Tuesday, January 30, 2007

Selembar Tiket untuk Cinta


‘Beri aja dia selembar tiket ke Singapura, pasti akan beres,’ ucap papa sambil menghisap cerutu kesukaannya. Mama yang sedang menuang kopi ke cangkir, tiba-tiba meletakkan teko ke meja. Lalu serius menatap papa. ‘Maksud papa?’. Mama sudah duduk manis di samping papa. ’Ya kita kirim Kiki ke Singapura. Kita sekolahkan, atau carikan kerja di sana. Atau suruh tinggal sama mbaknyunya.’ Papa menjetikkan abu cerutu ke asbak putih yang ada di meja, sebelum meneruskan ucapnya. ’Pasti semua akan beres.’
’Maksud papa,’ mama kelihatan belum yakin dengan ucapan papa. ’Maksud papa cara yang kita lakukan untuk si Bulan dulu juga kita terapkan untuk si Kiki.’ Wajah mama kelihatan serius. Lima tahun yang lalu, mama dan papa terpaksa mengirim Bulan ke Singapura gara-gara Bulan susah dibilangin untuk tidak deket-deket dengan Dendi. Entah apa yang membuat mama dan papa demikian kompak menolak Dendi. Padahal kalau dilihat, Dendi juga cakep, baik, dan kaya. Segala cara sudah dicoba oleh mama dan papa. Tapi Bulan tetep kekeh. Jangankan bergerak, bergeming sedikitpun Bulan tidak lakukan. ’Saya tidak setuju, pa.’ Mama tiba-tiba berucap dengan keras. ’Ide macam apa ini. Saya tidak akan setuju si Kiki dikirim ke Singapura.’ Kali ini giliran papa yang mengeryitkan dahi. ’Mama ini gimana? Bukankah mama yang bersikeras tidak mau Kiki berhubungan dengan Joni.’ ’Iya, sih pa. Tapi bukan ini solusinya.’ Muka mama kelihatan makin cemberut. Mama tidak begitu dekat dengan Bulan, jadi ketika mama dan papa terpaksa ngirim bulan ke Singapura, hati mama tidak demikian berat. Tapi si Kiki, dia kan anak kesayangan mama. Jangankan pisah dengan jarak yang beratus-ratus mil seperti itu, Kiki pergi camping aja mama bingungnya setengah mati. Khawatir gimana makannya lah, gimana tidurnya, gimana mandinya. Mama memang demikian sayang dengan Kiki, hingga mama lupa bahwa Kiki sudah 19 tahun. Sudah bisa suka sama laki-laki.
’Jadi mama gak setuju nih,’ ucap papa sambil mencubit pipi mama. Mama dan papa sudah 27 menikah, tapi mereka tetap romantis. Entah apa rahasia mama hingga papa bisa sedemikian takluk. ’Iya,’ ucap mama sambil melengoskan kepalanya. ’Iya apa? Iya setuju atau iya tidak setuju.’ Muka papa jadi lucu kalo lagi bingung. ’Yang jelas dong ma. Papa bingung nih.’ Mama yang sudah kembali memegang teko untuk kembali menuang kopi, lagi-lagi meletakkan tekonya. Wajah mama nampak gusar. Hidung mama yang mancung nampak kembang kempis. Bila sudah begini, tanpa perlu sepatah katapun, kita semua sudah maklum, bahwa mama sedang dilanda amarah. ’Mama tidak setuju. Kiki tidak akan ke Singapura,’ ucap mama keras. Tuh kan, betul, mama memang sedang marah.
’Trus gimana, berarti mama sudah setuju Kiki pacaran dengan Joni?’ Papa kelihatan serius dengan ucapannya ini. Bukannya tambah adem, udara di sekitar kepala mama sontak menjadi tambah panas. ’Tidak....’ Mama tiba-tiba menjerit. ’Tidak akan pernah mama memberi restu sama si Joni.’ ’Kita sewa preman saja. Biar mereka gebuki si Joni.’ Cerutu yang ada di mulut papa melompat ketika papa tersedak kaget. ’Pasti si Joni akan jera dan berhenti berhubungan dengan Kiki.’ Wajah mama tiba-tiba menjadi ceria. Setan mana yang memberi ide gila pada mama hingga berpikiran seperti itu.
’Ma, tapi apakah itu..’ Belum sempat papa menyelesaikan ucapannya, mama sudah menyerang kembali. ’Sudah pa. Mama akan telpon Bondan sekarang.’ Sebentar kemudian mama telah berada di samping meja telpon. ’Halo Bondan.’ ’Iya tante. Ada pekerjaan apa buat saya?’

[]

’Mama panggil saya?’ ucap Kiki pada mamanya yang sedang berlenggok-lenggok di cermin mencoba gaun baru. ’Iya, duduk sayang.’ Mama melepas gaun yang sedang ia coba sebelum kemudian duduk di dekat Kiki. Mama menatap Kiki sebentar. Senyum mama mengembang bersamaan dengan tangan mama yang bergerak membelai rambut Kiki. Kiki memang anak yang manis. Tidak salah bila mama demikian menyayanginya. Rambut Kiki yang lurus terawat, nampak berpedar mengelilingi wajah cantiknya. Meskipun mama dan papa adalah pribumi asli, tapi wajah Kiki sangat terkesan oriental. Demikian imut dan cantik. Siapapun yang berada di dekat Kiki, pasti akan gemas dan kecantikan dan keimutannya. Kulit Kiki juga putih. Bersih terawat. ’Kiki benar-benar gadis yang sangat manis,’ demikian selalu puji mama untuk Kiki kepada teman-teman arisannya. Hal ini lah yang membuat mama terbelalak kaget dan berteriak histeris ketika mengetahui Kiki berpacaran dengan Joni. Joni adalah teman sekampus Kiki. Dibanding dengan anak-anak teman arisan mama, Joni memang bukan siapa-siapa. Joni hanya pemuda biasa. Terlalu biasa malah. ’Ia adalah anak kampung. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari dia,’ demikian selalu yang dibilang oleh mama tiapkali ada yang menyebut nama Joni.
’Mama punya sesuatu untuk kamu, sayang,’ ucap mama sambil membawa tubuh Kiki rebahan di pahanya. ’Mama ada hadiah buat Kiki?’, jawab Kiki dengan heran. ’Iya.’ ’Tapi Kiki kan tidak sedang ulang tahun, ma?’ Kiki nampak menatap mata Mama. Hubungan mereka memang dekat. Jadi mama terkadang hanya mencandai Kiki. Tapi kali ini, mata mama kelihatan serius. Mama kemudian nampak merogoh sesuatu dari laci meja. Sebentar kemudian, mama telah menyodorkan sebuah amplop pada Kiki. ’Apa ini, ma?’, tanya Kiki penasaran. ’Buka sendiri dong. Nanti kalo mama kasih tahu, bukan surprise namanya.’ Mama ada-ada saja, batin Kiki. Karena tidak ingin dilanda penasaran lebih lanjut, Kiki pun membuka amplop berwarna coklat tersebut.

[]

Kiki bergelanyut manja di boncengan motor Joni. Meski mama selalu berpesan agar Kiki pergi kuliah pake mobil, Kiki tetep memilih untuk naik angkot. Meski harus berdesak-desakkan ketika berangkat, tapi Kiki rela. Bayangan pulang kuliah dengan diantar Joni naik motor, membuat penderitaan di angkot tidak terlalu berarti buat Kiki. Padahal 1 tahun yang lalu, ketika Kiki belum ketemu Joni, Kiki tidak akan meninggalkan rumah bila tidak ditemani dengan si kuning, mobil kesayangannya. Takut kulitnya terbakar lah, takut rambutnya menjadi keringlah, dan sejuta ketakutan laen akan dengan sigap digelontor oleh Kiki sebagai alasannya.
’Ki, udah sampai,’ ucap Joni lembut sambil menyentuh tangan Kiki yang melingkar di pinggangnya. Kiki memang paling suka merem ketika dibonceng Joni. Joni sering protes dengan kebiasaan Kiki ini. Ia takut kalo Kiki tiba-tiba ketiduran dan tidak bisa berpegangan dengan erat. ’Tidak apa-apa kok Jon. Aku hanya ingin merasakan kedamaian tiap kali bersama kamu,’ demikian Kiki selalu bilang tiap kali Joni bertanya kebiasaannya tersebut. ’Kita kan tidak punya waktu banyak untuk bersama. Jadi aku ingin menikmati tiap kebersamaan kita dengan sepenuh hati.’’Meski itu dengan memejamkan mata tiap kali aku bonceng?’ kata Joni masih heran dengan kebiasaan Kiki. ’Iya.’ ’Oke deh. Tapi janji ya. Jangan ngantuk kalo aku bonceng. Ntar kamu jatuh lagi,’ ucap Joni sambil membelai rambut Kiki. Bila sudah begini, Kiki akan memeluk Joni erat. Semenjak Joni berterus terang kepada mama tentang perasaanya kepada Kiki, mereka berdua menjadi susah bertemu. Hanya ketika waktu-waktu sela di kampus dan ketika Joni berkesempatan mengantar Kiki pulang, mereka bisa bersama. Maka, tiap kali perjumpaan itu terjadi, baik Joni dan Kiki benar-benar ingin menikmatinya sepenuh hati.
’Ki, kita sudah sampai.’ Joni mengulang ucapannya karena Kiki tidak segera menanggapi dirinya. Tangannya kembali menyentuh tangan Kiki pelan. Dan lembut. ’Ki,’ Joni kembali berucap lembut. Joni baru hendak menyebut nama Kiki lagi ketika ia merasakan tangan Kiki bergerak. ’Sudah sampai ya, yank.’ ’Iya, turun gih.’ Joni melepas helm yang menutup kepalanya. ’Masih kangen, yank,’ rajuk Kiki dengan manja. Kiki tetap tidak mau turun dari boncengan Joni. Joni memalingkan kepalanya. Lalu melepas helm yang menutup kepala Kiki. Dipandanginya Kiki dengan berjuta sayang yang berluruhan dalam jiwa. ’Kamu harus pulang, Ki. Nanti mama kamu nyariin,’ ucap Joni sambil merapikan rambut Kiki yang kusut tertindih helm. ’Biarin.’ Telunjuk Joni bergerak lembut menyentuh bibir Kiki. ’Kamu gak boleh ngomong seperti itu. Bagaimanapun, mereka adalah orang tua kamu.’ ’Tapi kenapa mereka jahat sama kamu?’ tangan Kiki bergerak menyentuh telunjukku. Matanya nampak berkaca-kaca. ’Mereka pasti punya alasan untuk itu, Ki.’ ’Iya. Karena mereka sayang sama aku. Karena mereka pedul sama aku. Tapi kenapa mereka tidak mau mengerti perasaanku. Karena mereka ...’ Kiki tidak sempat menyelesaikan perkataannya. Tangis pelannya telah memaksa Joni menarik Kiki dalam dekapannya. ’Aku sayang kamu, Jon,’ ucap Kiki lirih.
Beberapa waktu lamanya, Kiki larut dalam pelukan Joni. Joni menghentikan motornya tepat di depan portal di kelokan jalan menuju rumah Kiki. Sesekali nampak sepeda motor berlalu melewati mereka. ’Tidur nyenyak ya, Ki. Jangan begadang. Kasian kan murid-murid kamu.’ Kiki hanya mencubit lengan Joni mendengar sindiran tersebut. Joni membimbing wajah Kiki dari dekapannya. ’Aku sayang kamu, Ki,’ ucap Joni lembut. ’Sangat sayang.’ Udara seperti berhenti dalam takzim ketika kepala Kiki bergerak mendekat Joni. Sesaat keduanya bertemu dalam ciuman yang dalam. Hangat. Penuh dengan tumpahan keintiman rasa sayang. ’Met bobo, switi. Jaga diri ya, ucap Joni kemudian. ’ Kiki masih rekat menatap wajah Joni. Bekas air mata nampak masih tersisa di sana. Malam semakin tenggelam. Kiki mendekatkan kepalanya ke arah Joni. ’Sekali lagi boleh ya, yank?’

[]

Joni menarik nafas berat. Ia nampak terduduk di salah satu sudut bandara. Ia sama sekali tidak pernah berfikir ia dan Kiki harus berpisah dengan cara seperti ini. Tidak ada pertemuan yang terjadi. Tidak ada nafas yang bisa dibaui. Tidak ada rasa yang dibagi. Hanya sepucuk surat yang dibawa oleh Indah, teman sekolah Kiki. Ada sebentuk rasa marah menjalar di hati Joni. Tapi sebuah tarikan nafas panjang kemudian menghalau rasa itu pergi. Lagi-lagi Joni menghela nafas panjang. Semua telah pergi. Semua telah berlalu. Tak ada lagi yang tersisa. Selain setitik air mata yang bersembunyi di ujung kelopak mata Joni.

[]

...dan sayang, dari sini kita akan mulai langkah kita berdua. Akan kemana kita sekarang? (from the one who loves you). Dan surat itu pun terlipat. Terdiam. Terkungkung dalam keheningan yang panjang.

Friday, January 26, 2007

Ketika Pesta (HARUS) Usai...


Mendung tipis menggelanyuti langit manja. Meninggalkan sepasang kekasih yang sedang berciuman dalam udara membeku. Di sebuah sudut kampus tua. Di antara reruntuhan dedaunan berserakan. Hasrat mereka bertemu dalam kepekatan yang mendalam. Mereka adalah sepasang mahasiswa. Besok mereka berdua akan diwisuda. Dan mereka akan kembali ke rumah masing-masing. Ciuman sore ini adalah ciuman terakhir mereka. Perjumpaan yang penghabisan. Sebelum laku dunia merenggut masing-masing jiwa. ’Kita married saja.

Sementara, di dalam bilik sebuah cyber cafe, sepasang mata bersitatap dalam makna keterdiaman. Kegelisahan penuh berloncatan dalam beku udara yang diam. Bibir mereka tidak bergerak. Tapi mata mereka, jelas mengisaratkan pemilik jiwa yang sedang merana. Lalu, pasangan itu pun luruh dalam sebuah ciuman yang hampa. Bibir mereka menyatu. Tapi kesedihan telah menumpulkan syaraf-syaraf bibir mereka. Nafas mereka nyaris tersengal. Tapi tetep saja tidak ada rasa yang tercipta. Di depan mereka, tergeletak diam di depan monitor, selembar tiket penerbangan ke Singapura. Ini adalah ciuman terakhir. Sebelum si wanita pergi ke Singapura.

Jauh bermil-mil dari cyber cafe, sebuah telpon berdering. Saat itu hujan sedang menderu pelan. Menyisakan aroma dingin yang menebal menyengat. Isak tangis seorang wanita muda terdengar menyembul dari balik ujung telpon. Ia baru menikah beberapa bulan yang lalu. Pastinya ia sangat bahagia. Suaminya, lelaki klimis yang selalu rapi tiap kali pergi bekerja, juga sangat mencintai dia. Apalagi semenjak mereka mempunyai anak. Seolah, dalam tiap laku dan larik nafas yang mereka buat, tiada yang bisa dibaca selain ungkapan rasa bahagia. Hujan semakin tercurah seiring tangis wanita muda itu yang semakin menderu. Tak ada suara terdengar dari ujung telpon satunya. Hanya tangis wanita muda itu yang senantiasa terdengar. Sambil sesekali diselingi beberapa potong ucap. Keheningan makin jauh menyeret malam. Udara semakin terbujur dalam kaku tak berujung. Dari balik ujung telpon, terdengar desah helai nafas memberat. Terdengar kemudian suara wanita muda itu, ’Abang, aku ingin bercerai.’ Tak ada balasan suara dari ujung telepon satunya. Hanya keheningan yang semakin menganga. Menenggelamkan malam itu dalam sebuah keterdiaman tak berujung.

Di bilik sebuah rumah sakit, suara lolongan mengaum membelah. Sedih yang sedari tadi mengintip, meletup dalam sebuah tangis membuncah. Kabar itu baru saja datang. Tentang anaknya yang tidak terselamatkan. Tentang ketakutan yang kini benar menjadi kenyataan. Perempuan muda itu menjerit. Mematung ia menatap pintu ruangan. Sementara di dalamnya, seorang suster baru saja menutupi tubuh sesosok bayi mungil.

Di tepian pantai di suatu sore. Seperti biasanya, sore itu langit kembali memerah. Matahari yang menua, bergerak pelan menyentuh bibir senja. Angin mengalun pelan. Meninggalkan kilau menyentuh pucuk-pucuk air yang beriak diam. Dingin yang makin mengental, membuat lelaki itu menaikkan kerah bajunya. Sudah sedari tadi lelaki itu berdiri mematung di sudut pantai. Matanya menerawang jauh. Menatap hamparan biru laut tak berujung. Sesekali ia menyeret langkahnya yang berat. Memungut benda-benda yang ia lihat bergerak mendekati bibir pantai. Hari ini adalah sore yang ke-25 lelaki itu mengakrabi senja yang menua seperti ini. Tapi, seperti sore-sore sebelumnya, ia tak kunjung jua bisa mengusir sesak yang meringkuk dalam jiwa. Matahari telah mencium senja, ketika sebuah dering telpon mengusik lamunan lelaki itu. ’Ada yang ketemu?’ ’Maaf mas, nihil.’ Terdengar suara telepon ditutup. Lelaki itu nampak tergesa memasukkan ponsel ke kantongnya. Dan mendadak ia berlari. Sebelum kemudian ia melolong dalam sebuah teriakan membahana. Dalam malam yang mulai merayap, lelaki itu menarik sesuatu dari dompetnya. Gambar seorang wanita cantik. Rambutnya sebahu. Dengan senyum manis mengembang menghias. Tangan lelaki itu bergerak menyusur. Menyentuh lembut bibir wanita dalam foto. Nampak tautan emosi mengenangi tatapan matanya yang merindu. Jari lelaki itu kemudian bergerak menyentuh larit nama yang tertulis di bawah wajah cantik itu: Prameswari. Sementara di atasnya, wanita cantik dalam balutan seragam pramugari itu tetap tersenyum. Begitu manis. Begitu cantik.

Dalam waktu yang semakin menua, kita tidak pernah tahu kapan semua akan berakhir. Ketika ciuman yang kita berikan pada kekasih, ternyata akan menjadi ciuman terakhir. Ketika lambaian tangan yang kita berikan, ternyata akan menjadi lambaian terakhir. Dan mungkin, kita tidak bisa memberesi tenda, mencuci piring, menggulung tikar, melepas tamu yang pamit pulang, dalam pesta kita sendiri.

Karena kita tiada pernah tahu, apakah ini pesta terakhir?

Wednesday, January 24, 2007

Siapa butuh agama?



Aku tidak mengenal Mr. O. Sumpah. Meski ia dikenal sebagai pencipta lagu, aku pun baru mengetahui wajah dan namanya baru 5 detik yang lalu. Ketika sebuah infotainment menayangkan wajah dan statementnya. Didampingi lelaki berjenggot dan bersurban, mbak narator bilang dia adalah seorang habib, Mr. O melakukan bantahan bahwa dirinya akan menikahi Sheila, wanita berkulit putih, berambut panjang, yang telah hamil 5 bulan.


Seperti aku bilang di atas, aku tidak kenal siapa itu Mr. O, juga si habib, apalagi si wanita Sheila. Aku hanya terpesona dengan ucapan dari si Mr. O itu. Di infotainment tersebut disebut bahwa Mr. O dan Sheila sudah hidup satu atap selama 1 tahun. Tanpa ikatan perkawinan. Dan kemudian Sheila hamil. Nah, dalam statement yang dikeluarkan, si Mr. O mengatakan bahwa dirinya urung menikahi Sheila (betul ya nikah, karena kalo kawin kan mungkin mereka sudah), karena dia dan Sheila mempunyai keyakinan yang berbeda. Mr. O beragama Islam dan Sheila bukan beragama Islam. Dengan mata menatap mantap, Mr. O dengan gagah berucap bahwa pernikahan beda agama tidak diperbolehkan dalam ajaran Islam. Si Habib pun kemudian nimbrung dengan berstatemen bahwa karena tidak diperbolehkan oleh agama, maka apabila mereka tetap menikah dan kemudian berhubungan badan maka dapat dikatakan mereka melakukan perzinaan. Meski hidup satu atap, si Mr. O ini juga meragukan bahwa bayi dalam perut Sheila adalah buah hasil karyanya. Lewat si habib, Mr. O ini menantang untuk melakukan tes DNA. Dahsyat gak.


Aku tidak dalam kapasitas memberikan penilaian benar tidaknya statemen dari si Mr. O dan si habib. Yang sedikit mengusik ketenangan jiwa ini adalah, lagi-lagi dan lagi-lagi, kita terbiasa untuk memetik penggalan ajaran agama demi kepentingan kita sendiri. Ajaran agama diperlakukan seperti onggokan pakaian dalam gantungan lemari. Ketika dibutuhkan sebagai pelindung, kita comot pakaian itu. Dan ketika kita tidak lagi membutuhkannya, kita buang pakaian itu entah kemana.


Okelah kita bersepakat bahwa perkawinan beda agama tidak dibenarkan dalam Islam. Tapi, hidup satu atap dengan wanita yang bukan muhrimnya apakah merupakan praktek yang dihalalkan dalam Islam? Menimbun benih dalam perut wanita yang bukan istrinya, apakah merupakan salah satu ajaran Islam?


Sekali lagi kita disuguhi tontonan gratis: ketika kepepet, agama dicatut untuk dijadikan pelindung. Dan ketika kenikmatan deras mengguyur, entah ditekuk kemana ajaran agama tersebut.


Sambil bersiap untuk mandi, aku hanya berucap: astagfirullah.

dream.work.die.



And that’s it. Selesailah sudah. Semuanya. Segalanya. Hanya menyisakan diri terpekur di depan monitor. Dengan segelas kopi kosong di sebelah kiri. Tak ada lagi cerita yang terbaca. Kepala ini sudah kosong. Tak menyisakan apa-apa. Hanya lorong panjang kegelapan. Semua sudah terberai. Hangus. Mencair meleleh. Terhisap masuk dalam jiwa, yang juga telah menghitam kelam.
Tak tersisa yang bisa dilakukan. Selain kelebatan kenangan. Potongan pengandaian. Dan jejak-jejak yang menyeringai menjauh. Tertawa lepas dalam busuk kemenangan. Tubuhku masih teronggok di sini. Jiwaku masih terpakar di sini. Hanya kepalaku yang masih bergerak. Merangkak pelan. Melambai. Menuju tungku penggosongan.
Entah sejak kapan ini bermula. Semua tiba-tiba meloncat keluar dari tempatnya. Rentetan rencana yang terjalin indah, terberai entah karena apa. Masing-masing dari mereka melesak keluar. Berlari entah kemana. Meninggalkan deret indah terukur rencana yang terbungkus rapi dalam jilid dokumen kerja. Benar waktu itu tangan ini melambai. Mengais mereka. Mencoba membawa mereka kembali pulang. Tapi, ternyata, semua sia-sia.
Hingga di sinilah aku sekarang. Teronggok sendirian. Dengan kepala yang mulai menggosong. Dan jiwa yang menggelapar dalam pegap kematian.

Tuesday, January 23, 2007

Untuk Cha..

Pagi yang indah.
Cahaya kuning menyusur pelan di antara hamparan tumpukan awan yang melambai.

Tapi, rupanya, selarit kesedihan sedang mengiris hatiku.
Kesedihan memang kerap melahirkan kesedihan.
Dan pagi ini, aku telah membuat seorang teman berlalu dalam hening kesedihan.

Cha, ...
Aku hanya mencoba melakukan yang terbaik.
Maaf bila itu justru melukai kamu.

Friday, January 19, 2007

Tidurlah Zaki…



Aku menarik Yasin menjauh dari meja. Lewat ekor mata, sesaat aku menangkap reaksi dr. Rudi yang terkejut dengan tindakanku. Tapi ini benar-benar keputusan yang penting. Dan aku tidak ingin Yasin di kelak kemudian hari mengutuk dirinya karena mengambil keputusan ini. Jadi aku berkeyakinan dr. Rudi pasti bisa memahami ketidaksopananku tersebut.


‘Kamu serius menyetujui operasi itu.’ Ucapku setelah berada di ujung ruangan. Yasin tidak segera menjawab. Kelihatan jelas ia sebenarnya tidak terlalu yakin dengan keputusannya tadi. ’Kita bisa kehilangan dia di meja operasi. Resikonya sangat besar. Dr. Rudi bilang chance-nya cuman 70:30.’
’Kalo tidak operasi, apalagi yang bisa kita lakukan, mas.’ Kepala Yasin mendongak menatap aku. Campuran antara lelah, bingung, dan don’t know what to do nampak jelas menghias wajahnya yang keras.
‘Tidak ada.’ Jawabku pelan. Sarat dengan aroma putus asa. ‘Cuman resiko operasi ini terlalu besar, Sin.’ Aku berhenti sejenak karena tidak sanggup untuk meneruskan kalimat berikutnya. ‘Kita bisa kehilangan Zaki malam ini. Bila tidak dioperasi, kemungkinan kita masih bisa melihatnya dalam beberapa hari.’
‘Mas tega melihat Zaki menangis menahan sakit seperti itu.’ Jawaban Yasin sungguh di luar dugaanku. Tidak biasanya ia bisa berpikir benar seperti itu. Sorot matanya tiba-tiba menjadi tajam. ‘Aku tidak tega mas. Aku tidak kuat. Dia masih 40 hari dan musti menanggung derita yang pasti sangat menyakitkan itu. Aku tidak sanggup membayangkan betapa menderitanya dia, mas.’ ’Jadi, kamu tetep setuju untuk melakukan operasi?’ ’Iya mas. Seperti kata dokter tadi, pilihan yang termungkin di antara kemungkinan terburuk.’


Sebentar aku kembali menatap wajah Yasin. Usianya masih muda. 22 tahun. Dan sekarang, ia musti menghadapi masalah, yang aku yakin, ia belum siap sama sekali untuk menjalaninya.

[]

Zaki Zam Zami Kamal. Bayi tampan berusia 45 hari. Ia adalah keponakanku, buah cinta antara Yasin, adikku, dengan Laila, cewek yang masih 1 kampung dengan kami. Zaki terlahir sebagai bayi prematur. Berat waktu dilahirkan hanya sekitar 1,8 kg. Tapi, Zaki adalah bayi yang sangat tampan. Mix wajah tampan ayahnya dan wajah ayu ibunya benar-benar jelas menurun pada dirinya. Meski prematur, Zaki dilahirkan dengan cara normal. Seperti kelahiran-kelahiran lain di kampung kami, seorang bidan dan dukun bayi menemani proses kelahiran Zaki ke dunia ini.
Aku tidak sempat menemani Yasin melewati malam menegangkan itu. Aku baru mengetahui berita kelahiran itu pada siang harinya. Ibu menelponku. Mengabarkan berita gembira ini. Dan beberapa hari setelah mendengar berita itu, aku baru bisa menatap wajah imut keponakanku. Zaki adalah keponakan keempatku. Sebelumnya dua kakakku telah menikah. Yang satu sudah punya 2 anak, sedangkan satunya lagi punya 1 anak.


Sejak kunjunganku pertama itu, aku belum lagi pernah melihat Zaki. Ada beberapa kali aku pulang ke rumah ibu, tapi selalu tidak berkesempatan pergi mengunjungi Zaki. Meski rumahnya hanya terpaut sekitar 1 km dari rumah ibu. Hingga kemudian, suatu siang di hari Minggu, hpku bersuara. Aku sedang berada di bengkel menambal ban motorku saat itu. Terlalu singkat untuk sebuah pesan. Begitu melihat nomor flexi, intuisiku mengatakan itu pastilah ibu yang menelpon. Dan benar saja. Sedetik kemudian, begitu tombol ok aku tekan, suara panik ibu nampak melaju bergemuruh seperti badai. ’Gi, Zaki dibawa ke rumah sakit.’ Aku tidak segera menjawab. Bapak bengkel baru saja menunjukkan ban yang berlubang karena tertusuk paku. Aku menganggukkan kepala ketika bapak bengkel mengangkat ban ke arahku. Menandakan aku sudah mengerti apa yang terjadi dengan ban motorku.
’Zaki?’ aku mengulang kata itu pelan. Kali ini aku beranjak menjauh dari bengkel. Paling tidak agar tidak diganggu dulu dengan tatapan bapak bengkel. ’Iya Zaki. Anaknya Yasin. Keponakanmu.’ Suara ibu nampak terdengar pilu. Ia seperti bisa menangkap kepayahanku yang tidak tahu nama keponakannya sendiri. Waktu menengok bayi itu, dia kan memang belum diberi nama. Dan setelah itu, tidak jua ada pemberitahuan mampir kepadaku tentang nama dia. Jadi, dari mana aku tahu kalau Zaki adalah nama keponakanku. Dalam hati, aku mengutuk diri sendiri atas kelalaian ini.


’Zaki kenapa emangnya bu?’ aku berkata setelah sempat beberapa saat terdiam. ’Ia tidak bisa buang air besar dan buang angin. Perutnya jadi membesar kayak orang kembung gitu.’ Suara ibu nampak terdengar terburu-buru. Setelah menyadari kebodohanku yang ini, aku spontan bertanya, ’Di rumah sakit mana? ’Rumah sakit umum Demak.’ ’Ok bu. Nanti malam aku ke sana.’ Tut.. tut.. tut...

[]

’Ok, deh. Jadi keputusan kamu tetap bulat. Kita menyetujui Zaki untuk dioperasi?’ Aku tidak segera mendapat jawab dari Yasin. Baru beberapa saat kemudian ia mengangguk pelan. ’Meski kita bisa kehilangan dia malam ini?’ ’Iya’ ’Ok, mari kita kembali ke dokter Rudi.’


Dokter Rudi berpostur tinggi besar. Melihat wajahnya yang berseri, usianya mungkin sekitar 35 tahun. Senyum simpul selalu hadir di antara deret gigi putihnya. Dokter Rudi kelihatan masih berbincang dengan Laila ketika kami sudah kembali berada di depannya. Aku baru saja hendak berucap maaf atas kelakuanku yang tiba-tiba pergi tadi, ketika Dokter Rudi telah mendahului berucap. ’Jadi bagaimana?’ Pengalamannya menjadi dokter rupanya telah membuatnya paham dengan kondisi psikis orang-orang yang akan berhadapan dengan meja operasi. Buktinya, tanpa ada yang memberitahu, Dokter Rudi bisa menebak apa pembicaraanku dengan Yasin barusan. Aku pun segera mengesampingkan basa basi yang telah aku persiapkan. ’Iya dok. Lakukan saja operasi jika itu memang yang terbaik.’ Sesaat aku lihat ke arah Yasin dan Laila. Mereka tidak berucap apa-apa. Tapi dari matanya aku bisa merasakan mereka berkata, ’Lakukan yang terbaik, mas.’


’Ok, saya perlu ayah dan ibu dari Zaki untuk menandatangani pernyataan ini.’ Dokter Rudi menyerahkan selembar kertas dan polpen berwarna hitam. Sekilas aku baca surat itu. Surat tentang pernyataan pemberian ijin untuk melakukan operasi. Bergiliran Yasin dan Laila membaca surat itu. Aku hanya menganggukan kepala ketika kemudian mereka melihat ke arahku. Dan malam itu, tepat pukul 10.36, orang tua Zaki telah mengiklaskan Zaki untuk dioperasi. Sebuah pertaruhan yang tidak main-main. Mengingat Zaki baru berusia 40 hari. Tuhan, selamatkan keponakanku. Zaki.

[]

Kerumunan orang itu kian menipis. Hingga kemudian hanya tersisa aku seorang. Aku menatap tanah yang masih basah itu. Sebuah rumah mungil baru saja kami bangun untuk Zaki. Keponakanku tersayang. Tidurlah Zaki. Maafkan paman untuk tidak selalu bisa bersama kamu.

Sunday, January 14, 2007

Saat Cinta Menyentuh Hati Kita




Hari ini aku terbangun dengan cairan cinta menggenang di pelupuk mataku. Dan ketika kubuka mata, bening getah cinta pun merayap. Bergulir menggelinding ke dalam retina mataku. Bening cairan cinta lalu mengubah dirinya menjadi tangan-tangan mungil bersepuhkan hangat menenangkan. Mengusap kelopak yang masih mendekap erat bola mataku.
Aku lalu beranjak menggelajar sajadah. Mengecup pucuk-pucuk hangat pertemuan dengan Kekasih. Dan ketika aku telah merampungkan perjumpaan dengan Kekasihku, cinta telah mengubah dirinya menjadi laksa air menyejukkan. Ia menelusuri seluruh lekuk tubuhku. Menawarkan kesegarannya mengusir penat yang menggantung. Menyalakan kilau tajamnya untuk menghela perompak-perompak yang menawan cerah jiwa. Cinta telah membungkus diriku dengan aroma wangi. Dan mengguyur diriku dengan kesegaran jasmani.
Aku, kemudian, mulai mengepak diriku dalam balutan busana untuk bekerja. Ketika sepatu aku pasangkan, cinta melesak ke bawah. Mengepakkan sayapnya. Mendekap erat tiap-tiap sisi bawah sepatuku. Cinta mengangkat tubuhku. Menerbangkan diriku dalam langkah-langkah riang. Penuh senandung menyegarkan. Betapa elok perjalanan di pagi hari ini. Dengan cinta menempel di sepatuku, setiap persentuhanku dengan tanah, dengan rumput, adalah perjalanan pulang ke pangkuan kekasih yang telah 2 tahun aku tinggalkan.
Dan ketika aku memasuki bus, cinta telah berbaring membentuk empuk merdu kursi. Melindungi diriku dari penat dan lelah. Menjauhkan diriku dari bau-bau jiwa yang tiada pernah dipeluk oleh cinta. Pun ketika bus oleh jalan yang berlubang, cinta dengan cepat mengantupkan kedua tangannya. Melingkar di pinggangku. Memberikan dekap hangat melegakan.
Dalam perjalanan bisu tanpa teman, cinta mengubah dirinya menjadi burung perkutut. Sayapnya terjulur ke depan. Membentuk elok saxospon. Lalu, mengalirlah nada-nada indah itu. Mengusir sepi yang menyeringai. Menghadirkan sesosok teman hangat. Menghalau rasa sunyi sepi.
30 menit pun berlalu. Perjalanan pun usai. Cinta melompat turun ketika kakiku menggapai aspal depan kantorku. Cinta mengubah dirinya menjadi rumpai-rumpai yang menjulur. Melambai keluar dari gerbang kantorku. Membentangkan tangannya. Menyambut, dan berucap lembut: selamat datang.
Cinta lalu menyusup ke dalam bibir para penjaga pintu. Wajah-wajah sangar yang terbiasa kaku, yang terbiasa terbalut dalam sinis penuh selidik, pergi sudah. Pagi itu, cinta telah memangkas wajah-wajah itu menjauh. Dan menghadirkan sejuta arjuna berbaris. Menenggelamkan dunia dalam senyum penuh aroma cinta.
Cinta yang telah tersebar, rupanya masih saja tersisa di setiap sisi sepatuku. Langkah masih saja ringan. Penuh dengan senandung bahagia. Dan, aku pun sudah terduduk di belakang mejaku.
Cinta. Andai kita tak lagi punya apa. Cukup saja ada cinta di hati. Cinta akan memberi lebih dari apa yang kita ingini. Karena cinta akan selalu ada di sana. Selalu.