Hm.. aku menemukannya kala senja membentuk selendang yang melambai-lambai di angkasa. Di antara kerlip. Dalam keremangan yang tersulam sinar lampu restoran.
Sengaja aku datang lebih cepat dari kesepakatan. Setelah berdoa di gedung sebelah, nyasar sebentar karena baru pertama mengakrabi tempat itu, di tambah menunggu beberapa saat di kursi ‘waiting list’ aku pun duduk di meja nomer 3. Tak berapa jauh dari kasir. Menempel tepat di sebelah jendela.
Tempat duduk yang menyenangkan. Sesekali menikmati pengunjung lalu lalang, aku dapat melontarkan pandang keluar. Merasai senja yang turun berubah warna menjadi hitam.
‘Aku sudah mo sampe,' demikian tulisnya. Setelah beberapa kali bertukar pesan, akhirnya ia dapat melepaskan diri dari kemacetan. Ketika menyelesaikan comotan Garlic Bread ketiga, aku mendapati namanya berpedar di layar handphone.
‘Kursi nomor 3,’ demikian aku menjawab pertanyaannya. Dan, begitu melihatnya muncul dari balik pintu, saat itulah, dimulai segala keindahan itu.
Diawali dengan sebuah tanya kepada pramuniaga, ia lalu mengulurkan tangannya ke arahku. Sosok yang bening. Kulit yang jernih. Pinggang yang ramping membentuk cemara. Dalam balut jenjang lehernya, bertahta sebuah dagu lancip penyempurna keindahan wajahnya.
30 menit menunggu. Jengah yang sempat meletup, sontak luruh. Undur diri. Amblas tersapu senyum manis dari bibir selarit kuas bersepuh gincu. Sambil mengaduk hot cappucino, mataku membentuk huruf. ‘Untuk keindahan seperti dia, menunggu semalam pun sepertinya tak jadi mengapa’.
Kaku sempat mengambang. Tapi, senyum selalu dapat mengatasi semuanya. Tak berapa lama, ia membaris kata mengeja sebab ia terlambat hampir setengah jam lamanya. Aku menikmati rasa bersalah yang menyepuh putih pipinya. Tak hanya kegembiraan. Rasa bersalah, atau mungkin kesedihan, ketika ia terukir pada warangka keindahan, tetap akan menghadirkan kesejukan.
Dalam diam, aku menikmati keindahan yang mulai menggurat menjelma lukisan.
Monday, June 7, 2010
Tuesday, June 1, 2010
Coincidence..
Sejak melihatnya pertama kali, ketika bos memperkenalkannya sebagai sekretaris baru, aku tahu: aku telah jatuh hati padanya. Ia tak banyak berucap siang itu, hanya tergopoh menghampiri kami yang melingkari meja rapat, menunduk, menyodorkan note. Bos mengangguk. Dan kemudian, memperkenalkannya kepada kami semua. Kamu ingin tahu namanya? Ratna.
Lalu, aku semakin sering berjumpa dengannya. Bersebelah di dalam lift. Berjejer ketika menapaki lorong menuju ruang. Atau saling memandang, meski sesaat, ketika sama-sama terperangkap sedang memfotokopi dokumen. Aku mulai memperhatikannya. Aku mulai mengkarabi matanya. Aku mulai terbiasa dengan bau tubuhnya. Dan, aku mulai mengagumi hal-hal kecil yang melingkupi kehadiran dirinya.
Bayang dia menjadi rajin mengikuti kemana aku pergi. Berputar dalam ingatanku, memeluk menggelantungi hatiku. Cara dia tersenyum. Renyahnya tawanya yang meletup. Kebiasaan dia membasahi bibir sebelum berucap. Bahkan, aku seperti terus melihat bekas luka berbentuk hati yang memeluk lekuk indah bagian atas bahunya. Dimana-mana. Dalam setiap benda yang aku jumpa. Dan, yang paling membuat hatiku selalu meletup dalam remah rasa tak terjemahkan, rambut-rambut indahnya yang memberai mendampingi poni indah yang menutupkeningnya. Seperti kaset dalam player kehidupan, bagian berisi ia tertawa dengan rambut indah menggantung itu selalu kuputar berulang. Dimanapun. Kapanpun.
Ia memang cantik. Tidak, lebih dari cantik. Ia sangatlah indah. Demikian indah. Sungguh, demikian indah. Terutama saat ia mengikat rambutnya membentuk ekor kuda.
Pernah di suatu pesta, ia memakai gaun dengan bagian bahu yang membuka. Ketika berbincang dengannya di ujung pesta, dengan gelas minum di tangan, demikian indah aku merasa saat kami berbincang. Aku tenggelam dalam bulat indah matanya. Kesadaranku tertawan oleh lambai-lambai rambut lembutnya. Rambut belakangnya disanggul membentuk mahkota. Bagian depannya terberai membentuk poni. Beberapa helai di sisi kiri dan kanan seperti melarikan diri, terjuntai menghiasai wajah manisnya. Sempurna bertahta melapisi kilau lembut leher jenjangnya.
God, demikian ingin menariknya ke sudut. Menggenggam bahu ranum itu, berenang menyeberangi mata teduhnya, mendaki rambutnya yang memberai, menemani lidah yang selalu membasahi bibirnya. Merasai keseluruhan kehadiran dirinya.
Perjumpaan berikutnya, aku semakin tertawan oleh pesonanya. Tingkahnya demikian impulsif. Lihatlah ketika ia menantangku saat menikmati lembut taman kota. Mengeja kata ‘penis’, ia berkata bahwa suara berikutnya harus lebih keras dari suara terakhir yang terdengar. Aku menolak. Tapi melihat tatap matanya, senyum memintanya, luruh sudah hatiku. Dan kami pun saling menyahut. Kencang semakin kencang. Hingga kemudian aku harus menutupkan tanganku ke bibirnya karena suara kami sudah membuncah menutupi cakrawala. Taman kota sedang ramai sore itu. Dapat kamu bayangkan, bagaiaman tatap mereka melihat kami mengeja kata itu seperti sepasang kekasih sedang gila. Bukannya tersipu, ia hanya tertawa berderai ketika mendapati tatap mata pengunjung taman.
Atau, simaklah yang ini. Hari itu kami berkunjung ke IKEA, toko furniture franchise. Tatanan perabot yang ditata sedekat mungkin dengan suasana rumah, membuat imajinasinya melayang menyerupai nona dan tuan sedang berada di rumah. Kami pun berbicang akrab di meja makan. Tertawa sambil mendemonstrasikan shower di ruang mandi. Hingga puncaknya, ia mengajakku berlari menuju ke ruang tidur. Melemparkan tubuhnya. Menarikku agar merambati kaki menapaki kepalanya.
Dadaku menggelegak. Dan, saat aku menyembul di antara dadanya, bersiap mendekati telinganya, aku justru membisikkan sesuatu yang meletup tawa renyahnya meledak berderai: aku tak tahu bagaimana cara m emberitahumu, tapi ada sekeluarga Cina sedang melihat kita. Ketika ia mendongak, benar saja, sekeluarga Cina yang juga sedang berkunjung ke IKEA tergopoh melihat pemandangan tak biasa di depannya.
Kebetulan. Aku pikir, itulah yang mempertemukan dan mendekatkanku dengan dia. Kebetulan yang tak sering berulang. Mungkin ia masih jauh dari konsepsi soulmate, belahan jiwa, atau metafor-metafor muluk lain tentang pasangan jiwa, tetapi, untuk Ratna, aku tak ingin kebetulan ini hanya mengada sekadar kebetulan. Alam telah menghadirkan. Dan sekarang, waktuku untuk mewujudkannya menjadi indah kenyataan.
Ia memang indah. Dan keindahan yang tertangkap hati ini, telah lebih dari sekadar alasan apapun untuk membulatkan tekad menghabiskan hidup bersamanya. Meski aku tahu, ia sendiri masih gamang untuk mengeja dan melingkupkan diri dalam balut temali label cinta.
Lalu, aku semakin sering berjumpa dengannya. Bersebelah di dalam lift. Berjejer ketika menapaki lorong menuju ruang. Atau saling memandang, meski sesaat, ketika sama-sama terperangkap sedang memfotokopi dokumen. Aku mulai memperhatikannya. Aku mulai mengkarabi matanya. Aku mulai terbiasa dengan bau tubuhnya. Dan, aku mulai mengagumi hal-hal kecil yang melingkupi kehadiran dirinya.
Bayang dia menjadi rajin mengikuti kemana aku pergi. Berputar dalam ingatanku, memeluk menggelantungi hatiku. Cara dia tersenyum. Renyahnya tawanya yang meletup. Kebiasaan dia membasahi bibir sebelum berucap. Bahkan, aku seperti terus melihat bekas luka berbentuk hati yang memeluk lekuk indah bagian atas bahunya. Dimana-mana. Dalam setiap benda yang aku jumpa. Dan, yang paling membuat hatiku selalu meletup dalam remah rasa tak terjemahkan, rambut-rambut indahnya yang memberai mendampingi poni indah yang menutupkeningnya. Seperti kaset dalam player kehidupan, bagian berisi ia tertawa dengan rambut indah menggantung itu selalu kuputar berulang. Dimanapun. Kapanpun.
Ia memang cantik. Tidak, lebih dari cantik. Ia sangatlah indah. Demikian indah. Sungguh, demikian indah. Terutama saat ia mengikat rambutnya membentuk ekor kuda.
Pernah di suatu pesta, ia memakai gaun dengan bagian bahu yang membuka. Ketika berbincang dengannya di ujung pesta, dengan gelas minum di tangan, demikian indah aku merasa saat kami berbincang. Aku tenggelam dalam bulat indah matanya. Kesadaranku tertawan oleh lambai-lambai rambut lembutnya. Rambut belakangnya disanggul membentuk mahkota. Bagian depannya terberai membentuk poni. Beberapa helai di sisi kiri dan kanan seperti melarikan diri, terjuntai menghiasai wajah manisnya. Sempurna bertahta melapisi kilau lembut leher jenjangnya.
God, demikian ingin menariknya ke sudut. Menggenggam bahu ranum itu, berenang menyeberangi mata teduhnya, mendaki rambutnya yang memberai, menemani lidah yang selalu membasahi bibirnya. Merasai keseluruhan kehadiran dirinya.
Perjumpaan berikutnya, aku semakin tertawan oleh pesonanya. Tingkahnya demikian impulsif. Lihatlah ketika ia menantangku saat menikmati lembut taman kota. Mengeja kata ‘penis’, ia berkata bahwa suara berikutnya harus lebih keras dari suara terakhir yang terdengar. Aku menolak. Tapi melihat tatap matanya, senyum memintanya, luruh sudah hatiku. Dan kami pun saling menyahut. Kencang semakin kencang. Hingga kemudian aku harus menutupkan tanganku ke bibirnya karena suara kami sudah membuncah menutupi cakrawala. Taman kota sedang ramai sore itu. Dapat kamu bayangkan, bagaiaman tatap mereka melihat kami mengeja kata itu seperti sepasang kekasih sedang gila. Bukannya tersipu, ia hanya tertawa berderai ketika mendapati tatap mata pengunjung taman.
Atau, simaklah yang ini. Hari itu kami berkunjung ke IKEA, toko furniture franchise. Tatanan perabot yang ditata sedekat mungkin dengan suasana rumah, membuat imajinasinya melayang menyerupai nona dan tuan sedang berada di rumah. Kami pun berbicang akrab di meja makan. Tertawa sambil mendemonstrasikan shower di ruang mandi. Hingga puncaknya, ia mengajakku berlari menuju ke ruang tidur. Melemparkan tubuhnya. Menarikku agar merambati kaki menapaki kepalanya.
Dadaku menggelegak. Dan, saat aku menyembul di antara dadanya, bersiap mendekati telinganya, aku justru membisikkan sesuatu yang meletup tawa renyahnya meledak berderai: aku tak tahu bagaimana cara m emberitahumu, tapi ada sekeluarga Cina sedang melihat kita. Ketika ia mendongak, benar saja, sekeluarga Cina yang juga sedang berkunjung ke IKEA tergopoh melihat pemandangan tak biasa di depannya.
Kebetulan. Aku pikir, itulah yang mempertemukan dan mendekatkanku dengan dia. Kebetulan yang tak sering berulang. Mungkin ia masih jauh dari konsepsi soulmate, belahan jiwa, atau metafor-metafor muluk lain tentang pasangan jiwa, tetapi, untuk Ratna, aku tak ingin kebetulan ini hanya mengada sekadar kebetulan. Alam telah menghadirkan. Dan sekarang, waktuku untuk mewujudkannya menjadi indah kenyataan.
Ia memang indah. Dan keindahan yang tertangkap hati ini, telah lebih dari sekadar alasan apapun untuk membulatkan tekad menghabiskan hidup bersamanya. Meski aku tahu, ia sendiri masih gamang untuk mengeja dan melingkupkan diri dalam balut temali label cinta.
Tuesday, May 25, 2010
Ironi Kursi
Melihatnya hanya menggeletak, ada sedih yang tersayat. Ia harusnya membekap tubuh berbalut aroma wangi, terbungkus rupa-rupa busana adi karya. Tapi, lihatlah, ia hanya mampu memakukkan tangannya. Bersebelahan dengan tangan-tangan kursi di sekelilingnya yang membatu tersiram dingin angin sore.
Tragis. Ironi yang menguncup hingga menyentuh puncak-puncak kelam anomali kesungguhan pengabdian.
Membekap kursi itu bukanlah perkara mudah. Ibarat demit, ia menghendaki pemujaan dengan bau sesaji anyir mengalirkan aroma duniawi. Jalan menujunya pun teramat terjal. Perlu keberanian, kesungguhan, semangat juang. Dan juga, pekat terselubung di sana, aroma keculasan, kerakusan, dan pemujaan terhadap berhala-berhala pemulus jalan. Sekadar untuk membangun jalan, menghabiskan waktu bertahun. Hingga tak terhitung bila kita menghitung habis hingga ritual menghias pagar, menaruh tanaman, dan melumurinya dengan rupa-rupa cat penambah aroma elok.
Mereka yang memujanya, memang tidak menanggungkan gaman. Tetapi, darah kerap memuncrat karena sengketanya. Api gampang meletup. Nanar menjadi mudah disebarkan. Kesetiaan pun menjadi tak lebih dari barang lapuk.
Manusia tak pernah kuasa mencintai apa yang telah menjadi miliknya. Sore ini, di antara deret kursi yang membeku menanti hangat tubuh dan aroma wangi busana tuannya, mataku sayu mengeja hukum yang masih saja ampuh tersebut. Meski dunia makin menua, dogma yang telah membungkuk tertindih bilangan umur uzur dunia tersebut, tetap tak pernah sepi dari para pemujanya.
Mereka membunuh untuknya. Lalu mereka mengabaikannya. Tentu, akan tiba masa, dimana darah dan kesenangan duniawi kembali mengucur demi pemujaan untuk mendapatkannya kembali.
Tragis. Ironi yang menguncup hingga menyentuh puncak-puncak kelam anomali kesungguhan pengabdian.
Membekap kursi itu bukanlah perkara mudah. Ibarat demit, ia menghendaki pemujaan dengan bau sesaji anyir mengalirkan aroma duniawi. Jalan menujunya pun teramat terjal. Perlu keberanian, kesungguhan, semangat juang. Dan juga, pekat terselubung di sana, aroma keculasan, kerakusan, dan pemujaan terhadap berhala-berhala pemulus jalan. Sekadar untuk membangun jalan, menghabiskan waktu bertahun. Hingga tak terhitung bila kita menghitung habis hingga ritual menghias pagar, menaruh tanaman, dan melumurinya dengan rupa-rupa cat penambah aroma elok.
Mereka yang memujanya, memang tidak menanggungkan gaman. Tetapi, darah kerap memuncrat karena sengketanya. Api gampang meletup. Nanar menjadi mudah disebarkan. Kesetiaan pun menjadi tak lebih dari barang lapuk.
Manusia tak pernah kuasa mencintai apa yang telah menjadi miliknya. Sore ini, di antara deret kursi yang membeku menanti hangat tubuh dan aroma wangi busana tuannya, mataku sayu mengeja hukum yang masih saja ampuh tersebut. Meski dunia makin menua, dogma yang telah membungkuk tertindih bilangan umur uzur dunia tersebut, tetap tak pernah sepi dari para pemujanya.
Mereka membunuh untuknya. Lalu mereka mengabaikannya. Tentu, akan tiba masa, dimana darah dan kesenangan duniawi kembali mengucur demi pemujaan untuk mendapatkannya kembali.
Wednesday, May 12, 2010
Kesadaran yang Tersandera
Betapa tidak mudah untuk beranjak dari kubangan dosa. Meski amis telah genap melamuri kujur, tetap saja, hasrat untuk mendosa selalu ada.
Rapatnya bilangan dosa tidak serta merta membuat jiwa merapuh. Tidak jua menarik cahaya langit turun bertambah dekat. Dosa yang makin menderas, hanya melahirkan lubang hitam yang semakin membesar. Sebuah lubang gravitasi untuk terus mengikat kita dalam percikan dosa. Lagi. Kembali. Dan lagi.
Aku bukannya tidak telah berupaya. Nyaris satu minggu aku keringkan bibir ini dari bercak rasa dia. Tujuh hari memanjang seperti siksaan tanpa henti. Bagaimana mungkin ikan dijauhkan dari air. Bagaimana juga bibir ini dipaksa terberai dari rintik-rintik rasa yang selalu mematik gelora membasahi sekujur nafsu raga. Aku pun melepuh. Tak sanggup bertahan di bilangan hari kedelapan.
Aku mengajaknya bertemu. Bibir yang mengering pun menjadi mengembun oleh tetes nafsu. Kembali. Dan kembali seperti itu. Berulang. Dan selalu berulang setiap waktu.
Kesadaran, ternyata hanya seperti tamu yang sesaat berkunjung datang. Ia tak lebih dari segelas air yang mencoba menghapus dahaga diantara terpa garang panas padang gersang. Tatkala ia ada, langit menjadi merapat. Ia menghadir teduh. Dekat menghangati tubuh.
Tetapi, kala nafsu mulai menampakkan deret giginya yang berbaris rapat, kesadaran seperti tetes air yang menggelepar diantara terpa terik panas siang. Ia menguap. Perlahan mulai menghilang. Kesadaran, bahkan tanpa sempat berpamit pulang, acap menghilang ketika ketuk nafsu mulai menuntut. Betapa aku berupaya menahannya, betapa telah aku kencangkan tali hatiku mengikat talinya, kesadaran kerap tak cukup punya kuasa.
Kesadaranku, seringkali, amblas menghilang bahwa ketika terbit nafsu baru menerbitkan bayang dirinya di sudut lipat jiwa. Seperti tikus busuk membaui nyalak taring kucing, dihadapan nafsu, kesadaranku mengingsut ke pojok jiwa. Hanya mampu meratap. Menangis lirih ketika nafsu menggelar tikar, mendirikan tenda, berkemah berpesta pora meletupkan bibir, jari, dan keseluruhan sudut-sudut ragaku.
Ia dapat saja berontak. Berteriak. Meradang menerjang. Berperang tanpa peduli akan hasil pertempuran. Tetapi, tidak. Kesadaranku justru menguncup di hadapan seringai nafsu.
Kemarin aku kalah. Hari ini pun kalah. Bila seperti ini, selamanya pun akan merintih kalah. Lalu, haruskah aku mencari kesadaran baru?
Rapatnya bilangan dosa tidak serta merta membuat jiwa merapuh. Tidak jua menarik cahaya langit turun bertambah dekat. Dosa yang makin menderas, hanya melahirkan lubang hitam yang semakin membesar. Sebuah lubang gravitasi untuk terus mengikat kita dalam percikan dosa. Lagi. Kembali. Dan lagi.
Aku bukannya tidak telah berupaya. Nyaris satu minggu aku keringkan bibir ini dari bercak rasa dia. Tujuh hari memanjang seperti siksaan tanpa henti. Bagaimana mungkin ikan dijauhkan dari air. Bagaimana juga bibir ini dipaksa terberai dari rintik-rintik rasa yang selalu mematik gelora membasahi sekujur nafsu raga. Aku pun melepuh. Tak sanggup bertahan di bilangan hari kedelapan.
Aku mengajaknya bertemu. Bibir yang mengering pun menjadi mengembun oleh tetes nafsu. Kembali. Dan kembali seperti itu. Berulang. Dan selalu berulang setiap waktu.
Kesadaran, ternyata hanya seperti tamu yang sesaat berkunjung datang. Ia tak lebih dari segelas air yang mencoba menghapus dahaga diantara terpa garang panas padang gersang. Tatkala ia ada, langit menjadi merapat. Ia menghadir teduh. Dekat menghangati tubuh.
Tetapi, kala nafsu mulai menampakkan deret giginya yang berbaris rapat, kesadaran seperti tetes air yang menggelepar diantara terpa terik panas siang. Ia menguap. Perlahan mulai menghilang. Kesadaran, bahkan tanpa sempat berpamit pulang, acap menghilang ketika ketuk nafsu mulai menuntut. Betapa aku berupaya menahannya, betapa telah aku kencangkan tali hatiku mengikat talinya, kesadaran kerap tak cukup punya kuasa.
Kesadaranku, seringkali, amblas menghilang bahwa ketika terbit nafsu baru menerbitkan bayang dirinya di sudut lipat jiwa. Seperti tikus busuk membaui nyalak taring kucing, dihadapan nafsu, kesadaranku mengingsut ke pojok jiwa. Hanya mampu meratap. Menangis lirih ketika nafsu menggelar tikar, mendirikan tenda, berkemah berpesta pora meletupkan bibir, jari, dan keseluruhan sudut-sudut ragaku.
Ia dapat saja berontak. Berteriak. Meradang menerjang. Berperang tanpa peduli akan hasil pertempuran. Tetapi, tidak. Kesadaranku justru menguncup di hadapan seringai nafsu.
Kemarin aku kalah. Hari ini pun kalah. Bila seperti ini, selamanya pun akan merintih kalah. Lalu, haruskah aku mencari kesadaran baru?
Tuesday, May 11, 2010
Menepilah
Hilang. Terberai.
Musnah berserak.
Tak lagi tertinggal sisa. Meski hanya samar repihan bayangnya.
Bukan ia yang meletup. Tapi aku yang menutup.
Bukan juga ia yang menghilang. Hanya aku yang sedikit meradang.
Semua berasal dari rasa.
Dan,
semua,
juga,
pada akhirnya, terhapuskan oleh gulung amuknya.
Sebenarnya,
tak terlalu sulit menerka alur kisah ini.
Seperti lingkar,
ia selalu mengulang.
Seperti koreng tertutup kerah.
Ia mengada. Tak terlihat, memang.
Tapi perih mendengungkan bau nyinyir.
Dalam tipis senja merupa merah.
Dalam sore yang merobek oleh cekikian tawa teman-teman di sebelah.
Dalam letup hati sesaat setelah terlantun cemas dan harap:
aku mengepak.
Jangan temukan aku.
Meski bersimpang:
menepilah.
Friday, May 7, 2010
Kesenangan di Jum’at Pagi
Pagi ini, dan demikianlah tiap pagi di hari Jum’at, menyusuri trotoar kompleks kantor, aku mendapati mereka berderap memercik keringat. Dalam baris yang terkadang tercerai karena gelak canda, mereka berlari-lari kecil sambil bersenandung. Bukan jenis lagu kontemporer tentu saja, melainkan nada-nada mars peletup semangat.
Bahkan, acapkali, lagu-lagu anak-anak yang diaransemen ulang dengan syair telah diubah. Diantara mobil dan motor yang berlalu, mereka terus berlari dan bersenandung. Menjadikan kaos yang membungkus raga semakin sembab oleh tetes keringat.
Sebuah ritual yang sederhana sebenarnya, tetapi sungguh, menerbitkan badai cemburu yang menghebat di jiwa.
Ketika mata masih menatap laju baris yang makin lama terlihat mengecil itu, kaki ini seolah menghentak berontak. Kaki sebelah kanan bahkan telah bersiap menghambur. Hanya, ia tak dapat kemana karena kaki kiri tetap saja terpaku di tempatnya. Kegalauan yang dirasa kaki kananpun dengan cepat merambat ke bola mata. Redup jelas terpancar di sana. Dan, beberapa saat kemudian, redup itu pun menjalar. Menghadirkan keruh membentuk make up yang melapisi wajah.
Senyum yang sempat terlontar ketika berpapasan, sontak luruh tersapu badai keruh. Gelombang negatif itupun semakin menjalar. Berlari melalui tenggorokan dan dengan kejam langsung menghajar ulu jiwa. Hati menjadi menggelepar. Mengerdil. Pekat terbungkus dengki, marah, dan keruh penyesalan.
Aku adalah manusia pelari. Dulu, nyaris di tiap sore, aku menyusuri lapangan atletik stadion Tri Lomba Juang. Bersama atlet-atlet kota Semarang, kami menikmati sore dengan menghentakkan langkah memeras keringat. Bersama beberapa teman yang hadir kemudian, kami lantas memainkan sepakbola. Berlari kami mengejar bola. Diantara canda. Dalam hiruk tawa. Sambil sesekali bertingkah konyol tiap ada gadis ayu berderap lewat.
Kesenangan, setiap pagi di hari Jum’at, bagiku, bukanlah menghirup aroma kopi Starbucks. Bukan juga menyelam dalam hangat teduh air kolam apartemen. Tidak juga melaju dalam kokpit BMW menghirup udara lembut puncak. Kesenangan, di pagi hari Jum’at, adalah membayangkan aku dapat berlari. Merentangkan tangan. Menyeka keringat yang membasah. Meski, mungkin, tanpa senandung lagu-lagu mars seperti yang selalu dinyanyikan para pasukan pengamanan dalam tersebut.
Bahkan, acapkali, lagu-lagu anak-anak yang diaransemen ulang dengan syair telah diubah. Diantara mobil dan motor yang berlalu, mereka terus berlari dan bersenandung. Menjadikan kaos yang membungkus raga semakin sembab oleh tetes keringat.
Sebuah ritual yang sederhana sebenarnya, tetapi sungguh, menerbitkan badai cemburu yang menghebat di jiwa.
Ketika mata masih menatap laju baris yang makin lama terlihat mengecil itu, kaki ini seolah menghentak berontak. Kaki sebelah kanan bahkan telah bersiap menghambur. Hanya, ia tak dapat kemana karena kaki kiri tetap saja terpaku di tempatnya. Kegalauan yang dirasa kaki kananpun dengan cepat merambat ke bola mata. Redup jelas terpancar di sana. Dan, beberapa saat kemudian, redup itu pun menjalar. Menghadirkan keruh membentuk make up yang melapisi wajah.
Senyum yang sempat terlontar ketika berpapasan, sontak luruh tersapu badai keruh. Gelombang negatif itupun semakin menjalar. Berlari melalui tenggorokan dan dengan kejam langsung menghajar ulu jiwa. Hati menjadi menggelepar. Mengerdil. Pekat terbungkus dengki, marah, dan keruh penyesalan.
Aku adalah manusia pelari. Dulu, nyaris di tiap sore, aku menyusuri lapangan atletik stadion Tri Lomba Juang. Bersama atlet-atlet kota Semarang, kami menikmati sore dengan menghentakkan langkah memeras keringat. Bersama beberapa teman yang hadir kemudian, kami lantas memainkan sepakbola. Berlari kami mengejar bola. Diantara canda. Dalam hiruk tawa. Sambil sesekali bertingkah konyol tiap ada gadis ayu berderap lewat.
Kesenangan, setiap pagi di hari Jum’at, bagiku, bukanlah menghirup aroma kopi Starbucks. Bukan juga menyelam dalam hangat teduh air kolam apartemen. Tidak juga melaju dalam kokpit BMW menghirup udara lembut puncak. Kesenangan, di pagi hari Jum’at, adalah membayangkan aku dapat berlari. Merentangkan tangan. Menyeka keringat yang membasah. Meski, mungkin, tanpa senandung lagu-lagu mars seperti yang selalu dinyanyikan para pasukan pengamanan dalam tersebut.
Monday, May 3, 2010
Redup Waktu
1
Saat pekat beranjak menjemput gelap, ia tersadarkan juga. Ternyata, dirinya tidaklah terlalu membutuhkan logika brilian itu. Tak perlu jua, ternyata, segala atribut penuh sepuhan membanggakan.
2
Perlu berderas-deras putaran waktu, untuk meneteskan sadar dalam jiwanya yang lelah tertidur. Hati yang mengetuk, sungguh, tiada memerlukan balasan hiruk pikuk. Dalam balut semesta alam, sebuah ketukan hanya memerlukan sederhana wujud balasan. Rasa yang menderu, tiada perlu segala logika berpangkal penyangkalan. Jiwa yang berlari telanjang, hanya membutuhkan sebuah kain yang bersiap menerima. Menyelimutinya. Membentangkan tangan menawarkan sebuah penerimaan.
3
Hati yang mengetuk, betapapun pada awalnya memutar bersetia mencari jawab, pada ujung waktu, tetap jua merindui sebuah jawab teduh mempersilahkan.
4
Dirinya yang pada awalnya menyangkakan diri memiliki tegar stamina jiwa itu, ternyata, luruh juga ketika senja telah mengetuk ujung waktu. Hingga, mengambang jua apa yang sedari pagi melamat dalam dasar jiwa. Beri jawab sekarang. Atau langit akan menutup tirai.
5
Bila senja telah merupa malam, andai tak jua mewujud jawab, langit akan melakonkan sebuah pentas baru. Dengan dia, tak lagi ada dalam skenario itu. Tak peduli bersiap atau tidak.
Saat pekat beranjak menjemput gelap, ia tersadarkan juga. Ternyata, dirinya tidaklah terlalu membutuhkan logika brilian itu. Tak perlu jua, ternyata, segala atribut penuh sepuhan membanggakan.
2
Perlu berderas-deras putaran waktu, untuk meneteskan sadar dalam jiwanya yang lelah tertidur. Hati yang mengetuk, sungguh, tiada memerlukan balasan hiruk pikuk. Dalam balut semesta alam, sebuah ketukan hanya memerlukan sederhana wujud balasan. Rasa yang menderu, tiada perlu segala logika berpangkal penyangkalan. Jiwa yang berlari telanjang, hanya membutuhkan sebuah kain yang bersiap menerima. Menyelimutinya. Membentangkan tangan menawarkan sebuah penerimaan.
3
Hati yang mengetuk, betapapun pada awalnya memutar bersetia mencari jawab, pada ujung waktu, tetap jua merindui sebuah jawab teduh mempersilahkan.
4
Dirinya yang pada awalnya menyangkakan diri memiliki tegar stamina jiwa itu, ternyata, luruh juga ketika senja telah mengetuk ujung waktu. Hingga, mengambang jua apa yang sedari pagi melamat dalam dasar jiwa. Beri jawab sekarang. Atau langit akan menutup tirai.
5
Bila senja telah merupa malam, andai tak jua mewujud jawab, langit akan melakonkan sebuah pentas baru. Dengan dia, tak lagi ada dalam skenario itu. Tak peduli bersiap atau tidak.
Subscribe to:
Posts (Atom)




