, harus aku yang dipilih untuk menanggungkan ini. Mengapa kakiku yang harus bersinggungan dengan truk itu. Mengapa juga kantuk musti datang menyerang di pagi buta itu. Dan mengapa juga aku musti kurang tidur di malam-malam sebelumnya hingga akhirnya melahirkan peristiwa di pagi itu.
Hidup memang aneh. Atau gila, barangkali. Loncatan-loncatan nasib yang dibungkus takdir kerap mengepung tanpa sebuah pola yang konstan. Mereka hadir seperti anomaly yang, pada suatu saat, ketika kita masih punya semangat untuk percaya, akan membentuk sebuah rangkaian cerita indah. Seorang teman pernah bilang bahwa: all you need is to believe that everthing happens for good reason. Tapi, darimana sudut keindahan itu terlihat ketika kaki ini terenggut patah. Bagaimana dunia akan mewartakan keindahannya ketika hari-hari belakangan ini hanya dihabiskan menemani kamar dan kasur ini.
Saat seperti ini, mendengar derap langkah nenek, mengamati kerut tua makin mengakrabinya, dan mendengar setiap derail cerita yang tertata rapi dari ingatan tuanya, adalah rembesan hujan yang masih mengalir di tengah keringnya hati. Dan sesekali, melihat adik kecilku tumbuh, melihatnya menata seragam sekolah di pagi hari, adalah sebentuk hadiah dari terengguhnya pijakan kaki kiri.
… untuk melihat itu semua, ternyata, semesta harus mematahkan kaki kiriku telebih dulu. Untuk membuatku memperlambat gerak. Untuk membuatku lebih lama mengeja arti dan makna hidup ini.
Friday, November 14, 2008
Buku Sekolah Elektronik: Disayang atau Ditendang?
Sekitar Desember 2007, angin segar berhembus dari gedung Depdiknas Pusat. Persoalan mahalnya buku pendidikan, satu diantara sekian masalah yang melingkar dunia pendidikan Indonesia, ‘seolah’ telah berhasil diputuskan. Pihak Diknas akan membeli hak cipta buku dari penerbit dan penulis, lalu memajang buku tersebut di internet. Untuk memudahkan pengkodean, proyek ambisius inipun diberi nama Buku Sekolah Elektronik (BSE). Dalam logika sederhana, demikian yang dianut para petinggi Diknas, buku-buku yang open source tersebut bisa diunduh oleh siapa saja. Hasil ajaibnya, semua orang pada akhirnya akan dapat memiliki buku sekolah tanpa harus membayar. Tuntutan buku gratis yang terus didengungkan masyarakat, masih dalam bayangan petinggi Diknas, akan terselesaikan. Tapi ternyata, dan demikianlah selalu, realitas tidaklah semulus dan secantik bayangan.
Langkah awal dari proyek ini dimulai pada Mei 2006. Pusat Perbukuan bergandengan tangan dengan BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) getol menyatroni kota-kota di Indonesia untuk memberikan sosialisasi penilaian buku ajar. Diknas tidak menghendaki buku-buku yang dipajang di etalase situsnya adalah buku yang tergolong rubbish, oleh sebab itu sekumpulan instrument dan standar minimal kelayakan buku pun disusun. Hasilnya, melalui kerja marathon yang, mungkin, melelahkan dan menyenangkan, pada tahun anggaran 2008, Diknas telah membeli hak cipta buku pelajaran sejumlah 250 buku. Dan rencananya, pada tahun anggaran 2009, diknas akan membeli lagi hak cipta sebanyak 300 buku.
Setelah buku-buku open source berhasil dikumpulkan, langkah berikutnya adalah mempersiapkan rak untuk memajang buku tersebut. Dan setelah tertunda dan tertunda, akhirnya pada tanggal 20 Agustus 2008, situs Buku Elektronik Sekolah (BSE) secara resmi diluncurkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Buku gratis telah ada. Rak pajangan telah dibuat dan ditata dengan manis. Selesai sudahkah persoalan seputar kemahalan buku pelajaran? Tidak. Justru, di sinilah masalah sebenarnya mulai bermunculan. Masalah yang sepertinya di luar perkiraan para think thank kebijakan BSE. Pertama, sosialisasi BSE yang sangat terkesan jauh api dari panggang. Meski sudah secara resmi diluncurkan, banyak pelaku pendidikan di negeri ini rupanya belum ngeh dengan keberadaan BSE. Kita tidak usah jauh-jauh menanyakan ke pedalaman Sumatera atau daerah pinggiran utara Pulau Jawa, banyak kepala sekolah bonafide di kota besar yang ironisnya tidak mengetahui adanya BSE. Logika sederhana, jika sekolah elite di kota besar saja tidak tahu, apalagi sekolah nun jauh di pelosok pedalaman sana. Dan apabila para pengguna saja tidak tahu, bagaimana program ini dapat terlaksana dengan sukses?
Dalam hal ini, akan sangat bijaksana apabila Diknas menggerakkan unit-unit dinas yang ada di daerah untuk mengintensifkan sosialisasi. Keberadaan Widyaiswara dan instansi terkait lain semestinya juga dioptimalkan untuk mengkomunikasikan apa dan bagaimana BSE.
Kedua, dan ini yang ironis, proses pengunduhan buku-buku di situs BSE ternyata sama sekali tidak mudah. Dengan koneksi Internet berkecepatan 250 MB pun, untuk download 1 judul buku diperlukan waktu lebih dari 3 jam. Lalu bagaimana jika didownload dengan sambungan dial up? Di situs BSE sendiri sebenarnya sudah tersedia layanan baca online. Tampilannya juga cukup manis karena menggunakan animasi flash pageflip. Tapi ya itu tadi, proses membacanya juga memakan waktu yang relative lama. Lalu buat apa anggaran sebesar milyaran rupiah digelontorkan untuk mendesain dan mempercantik situs pajangan jika untuk memetiknya saja diperlukan upaya yang sangat ekstra?
Beruntunglah banyak hati mulia di kalangan netter, hingga akhirnya banyak bermunculan server minor yang menawarkan bantuan mendowload file BSE dengan ukuran yang telah diperkecil tapi dengan kualitas yang relative sama.
Ketiga, terminology GRATIS. Masyarakat yang telah mendengar proyek BSE, sangat berharap banyak pada buku yang disebut gratis ini. Bayangan mengeluarkan uang sekian ratus ribu setahun untuk membeli buku ajar sontak sirna dengan janji buku gratis. Tapi lagi-lagi, buku gratis rupanya masih tertahan di angkasa. Untuk menghadirkan buku yang disebut gratis itu ada di hadapan, ternyata diperlukan pertolongan rupiah. Masyarakat musti membayar untuk bisa konek internet, masyarakat juga musti membeli computer atau laptop untuk dapat membaca buku yang, semoga, berhasil diunduh tersebut. Dan karena computer dan laptop masih tergolong langka, file tersebut paling mungkin adalah digandakan dengan dicetak atau difoto kopi. Beberapa guru di sekolah bahkan harus berkeliling ke berbagai penerbit untuk mencari harga cetak yang tidak melebihi harga jual maksimal yang ditetapkan Menteri. Untuk memfoto kopi juga sangat mahal. Bahkan jauh di atas harga maksimal yang ditentukan oleh Diknas. Pertanyaan sederhana adalah, lalu dimana gratisnya?
Keempat, para petinggi Diknas sepertinya lupa bahwa tidak semua daerah dan sekolah di Indonesia sudah tersedia jaringan internet. Logikanya adalah, buat apa disediain makanan berharga mahal, apabila kita tidak berdaya untuk memasukkan ke mulut kita? Yang terjadi justru ironi dan sakit hati. Indonesia adalah Negara yang besar. Kebesarannya juga ditunjukkan dengan cakupan wilayah yang terbentang maha dari Sabang sampai Merauke. Tingkat pembangunan yang tidak merata mengakibatkan infrastruktur yang tersebar di seantero penjuru negeri juga tidak sama. Bagi banyak daerah pedalaman, internet merupakan barang asing yang mendengarnya saja mungkin belum pernah.
Diknas pun kemudian menjadi bulan-bulanan para netter. Ketidakpekaan dan ketidakpedulian pada tidak meratanya infrastruktur pendidikan ini juga membuka aib bobroknya birokrasi selama ini. Dan menyadari pihaknya dalam posisi diserang, Menteri Pendidikan pun memilik bersikap offensive. Entah mendapat bisikan dari mana, dalam pernyataan terbarunya (Kompas, ….) Mendiknas menyebut bahwa kebijakan BSE bukan ditujukan kepada masyarakat, tetapi kepada perusahaan. Logika yang dipakai, dengan harga jual yang telah ditentukan, BSE memang boleh digandakan dan dijual oleh siapa saja asal harga tidak melebihi batas yang telah ditetapkan, maka harga buku yang beredar tidak akan terlalu mahal. Tapi benarkah demikian?
Akan sangat bijaksana apabila pengadaan BSE ini dilakukan subsidi silang. Sekolah dengan kondisi keuangan baik, infrastruktur lengkap, dapat mengadakan BSE dengan cara mereka sendiri. Sementara untuk daerah yang kondisi sekolahnya masih mengenaskan, masalah BSE ini dapat ditangani oleh Dinas Pendidikan Kabupaten setempat. Dengan dana BOS yang masih dikucurkan, Dinas Kabupaten dapat bekerja sama dengan percetakan daerah atau percetakan swasta untuk mencetak buku dalam kisaran harga yang telah ditetapkan. Biaya yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten tentunya akan sangat jauh di bawah biaya yang dulu dikeluarkan untuk mengadakan buku secara langsung dari penerbit.
Kelima, nasib dunia kepenulisan buku pelajaran Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum, selama ini banyak guru sekolah yang juga berprofesi sebagai penulis buku ajar. Di samping dapat meningkatkan ilmu, memperoleh kredit poin untuk kenaikan pangkat, guru yang juga penulis tersebut juga mendapatkan royalty. Dan sekarang, dengan hak cipta bukunya dibeli untuk waktu 15 tahun, apakah para penulis tersebut juga harus berhenti berkarya? Laju ilmu pengetahuan dan dunia yang berderap cepat, apakah mungkin dapat dijelaskan oleh buku yang selama 15 tahun tidak pernah mengalami proses revisi? Kira-kira bagaimana cermin generasi penerus bangsa nanti apabila literature yang menemani mereka belajar hanya berisi kumpulan-kumpulan data dan fakta yang sudah tidak otentik lagi?
Dengan brainstorming buku gratis yang selalu didengungkan, tentu saja masyarakat akan malas untuk mencari buku pendamping pelajaran. Akibatnya, Karena tidak ada bacaan pembanding, maka fakta-fakta kuno itupun akan terus berloncatan di kelas-kelas sekolah putra-putri Indonesia.
Untuk mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan kondisi dunia yang terus berubah, akan sangat bijaksana apabila pemerintah juga mulai memikirkan keberadaan buku pendamping buku-buku BSE. Sejujurnya, upaya ke arah ini sudah dimulai dengan pengadaan buku untuk perpustakaan yang dibiayai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK). Tapi, melihat buku-buku yang beredar untuk DAK, penulis jadi miris apakah kualitas perpustakaan sekolah dapat meningkat. Banyak buku untuk DAK yang disusun dengan semangat Bandung Bodowongso hingga akibatnya kualitas dari buku tersebut sangat dipertanyakan.
Keenam, ketidaksesuaian buku yang dipakai guru dengan buku yang dipunyai siswa. Dengan semangat pluralisme, buku-buku yang ada di etalase BSE terdiri dari berbagai macam. Untuk satu bidang studi dalam 1 tingkat pendidikan bisa terdapat lebih dari 4 judul buku. PKn SD tingkat 1 misalnya. Ada sekitar 5 judul buku dengan pengarang yang berbeda. Masalah yang timbul adalah, seringkali pihak sekolah menggunakan buku karangan penulis A, sementara orang tua murid telah dengan sukses mendownload buku karangan penulis B. buku yang telah diprint dan dijilid manis itu pun akhirnya tidak terpakai karena sang murid dipaksa menggunakan buku yang sama dengan buku yang dipakai guru. Kita tidak bisa menyalahkan guru karena memang kebijakan ini dilematis. Dibebaskan mengunduh dan mencetak sendiri, masih sangat tidak mungkin. Dipakai cara kolektif agar ongkos cetak bisa diakali, ada satu dua orang tua murid yang telah memberi buku BSE berbeda pada anaknya.
Akan sangat baik apabila pihak sekolah atau guru tidak memaksakan siswa untuk menggunakan jenis buku tertentu. Apabila sekolah tersebut sudah menyedikan buku gratis BSE melalui dana BOS, misalnya, biarkan saja siswa memiliki buku BSE jenis yang lain. Keragaman literature yang dipakai justru akan memperkaya dan memperindah proses pembelajaran. Toh semua buku BSE sudah distandardisasi dan sesuai dengan indicator kelulusan yang nanti dipakai dalam ujian nasional.
Ketujuh, ini yang emosional, nasib industri penerbit buku pelajaran Indonesia. Dengan buku yang telah dibeli hak ciptanya selama 15 tahun, logikanya, perusahaan tidak akan melakukan proses produksi buku selama kurun waktu tersebut. Karena tidak ada proses produksi, lalu darimana perusahaan memperoleh pemasukan untuk menghidupi karyawannya. Seorang pemilik perusahaan penerbitan bahkan sampai stress memikirkan hal ini. Meski setelah berminggu-minggu semedi, akhirnya ia harus tetap merumahkan para karyawannya. Data IKAPI menunjukkan hingga tahun 2007 terdapat 400 penerbit buku pelajaran di Indonesia. Kalau setiap penerbit terpaksa merumahkan 50 karyawannya, berarti ada sekitar 20.000 pengangguran baru. Berapa anak yang terancam kelaparan, anak yang putus sekolah, rumah tangga berantakan, dan rencana pernikahan yang terbatalkan karenanya?
Menghadirkan buku gratis untuk memenuhi hajat pendidikan orang banyak merupakan sebuah cita-cita yang mulia. Tapi kemuliaan pada tataran niat ini akan hanya menjadi dinding yang penuh dengan lumuran dosa apabila dalam mencapainya lebih banyak mudhorot daripada manfaatnya.
Penilaian buku ajar 2009 sudah diambang mata. Usia pemerintahan SBY-JK pun tinggal menyisakan 1 tahun lagi. Dengan 1 tahun pengalaman BSE, dan dengan itikad baik untuk mewujudkan pendidikan gratis bagi semua, tentunya masih banyak perbaikan yang bisa dilakukan pada tahun anggaran 2009. kebijakan BSE musti tetap diteruskan. Dan dengan segala potensi dan kemampuan kita, mari bersama-sama menyumbang pikiran untuk menutup lubang-lubang persoalan yang terurai tadi. Mari berikan yang terbaik untuk para penerus negeri.
Sugiarno
Praktisi dan pengamat perbukuan, tinggal di Semarang
Langkah awal dari proyek ini dimulai pada Mei 2006. Pusat Perbukuan bergandengan tangan dengan BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) getol menyatroni kota-kota di Indonesia untuk memberikan sosialisasi penilaian buku ajar. Diknas tidak menghendaki buku-buku yang dipajang di etalase situsnya adalah buku yang tergolong rubbish, oleh sebab itu sekumpulan instrument dan standar minimal kelayakan buku pun disusun. Hasilnya, melalui kerja marathon yang, mungkin, melelahkan dan menyenangkan, pada tahun anggaran 2008, Diknas telah membeli hak cipta buku pelajaran sejumlah 250 buku. Dan rencananya, pada tahun anggaran 2009, diknas akan membeli lagi hak cipta sebanyak 300 buku.
Setelah buku-buku open source berhasil dikumpulkan, langkah berikutnya adalah mempersiapkan rak untuk memajang buku tersebut. Dan setelah tertunda dan tertunda, akhirnya pada tanggal 20 Agustus 2008, situs Buku Elektronik Sekolah (BSE) secara resmi diluncurkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Buku gratis telah ada. Rak pajangan telah dibuat dan ditata dengan manis. Selesai sudahkah persoalan seputar kemahalan buku pelajaran? Tidak. Justru, di sinilah masalah sebenarnya mulai bermunculan. Masalah yang sepertinya di luar perkiraan para think thank kebijakan BSE. Pertama, sosialisasi BSE yang sangat terkesan jauh api dari panggang. Meski sudah secara resmi diluncurkan, banyak pelaku pendidikan di negeri ini rupanya belum ngeh dengan keberadaan BSE. Kita tidak usah jauh-jauh menanyakan ke pedalaman Sumatera atau daerah pinggiran utara Pulau Jawa, banyak kepala sekolah bonafide di kota besar yang ironisnya tidak mengetahui adanya BSE. Logika sederhana, jika sekolah elite di kota besar saja tidak tahu, apalagi sekolah nun jauh di pelosok pedalaman sana. Dan apabila para pengguna saja tidak tahu, bagaimana program ini dapat terlaksana dengan sukses?
Dalam hal ini, akan sangat bijaksana apabila Diknas menggerakkan unit-unit dinas yang ada di daerah untuk mengintensifkan sosialisasi. Keberadaan Widyaiswara dan instansi terkait lain semestinya juga dioptimalkan untuk mengkomunikasikan apa dan bagaimana BSE.
Kedua, dan ini yang ironis, proses pengunduhan buku-buku di situs BSE ternyata sama sekali tidak mudah. Dengan koneksi Internet berkecepatan 250 MB pun, untuk download 1 judul buku diperlukan waktu lebih dari 3 jam. Lalu bagaimana jika didownload dengan sambungan dial up? Di situs BSE sendiri sebenarnya sudah tersedia layanan baca online. Tampilannya juga cukup manis karena menggunakan animasi flash pageflip. Tapi ya itu tadi, proses membacanya juga memakan waktu yang relative lama. Lalu buat apa anggaran sebesar milyaran rupiah digelontorkan untuk mendesain dan mempercantik situs pajangan jika untuk memetiknya saja diperlukan upaya yang sangat ekstra?
Beruntunglah banyak hati mulia di kalangan netter, hingga akhirnya banyak bermunculan server minor yang menawarkan bantuan mendowload file BSE dengan ukuran yang telah diperkecil tapi dengan kualitas yang relative sama.
Ketiga, terminology GRATIS. Masyarakat yang telah mendengar proyek BSE, sangat berharap banyak pada buku yang disebut gratis ini. Bayangan mengeluarkan uang sekian ratus ribu setahun untuk membeli buku ajar sontak sirna dengan janji buku gratis. Tapi lagi-lagi, buku gratis rupanya masih tertahan di angkasa. Untuk menghadirkan buku yang disebut gratis itu ada di hadapan, ternyata diperlukan pertolongan rupiah. Masyarakat musti membayar untuk bisa konek internet, masyarakat juga musti membeli computer atau laptop untuk dapat membaca buku yang, semoga, berhasil diunduh tersebut. Dan karena computer dan laptop masih tergolong langka, file tersebut paling mungkin adalah digandakan dengan dicetak atau difoto kopi. Beberapa guru di sekolah bahkan harus berkeliling ke berbagai penerbit untuk mencari harga cetak yang tidak melebihi harga jual maksimal yang ditetapkan Menteri. Untuk memfoto kopi juga sangat mahal. Bahkan jauh di atas harga maksimal yang ditentukan oleh Diknas. Pertanyaan sederhana adalah, lalu dimana gratisnya?
Keempat, para petinggi Diknas sepertinya lupa bahwa tidak semua daerah dan sekolah di Indonesia sudah tersedia jaringan internet. Logikanya adalah, buat apa disediain makanan berharga mahal, apabila kita tidak berdaya untuk memasukkan ke mulut kita? Yang terjadi justru ironi dan sakit hati. Indonesia adalah Negara yang besar. Kebesarannya juga ditunjukkan dengan cakupan wilayah yang terbentang maha dari Sabang sampai Merauke. Tingkat pembangunan yang tidak merata mengakibatkan infrastruktur yang tersebar di seantero penjuru negeri juga tidak sama. Bagi banyak daerah pedalaman, internet merupakan barang asing yang mendengarnya saja mungkin belum pernah.
Diknas pun kemudian menjadi bulan-bulanan para netter. Ketidakpekaan dan ketidakpedulian pada tidak meratanya infrastruktur pendidikan ini juga membuka aib bobroknya birokrasi selama ini. Dan menyadari pihaknya dalam posisi diserang, Menteri Pendidikan pun memilik bersikap offensive. Entah mendapat bisikan dari mana, dalam pernyataan terbarunya (Kompas, ….) Mendiknas menyebut bahwa kebijakan BSE bukan ditujukan kepada masyarakat, tetapi kepada perusahaan. Logika yang dipakai, dengan harga jual yang telah ditentukan, BSE memang boleh digandakan dan dijual oleh siapa saja asal harga tidak melebihi batas yang telah ditetapkan, maka harga buku yang beredar tidak akan terlalu mahal. Tapi benarkah demikian?
Akan sangat bijaksana apabila pengadaan BSE ini dilakukan subsidi silang. Sekolah dengan kondisi keuangan baik, infrastruktur lengkap, dapat mengadakan BSE dengan cara mereka sendiri. Sementara untuk daerah yang kondisi sekolahnya masih mengenaskan, masalah BSE ini dapat ditangani oleh Dinas Pendidikan Kabupaten setempat. Dengan dana BOS yang masih dikucurkan, Dinas Kabupaten dapat bekerja sama dengan percetakan daerah atau percetakan swasta untuk mencetak buku dalam kisaran harga yang telah ditetapkan. Biaya yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten tentunya akan sangat jauh di bawah biaya yang dulu dikeluarkan untuk mengadakan buku secara langsung dari penerbit.
Kelima, nasib dunia kepenulisan buku pelajaran Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum, selama ini banyak guru sekolah yang juga berprofesi sebagai penulis buku ajar. Di samping dapat meningkatkan ilmu, memperoleh kredit poin untuk kenaikan pangkat, guru yang juga penulis tersebut juga mendapatkan royalty. Dan sekarang, dengan hak cipta bukunya dibeli untuk waktu 15 tahun, apakah para penulis tersebut juga harus berhenti berkarya? Laju ilmu pengetahuan dan dunia yang berderap cepat, apakah mungkin dapat dijelaskan oleh buku yang selama 15 tahun tidak pernah mengalami proses revisi? Kira-kira bagaimana cermin generasi penerus bangsa nanti apabila literature yang menemani mereka belajar hanya berisi kumpulan-kumpulan data dan fakta yang sudah tidak otentik lagi?
Dengan brainstorming buku gratis yang selalu didengungkan, tentu saja masyarakat akan malas untuk mencari buku pendamping pelajaran. Akibatnya, Karena tidak ada bacaan pembanding, maka fakta-fakta kuno itupun akan terus berloncatan di kelas-kelas sekolah putra-putri Indonesia.
Untuk mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan kondisi dunia yang terus berubah, akan sangat bijaksana apabila pemerintah juga mulai memikirkan keberadaan buku pendamping buku-buku BSE. Sejujurnya, upaya ke arah ini sudah dimulai dengan pengadaan buku untuk perpustakaan yang dibiayai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK). Tapi, melihat buku-buku yang beredar untuk DAK, penulis jadi miris apakah kualitas perpustakaan sekolah dapat meningkat. Banyak buku untuk DAK yang disusun dengan semangat Bandung Bodowongso hingga akibatnya kualitas dari buku tersebut sangat dipertanyakan.
Keenam, ketidaksesuaian buku yang dipakai guru dengan buku yang dipunyai siswa. Dengan semangat pluralisme, buku-buku yang ada di etalase BSE terdiri dari berbagai macam. Untuk satu bidang studi dalam 1 tingkat pendidikan bisa terdapat lebih dari 4 judul buku. PKn SD tingkat 1 misalnya. Ada sekitar 5 judul buku dengan pengarang yang berbeda. Masalah yang timbul adalah, seringkali pihak sekolah menggunakan buku karangan penulis A, sementara orang tua murid telah dengan sukses mendownload buku karangan penulis B. buku yang telah diprint dan dijilid manis itu pun akhirnya tidak terpakai karena sang murid dipaksa menggunakan buku yang sama dengan buku yang dipakai guru. Kita tidak bisa menyalahkan guru karena memang kebijakan ini dilematis. Dibebaskan mengunduh dan mencetak sendiri, masih sangat tidak mungkin. Dipakai cara kolektif agar ongkos cetak bisa diakali, ada satu dua orang tua murid yang telah memberi buku BSE berbeda pada anaknya.
Akan sangat baik apabila pihak sekolah atau guru tidak memaksakan siswa untuk menggunakan jenis buku tertentu. Apabila sekolah tersebut sudah menyedikan buku gratis BSE melalui dana BOS, misalnya, biarkan saja siswa memiliki buku BSE jenis yang lain. Keragaman literature yang dipakai justru akan memperkaya dan memperindah proses pembelajaran. Toh semua buku BSE sudah distandardisasi dan sesuai dengan indicator kelulusan yang nanti dipakai dalam ujian nasional.
Ketujuh, ini yang emosional, nasib industri penerbit buku pelajaran Indonesia. Dengan buku yang telah dibeli hak ciptanya selama 15 tahun, logikanya, perusahaan tidak akan melakukan proses produksi buku selama kurun waktu tersebut. Karena tidak ada proses produksi, lalu darimana perusahaan memperoleh pemasukan untuk menghidupi karyawannya. Seorang pemilik perusahaan penerbitan bahkan sampai stress memikirkan hal ini. Meski setelah berminggu-minggu semedi, akhirnya ia harus tetap merumahkan para karyawannya. Data IKAPI menunjukkan hingga tahun 2007 terdapat 400 penerbit buku pelajaran di Indonesia. Kalau setiap penerbit terpaksa merumahkan 50 karyawannya, berarti ada sekitar 20.000 pengangguran baru. Berapa anak yang terancam kelaparan, anak yang putus sekolah, rumah tangga berantakan, dan rencana pernikahan yang terbatalkan karenanya?
Menghadirkan buku gratis untuk memenuhi hajat pendidikan orang banyak merupakan sebuah cita-cita yang mulia. Tapi kemuliaan pada tataran niat ini akan hanya menjadi dinding yang penuh dengan lumuran dosa apabila dalam mencapainya lebih banyak mudhorot daripada manfaatnya.
Penilaian buku ajar 2009 sudah diambang mata. Usia pemerintahan SBY-JK pun tinggal menyisakan 1 tahun lagi. Dengan 1 tahun pengalaman BSE, dan dengan itikad baik untuk mewujudkan pendidikan gratis bagi semua, tentunya masih banyak perbaikan yang bisa dilakukan pada tahun anggaran 2009. kebijakan BSE musti tetap diteruskan. Dan dengan segala potensi dan kemampuan kita, mari bersama-sama menyumbang pikiran untuk menutup lubang-lubang persoalan yang terurai tadi. Mari berikan yang terbaik untuk para penerus negeri.
Sugiarno
Praktisi dan pengamat perbukuan, tinggal di Semarang
Wednesday, November 12, 2008
Absurditas Nama
Amboy… Anda harus lihat apa yang saya saksikan pagi ini. Seorang artis cantik. Dengan rambut berombak. Kaki disilangkan. Dan tentu saja, pakaian yang dibiarkan terbuka di bagian paha dan lengan. Dengan sesekali tangannya meraih rambut yang berjuntaian di dahi, ia menjawab manja mengapa ia musti berganti nama. Di sela-sela ucapannya, tentu saja tawa renyah tersaji keluar.
Sebelum hari ini, namanya adalah Angel Elga. Dan semenjak hari ini, atau dalam penurutannya kemudian, semenjak ia keluarkan album, namanya secara ajaib diubah menjadi Angeliq. Asoi.. dua nama yang sama-sama indah.
Yang menakjubkan pagi itu, bukan wajah dia, lengah dia, atau paha dia, tetapi alasan kenapa dia mengubah namanya. Apakah kamu tahu, teman? Dengan bibir basah gincu, ia manis menata baris bahwa dengan ganti nama ini ia berharap bisa lepas dari identitas dirinya selama ini. Dengan kaki kiri turun dan kaki kanan ganti disilangkan, ia menambahkan, bahwa harapannya adalah semoga segala kesan buruk yang ada padanya selama ini bisa hilang seiring dengan pergantian nama ini.
Benar-benar cerdas. Pada saat itu, di layar bawah, di bagian di mana sub title biasanya muncul, aku seperti membaca sebuah terjemahan bebas: aku berikan segala dosaku pada namaku dulu. Dan dengan nama baru ini, aku terlahir sebagai pribadi baru yang masih suci. Orang akan mengenal aku sebagai sosok ranum baru. Amboy…
Anda bisa lihat, wanita itu tidak hanya cantik. Tapi dia juga revolusioner. Out of box. Dan dalam kadar yang luar biasa: benar-benar gila. Tidak waras. Ia telah menemukan sebuah cara yang luar biasa untuk lepas dari labirin dosa. Tanpa harus mempelajari formula cat dan tehnik pengecatan, ia berhasil menemukan cara untuk memoles dirinya secara instant dan mudah agar bisa hadir dengan bungkus baru.
Entah tingkat kegilaan nomer berapa yang sedang ia pamerkan. Aku benar-benar prihatin. Bisa-bisanya dosa, aib, salah, dan segala tuduhan buruk lainnya dilarung hilang hanya dengan menghapus nama.
Aku jadi kasihan pada nama. Bibir yang merengguk nikmat karena dosa. Mata yang meleleh bahagia karena doa. Tangan yang bergerak lincah dalam gelap dosa. Paha yang berkilau menggoda dalam temaram dosa. Ketika timbul masalah, semua meringkuk memohon kepada absurditas nama. Dan sang nama, yang ketika organ tubuh lain berpesta dalam nikmat dan bahagia hanya tergolek tak berdaya dalam pengap dompet di balik saku celana, harus menanggungkan akibat semua dosa.
Dengan kaki masih disilangkan, bibir yang tiada jua mengering, sang artis masih saja menyibakkan rambutnya. Entah kapan ia akan kembali muncul di program serupa, dan tentu saja, dengan nama yang kembali berbeda.
… ternyata, dosa bisa diselesaikan hanya dengan ganti nama.
Sebelum hari ini, namanya adalah Angel Elga. Dan semenjak hari ini, atau dalam penurutannya kemudian, semenjak ia keluarkan album, namanya secara ajaib diubah menjadi Angeliq. Asoi.. dua nama yang sama-sama indah.
Yang menakjubkan pagi itu, bukan wajah dia, lengah dia, atau paha dia, tetapi alasan kenapa dia mengubah namanya. Apakah kamu tahu, teman? Dengan bibir basah gincu, ia manis menata baris bahwa dengan ganti nama ini ia berharap bisa lepas dari identitas dirinya selama ini. Dengan kaki kiri turun dan kaki kanan ganti disilangkan, ia menambahkan, bahwa harapannya adalah semoga segala kesan buruk yang ada padanya selama ini bisa hilang seiring dengan pergantian nama ini.
Benar-benar cerdas. Pada saat itu, di layar bawah, di bagian di mana sub title biasanya muncul, aku seperti membaca sebuah terjemahan bebas: aku berikan segala dosaku pada namaku dulu. Dan dengan nama baru ini, aku terlahir sebagai pribadi baru yang masih suci. Orang akan mengenal aku sebagai sosok ranum baru. Amboy…
Anda bisa lihat, wanita itu tidak hanya cantik. Tapi dia juga revolusioner. Out of box. Dan dalam kadar yang luar biasa: benar-benar gila. Tidak waras. Ia telah menemukan sebuah cara yang luar biasa untuk lepas dari labirin dosa. Tanpa harus mempelajari formula cat dan tehnik pengecatan, ia berhasil menemukan cara untuk memoles dirinya secara instant dan mudah agar bisa hadir dengan bungkus baru.
Entah tingkat kegilaan nomer berapa yang sedang ia pamerkan. Aku benar-benar prihatin. Bisa-bisanya dosa, aib, salah, dan segala tuduhan buruk lainnya dilarung hilang hanya dengan menghapus nama.
Aku jadi kasihan pada nama. Bibir yang merengguk nikmat karena dosa. Mata yang meleleh bahagia karena doa. Tangan yang bergerak lincah dalam gelap dosa. Paha yang berkilau menggoda dalam temaram dosa. Ketika timbul masalah, semua meringkuk memohon kepada absurditas nama. Dan sang nama, yang ketika organ tubuh lain berpesta dalam nikmat dan bahagia hanya tergolek tak berdaya dalam pengap dompet di balik saku celana, harus menanggungkan akibat semua dosa.
Dengan kaki masih disilangkan, bibir yang tiada jua mengering, sang artis masih saja menyibakkan rambutnya. Entah kapan ia akan kembali muncul di program serupa, dan tentu saja, dengan nama yang kembali berbeda.
… ternyata, dosa bisa diselesaikan hanya dengan ganti nama.
Friday, October 31, 2008
Yes, We all are Rich
Jawab saja dengan jujur: berapa uang yang ada di dompet Anda sekarang? Tak usah dihitung. Karena saya yakin, Anda pasti sudah hafal berapa lembar rupiah berjejalan di dompet Anda tersebut.
Dan apabila memang karena alasan gaya hidup, gengsi, atau akibat gelindingan modernisasi, Anda mengepak uang Anda dalam barak-barak lemari besi Bank: berapa rupiah angka yang tercetak dalam saldo terakhir buku tabungan Anda sekarang?
1 juta…
3 juta…
50 juta…
Sekian juta…
Atau, mungkin, karena alasan tertentu, kemarin, atau beberapa hari yang lalu, atau beberapa bulan yang lalu, Anda harus berjalan tertunduk ke bank, terhuyung-huyung menuju meja formulir, dan dengan harga diri terhempas, menyodorkan formulir penarikan kepada mbak teller ayu yang terus tersenyum kepada Anda?
Hingga sekarang, dengan gerombongan batu yang mengganjal di hati, Anda akan tersenyum getir ketika musti menjawab pertanyaan tadi? Karena Anda mengetahui bahwa jawaban dari pertanyaan jumlah uang di saldo rekening Anda tadi adalah:
100 ribu..
Atau mungkin sekian rupiah lebih tinggi lagi…
Pertanyaan sekarang: kaya atau miskinkah Anda?
Begitu banyak dari kita menyerahkan otoritas klaim daftar kekayaan hanya kepada benda tipis bersegi, dengan cetakan warna-warni sesuai selera bank tempat menyimpan, yang bertuliskan: buku tabungan. Dan masih, begitu banyak juga dari kita, menyerahkan persoalan tentram tidaknya batin kita, terang redupnya nyala jiwa kita, bahagia tidaknya hari-hari kita, berdasarkan hitung-hitungan besar digit dalam tumpukan lembaran kertas-kertas tersebut.
Apakah jumlah saldo buku tabungan menunjukkan jumlah kekayaan kita? Dan apakah jumlah nominal kekayaan kita berhak mendefinisikan arti bahagia kita? Apakah jumlah lembar uang di dompet dan di brankas bank berhak menjelma menjadi malaikat penjaga surga bahagia kita?
Kawan, sadarilah, bahwa sejatinya, tidak ada manusia yang berada dalam kondisi mengenaskan, lalu menggelepar-gelar menuntut belas kasihan, hanya karena tidak dia temukan lembaran uang dalam dompet ataupun rekeningnya.
Tuhan menganugerahi kita dengan semesta alam dan kelengkapan jasmani. Sadarilah, itulah sebenarnya hakikat kekayaan kita. Dengan alam yang terus berhembus, air yang setia bergulir, raga yang sehat, jiwa yang kuat, kita sesungguhnya adalah saudagar-saudagar kaya raya di atas bumi ini.
Apabila Anda tidak percaya, esok pagi, pergilah ke rumah sakit terdekat. Tanyakan kepada dokter, berapa uang yang musti Anda bayar untuk obat sebuah mata perih karena kelilipan, berapa uang musti Anda keluarkan untuk menyamarkan satu kerutan yang mulai merambati wajah Anda, berapa dana musti Anda ambil untuk menyatukan tulang Anda yang terberai karena patah, atau berapa biaya musti disetorkan untuk melenyapkan bercak putih bernama panu dalam kulit mulus Anda.
Ambil catatan, dan setialah untuk mencatat, berapa tabungan yang musti Anda habiskan, berapa utangan yang musti Anda upayakan, untuk memperbaiki tiap luka kecil, cacat yang datang, penyakit yang mampir, dan kerusakan-kerusakan yang mungkin datang menyergap Anda. Catatlah dengan teliti, tanyakan kepada dokter, tiap potensi penyakit, kerusakan, cacat, yang mungkin hinggap dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan catat dengan saksama, berapa hitung-hitungan biaya untuk mengobati setiap penyakit yang berpotensi mampir di setiap jengkal tubuh Anda tersebut?
Catatlah dengan teliti. Dan hitunglah, berapa sesungguhnya jumlah kekayaan yang Anda miliki sebagai akibat kesehatan masih bersama Anda saat ini.
Ketika Anda sedang dijauhi oleh rupiah, ketika tak ada lagi yang Anda temukan di dompet dan buku tabungan Anda, tidak serta merta Anda menjadi pribadi yang miskin. Sadarilah dengan penuh kebesaran, bahwa Anda adalah pribadi yang kaya. Pribadi kaya yang sepantasnya penuh dengan limpahan rasa bersyukur. Karena kekayaan ini, harta tidak ternilai ini, hanya bisa kita lihat dengan kejernihan hati dan jiwa.
Anda mempunyai 10 ribu di dompet. 500 ribu di brankas bank. Bersyukurlah. Dan dengan syukur itu Tuhan juga akan tersenyum kepada Anda.
Anda mempunyai 2 juta tunai di dompet. 30 juta di brankas bank. Tapi sifat Anda penuh dengan ketamakan. Anda tetap tidak merasa cukup. Anda jauh dari sangkaan kaya. Esok hari, terbangun dari tidur, terbutakan oleh nafsu, Anda mengayuhkan kaki menuju tempat kerja. Setan menggelinding bersama Anda. Menubrukkan benda keras ke arah Anda. Meninggalkan Anda terkapar dengan hanya 2 serpih tulang terberai dari tempatnya.
Cerita selanjutnya adalah: sebuah kuitansi rumah sakit dengan deret huruf dan angka yang berujung pada sebuah larik singkat di ujung bawah bertuliskan: total pembiayaan adalah 33 juta.
Anda terbangun di pagi hari. Dompet Anda masih gemuk. Rekening Anda masih menggelembung. Dan masih di hari yang sama, Anda terbangun kembali dari ketidaksadaran Anda, menemukan sebuah senyum kecut menggetirkan bibir Anda: dompet Anda melompong, rekening Anda tidak lagi menyisakan apa-apa.
Dan, ingat saja, baru 2 tulang dari 1 kaki yang terberai dari tempatnya. Bagaimana kalau 2 kaki? Bagaimana kalau tiap inchi tulang di kaki patah? Bagaimana kalau juga tangan yang patah? Bagaimana juga kalau tidak hanya patah tetapi juga jenis kerusakan tubuh dan organ lain?
Apa yang Anda miliki sekarang, sesungguhnya, tidak menunjukkan seberapa kaya dan bahagia Anda. Karena kekayaan itu, sejatinya, sudah Anda miliki bahkan andai Anda tidak memiliki apa-apa dalam dompet dan rekening Anda.
Tuhan maha pemurah dengan segala karunia dan kebesaran-Nya.
Dan apabila memang karena alasan gaya hidup, gengsi, atau akibat gelindingan modernisasi, Anda mengepak uang Anda dalam barak-barak lemari besi Bank: berapa rupiah angka yang tercetak dalam saldo terakhir buku tabungan Anda sekarang?
1 juta…
3 juta…
50 juta…
Sekian juta…
Atau, mungkin, karena alasan tertentu, kemarin, atau beberapa hari yang lalu, atau beberapa bulan yang lalu, Anda harus berjalan tertunduk ke bank, terhuyung-huyung menuju meja formulir, dan dengan harga diri terhempas, menyodorkan formulir penarikan kepada mbak teller ayu yang terus tersenyum kepada Anda?
Hingga sekarang, dengan gerombongan batu yang mengganjal di hati, Anda akan tersenyum getir ketika musti menjawab pertanyaan tadi? Karena Anda mengetahui bahwa jawaban dari pertanyaan jumlah uang di saldo rekening Anda tadi adalah:
100 ribu..
Atau mungkin sekian rupiah lebih tinggi lagi…
Pertanyaan sekarang: kaya atau miskinkah Anda?
Begitu banyak dari kita menyerahkan otoritas klaim daftar kekayaan hanya kepada benda tipis bersegi, dengan cetakan warna-warni sesuai selera bank tempat menyimpan, yang bertuliskan: buku tabungan. Dan masih, begitu banyak juga dari kita, menyerahkan persoalan tentram tidaknya batin kita, terang redupnya nyala jiwa kita, bahagia tidaknya hari-hari kita, berdasarkan hitung-hitungan besar digit dalam tumpukan lembaran kertas-kertas tersebut.
Apakah jumlah saldo buku tabungan menunjukkan jumlah kekayaan kita? Dan apakah jumlah nominal kekayaan kita berhak mendefinisikan arti bahagia kita? Apakah jumlah lembar uang di dompet dan di brankas bank berhak menjelma menjadi malaikat penjaga surga bahagia kita?
Kawan, sadarilah, bahwa sejatinya, tidak ada manusia yang berada dalam kondisi mengenaskan, lalu menggelepar-gelar menuntut belas kasihan, hanya karena tidak dia temukan lembaran uang dalam dompet ataupun rekeningnya.
Tuhan menganugerahi kita dengan semesta alam dan kelengkapan jasmani. Sadarilah, itulah sebenarnya hakikat kekayaan kita. Dengan alam yang terus berhembus, air yang setia bergulir, raga yang sehat, jiwa yang kuat, kita sesungguhnya adalah saudagar-saudagar kaya raya di atas bumi ini.
Apabila Anda tidak percaya, esok pagi, pergilah ke rumah sakit terdekat. Tanyakan kepada dokter, berapa uang yang musti Anda bayar untuk obat sebuah mata perih karena kelilipan, berapa uang musti Anda keluarkan untuk menyamarkan satu kerutan yang mulai merambati wajah Anda, berapa dana musti Anda ambil untuk menyatukan tulang Anda yang terberai karena patah, atau berapa biaya musti disetorkan untuk melenyapkan bercak putih bernama panu dalam kulit mulus Anda.
Ambil catatan, dan setialah untuk mencatat, berapa tabungan yang musti Anda habiskan, berapa utangan yang musti Anda upayakan, untuk memperbaiki tiap luka kecil, cacat yang datang, penyakit yang mampir, dan kerusakan-kerusakan yang mungkin datang menyergap Anda. Catatlah dengan teliti, tanyakan kepada dokter, tiap potensi penyakit, kerusakan, cacat, yang mungkin hinggap dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan catat dengan saksama, berapa hitung-hitungan biaya untuk mengobati setiap penyakit yang berpotensi mampir di setiap jengkal tubuh Anda tersebut?
Catatlah dengan teliti. Dan hitunglah, berapa sesungguhnya jumlah kekayaan yang Anda miliki sebagai akibat kesehatan masih bersama Anda saat ini.
Ketika Anda sedang dijauhi oleh rupiah, ketika tak ada lagi yang Anda temukan di dompet dan buku tabungan Anda, tidak serta merta Anda menjadi pribadi yang miskin. Sadarilah dengan penuh kebesaran, bahwa Anda adalah pribadi yang kaya. Pribadi kaya yang sepantasnya penuh dengan limpahan rasa bersyukur. Karena kekayaan ini, harta tidak ternilai ini, hanya bisa kita lihat dengan kejernihan hati dan jiwa.
Anda mempunyai 10 ribu di dompet. 500 ribu di brankas bank. Bersyukurlah. Dan dengan syukur itu Tuhan juga akan tersenyum kepada Anda.
Anda mempunyai 2 juta tunai di dompet. 30 juta di brankas bank. Tapi sifat Anda penuh dengan ketamakan. Anda tetap tidak merasa cukup. Anda jauh dari sangkaan kaya. Esok hari, terbangun dari tidur, terbutakan oleh nafsu, Anda mengayuhkan kaki menuju tempat kerja. Setan menggelinding bersama Anda. Menubrukkan benda keras ke arah Anda. Meninggalkan Anda terkapar dengan hanya 2 serpih tulang terberai dari tempatnya.
Cerita selanjutnya adalah: sebuah kuitansi rumah sakit dengan deret huruf dan angka yang berujung pada sebuah larik singkat di ujung bawah bertuliskan: total pembiayaan adalah 33 juta.
Anda terbangun di pagi hari. Dompet Anda masih gemuk. Rekening Anda masih menggelembung. Dan masih di hari yang sama, Anda terbangun kembali dari ketidaksadaran Anda, menemukan sebuah senyum kecut menggetirkan bibir Anda: dompet Anda melompong, rekening Anda tidak lagi menyisakan apa-apa.
Dan, ingat saja, baru 2 tulang dari 1 kaki yang terberai dari tempatnya. Bagaimana kalau 2 kaki? Bagaimana kalau tiap inchi tulang di kaki patah? Bagaimana kalau juga tangan yang patah? Bagaimana juga kalau tidak hanya patah tetapi juga jenis kerusakan tubuh dan organ lain?
Apa yang Anda miliki sekarang, sesungguhnya, tidak menunjukkan seberapa kaya dan bahagia Anda. Karena kekayaan itu, sejatinya, sudah Anda miliki bahkan andai Anda tidak memiliki apa-apa dalam dompet dan rekening Anda.
Tuhan maha pemurah dengan segala karunia dan kebesaran-Nya.
Wednesday, October 29, 2008
Paradoks Seorang Puteri
Wajahnya begitu sumringah. Ketika namanya selesai disebut, dengan langkah gemulai, hasil latihan selama mengikuti kontes, ia melangkah masuk ke studio. Tinggi. Langsing. Dan tentu aja, cantik. Maklum saja, ia adalah Puteri Indonesia 2007. Mau tahu namanya? Puteri Raemawasti. Luar biasa. Waktu belum resmi menjadi puteri Indonesia, dia sudah menjadi seorang puteri. Mungkin, hanya rekaan sih, ketika ibunya hamil, ia berdoa agar anaknya menjadi seorang puteri. Dan doa yang disimpan oleh langit itu, akhirnya menjadi kenyataan ketika putrinya benar-benar menjadi seorang Puteri.
Malam itu, dengan host idola saya, Tukul Arwana, sang puteri berbicara mengenai sumpah pemuda. Betapa mempesona. Dengan anting menjurai menjamah pundak, kalung yang menjerat leher membungkuk menapaki dada, ia menggerakkan bibir merah polesan lipstik merapalkan sejarah dan harapan sumpah pemuda. Kalimatnya lancar mengalir. Nafasnya teratur. Meski sesekali tersengal. Sumpah pemuda yang ketika dibangku sekolah hanya lembar-lembar kertas membosankan, menjadi demikian indah ketika dilantunkan oleh seorang puteri Indonesia.
Tapi, rupanya, malam itu, sang puteri tidak hanya menghadirkan keindahan. Ada paradoks yang sangat merusak pemandangan indah itu. Seorang puteri, seperti halnya manusia lain, rupanya tidak bisa lepas dari penyakit kronis krisis identitas kebangsaan. Tutur katanya yang rapi ketika mengeja arti sumpah pemuda, wajahnya yang semakin berkilau mempesona ketika berbincang mengenai romantisme persatuan dan kesatuan, mendadak hanya menghadirkan ngilu ketika ia melontarkan kalimat di bawah ini:
Lihat pilihan kata yang digunakan: influenze. Bahasa Inggris, bahasa Internasional. Luar biasa. Sungguh terdengar cerdas. Berpendidikan. Tidak sembarang orang bisa berbincang dengan bahasa dari negaranya David Beckham ini.
Puteri, malam itu, kamu membuat aku tercengang. Kagum. Dan mengutuk menggerutu: kenapa paradoks ini harus lahir dari seorang puteri, representasi agung bangsa yang mewakili jutaan identitas, harapan, semangat, impian rakyat Indonesia. Pribadi yang dipundaknya, pernah tersampir identitas agung bangsa Indonesia, yang pernah di suatu kesempatan, seluruh diri bangsa, terwakili dalam jenjang langkahnya ketika mengikuti sebuah kontes kecantikan berlabel miss-missan.
Sungguh terkesan intelek, cerdas, ketika kamu selipkan kata influenze dalam deret kalimat yang kamu gunakan. Tapi, yang membuat aku bingung, kenapa musti harus memilih kalimat itu? Terlebih, malam itu, dengan segala keanggunanmu, dengan segala representasimu, dikau sedang kami percaya untuk berbicang mengenai identitas bangsa, tentang kebanggaan kami sebagai bangsa Indonesia, dengan Sabang Meraukenya, dengan bahasa Indonesianya, dengan budaya adi luhungnya. Tapi, kenapa kamu hancurkan hati kami hanya dengan beberapa kali menaruh kata-kata intelek itu diantara kata-kata Indonesia kebanggaan kita? Puteri, kenapa engkau khianati kepercayaan kami?
Kembalilah, Puteri. Berlarilah kembali kepada kami. Hati kami menjadi miris ketika engkau malah mengkhianati kami. Kami begitu bangsa dengan kecantikan kamu. Dengan keanggunan kamu yang meremas hati. Dan meski sebentar saja, meski hanya malam ini, pesonakanlah kami dengan keanggunan dan kebanggaan sejati kamu sebagai puteri negeri ini: Puteri Indonesia 2007.
Malam itu, dengan host idola saya, Tukul Arwana, sang puteri berbicara mengenai sumpah pemuda. Betapa mempesona. Dengan anting menjurai menjamah pundak, kalung yang menjerat leher membungkuk menapaki dada, ia menggerakkan bibir merah polesan lipstik merapalkan sejarah dan harapan sumpah pemuda. Kalimatnya lancar mengalir. Nafasnya teratur. Meski sesekali tersengal. Sumpah pemuda yang ketika dibangku sekolah hanya lembar-lembar kertas membosankan, menjadi demikian indah ketika dilantunkan oleh seorang puteri Indonesia.
Tapi, rupanya, malam itu, sang puteri tidak hanya menghadirkan keindahan. Ada paradoks yang sangat merusak pemandangan indah itu. Seorang puteri, seperti halnya manusia lain, rupanya tidak bisa lepas dari penyakit kronis krisis identitas kebangsaan. Tutur katanya yang rapi ketika mengeja arti sumpah pemuda, wajahnya yang semakin berkilau mempesona ketika berbincang mengenai romantisme persatuan dan kesatuan, mendadak hanya menghadirkan ngilu ketika ia melontarkan kalimat di bawah ini:
… banyak pemuda Indonesia yang ter-influenze oleh budaya asing yang bisa merusak generasi muda…
Lihat pilihan kata yang digunakan: influenze. Bahasa Inggris, bahasa Internasional. Luar biasa. Sungguh terdengar cerdas. Berpendidikan. Tidak sembarang orang bisa berbincang dengan bahasa dari negaranya David Beckham ini.
Puteri, malam itu, kamu membuat aku tercengang. Kagum. Dan mengutuk menggerutu: kenapa paradoks ini harus lahir dari seorang puteri, representasi agung bangsa yang mewakili jutaan identitas, harapan, semangat, impian rakyat Indonesia. Pribadi yang dipundaknya, pernah tersampir identitas agung bangsa Indonesia, yang pernah di suatu kesempatan, seluruh diri bangsa, terwakili dalam jenjang langkahnya ketika mengikuti sebuah kontes kecantikan berlabel miss-missan.
Sungguh terkesan intelek, cerdas, ketika kamu selipkan kata influenze dalam deret kalimat yang kamu gunakan. Tapi, yang membuat aku bingung, kenapa musti harus memilih kalimat itu? Terlebih, malam itu, dengan segala keanggunanmu, dengan segala representasimu, dikau sedang kami percaya untuk berbicang mengenai identitas bangsa, tentang kebanggaan kami sebagai bangsa Indonesia, dengan Sabang Meraukenya, dengan bahasa Indonesianya, dengan budaya adi luhungnya. Tapi, kenapa kamu hancurkan hati kami hanya dengan beberapa kali menaruh kata-kata intelek itu diantara kata-kata Indonesia kebanggaan kita? Puteri, kenapa engkau khianati kepercayaan kami?
Kembalilah, Puteri. Berlarilah kembali kepada kami. Hati kami menjadi miris ketika engkau malah mengkhianati kami. Kami begitu bangsa dengan kecantikan kamu. Dengan keanggunan kamu yang meremas hati. Dan meski sebentar saja, meski hanya malam ini, pesonakanlah kami dengan keanggunan dan kebanggaan sejati kamu sebagai puteri negeri ini: Puteri Indonesia 2007.
Friday, January 26, 2007
Ketika Pesta (HARUS) Usai...
Mendung tipis menggelanyuti langit manja. Meninggalkan sepasang kekasih yang sedang berciuman dalam udara membeku. Di sebuah sudut kampus tua. Di antara reruntuhan dedaunan berserakan. Hasrat mereka bertemu dalam kepekatan yang mendalam. Mereka adalah sepasang mahasiswa. Besok mereka berdua akan diwisuda. Dan mereka akan kembali ke rumah masing-masing. Ciuman sore ini adalah ciuman terakhir mereka. Perjumpaan yang penghabisan. Sebelum laku dunia merenggut masing-masing jiwa. ’Kita married saja.
Sementara, di dalam bilik sebuah cyber cafe, sepasang mata bersitatap dalam makna keterdiaman. Kegelisahan penuh berloncatan dalam beku udara yang diam. Bibir mereka tidak bergerak. Tapi mata mereka, jelas mengisaratkan pemilik jiwa yang sedang merana. Lalu, pasangan itu pun luruh dalam sebuah ciuman yang hampa. Bibir mereka menyatu. Tapi kesedihan telah menumpulkan syaraf-syaraf bibir mereka. Nafas mereka nyaris tersengal. Tapi tetep saja tidak ada rasa yang tercipta. Di depan mereka, tergeletak diam di depan monitor, selembar tiket penerbangan ke Singapura. Ini adalah ciuman terakhir. Sebelum si wanita pergi ke Singapura.
Jauh bermil-mil dari cyber cafe, sebuah telpon berdering. Saat itu hujan sedang menderu pelan. Menyisakan aroma dingin yang menebal menyengat. Isak tangis seorang wanita muda terdengar menyembul dari balik ujung telpon. Ia baru menikah beberapa bulan yang lalu. Pastinya ia sangat bahagia. Suaminya, lelaki klimis yang selalu rapi tiap kali pergi bekerja, juga sangat mencintai dia. Apalagi semenjak mereka mempunyai anak. Seolah, dalam tiap laku dan larik nafas yang mereka buat, tiada yang bisa dibaca selain ungkapan rasa bahagia. Hujan semakin tercurah seiring tangis wanita muda itu yang semakin menderu. Tak ada suara terdengar dari ujung telpon satunya. Hanya tangis wanita muda itu yang senantiasa terdengar. Sambil sesekali diselingi beberapa potong ucap. Keheningan makin jauh menyeret malam. Udara semakin terbujur dalam kaku tak berujung. Dari balik ujung telpon, terdengar desah helai nafas memberat. Terdengar kemudian suara wanita muda itu, ’Abang, aku ingin bercerai.’ Tak ada balasan suara dari ujung telepon satunya. Hanya keheningan yang semakin menganga. Menenggelamkan malam itu dalam sebuah keterdiaman tak berujung.
Di bilik sebuah rumah sakit, suara lolongan mengaum membelah. Sedih yang sedari tadi mengintip, meletup dalam sebuah tangis membuncah. Kabar itu baru saja datang. Tentang anaknya yang tidak terselamatkan. Tentang ketakutan yang kini benar menjadi kenyataan. Perempuan muda itu menjerit. Mematung ia menatap pintu ruangan. Sementara di dalamnya, seorang suster baru saja menutupi tubuh sesosok bayi mungil.
Di tepian pantai di suatu sore. Seperti biasanya, sore itu langit kembali memerah. Matahari yang menua, bergerak pelan menyentuh bibir senja. Angin mengalun pelan. Meninggalkan kilau menyentuh pucuk-pucuk air yang beriak diam. Dingin yang makin mengental, membuat lelaki itu menaikkan kerah bajunya. Sudah sedari tadi lelaki itu berdiri mematung di sudut pantai. Matanya menerawang jauh. Menatap hamparan biru laut tak berujung. Sesekali ia menyeret langkahnya yang berat. Memungut benda-benda yang ia lihat bergerak mendekati bibir pantai. Hari ini adalah sore yang ke-25 lelaki itu mengakrabi senja yang menua seperti ini. Tapi, seperti sore-sore sebelumnya, ia tak kunjung jua bisa mengusir sesak yang meringkuk dalam jiwa. Matahari telah mencium senja, ketika sebuah dering telpon mengusik lamunan lelaki itu. ’Ada yang ketemu?’ ’Maaf mas, nihil.’ Terdengar suara telepon ditutup. Lelaki itu nampak tergesa memasukkan ponsel ke kantongnya. Dan mendadak ia berlari. Sebelum kemudian ia melolong dalam sebuah teriakan membahana. Dalam malam yang mulai merayap, lelaki itu menarik sesuatu dari dompetnya. Gambar seorang wanita cantik. Rambutnya sebahu. Dengan senyum manis mengembang menghias. Tangan lelaki itu bergerak menyusur. Menyentuh lembut bibir wanita dalam foto. Nampak tautan emosi mengenangi tatapan matanya yang merindu. Jari lelaki itu kemudian bergerak menyentuh larit nama yang tertulis di bawah wajah cantik itu: Prameswari. Sementara di atasnya, wanita cantik dalam balutan seragam pramugari itu tetap tersenyum. Begitu manis. Begitu cantik.
Dalam waktu yang semakin menua, kita tidak pernah tahu kapan semua akan berakhir. Ketika ciuman yang kita berikan pada kekasih, ternyata akan menjadi ciuman terakhir. Ketika lambaian tangan yang kita berikan, ternyata akan menjadi lambaian terakhir. Dan mungkin, kita tidak bisa memberesi tenda, mencuci piring, menggulung tikar, melepas tamu yang pamit pulang, dalam pesta kita sendiri.
Karena kita tiada pernah tahu, apakah ini pesta terakhir?
Sementara, di dalam bilik sebuah cyber cafe, sepasang mata bersitatap dalam makna keterdiaman. Kegelisahan penuh berloncatan dalam beku udara yang diam. Bibir mereka tidak bergerak. Tapi mata mereka, jelas mengisaratkan pemilik jiwa yang sedang merana. Lalu, pasangan itu pun luruh dalam sebuah ciuman yang hampa. Bibir mereka menyatu. Tapi kesedihan telah menumpulkan syaraf-syaraf bibir mereka. Nafas mereka nyaris tersengal. Tapi tetep saja tidak ada rasa yang tercipta. Di depan mereka, tergeletak diam di depan monitor, selembar tiket penerbangan ke Singapura. Ini adalah ciuman terakhir. Sebelum si wanita pergi ke Singapura.
Jauh bermil-mil dari cyber cafe, sebuah telpon berdering. Saat itu hujan sedang menderu pelan. Menyisakan aroma dingin yang menebal menyengat. Isak tangis seorang wanita muda terdengar menyembul dari balik ujung telpon. Ia baru menikah beberapa bulan yang lalu. Pastinya ia sangat bahagia. Suaminya, lelaki klimis yang selalu rapi tiap kali pergi bekerja, juga sangat mencintai dia. Apalagi semenjak mereka mempunyai anak. Seolah, dalam tiap laku dan larik nafas yang mereka buat, tiada yang bisa dibaca selain ungkapan rasa bahagia. Hujan semakin tercurah seiring tangis wanita muda itu yang semakin menderu. Tak ada suara terdengar dari ujung telpon satunya. Hanya tangis wanita muda itu yang senantiasa terdengar. Sambil sesekali diselingi beberapa potong ucap. Keheningan makin jauh menyeret malam. Udara semakin terbujur dalam kaku tak berujung. Dari balik ujung telpon, terdengar desah helai nafas memberat. Terdengar kemudian suara wanita muda itu, ’Abang, aku ingin bercerai.’ Tak ada balasan suara dari ujung telepon satunya. Hanya keheningan yang semakin menganga. Menenggelamkan malam itu dalam sebuah keterdiaman tak berujung.
Di bilik sebuah rumah sakit, suara lolongan mengaum membelah. Sedih yang sedari tadi mengintip, meletup dalam sebuah tangis membuncah. Kabar itu baru saja datang. Tentang anaknya yang tidak terselamatkan. Tentang ketakutan yang kini benar menjadi kenyataan. Perempuan muda itu menjerit. Mematung ia menatap pintu ruangan. Sementara di dalamnya, seorang suster baru saja menutupi tubuh sesosok bayi mungil.
Di tepian pantai di suatu sore. Seperti biasanya, sore itu langit kembali memerah. Matahari yang menua, bergerak pelan menyentuh bibir senja. Angin mengalun pelan. Meninggalkan kilau menyentuh pucuk-pucuk air yang beriak diam. Dingin yang makin mengental, membuat lelaki itu menaikkan kerah bajunya. Sudah sedari tadi lelaki itu berdiri mematung di sudut pantai. Matanya menerawang jauh. Menatap hamparan biru laut tak berujung. Sesekali ia menyeret langkahnya yang berat. Memungut benda-benda yang ia lihat bergerak mendekati bibir pantai. Hari ini adalah sore yang ke-25 lelaki itu mengakrabi senja yang menua seperti ini. Tapi, seperti sore-sore sebelumnya, ia tak kunjung jua bisa mengusir sesak yang meringkuk dalam jiwa. Matahari telah mencium senja, ketika sebuah dering telpon mengusik lamunan lelaki itu. ’Ada yang ketemu?’ ’Maaf mas, nihil.’ Terdengar suara telepon ditutup. Lelaki itu nampak tergesa memasukkan ponsel ke kantongnya. Dan mendadak ia berlari. Sebelum kemudian ia melolong dalam sebuah teriakan membahana. Dalam malam yang mulai merayap, lelaki itu menarik sesuatu dari dompetnya. Gambar seorang wanita cantik. Rambutnya sebahu. Dengan senyum manis mengembang menghias. Tangan lelaki itu bergerak menyusur. Menyentuh lembut bibir wanita dalam foto. Nampak tautan emosi mengenangi tatapan matanya yang merindu. Jari lelaki itu kemudian bergerak menyentuh larit nama yang tertulis di bawah wajah cantik itu: Prameswari. Sementara di atasnya, wanita cantik dalam balutan seragam pramugari itu tetap tersenyum. Begitu manis. Begitu cantik.
Dalam waktu yang semakin menua, kita tidak pernah tahu kapan semua akan berakhir. Ketika ciuman yang kita berikan pada kekasih, ternyata akan menjadi ciuman terakhir. Ketika lambaian tangan yang kita berikan, ternyata akan menjadi lambaian terakhir. Dan mungkin, kita tidak bisa memberesi tenda, mencuci piring, menggulung tikar, melepas tamu yang pamit pulang, dalam pesta kita sendiri.
Karena kita tiada pernah tahu, apakah ini pesta terakhir?
Wednesday, January 24, 2007
Siapa butuh agama?
Aku tidak mengenal Mr. O. Sumpah. Meski ia dikenal sebagai pencipta lagu, aku pun baru mengetahui wajah dan namanya baru 5 detik yang lalu. Ketika sebuah infotainment menayangkan wajah dan statementnya. Didampingi lelaki berjenggot dan bersurban, mbak narator bilang dia adalah seorang habib, Mr. O melakukan bantahan bahwa dirinya akan menikahi Sheila, wanita berkulit putih, berambut panjang, yang telah hamil 5 bulan.
Seperti aku bilang di atas, aku tidak kenal siapa itu Mr. O, juga si habib, apalagi si wanita Sheila. Aku hanya terpesona dengan ucapan dari si Mr. O itu. Di infotainment tersebut disebut bahwa Mr. O dan Sheila sudah hidup satu atap selama 1 tahun. Tanpa ikatan perkawinan. Dan kemudian Sheila hamil. Nah, dalam statement yang dikeluarkan, si Mr. O mengatakan bahwa dirinya urung menikahi Sheila (betul ya nikah, karena kalo kawin kan mungkin mereka sudah), karena dia dan Sheila mempunyai keyakinan yang berbeda. Mr. O beragama Islam dan Sheila bukan beragama Islam. Dengan mata menatap mantap, Mr. O dengan gagah berucap bahwa pernikahan beda agama tidak diperbolehkan dalam ajaran Islam. Si Habib pun kemudian nimbrung dengan berstatemen bahwa karena tidak diperbolehkan oleh agama, maka apabila mereka tetap menikah dan kemudian berhubungan badan maka dapat dikatakan mereka melakukan perzinaan. Meski hidup satu atap, si Mr. O ini juga meragukan bahwa bayi dalam perut Sheila adalah buah hasil karyanya. Lewat si habib, Mr. O ini menantang untuk melakukan tes DNA. Dahsyat gak.
Aku tidak dalam kapasitas memberikan penilaian benar tidaknya statemen dari si Mr. O dan si habib. Yang sedikit mengusik ketenangan jiwa ini adalah, lagi-lagi dan lagi-lagi, kita terbiasa untuk memetik penggalan ajaran agama demi kepentingan kita sendiri. Ajaran agama diperlakukan seperti onggokan pakaian dalam gantungan lemari. Ketika dibutuhkan sebagai pelindung, kita comot pakaian itu. Dan ketika kita tidak lagi membutuhkannya, kita buang pakaian itu entah kemana.
Okelah kita bersepakat bahwa perkawinan beda agama tidak dibenarkan dalam Islam. Tapi, hidup satu atap dengan wanita yang bukan muhrimnya apakah merupakan praktek yang dihalalkan dalam Islam? Menimbun benih dalam perut wanita yang bukan istrinya, apakah merupakan salah satu ajaran Islam?
Sekali lagi kita disuguhi tontonan gratis: ketika kepepet, agama dicatut untuk dijadikan pelindung. Dan ketika kenikmatan deras mengguyur, entah ditekuk kemana ajaran agama tersebut.
Sambil bersiap untuk mandi, aku hanya berucap: astagfirullah.
Subscribe to:
Posts (Atom)
