Wednesday, October 15, 2008

LOENPIA: everywhere, everytime, stay connected.




Di balik temaram bilik warnet

Malam sedang mengenakan jas terbaiknya. Langit yang menyisakan sedikit semburat senja merah. Udara yang mulai menanggungkan dingin menyergap. Dan keheningan yang perlahan mulai diam memanjang.
Cukup lama dia terdiam di bilik warnet itu. Dingin yang menyembur dari AC yang menggantung, membuatnya menaikkan kerah baju. Andai saja waktu itu ia bawa sarong, pastilah ia sudah bergulung mencari kehangatan.
Detik terus merangkak menjadi menit. Tumpukan malam yang terlihat dari balik jendela semakin pekat. Ia masih saja terdiam di balik bilik warnet itu. Malam semakin terjebak dalam lorong keheningan yang panjang.
Perlahan, ia mulai bergerak. Nampak sebuah hela nafas panjang ia hembuskan. Kesedihan nampak jelas berlompatan dari balik tatap matanya. Raut wajah yang hampa mengabarkan duka mendalam sedang menyergap jiwa pemiliknya. Duka macam apa yang sedang engkau tanggungkan teman? Hingga keruh jiwa kamu sanggup mengubah aroma malam menjadi demikian pahit menggetirkan.
Akhirnya, ia mulai berhubungan dengan layar di depannya. Tangan menjulur menggapai tuts. Matanya nanar menelisik kata demi kata yang menghajar layer putih monitor. Getir di wajahnya perlahan tergerus seiring makin cepatnya tangan itu menyentuh deret tuts di depannya. Binar mata yang mulai bersinar. Kehidupan yang mulai berhembus kembali. Dan sebentuk asa yang kembali bersemai di tandus jiwa yang sedang menanggungkan lara itu.

To : semarangan@yahoogroups.com
Subject : [curhat] ketika hati sedang menanggungkan lara

Tak seorangpun ingin mengalami patah hati. Tak seorangpun juga bisa menghindar dari bencana patah hati.
Berkali-kali aku nembak dia. Berkali-kali itu juga dia tidak mati-mati. Dia tetep saja hidup. Bukan hidup untuk menyambutku. Membalas hangat cintaku. Tapi hidup untuk menolakku. Untuk mengabarkan bahwa tidak sedikitpun jiwanya merindukan aku.
Teman, doakan semoga aku tegar. Doakan juga semoga masih ada cadangan senjata untuk pertempuran berikutnya. Bukan untuk dia kok. Untuk wanita beruntung yang menunggu di tikungan jalan berikutnya.
Wish me luck, guys..


Beberapa lama terdiam. Menimbang sesuatu. Akhirnya ia pun menekan tombol itu. Send.


3 menit…
5 menit…

Dit..dit.. conversation update

Subject : RE:[curhat] ketika hati sedang menanggungkan lara
From : kucing mesum@gmail.com

Patah hati yo..? halah. Tenang wae. Patah hati kuwi tidak separah kalo kita ora iso bayar utang. Jadi… bersemangat bung. Kita selalu ada di belakang anda. Siapkan senjata. Mari berangkat tempur lagi.

5 menit 45 detik

From : kadalnesu@gmail.com
Subject : RE:[curhat] ketika hati sedang menanggungkan lara

Weleh-weleh…
PATAH HATI


7 menit

Subject : RE:[curhat] ketika hati sedang menanggungkan lara
From : kupugenit@gmail.com

Yang sabar ya mas. Hidup memang begitu. Cinta juga begitu. Wanita juga terkadang begitu. Tapi tidak semua wanita kebal terhadap senjata kok mas. Apalagi senjata yang mas tembakkan. Mas cuman perlu nemuin wanita yang tepat. Dan tanpa perlu ditembak, dia pasti sudah menyerahkan diri sendiri. Surrender gitchu..


Masih terdiam di kursi yang sama. Ia hanya bisa membiarkan matanya nanar melewati kata-kata demi kata yang semakin lama semakin kencang datang menghampirinya. Dunia yang semula sepi, mendandak menjadi riuh. hati yang tadinya tiarap dalam lara, perlahan mulai berdenyut.

Dalam kesadaran yang mulai mengumpul, bibir itu bergerak dengan pelan. Nyaris tanpa kata. Thank u, fren.


Di kursi tunggu stasiun kereta keberangkatan

Lihat siapa yang aku temukan di sini. Gotcha. Nina. Tampang manisnya tetap saja menempel di tubuhnya. Meski stasiun sedang panas. Meski berhimpitan dengan tampang-tampang kumal-kekar-penuh-dengan-jinjingan.
Sepertinya ia sedang menunggu seseorang. It could be Dudi, his boy. Or it could be someone else. hehe.. sori yo Dud. Bibir mungilnya sesekali nampak dimajukan. Persis seperti adik kecilku ketika kelamaan menunggu janji dibelikan boneka baru.
Menunggu bukanlah pekerjaan yang menyenangkan. Meski, kalimat ini aku dapat dari blog Susan, kita bisa membunuh waktu ketika menunggu. Dan siang itu, God bless u, Nina menemukan caranya sendiri untuk membunuh waktu. Sesaat setelah celingukan, gak jelas apa yang dicari, ditariknya benda berbalut beludru pink dari saku jaketnya. Dan, here it is, handphone kesayangan dia.

To : semarangan@yahoogroups.com
From : nina@gmail.com
Subject : [absent] Lagi bengong aja..

… hy guys… sekedar lapor. Sedang di tawang nunggu pacar pulang. Di sebelah ada cowok kekar, tapi aku takut. Jadi cuman lihat doank.


On the phone..

Tuhan mencipta hanya 1 dunia. Tapi manusia, dengan kompleksitas masalah dan kepentingannya, mengkapling dunia tersebut menjadi petak-petak area ruang pribadi mereka.

Dan alangkah nikmatnya, ketika kita telah menemukan petak dunia tempat pribadi bagi diri kita. Dan orang-orang yang termasuk satu selera dengan kita.

Simak obrolan berikut ini.

Perempuan 1 : dengar gak mbakyu? (suaranya terdengar tergopoh)
Perempuan 2 : dengar apa?
Perempuan 1 : Christina mau kawin lagi?
Perempuan 2 : hah? (nada dibuat terkejut)
Perempuan 1 : ia loh
Perempuan 2 : aku kok baru tau ya


Ups.. sori.. bukan jenis percakapan macam ini yang saya maksudkan.

Perempuan 1 : mbak, ada salon baru loh..
Perempuan 2 : wah, asyik tuh. Kebetulan dah lama aku tidak luluran.
Perempuan 1 : udah gitu, harganya agak miring lagi (maklum, doski masih mahasiswi)
Perempuan 2 : halah. Miring sih gak penting. (kelihatan, kalo doi adalah wanita karir)
Perempuan 1 : jadi nih, kita nyamperin tuh salon.
Perempuan 2 : atur aja jadualnya (tuh kan, lagak bossy kental banget)
Perempuan 1 : kalo gitu aku telp si mina ya?
Perempuan 2 : sekalian aja si desi, siska, mini, dan Karen?
Perempuan 1 : ntar marni dan mona ngambek gak diajakin?
Perempuan 2 : kalo gitu rame-rame aja. Ajak ayu, yuli, mince, dono (kok, kan nama cowok? Bodo ah), parmin (nah? Cewek pa cowok nih), siska.
Perempuan 1 : waduh…. Stop mbak… (terdengar histeris)
Perempuan 2 : napa non?
Perempuan 1 : tega sekali mbak nih. Bisa jebol pulsaku.
Perempuan 2 : waduh, pake milis dunk jenk. (terdengar suara gesekan. Mungkin bunyi dada yang sedang dielus)
Perempuan 1 : hehe.. iya dink.

Couple minutes..

To : semarangan@yahoogroups.com
From : cewekkenes@ayumail.com
Subject : [girlthings]yuk dandan..

Mbak-mbak, jeng-jeng, non-non, ibu-ibu, adik-adik, pada sabtu sore, tanggal 12 November 2010, kita akan menyerbu rame-rame salon ‘Mendadak Ayu’. Tu salon top abis loh. Bisa nyulap tampilan standar jadi agak mendingan.
So.. if u don’t want to miss a thing, get your seat as soon as possible.
Scratch your name on the list below.


1. cewek kenes
2. ..
3. ..
4. …

Reaksi yang terjadi pada list beberapa waktu kemudian.

5 menit…
1. cewek kenes
2. akuayu >>yuk mari..
3. dewi asmara >>melu ah…

20 menit..


19. kucing garong >>ajibb.. solek maning..
20. lanang tenan >>nih pria metroseksual

3 hari..


85. putri domas >>lumayan. Persiapan malem minggu



Sebuah meja. Sebuah ruang. Sebuah gedung. Sebuah kampus.

Tampilannya trendy. Setelan baju ‘body fit’ Van Heusen berpadu celana ‘booth cup’ Cardinal. Bawah dikit, polesan semir ‘Kiwi’ erat memeluk sepatu ‘Yongki Komaladi’ yang erat memeluk kaki.

Di lingkar lengan kananya, nampak gagah bertengger jam tangan… Rolex? Bukan? Swiss Army? Bukan… Louis Arden? Iya. Hadiah ulang tahun dari istrinya itu memang membuat penampilannya terdongkrak sekitar 5%.

Ups.. sori, aku kelepasan menyebut dia sudah beristri. Tongkrongan ala Eksmud, gerak-gerik yang sedikit agresif, sepintas mengabarkan bahwa dia masuk kategori ‘high quality jomblo’. Tapi seperti bunyi plesetan iklan: never trus your own eyes. Never impress on the first impression.’Jadi warning buat para gadis: berhati-hatilah.
Pura-pura aja sibuk, angkat handphone meski tidak sedang berdering, garuk-garuk kulit meski tidak sedang gatal, lepas baju meski tidak sedang akan mandi (ups..kalo yang ini jangan dink).

Bukan kemeja Van Heusen, celana Cardinal, jam Louis Arden, ato kedip mahasiswi yang melintas, tapi benda kecil di atas meja dia yang akan kita bincangkan. Benda tipis persegi panjang. Berwarna putih. Dengan beberapa baris kata menyepuh atasnya.
Laki-laki ini memang beruntung. Atau pekerjaannya yang membuat dia beruntung. Atau birokrasi dalam pekerjaannya yang membuat dia beruntung. Ah, pokoknya laki-laki ini sedang beruntung. Uang gaji masih hangat mengepul, honor tulisan juga mulai berkarat karena tidak diambil, dan sekarang, hanya untuk beberapa coret tanda tangan, ia dianugerahi amplop.

Setelah beberapa lama cengar-cengir tak karuan, sebuah pijar lampu menyala dalam kepalanya. Pahlawan kita ini nampaknya sudah mendapat ide brilian. Mungkin saja ia menemukan teori konstruksi bangunan baru, teori cakar beton baru, ato teori percintaan baru. Kalo om Archimedes dulu berteriak ‘Eureka’ dalam kesetengah telanjangannya, paka pahlawan kita ini, hanya mengepalkan tanganya. Menarik senyumnya. Dan perlahan mulai membuka laptopnya. Hm.. jadi penasaran nih.. what kind of brilliant idea he’s just got…

Dan mulailah menari tangan tokoh kita itu di atas tuts laptopnya.

To : semarangan@yahoogroups.com
From : sang guru@kampusku.com
Subject : [makan-makan]

Teman-teman senasib seperjuangan.
Saya baru saja mendapat rejeki nomplok. Halal. Barokah. Lumayan besar. Untuk menambah keberkahannya, maka saya mengajak saudara-saudara sekalian untuk menikmati santap malam. Silahkan bergabung. Pastikan anda mempersiapkan perut sebaik mungkin.
Silahkan isi daftar absent di bawah ini.


1. sang guru
2. ..

Sialan. Kirain ide brilian apa yang tokoh kita ini temukan. Ternyata cuman ajakan makan. Tapi bagus jugalah. Setidaknya sang tokoh menemukan cara untuk membelanjakan uangnya demi kebaikan sebagian kecil umat manusia. Asik… makan-makan.

6 menit

1. sang guru
2. kaleng rombeng
3. blue sky
..
7. marjan


1 jam

30. pria berkumis


3 hari
104. mermut kecil
105. beruang madu



Epilog

… Dan sejuta kisah di sejuta tempat dengan sejuta ekspresi dari sejuta anggota lainnya yang tidak sempat dikisahkan di sini.

Sebuah potret dunia kecil yang teramat indah. Pada detik yang sama, mungkin kita sedang tersudut di pengap stasiun Jatibarang, terjebak di hiruk pikuk penerbangan bandara Soekarno-Hatta, merana di kamar pengap kos-kosan, terengah-engah dalam sebuah meeting tak berkesudahan, tergolek sakit di tempat tidur, terjebak di sebuah kantor di bilangan Kemayoran dengan bos yang tiada henti mengomel, sedang putar-putar Yogya menikmati damai musik mengalun di dalam bus Transyogya. Pada detik yang sama, kita mungkin berada di berbagai tempat, berbagai kota, berbagai Negara, berbagai benua.
Tetapi jauh di dalam hati, kita semua tahu, bahwa meski raga tak bersua, ada hangat yang merembes, ketika kita sadar, bahwa dengan beberapa click di computer, tuts hp, ada dunia yang menyatukan kita. Sebuah dunia yang terangkum indah, terwadahi sempurna dalam sebuah folder di inbox email kita berlabelkan : loenpia.

Kita mungkin terberai pada koordinat dunia yang berbeda. Pada aktifitas yang tidak sama. Tapi karena komunitas ini, kita mengetahui, bahwa ada sebuah oase yang akan selalu menyatukan kita. Ada tempat yang selalu memanggil kita pulang. Tempat yang menerima kita apa adanya. Tempat yang dengan segala cerca, cicau, dan sengaunya selalu menerima kita: apapun kondisinya.

Kehangatan yang ditawarkan. Kesintingan yang selalu berulang. Gurau, caci, hardik, marah, benci, sebal, info, menjelma menjadi sebuah ruang yang selalu memanggil kita untuk selalu kangen pulang. Terkadang memang tidak selalu menjadi seperti yang kita inginkan. Berbagai karakter dan kedalaman ilmu tiap anggota, membuat tidak selalu yang diharap bisa berwujud menjadi nyata. Tapi paling tidak, keterbukaan, kehangatan, keberterimaan dalam komunitas ini, membuat kita yakin, bahwa apapun warna jiwa kita, apapun kondisi jiwa kita, ada tempat bagi kita untuk menyebar resah. Ada tempat untuk berlari telanjang tanpa khawatir caci penghinaan. Ada tempat, setidaknya dan seburuknya, untuk berbagi cerita.

Selamat ulang tahun Loenpia. Tetaplah menjadi tempat menyenangkan untuk berbagi resah. Berbagi ilmu. Berbagi kisah. Dan apabila anda beruntung.. juga berbagi cinta.

Personal message:
Maaf bila tidak selalu bisa hadir. Tidak selalu bisa terlibat.

Thursday, October 9, 2008

ada peri di tumpukan serbuk kopi

Kawan, aku pikir, penyakit gilaku mulai kambuh.
Kegilaan yang berawal dari simpul syaraf otak yang berhimpitan tak beraturan. Saling menindih. Mencoba untuk saling menjegal. Melenyapkan. Mengapungkan. Menghapus. Merekonstruksi ulang. Sebagian menginginkan wajah itu ada. Tapi sepasukan lain berjuang keras untuk melenyapkannya.
Tidak jelas siapa yang menang dalam pertempuran ini. Dan akibatnya, hampir sepanjang malam ini, aku pusing harus berlarian kesana kemari. Ketika simpuls saraf lupa yang di atas angin, seurat kelegakaan dan persiapan tidur segera aku gelar. Tapi tak berapa lama, pasukan syaraf ingat berhasil menguasai keadaan. Aku pun dipaksa untuk menggulung kembali tenda dan alas tidur yang telah tergelar.
Dan, kawan, percayalah, sepanjang malam ini, aku hanya berpindah dari 2 kegiatan menjengkelkan itu. Seperti tombol on off yang sedang dimainkan oleh bocah nakal kurang kerjaan. Jadinya, beginilah hasilnya, pukul 1:34 aku terbangun, terjebak kembali dalam nostalgia: antara menelpon dia atau tidak.

Kawan, andai kamu penasaran, siapa gerangan lakon dari pertempuran dalam jiwa ini. Siapa pemilik wajah yang telah membuat beribu-ribu armada infantry syaraf berbaris untuk saling menyerang. Berebut menghancurkan.
Siapa pemilik senyum yang kembali membuat aku mengaduh tersungkur dalam dramatisasi kekalahan.
Siapa pemilik jiwa yang karenanya aku harus membuat perjanjian dengan dewa langit paling kuat agar menahan jari tanganku untuk tidak menarikan tuts berkirim sms kepadanya.
Siapakah wanita jahanam sialan memuakkan itu yang gara-gara dia aku harus terhuyung-huyung menuang air ke dalam panci, memutar tombol on, dan meringkuk menunggu air mendidih untuk sekadar membuat kopi. Semata-mata agar ada temen yang menemani curahan hati di malam pukul 1: 38 ini.

Apakah wajah dia begitu mulia? Apakah dia salah satu pelarian dari penduduk surga? Apakah ia putri dari dewa yang sedang menjalani ujian dengan mendamparkan diri di dunia? Ataukah dia hanya sekadar perempuan pencuri yang dengan tega mencokel kulit wajah peri untuk kemudian dipakainya?

Ah, masa bodoh dengan itu semua. Persoalan mendesak sekarang adalah bagaimana aku memperkuat barisan pasukan lupa untuk memperdahsyat serangannya. Ada baiknya aku menjatuhkan bom APC agar otak ini terberai dalam tidur panjang. Atau hujan serbuk kopi yang akan segera menghantam pertahanan mataku. Atau mungkin aku bersiap diri dengan tajam belati. Berlari menebas jarak yang hanya beberapa meter. Menyibak dingin yang mengapung. Mendobrak lurus ke dalam. Menghujamkan sebuah cium sebelum kemudian takjib larut dalam drama pembantaian.
Dan esok harinya, kampung akan tenggelam dalam satu buah cerita saja: seorang wanita terbunuh dengan luka gigit di bibir dan sebuah sobekan lebar di dada.

Ah, apapun itu, kau membuat aku terjaga malam ini.

Wednesday, September 3, 2008

Thank you

Apapun yang Tuhan berikan kepada kita, itu adalah sebuah karunia. Rembesan air mata yang mengalir ketika seseorang menyentuh hati kita dengan perbuatan kecil indahnya. Tangis yang meledak ketika apa yang kita sangkakan baik ternyata berbalik menikam. Atau sebentuk ledak bahagia ketika dunia berbaik hati mengirimkan bunga tulip basah di pagi hari. Ketika hari yang terang bergulung menjadi malam pekat yang memanjang, sejatinya, itu pun sebuah hadiah. Setidaknya, di balik lipat baju malam, kita bisa merebahkan jiwa dan raga yang lelah. Meringkuk berlindung. Mencari sebuah kehangatan. Untuk terbangun esok hari dengan senyum yang kembali cerah. Badan yang kembali segar. Dan semburat tekad untuk berbuat yang terbaik di hari itu.
Disadari atau tidak, Tuhan, dengan segala bahasa-Nya, memberi kita kejutan dan hadiah setiap detiknya.

Perlu sebuah keberanian untuk mencintai. Dan perlu lebih banyak lagi keberanian untuk membiarkan rasa itu terlihat oleh orang lain. Ada hangat haru yang mengalir ketika aku membaca deret demi deret kalimat itu. Sebuah kejujuran yang terbuka. Meski sebenarnya, kamu tidak sepenuhnya pandai berpura-pura selama ini. Tapi apapun itu, lipat lembar itu putih itu adalah salah satu hal indah yang pernah terjadi dalam hidupku.
Rindu, benci, sayang, atau apapun warna rasa warna jiwa kita, bila kita memaknainya dengan sungguh, adalah sebuah karunia. Dan, apakah pantas bila mendustai karunia tersebut dengan menyangkalnya? Dengan berpura-pura semua baik-baik saja sementara sebuah tungku rasa membakar jiwa kita dan siap meledakkannya kapan saja?
Kita tidak sepantasnya menjadi manusia yang impulsif. Meski, jujur, aku menghabiskan bilangan tahun untuk belajar menjadi manusia yang reaktif, tapi sampai sekarang belum menamatkan pembelajaran itu. Betapa susahnya membiarkan orang lain mengetahui apa yang kita rasakan. Seolah kita berpikir, ketika cairan jiwa itu meleleh keluar, ia akan membakar seisi dunia. Semua orang akan berbalik memusuhi kita. Menertawakan kita. Meski sebenarnya kita tahu, bahwa bayangan itu hanyalah perasaan yang membodohi kita.

Tak ada yang salah dengan mencinta. Sama seperti tidak ada yang salah ketikakita membiarkan rasa itu menyelinap keluar mencari pasangannya. Dan sekali lagi, aku sangat berterima kasih dan terharu mendapat kehormatan seperti itu.

Kawan, cinta dan benci bukanlah sepasang saudara yang ditakdirkan hidup berpasangan. Tidak semua yang bermula dengan cinta harus diakhiri dengan sebuah kebencian. Jika kita bisa menghadirkan damai dan tentram sebuah pertemenan, kenapa kita musti menghancurkannya atas nama kebencian. Manusia terpilih bukanlah ia yang bisa hidup bahagia tanpa persoalan. Tapi bagaimana ia mengambil jeda ketika persoalan mendera, dan kemudian merefleksikan keindahan pribadinya. Mengapa kita yang terbangun di pagi hari, lalu mendapati hangat matahari meremas kulit wajah dan tubuh kita, lalu menjadi murka hanya karena kilau sinar itu merembet menyilaukan pupil mata kita?

Meski saat ini rasa itu belum bertaut, aku tetaplah pribadi yang sama. Aku tetap orang yang menjengkelkan, yang akan selalu mengusili kamu tiap kali kamu melintas. Tak ada yang berubah dari kualitas pertemanan kita. Hangat itu tetap ada di sana. Selalu di sana.

Ada banyak cara mulia untuk menjalani kehidupan. Status hanyalah sebuah jalan. Hangat kasih dan ketulusan yang selalu ada untuk sesama, adalah bentuk syukur terbaik untuk apa yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Sekali teman, tetaplah teman. No matter what happen.

Saturday, March 15, 2008

Bait-Bait Cinta

Photobucket

Ketika semakin tua, kita sepertinya semakin lambat untuk menangkap waktu. Kita tak lagi segesit dulu untuk bisa menangkap dan mengurungnya. Saat tangan kita baru mengapai, sang waktu telah terbang melesat. Waktu ibarat burung yang gesit menghindar ketika tangan kita bergerak menggapai untuk mengurungnya. Waktu terasa berjalan begitu cepat.
Kita menginginkan waktu diam. Terkurung dalam sangkarnya. Sehingga kita masih punya kesempatan untuk mencecap aroma teratai yang berhembus lewat percikan telaga. Masih terjaga kekuatan dan ketampanan kita. Dan masih ada kesempatan untuk menghafal lekuk tubuh dia. Menikmati setiap kehidupan yang tumbuh ketika kasih orang yang kita cintai meneteskan embun pemuas dahaga jiwa.
Tapi rupanya kita sudah terlalu lambat untuk menangkap sang waktu.

Pun demikianlah… burung waktu tetap beterbangan riang hingga tak terasa, sudah tiga tahun aku mengenal dia. Sosok anggun yang karenanya keperjakaan ini aku jaga. Lima tahun melesat begitu cepat. Secepat busur Arjuna yang merajam tubuh Bisma. Sepertinya baru saja kemarin Dewi Ratih mengejangkan perutnya, mendorong sesosok bidadari yang karenanya kecantikannya angin berhenti bertiup, air sungai berhenti mengalir, burung berhenti berkicau, dan panah serta gada Pandawa berhenti menghancurkan dada.

Burung waktu, rupanya, terbang dan tetap terbang semakin tinggi. Bergerak semakin menjauhi tempat pertama kali ia menghentakkan kaki.

Aku masih saja menyimpan getaran rasa ketika pertama kali dunia menghadirkan dia di depanku. Pertemuan yang begitu tiba-tiba. Tanpa rencana. Tanpa banyak kata-kata.

“Rama.”
“Sinta.”

Hanya itu. Tak lebih.
Tapi, saat itu, aku tahu, bahwa panah itu telah tertancap di sana. Buddy, I’m in love. Greattt. Hati ini bisa robek juga. Sesaat tak percaya, tapi darah cinta telah mengucur membasahi jiwaku. Apakah telah tiba saat untuk merogoh jiwa dan menyerahkannya pada sang dewi Sinta. Cinta-ku.

Dia begitu luar biasa. Kecantikan dia berpejar meremas hati. Ketika dia tersenyum, beribu-ribu malaikat seolah meletupkan cairan hangat menggenangi bumi. Senyum yang tersulam demikian teduh. Indah. Udara akan membeku ketika senyum itu terkulum menghangati dunia. Seolah tertambat oleh tali suci, burung-burung terpatri kaku di langit-langit nirwana. Wajah-wajah garang prajurit peminta nyawa luruh menjadi sosok manja rengek bocah yang terdiam menetek susu ibunya.
Beribu kunang seolah menyepuh kulitnya, membungkusnya dalam tabir pancaran cahaya suci. Melindungi halus kulitnya dari percikan noda. Cahaya kulitnya menerabat keluar. Menyusup ke dalam relung setiap hati manusia. Menawarkan sebentuk kehangatan. Sebuah perlindungan. Sebuah keteduhan. Sesosok tangan mungil yang akan mengangkat siapapun yang sedang jatuh, mengusap air mata yang sedang menangis, dan tanpa lelah mengabarkan kepada dunia, bahwa selalu ada pancaran kehangatan dalam dunia.

Rambutnya yang sebahu tergerai seperti ayunan yang akan melemparkan kita ke dalam elok taman penuh wangi bunga. Taman yang pekat dengan keindahan, dimana mengalun suara-suara anak kecil bermain, sesosok wanita tua tampak lekang menatap foto tampan anaknya, sepasang kekasih yang sedang berciuman, dan lebah yang tak bisa terbang karena bibir bunga erat menghisap bibir dia.

Tak ada cela dalam penciptaan dia. Dunia seolah memamerkan kehebatannya. Sebuah mahakarya yang karenanya damai dan indah dunia tetap bisa tercecap, terjaga, dan terus mengalir membasahi sungai kehidupan. Sungguh sebuah kesempurnaan penciptaan.

Aku hanya bisa terdiam ketika itu. Membiarkan keindahan itu meletupkan dirinya dan kemudian berpedar meninggalkanku. Aku hanya mengumpati diri sendiri ketika menyadari dia tak lagi berada di depanku.

“Sinta.” Suara lirihku bergetar. Dan ketika mata ini sanggup kembali melihat sekelilingku, angin telah menerbangkan bidadari itu pergi.
Siapa dia. Pertanyaan itu pun menyandera prajurit pengontrol pikiranku. Membuatku tak bisa berpikir lain selain keinginan untuk bertemu dan terus merasai kembali keindahan itu.

Tahukah kamu, siapa sejatinya Sinta yang karenanya aku rela menyeberang samudera, berperang mengalahkan kesaktian Dasamuka. Duduklah sebentar. Cobalah untuk tersenyum. Hanya tersenyum. Sebuah senyuman yang tulus. Tanpa dibuat-buat.
Atau cobalah untuk sekedar mengamati kulit kamu. Berdiamlah di tempat yang gelap. Tanpa cahaya.

Apa yang kamu lihat dan kamu rasakan, dewi Sinta-ku?

Dunia rupanya mengutus engkau untuk menghancurkan kesombonganku. Menumbangkan ketampanan yang selama ini tak tersentuh oleh sebuah makhluk pun. Ketika bersamamu, damai itu aku rasakan. Aku tak keberatan untuk melepaskan semua kedirianku, berlari telanjang ke dalam pelukan kamu. Hanya dengan membawa sebuah hati. Sebuah niat yang suci.
Sosok angkuh ini tak lagi malu untuk menjongkokkan diri. Mengakui bahwa sekelebat panah tak lagi mampu ia pentalkan menjauhi dinding jiwanya. Mengakui bahwa ia tak lagi mampu menjaga setiap jengkal jiwa dia.

Darah terus mengucur dari hati sang ksatria. Ia pun mengaduh. Meratap. Mengharap sang dewi datang. Menambal lubang dihatinya dengan sebuah rajutan cinta.

Selama lima tahun, aku berupaya menghentikan sang waktu. Menangkap dirimu agar selalu lekang dalam pikiranku. Tapi aku sadar, waktu semakin menua, dan aku tak akan lagi punya kuasa untuk terus mengejar waktu.
Untuk itulah, dewi, saat ini aku datang. Tak ada tentara atau samudera yang aku seberangi memang. Aku hanya berbekalkan satu panah mulia yang selama ini selalu ku simpan dalam setiap peperanganku. Panah yang hanya akan kucabut dari warangkanya ketika aku menemukan musuh yang sepadan. Musuh yang sanggup meneteskan darah dari jiwaku.

Sinta, busur itu aku rentangkan. Panah mulia telah terpasang di sana. Sediakan dadamu, kekasih. Darah cinta dan kesetiaan penuh membasahi panah cinta ini.

Aisha, aku sayang sama kamu. Maukah kamu menjadi kekasihku?

Monday, March 10, 2008

Apakah (bukan) ini...

Photobucket

Tiba-tiba aku jadi tak acuh dengan dia. Entahlah. Rasa yang digelontorkan sedemikian vulgar. Gejolak yang dituangkan terlalu awal. Hentakan hasrat yang dikirim secara bertubi: rupanya bukanlah sesuatu yang aku nanti.

Aku memang merindui akan hadirnya sebentuk rasa. Tapi.. bukan rasa yang seperti ini. Bukan rasa yang diucap secara liar. Bukan rasa yang dibungkus dalam sebuah letup jiwa transparan.

Aku memang ingin mencinta. Tapi aku merindukan sebuah cinta yang dibalut dalam rona sederhana. Bukan cinta yang menderu. Bukan riak yang menghantam tanpa peduli siang atau malam.

Bukanlah aku berungkali berucap: ajari aku kembali cara untuk mencinta. Tidakkah itu terucap cukup jelas? Aku tidak meminta untuk diajari hasrat yang menggelora. Atau emosi yang meletup. Atau hasrat yang terlepas dari tali kekangnya. Bukan.. bukan itu yang aku pinta.

Mungkin tak adil bila aku meminta kamu untuk mengerti. Atau setidaknya belajar untuk mengerti. Sama dengan tidak adilnya kamu untuk terus merecoki aku dengan igau rasa yang melumuri bibir dan hatimu. Aku berharap kita bisa bertaut rasa dengan tiada banyak berucap. Cukup dengan menengok hati melalui tatap mata. Atau sekadar bertukar hasrat melalui bahasa jiwa yang terkoyak. Tapi.. ah, ternyata, memang aku belum bisa terbebas dari kepungan egois jiwa.

Dan bila akhirnya aku memilih untuk menunduk, membiarkan rasa yang aku sangkakan akan menderu itu kembali menelungkup, aku tidak bisa meminta lebih lagi. Aku tak bisa memaksakan kamu memaknai sesuatu berdasarkan kemauanku. Tapi, aku juga tak kuasa untuk paksakan hatiku mengikuti deras rasa hatimu. Biarlah setelah semua keributan yang pernah tercipta itu, tercipta kehengingan yang sublim. Keheningan yang, semoga, bisa menyadarkan kita akan apa yang sebenarnya kita tunggu selama ini. Akan hadirnya sebentuk rasa. Sesosok jiwa. Sebentuk hangat keteduhan yang berujud dalam rupa manusia.

Bila memang tidak malam ini, semoga saja malam berikutnya. Dan bila saja tidak dengan aku atau kamu, semoga saja dengan dia yang ada di tikungan hidup di kelokan jalan hidup kita berikutnya.


Yakinlah.. Ketika waktunya tiba, semua akan menjadi indah.

Friday, February 29, 2008

quiet..

malam yang mematung begitu sublim. begitu hilir. membius. tergolek seperti potongan paha perawan. kejernihan yang membingkainya, memunculkan berbagai segala dekik dan lekuk rasa dan luka. sungguh, betapa sebuah kesunyiuan yang mengangga. apakah ini terjemahan dari 'ketiadaan kehidupan?'

satu persatu, mereka mulai berpamitan. ada yang karena lelah telah mendera. ada yang karena sebuah telepon panggilan cinta. ada juga yang menghela begitu saja. ah, seorang teman yang menjanjikan diri untuk menemani, tiada juga kunjung aku temui kembali. malam menjauhkan semua. hanya menyisakan sepi yang perlahan mulai merambatkan rasa ngilu merambat di hati.

ah, aku masih saja bersetia disini. atas nama sebuah pengabdian. atas nama sebuah keyakinan. dan sebongkah besar rasa percaya akan tidur yang damai sesudah badai ini menepi. bukankah setelah tornado yang mengganas, akan hadir sebuah ketenangan yang menentramkan?

semua boleh pergi. semua boleh berlalu. tapi esok hari, ketika pintu itu membuka, wajah baru akan menghadirkan sapaan hangat. demikian hangat, sehingga dingin malam ini tiada lagi tersisa di hati.

selamat malam semua. semoga Tuhan tetap menyayangi kita.

Monday, February 4, 2008

Kangen..

'... apapun yang terjadi, kamu tetaplah teman, sahabat, kakak, .......- ku yang paling baik.'

Betapa cepatnya waktu berlalu. Dan betapa cepatnya warna hati berubah. Dan, acapkali, kita tanpa daya harus mengunyah apa yang alam berikan. Meski, teramat tidak ingin kita menginginkannya.

Aku merindui dia saat ini. Sangat.
Semoga segala kebaikan Allah dilimpahkan kepadamu, adik.