Tak cukup lama kita bersitatap. Mungkin, sekitar 6 jam. Aku tahu selama itu karena kita menghabiskan 2 voucher. Dalam malam yang mendekati puncak, kita pun tidak sepenuhnya bercakap. Hanya deret kata yang datang dan pergi menyapa lewat layar monitor. Meski kita duduk berhadap. Tapi, ah, entah mengapa, rasanya lebih asyik bila percakapan itu kita lakukan lewat lompatan huruf.
Aku terkesan dengan keramahan kamu. Sebuah kesan yang kemudian mengental, mengantung di sudut jiwa. Memantul-mantul menabrak ketenangan batinku. Dengan seyum yang manis, kamu tawarkan bantuan membantu menancapkan stop kontak. Tidak terlalu istimewa, memang. Tapi keramahan itu, begitu mengusik jiwaku. Hingga kemudian, dengan beberapa tatap, aku sering mencuri pandang ke arahmu. Ah, betapa kebaikan selalu menghadirkan kesan yang demikian menawan.
Lalu demikianlah, selalu tercipta keberanian begitu keindahan telah memanggil. Aku pun kemudian mendapatkan alamat YM kamu. Walau sungguh, sampai sekarang, aku belum tahu darimana aku dapat keberanian itu. Absolutely, it’s not me, not my style. Sampai sekarang, aku masih mempercayai, bahwa aku penganut mahzab slow but sure. Aku bukanlah tipe offensive. Tapi, entahlah. Malam itu, ketika keheningan semakin menyembul seiring pengunjung yang menipis, aku seperti kesebelasan Barcelona yang demikian elegan memamerkan formasi 4-3-3. Eextremely offensive.
Mendadak, aku merasa demikian dekat dengan kamu. Beberapa saat lamanya aku tidak mengetahui darimana asal muasal perasaan ini. Hingga kemudian, setelah lebih utuh mengamati gerak-gerik kamu, aku tersadarkan, kamu begitu mirip dengan orang dari masa laluku. Just like de javu. Perasaan yang dulu pernah mengental, yang kemudian mencari, sontak mengental lagi begitu mendapati kondisi yang serupa.
Betapa teramat benar kata seorang teman, kenangan masa lalu, ibarat sebuah cermin yang retak. Dan dengan segala daya, dengan segala alasan, kita selalu membuat cermin itu tampil utuh. Begitu melihat tingkah kamu, cermin yang retak itu pun tersambung utuh kembali. Ah, tidak disangka, romansa dapat menjadi demikian menggoda.
3 malam berlalu sejak saat itu..
Aku menjadi mudah merindukan bayang kamu. Wajar memang. Hingga kemudian aku tersadarkan. Aku tidaklah menyukai kamu sebagai diri kamu. Ada dia dalam perwujudan diri kamu. Biarlah aku melepas bayang dia terlebih dahulu, baru kemudian aku hadir kembali untuk meraih cinta kamu.
Apabila nanti aku tidak membalas sms kamu, tidak mengirim pulang kata-kata yang kamu kirim di YM, lebih memilih membiarkan telepon berdering seharian daripada mengangkatnya, itu bukan karena aku tidak peduli. Karena, sungguh, aku demikian peduli. Bukan juga karena aku tidak mau, betapa sungguh aku menantikannya.
Semua itu, hanya karena, aku ingin mencintai kamu sebagai diri kamu sendiri. Maukah kamu menunggu hingga aku dapat menyembuhkan diriku? Lepas dari bayang dia dan berlari sepenuhnya dalam pelukan kamu?
Maukah kamu menunggu?
Sunday, February 8, 2009
Monday, February 2, 2009
get well soon, grandma?
Nenek sudah tertidur. Meski teramat aku ingin menyentuh pundaknya, memberitahunya bahwa air yang aku masak telah mendidih. Lima menit yang lalu, ia mengeluhkan kakinya yang terkulai tak berasa. Rembesan air hangat mungkin dapat mengembalikan tenaga yang mengelana, demikian pinta nenek. Aku bangun. Meninggalkan monitor, menuangkan air ke dalam panci.
Nenek tertidur menyamping. Lampin, pampers untuk orang dewasa, terlihat jelas menutup bagian bawah tubuhnya. Biarlah aku menunggu. Sudah beberapa malam ini nenek tidak bisa tidur.
Dari meja di ujung kamar, aku memandangi tubuh tua itu. Teramat ingin aku mengguncang pundaknya, membantunya bergerak, dan kemudian menyapukan air hangat ke segala kulit riputnya.
10 menit, selalu seperti itu, pasti ia akan terbangun. Saat itu sajalah nanti, aku bilang ke nenek bahwa airnya telah siap.
Nenek tertidur menyamping. Lampin, pampers untuk orang dewasa, terlihat jelas menutup bagian bawah tubuhnya. Biarlah aku menunggu. Sudah beberapa malam ini nenek tidak bisa tidur.
Dari meja di ujung kamar, aku memandangi tubuh tua itu. Teramat ingin aku mengguncang pundaknya, membantunya bergerak, dan kemudian menyapukan air hangat ke segala kulit riputnya.
10 menit, selalu seperti itu, pasti ia akan terbangun. Saat itu sajalah nanti, aku bilang ke nenek bahwa airnya telah siap.
The Brave One
Setelah sebuah peristiwa buruk menerpa, masihkah kita akan menjadi pribadi yang sama. Ataukah, seseorang asing, makhluk yang tidak pernah kita sadari sedari lama berdiam dalam diri, akan bangkit, dan mengambil alih kesadaran kita. Ia memakai tangan, kaki, mata, kepala kita untuk melakukan apa yang menjadi keinginannya. Hingga akhirnya, ia akan menguasai diri kita.
Erica Bain, diperankan dengan sangat apik oleh Jodie Foster, hanya dapat menutupi wajah dan tubuh dengan tangannya ketika besi, tangan, dan kaki penjahat jalanan terus menghujaminya. Tak ada yang dapat ia lakukan selain melolong, meminta ampun, dan melakukan perlawanan semampunya. Sementara tak jauh darinya, David, sang kekasih, berada dalam kondisi yang jauh lebih mengenaskan darinya. Di antara salak Boy, anjing mereka yang terkapar terkena tendangan, para penjahat jalanan tersebut terus berpesta pora menyiksa sepasang kekasih tersebut.
Terbangun dari tidak sadar selama 3 minggu di rumah sakit, Erica harus mendapati kenyataan bahwa sang kekasih tidak terselamatkan. David meninggal ketika mereka tengah berbunga menyiapkan segala hal menuju pesta perkawinannya.
Tak banyak yang dapat kembali bangkit setelah sebuah peristiwa buruk. Tapi Erica melakukannya. Ia bangkit kembali. Meski dengan sebuah kenyataan pahit, ia tidak dapat kembali mendapati dirinya yang dulu. Erica yang berhati lembut, yang tidak berani keluyuran sendiri, yang menyimpan takut di hatinya, telah terkubur mati bersama dengan timbunan tanah yang menguruk tubuh David, kekasihnya. Erica yang meski kembali berjalan ke EKW, stasiun radio tempatnya bekerja, adalah Erica yang tidak lagi mengenal rasa takut. Erica sekarang adalah Erica yang selalu bertemankan dengan pistol caliber 9 mm di tas gantung hitamnya. Erica yang dengan tangan gemetar meledakkan kepala lelaki brengsek yang menyiksa kekasihnya. Erica yang kemudian dengan dingin merobohkan dua preman yang menanyaianya apakah dia pernah bercinta dengan pisau. Tangan yang dulu gemetar memegang pistol itu, sekarang makin tepat mengarahkan sasarannya. New York tidak mengetahui keberadaan makhluk asing dalam tubuh Erica. Mereka, lewat para jurnalis, hanya mengenalnya dengan julukan ‘hakim jalanan.’
Misi dendam Erica akhirnya tertuntaskan. Mereka yang menyiksa ia dan David diketemukan polisi. Ketika diminta untuk mengidentifikasi, ia sengaja berbohong dengan tidak mengatakan mengenal penjahat yang menyiksa dia dan David. Di antara bibirnya yang terkantum menahan getar dendam, ia telah menyiapkan sebuah penghakiman jalanan. Dalam sebuah lorong di keremangan malam, makhluk asing dalam tubuh Erica menemukan puncak pestanya ketika dengan sebuah teriakan garang, pistol legal pinjaman Detektif Mercer meledakkan kepala penjahat jalanan.
Dendam telah tuntas. Akankah semua akan kembali baik-baik saja? Erica telah melangkah demikian jauh. Ia tidak mampu kembali. Peristiwa pahit itu telah mengubah diri dan hidupnya. Ketidakmampuannya menerima kenyataan, ketidakberdayaannya untuk kemudian memutuskan meneruskan balas dendam, telah membuatnya menyerahkan diri dan kesadaran pada makhluk asing yang berdiam di tubuhnya.
Hingga kemudian, setelah semuanya usai, ia tidak dapat kembali mengenali jalan pulang. Tidak ada lagi jalan untuk kembali menjadi seperti yang dulu. Apa yang ada dulu telah menjadi orang lain. Sesuatu yang berada di tempat lain. Makhluk itu, orang lain itu, kini menguasainya.
Teramat benar, selalu ada makhluk asing dalam diri kita. Ia akan terbangun, ketika diri kita sekarang, tidak lagi cukup mampu mengkrabi realita. Sekali kita menyerah, maka tubuh kita akan menjadi tempat berpesta makhluk itu, orang lain itu.
Atau akankah ada The Brave One seri 2 dimana akan akan tercipta sebuah pengecualian, bahwa, masih ada yang dapat kembali setelah peristiwa buruk yang terjadi. Pemainnya? Bisa saja diri Anda sendiri.
Erica Bain, diperankan dengan sangat apik oleh Jodie Foster, hanya dapat menutupi wajah dan tubuh dengan tangannya ketika besi, tangan, dan kaki penjahat jalanan terus menghujaminya. Tak ada yang dapat ia lakukan selain melolong, meminta ampun, dan melakukan perlawanan semampunya. Sementara tak jauh darinya, David, sang kekasih, berada dalam kondisi yang jauh lebih mengenaskan darinya. Di antara salak Boy, anjing mereka yang terkapar terkena tendangan, para penjahat jalanan tersebut terus berpesta pora menyiksa sepasang kekasih tersebut.
Terbangun dari tidak sadar selama 3 minggu di rumah sakit, Erica harus mendapati kenyataan bahwa sang kekasih tidak terselamatkan. David meninggal ketika mereka tengah berbunga menyiapkan segala hal menuju pesta perkawinannya.
Tak banyak yang dapat kembali bangkit setelah sebuah peristiwa buruk. Tapi Erica melakukannya. Ia bangkit kembali. Meski dengan sebuah kenyataan pahit, ia tidak dapat kembali mendapati dirinya yang dulu. Erica yang berhati lembut, yang tidak berani keluyuran sendiri, yang menyimpan takut di hatinya, telah terkubur mati bersama dengan timbunan tanah yang menguruk tubuh David, kekasihnya. Erica yang meski kembali berjalan ke EKW, stasiun radio tempatnya bekerja, adalah Erica yang tidak lagi mengenal rasa takut. Erica sekarang adalah Erica yang selalu bertemankan dengan pistol caliber 9 mm di tas gantung hitamnya. Erica yang dengan tangan gemetar meledakkan kepala lelaki brengsek yang menyiksa kekasihnya. Erica yang kemudian dengan dingin merobohkan dua preman yang menanyaianya apakah dia pernah bercinta dengan pisau. Tangan yang dulu gemetar memegang pistol itu, sekarang makin tepat mengarahkan sasarannya. New York tidak mengetahui keberadaan makhluk asing dalam tubuh Erica. Mereka, lewat para jurnalis, hanya mengenalnya dengan julukan ‘hakim jalanan.’
Misi dendam Erica akhirnya tertuntaskan. Mereka yang menyiksa ia dan David diketemukan polisi. Ketika diminta untuk mengidentifikasi, ia sengaja berbohong dengan tidak mengatakan mengenal penjahat yang menyiksa dia dan David. Di antara bibirnya yang terkantum menahan getar dendam, ia telah menyiapkan sebuah penghakiman jalanan. Dalam sebuah lorong di keremangan malam, makhluk asing dalam tubuh Erica menemukan puncak pestanya ketika dengan sebuah teriakan garang, pistol legal pinjaman Detektif Mercer meledakkan kepala penjahat jalanan.
Dendam telah tuntas. Akankah semua akan kembali baik-baik saja? Erica telah melangkah demikian jauh. Ia tidak mampu kembali. Peristiwa pahit itu telah mengubah diri dan hidupnya. Ketidakmampuannya menerima kenyataan, ketidakberdayaannya untuk kemudian memutuskan meneruskan balas dendam, telah membuatnya menyerahkan diri dan kesadaran pada makhluk asing yang berdiam di tubuhnya.
Hingga kemudian, setelah semuanya usai, ia tidak dapat kembali mengenali jalan pulang. Tidak ada lagi jalan untuk kembali menjadi seperti yang dulu. Apa yang ada dulu telah menjadi orang lain. Sesuatu yang berada di tempat lain. Makhluk itu, orang lain itu, kini menguasainya.
Teramat benar, selalu ada makhluk asing dalam diri kita. Ia akan terbangun, ketika diri kita sekarang, tidak lagi cukup mampu mengkrabi realita. Sekali kita menyerah, maka tubuh kita akan menjadi tempat berpesta makhluk itu, orang lain itu.
Atau akankah ada The Brave One seri 2 dimana akan akan tercipta sebuah pengecualian, bahwa, masih ada yang dapat kembali setelah peristiwa buruk yang terjadi. Pemainnya? Bisa saja diri Anda sendiri.
Thursday, January 29, 2009
Matatari
Aku kembali melihat peremuan itu. Tetap saja ia muncul dengan balutan aura yang sama. Cantik. Fresh. Mempesona. Menarik hati dan tangan untuk menjulur memetiknya. Dengan letup bibir yang tertata menggoda, ia menjawab manja setiap pertanyaan yang merambati layar laptop Tukul Arwana. Sesekali matanya mengejap. Tawanya yang renyah pun acap tersaji keluar, menambah pesona dan sempurna semampai raganya.
Ketika akhirnya ia berkesempatan mendendangkan lagu kesukaannya, Inikah Cinta yang dipopulerkan oleh ME, gelak kilau ratu pesta segera saja tergelar. Tariannya demikian ringan. Tangannya bergerak seirama dengan hentakan kaki. Tubuhnya sesekali bergetar menebar goyang menggoda. Dan di atas leher jenjang bertaut untai kalung memikat, mata dan bibirnya tiada henti menebar bius merenggut kesadaran jiwa setiap mata yang melihatnya.
Aku teramat ingin mengabadikan detil gerak itu. Hanya saja, aku tidak melihatnya lewat laptop. Televisiku tidak cukup canggih untuk dapat merekam momen tersebut. Jadilah mataku berkontraksi 3 x lebih kuat. Seperti camera 8 MP dengan 15 x zoom, retina itu menangkap tiap detil frame gerakan Cut Tari, berjumpalitan mengirimkannya ke sensor otak, yang kemudian mempekerjakan berjuta electron untuk membuka tabir memori ingatan.
Cut Tari memang mempesona. Masih teringat jelas, bagaimana aku dulu kerap menghidupkan televise ruang kantor tepat menjelang pukul 12.00. Betapa aku tertawan untuk mengecap tiap goyang badan Tari tiap ia usai membawakan acara infotainment Insert Siang. Sesaat setelah salam penutup diucapkan, ketika rambat teks tim redaksi mulai merambati monitor, musik penutup akan mulai berdentum. Saat itulah, di balik meja siarnya, dengan kaki terbuka yang terjulur menggoda menyembul di balik meja, dengan gaun yang selalu tampil membuka, bibir ranum basah menggoda, kerlingan mata yang tiada henti mengejap, ia akan menggoyangkan bahu dan tangannya. Hingga akhirnya, keindahan itu akan ditutup dengan derail tawanya yang membuncah ketika pasangan penyiarnya cukup mampu mengimbangi gerakan liarnya.
Ah, Tari, meski sekarang aku melihatmu tampil di waktu malam, tapi cahayamu tetap saja benderang. Dunia punya cahaya bernama matahari. Dan, layar kaca, punya kilaunya sendiri berlabel matatari.
Ketika akhirnya ia berkesempatan mendendangkan lagu kesukaannya, Inikah Cinta yang dipopulerkan oleh ME, gelak kilau ratu pesta segera saja tergelar. Tariannya demikian ringan. Tangannya bergerak seirama dengan hentakan kaki. Tubuhnya sesekali bergetar menebar goyang menggoda. Dan di atas leher jenjang bertaut untai kalung memikat, mata dan bibirnya tiada henti menebar bius merenggut kesadaran jiwa setiap mata yang melihatnya.
Aku teramat ingin mengabadikan detil gerak itu. Hanya saja, aku tidak melihatnya lewat laptop. Televisiku tidak cukup canggih untuk dapat merekam momen tersebut. Jadilah mataku berkontraksi 3 x lebih kuat. Seperti camera 8 MP dengan 15 x zoom, retina itu menangkap tiap detil frame gerakan Cut Tari, berjumpalitan mengirimkannya ke sensor otak, yang kemudian mempekerjakan berjuta electron untuk membuka tabir memori ingatan.
Cut Tari memang mempesona. Masih teringat jelas, bagaimana aku dulu kerap menghidupkan televise ruang kantor tepat menjelang pukul 12.00. Betapa aku tertawan untuk mengecap tiap goyang badan Tari tiap ia usai membawakan acara infotainment Insert Siang. Sesaat setelah salam penutup diucapkan, ketika rambat teks tim redaksi mulai merambati monitor, musik penutup akan mulai berdentum. Saat itulah, di balik meja siarnya, dengan kaki terbuka yang terjulur menggoda menyembul di balik meja, dengan gaun yang selalu tampil membuka, bibir ranum basah menggoda, kerlingan mata yang tiada henti mengejap, ia akan menggoyangkan bahu dan tangannya. Hingga akhirnya, keindahan itu akan ditutup dengan derail tawanya yang membuncah ketika pasangan penyiarnya cukup mampu mengimbangi gerakan liarnya.
Ah, Tari, meski sekarang aku melihatmu tampil di waktu malam, tapi cahayamu tetap saja benderang. Dunia punya cahaya bernama matahari. Dan, layar kaca, punya kilaunya sendiri berlabel matatari.
Sebuah surat untuk Michael Heart
Tidak perlu bertemu untuk merasakan dekap hangat persaudaraan. Tidak perlu mengenal untuk menghadirkan dekap hangat kebersamaan. Apabila mata belum sempat bersitatap, kita masih punya telinga untuk mewakili berbincang. Ada banyak cara untuk membangun sebuah kedekatan. Ketika larit kepentingan kita berpijar pada garis yang sama, saat itulah nada-nada harmoni menyatu saling menguatkan langkah.
Seperti angin yang tetap menghangati batang-batang asing pohon yang ditemuinya, demikianlah suara kamu menyapa hatiku. Aku tidak mengenal siapa kamu. Tekad untuk berkunjung ke situs kamu pun belum sempat terurai menjadi bukti. Hasilnya, hingga malam ini, aku hanya mengenal suara kamu. Tapi, saudaraku, gubahan lagu kamu untuk Palestine, lebih dari cukup untuk mengaduk keseluruhan emosi jiwaku.
Aku memang tidak ada di sana untuk merasakan bagaimana roket menukik berurutan seperti langit berlubang yang menghamburkan air hujan. Aku juga tidak disana untuk menyeka peluh dan darah saudara muslim yang terberai di jalan-jalan Gaza. Setelah berminggu-minggu para perampok itu menjarah wilayah Gaza, aku masih saja hanya dapat melihatnya melalui layar berita.
Saudaraku, kamu benar adanya. Biar para Yahudi itu merubuhkan masjid, sekolah, dan rumah saudara kita di Palestina, tapi butuh lebih dari sekedar bom atau senjata kimia untuk merontokkan keyakinan dan semangat saudara-saudara kita. Serat Kalvin mungkin tepat untuk melenturkan laju peluru yang menghantam raga. Kulit kanguru boleh saja diklaim sebagai kulit paling kuat hingga direkomendasi menjadi baju para pembalap. Tapi, sejatinya, kulit para pejuang Palestine, adalah kulit terkuat yang pernah dicipta. Kekuatan ayat-ayat Allah yang mengalir di balik kulit-kulit para syuhada membuat hati mereka tak tersentuh oleh roket-roket jahanam Israel.
Terima kasih untuk telah menyulamkan nada menjadi perekat jiwa kami. Semoga Allah memberkati engkau, wahai saudaraku, Michael Heart.
Seperti angin yang tetap menghangati batang-batang asing pohon yang ditemuinya, demikianlah suara kamu menyapa hatiku. Aku tidak mengenal siapa kamu. Tekad untuk berkunjung ke situs kamu pun belum sempat terurai menjadi bukti. Hasilnya, hingga malam ini, aku hanya mengenal suara kamu. Tapi, saudaraku, gubahan lagu kamu untuk Palestine, lebih dari cukup untuk mengaduk keseluruhan emosi jiwaku.
Aku memang tidak ada di sana untuk merasakan bagaimana roket menukik berurutan seperti langit berlubang yang menghamburkan air hujan. Aku juga tidak disana untuk menyeka peluh dan darah saudara muslim yang terberai di jalan-jalan Gaza. Setelah berminggu-minggu para perampok itu menjarah wilayah Gaza, aku masih saja hanya dapat melihatnya melalui layar berita.
Saudaraku, kamu benar adanya. Biar para Yahudi itu merubuhkan masjid, sekolah, dan rumah saudara kita di Palestina, tapi butuh lebih dari sekedar bom atau senjata kimia untuk merontokkan keyakinan dan semangat saudara-saudara kita. Serat Kalvin mungkin tepat untuk melenturkan laju peluru yang menghantam raga. Kulit kanguru boleh saja diklaim sebagai kulit paling kuat hingga direkomendasi menjadi baju para pembalap. Tapi, sejatinya, kulit para pejuang Palestine, adalah kulit terkuat yang pernah dicipta. Kekuatan ayat-ayat Allah yang mengalir di balik kulit-kulit para syuhada membuat hati mereka tak tersentuh oleh roket-roket jahanam Israel.
Terima kasih untuk telah menyulamkan nada menjadi perekat jiwa kami. Semoga Allah memberkati engkau, wahai saudaraku, Michael Heart.
Apa yang kamu takutkan, Ros?
Sehabis ‘Bukan Empat Mata’, aku kelabakan mencari acara. Tumpukan DVD sudah habis. Kopi sudah bergelas-gelas tandas. Telingaku juga sudah bebal mendengarkan semburan musik. Aku renggut remote televise. Aku pencet sesukanya. Setelah beberapa kelebatan stasiun terlewatkan, sampai juga pada acara perbincangan dua wanita. Satu bertanya, satu menjawab.
Dalam acara Barometer di SCTV, Pemred Rosiana Silalahi sedang terlibat perbincangan serius dengan Megawati Soekarnoputri. Tidak perlu aku tambahkan ID untuk nama yang disebut terakhir tersebut.
Aku tidak terlalu berharap dengan Megawati. Ia bukan tokoh yang menginspirasi. Oleh sebab itu, refleks tangan ini ingin segera menghajar remote. Menghambur menjauh dari acara tersebut. Tapi sekian detik sebelum layar berganti, kamera memperlihatkan ruat Rosiana secara close up.
Di detik inilah, aku menangkap momen tidak seharusnya tersebut. Hm.. aku tidak suka dengan raut Rosiana. Bukan tampilan fisik wajah dia. Dengan sekali toleh pun, semua bersepakat, ia wartawati yang cantik. Tapi, dalam program tanya jawab itu, terlihat sekali Rosiana sangat kewalahan menjaga tutur wajahnya. Rosiana seperti sedang melakukan pasowanan. Jelas sekali ia dalam posisi ewuh pekewuh. Ia nampak tidak bahagia. Ia tertekan. Ia terbebani oleh status Megawati. Terang, ia sedang ketakutan.
Ingin sekali aku menjerit, hantam saja Ros. Apa yang kamu takutkan? Itu rumah kamu. Disitu kapabilitas kamu. Dan sudah menjadi tugas kamu, untuk menyajikan kesetaraan percakapan. Kenapa musti ewuh untuk mengajukan pertanyaan yang cukup sensitive? Kenapa musti menunduk-nunduk hormat dengan selalu menggoyangkan tubuh kamu ke segala arah? Gemas sekali aku melihat tindak tanduk Rosiana.
Aku yang sudah muak dengan tema percakapan itu, semakin ingin melempar sepatu menghantam monitor melihat cara Rosiana membawakan acara.
Ayo Ros, hantam saja, mana harimau SCTV yang selalu mengaum itu? Atau, haruskah aku mengirim rekaman bagaimana Jimmy Lehrer dari PBS, jaringan televisi non-profit Amerika, membawakan acara memandu debat Obama melawan Mc Cain?
Untung saja, pada akhirnya, aku menemukan film India di TPI.
Dalam acara Barometer di SCTV, Pemred Rosiana Silalahi sedang terlibat perbincangan serius dengan Megawati Soekarnoputri. Tidak perlu aku tambahkan ID untuk nama yang disebut terakhir tersebut.
Aku tidak terlalu berharap dengan Megawati. Ia bukan tokoh yang menginspirasi. Oleh sebab itu, refleks tangan ini ingin segera menghajar remote. Menghambur menjauh dari acara tersebut. Tapi sekian detik sebelum layar berganti, kamera memperlihatkan ruat Rosiana secara close up.
Di detik inilah, aku menangkap momen tidak seharusnya tersebut. Hm.. aku tidak suka dengan raut Rosiana. Bukan tampilan fisik wajah dia. Dengan sekali toleh pun, semua bersepakat, ia wartawati yang cantik. Tapi, dalam program tanya jawab itu, terlihat sekali Rosiana sangat kewalahan menjaga tutur wajahnya. Rosiana seperti sedang melakukan pasowanan. Jelas sekali ia dalam posisi ewuh pekewuh. Ia nampak tidak bahagia. Ia tertekan. Ia terbebani oleh status Megawati. Terang, ia sedang ketakutan.
Ingin sekali aku menjerit, hantam saja Ros. Apa yang kamu takutkan? Itu rumah kamu. Disitu kapabilitas kamu. Dan sudah menjadi tugas kamu, untuk menyajikan kesetaraan percakapan. Kenapa musti ewuh untuk mengajukan pertanyaan yang cukup sensitive? Kenapa musti menunduk-nunduk hormat dengan selalu menggoyangkan tubuh kamu ke segala arah? Gemas sekali aku melihat tindak tanduk Rosiana.
Aku yang sudah muak dengan tema percakapan itu, semakin ingin melempar sepatu menghantam monitor melihat cara Rosiana membawakan acara.
Ayo Ros, hantam saja, mana harimau SCTV yang selalu mengaum itu? Atau, haruskah aku mengirim rekaman bagaimana Jimmy Lehrer dari PBS, jaringan televisi non-profit Amerika, membawakan acara memandu debat Obama melawan Mc Cain?
Untung saja, pada akhirnya, aku menemukan film India di TPI.
Thursday, January 1, 2009
Rehat (lagi?)..
Puji syukur alhamdulillah, setelah sebulan berikhtiar menulis, akhirnya selesai juga novel pertama. Penyejuk Embun: sebuh novel penyembuh jiwa. Mohon doanya, semoga proses di penerbitan berjalan dengan lancar sehingga novel tersebut dapat segera meneteskan embunnya di hati kita semua.
Sekali lagi saya juga mohon doanya, semoga nenek (satu dari 3 malaikat hidupku) segera diberi kesembuhan. beliau terkena 'serangan stroke'. Nuwun.
Sekali lagi saya juga mohon doanya, semoga nenek (satu dari 3 malaikat hidupku) segera diberi kesembuhan. beliau terkena 'serangan stroke'. Nuwun.
Subscribe to:
Posts (Atom)