Monday, May 28, 2007

dalam kenangan...


Aku tidak pernah mengenal dia
Tidak bertegur
Apalagi bersua

Aku hanya pernah mengakrabi percikan darah dia
Darah yang menjelma
Mengubah bentuk
Moksa

Darah yang terbentik di kulitku
Lalu merembes ke nadi
Mencengkeram seluruh kedirian diri
Sebelum akhirnya...
Luruh menghilang dalam kepungan hati

Aku tidak pernah menyapa dia
Memberikan senyum kepadanya
Ato sekadar menggarukkan punggunya

Aku hanya mengenalnya melalui percikan darah
Butiran merah yang menetes di suatu malam
Di suatu kegelapan
Bercampur dengan desah basah

Dia memberiku sebuah darah
Yang kemudian juga melahirkan darah

Setelah dosa lalu apa...

hari ini aku merasakan nikmat
ketika sepenggal dosa menyusup
memberai jiwa
menyisir pinggiran dingin jiwa
mendirikan tenda-tenda pengusir sepi yang selama ini meraja

tapi
kenapa aku musti memaknainya sebagai dosa
apakah karena ia melahirkan nikmat
ataukah karena ia akan mendatangkan laknat

ataukah
karena liur yang menetes ini
akan melahirkan iri pada semesta manusia

let's say *u****g ***
betapapun ia dihujat
nikmat adalah sebuah nikmat

Tuesday, January 30, 2007

Selembar Tiket untuk Cinta


‘Beri aja dia selembar tiket ke Singapura, pasti akan beres,’ ucap papa sambil menghisap cerutu kesukaannya. Mama yang sedang menuang kopi ke cangkir, tiba-tiba meletakkan teko ke meja. Lalu serius menatap papa. ‘Maksud papa?’. Mama sudah duduk manis di samping papa. ’Ya kita kirim Kiki ke Singapura. Kita sekolahkan, atau carikan kerja di sana. Atau suruh tinggal sama mbaknyunya.’ Papa menjetikkan abu cerutu ke asbak putih yang ada di meja, sebelum meneruskan ucapnya. ’Pasti semua akan beres.’
’Maksud papa,’ mama kelihatan belum yakin dengan ucapan papa. ’Maksud papa cara yang kita lakukan untuk si Bulan dulu juga kita terapkan untuk si Kiki.’ Wajah mama kelihatan serius. Lima tahun yang lalu, mama dan papa terpaksa mengirim Bulan ke Singapura gara-gara Bulan susah dibilangin untuk tidak deket-deket dengan Dendi. Entah apa yang membuat mama dan papa demikian kompak menolak Dendi. Padahal kalau dilihat, Dendi juga cakep, baik, dan kaya. Segala cara sudah dicoba oleh mama dan papa. Tapi Bulan tetep kekeh. Jangankan bergerak, bergeming sedikitpun Bulan tidak lakukan. ’Saya tidak setuju, pa.’ Mama tiba-tiba berucap dengan keras. ’Ide macam apa ini. Saya tidak akan setuju si Kiki dikirim ke Singapura.’ Kali ini giliran papa yang mengeryitkan dahi. ’Mama ini gimana? Bukankah mama yang bersikeras tidak mau Kiki berhubungan dengan Joni.’ ’Iya, sih pa. Tapi bukan ini solusinya.’ Muka mama kelihatan makin cemberut. Mama tidak begitu dekat dengan Bulan, jadi ketika mama dan papa terpaksa ngirim bulan ke Singapura, hati mama tidak demikian berat. Tapi si Kiki, dia kan anak kesayangan mama. Jangankan pisah dengan jarak yang beratus-ratus mil seperti itu, Kiki pergi camping aja mama bingungnya setengah mati. Khawatir gimana makannya lah, gimana tidurnya, gimana mandinya. Mama memang demikian sayang dengan Kiki, hingga mama lupa bahwa Kiki sudah 19 tahun. Sudah bisa suka sama laki-laki.
’Jadi mama gak setuju nih,’ ucap papa sambil mencubit pipi mama. Mama dan papa sudah 27 menikah, tapi mereka tetap romantis. Entah apa rahasia mama hingga papa bisa sedemikian takluk. ’Iya,’ ucap mama sambil melengoskan kepalanya. ’Iya apa? Iya setuju atau iya tidak setuju.’ Muka papa jadi lucu kalo lagi bingung. ’Yang jelas dong ma. Papa bingung nih.’ Mama yang sudah kembali memegang teko untuk kembali menuang kopi, lagi-lagi meletakkan tekonya. Wajah mama nampak gusar. Hidung mama yang mancung nampak kembang kempis. Bila sudah begini, tanpa perlu sepatah katapun, kita semua sudah maklum, bahwa mama sedang dilanda amarah. ’Mama tidak setuju. Kiki tidak akan ke Singapura,’ ucap mama keras. Tuh kan, betul, mama memang sedang marah.
’Trus gimana, berarti mama sudah setuju Kiki pacaran dengan Joni?’ Papa kelihatan serius dengan ucapannya ini. Bukannya tambah adem, udara di sekitar kepala mama sontak menjadi tambah panas. ’Tidak....’ Mama tiba-tiba menjerit. ’Tidak akan pernah mama memberi restu sama si Joni.’ ’Kita sewa preman saja. Biar mereka gebuki si Joni.’ Cerutu yang ada di mulut papa melompat ketika papa tersedak kaget. ’Pasti si Joni akan jera dan berhenti berhubungan dengan Kiki.’ Wajah mama tiba-tiba menjadi ceria. Setan mana yang memberi ide gila pada mama hingga berpikiran seperti itu.
’Ma, tapi apakah itu..’ Belum sempat papa menyelesaikan ucapannya, mama sudah menyerang kembali. ’Sudah pa. Mama akan telpon Bondan sekarang.’ Sebentar kemudian mama telah berada di samping meja telpon. ’Halo Bondan.’ ’Iya tante. Ada pekerjaan apa buat saya?’

[]

’Mama panggil saya?’ ucap Kiki pada mamanya yang sedang berlenggok-lenggok di cermin mencoba gaun baru. ’Iya, duduk sayang.’ Mama melepas gaun yang sedang ia coba sebelum kemudian duduk di dekat Kiki. Mama menatap Kiki sebentar. Senyum mama mengembang bersamaan dengan tangan mama yang bergerak membelai rambut Kiki. Kiki memang anak yang manis. Tidak salah bila mama demikian menyayanginya. Rambut Kiki yang lurus terawat, nampak berpedar mengelilingi wajah cantiknya. Meskipun mama dan papa adalah pribumi asli, tapi wajah Kiki sangat terkesan oriental. Demikian imut dan cantik. Siapapun yang berada di dekat Kiki, pasti akan gemas dan kecantikan dan keimutannya. Kulit Kiki juga putih. Bersih terawat. ’Kiki benar-benar gadis yang sangat manis,’ demikian selalu puji mama untuk Kiki kepada teman-teman arisannya. Hal ini lah yang membuat mama terbelalak kaget dan berteriak histeris ketika mengetahui Kiki berpacaran dengan Joni. Joni adalah teman sekampus Kiki. Dibanding dengan anak-anak teman arisan mama, Joni memang bukan siapa-siapa. Joni hanya pemuda biasa. Terlalu biasa malah. ’Ia adalah anak kampung. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari dia,’ demikian selalu yang dibilang oleh mama tiapkali ada yang menyebut nama Joni.
’Mama punya sesuatu untuk kamu, sayang,’ ucap mama sambil membawa tubuh Kiki rebahan di pahanya. ’Mama ada hadiah buat Kiki?’, jawab Kiki dengan heran. ’Iya.’ ’Tapi Kiki kan tidak sedang ulang tahun, ma?’ Kiki nampak menatap mata Mama. Hubungan mereka memang dekat. Jadi mama terkadang hanya mencandai Kiki. Tapi kali ini, mata mama kelihatan serius. Mama kemudian nampak merogoh sesuatu dari laci meja. Sebentar kemudian, mama telah menyodorkan sebuah amplop pada Kiki. ’Apa ini, ma?’, tanya Kiki penasaran. ’Buka sendiri dong. Nanti kalo mama kasih tahu, bukan surprise namanya.’ Mama ada-ada saja, batin Kiki. Karena tidak ingin dilanda penasaran lebih lanjut, Kiki pun membuka amplop berwarna coklat tersebut.

[]

Kiki bergelanyut manja di boncengan motor Joni. Meski mama selalu berpesan agar Kiki pergi kuliah pake mobil, Kiki tetep memilih untuk naik angkot. Meski harus berdesak-desakkan ketika berangkat, tapi Kiki rela. Bayangan pulang kuliah dengan diantar Joni naik motor, membuat penderitaan di angkot tidak terlalu berarti buat Kiki. Padahal 1 tahun yang lalu, ketika Kiki belum ketemu Joni, Kiki tidak akan meninggalkan rumah bila tidak ditemani dengan si kuning, mobil kesayangannya. Takut kulitnya terbakar lah, takut rambutnya menjadi keringlah, dan sejuta ketakutan laen akan dengan sigap digelontor oleh Kiki sebagai alasannya.
’Ki, udah sampai,’ ucap Joni lembut sambil menyentuh tangan Kiki yang melingkar di pinggangnya. Kiki memang paling suka merem ketika dibonceng Joni. Joni sering protes dengan kebiasaan Kiki ini. Ia takut kalo Kiki tiba-tiba ketiduran dan tidak bisa berpegangan dengan erat. ’Tidak apa-apa kok Jon. Aku hanya ingin merasakan kedamaian tiap kali bersama kamu,’ demikian Kiki selalu bilang tiap kali Joni bertanya kebiasaannya tersebut. ’Kita kan tidak punya waktu banyak untuk bersama. Jadi aku ingin menikmati tiap kebersamaan kita dengan sepenuh hati.’’Meski itu dengan memejamkan mata tiap kali aku bonceng?’ kata Joni masih heran dengan kebiasaan Kiki. ’Iya.’ ’Oke deh. Tapi janji ya. Jangan ngantuk kalo aku bonceng. Ntar kamu jatuh lagi,’ ucap Joni sambil membelai rambut Kiki. Bila sudah begini, Kiki akan memeluk Joni erat. Semenjak Joni berterus terang kepada mama tentang perasaanya kepada Kiki, mereka berdua menjadi susah bertemu. Hanya ketika waktu-waktu sela di kampus dan ketika Joni berkesempatan mengantar Kiki pulang, mereka bisa bersama. Maka, tiap kali perjumpaan itu terjadi, baik Joni dan Kiki benar-benar ingin menikmatinya sepenuh hati.
’Ki, kita sudah sampai.’ Joni mengulang ucapannya karena Kiki tidak segera menanggapi dirinya. Tangannya kembali menyentuh tangan Kiki pelan. Dan lembut. ’Ki,’ Joni kembali berucap lembut. Joni baru hendak menyebut nama Kiki lagi ketika ia merasakan tangan Kiki bergerak. ’Sudah sampai ya, yank.’ ’Iya, turun gih.’ Joni melepas helm yang menutup kepalanya. ’Masih kangen, yank,’ rajuk Kiki dengan manja. Kiki tetap tidak mau turun dari boncengan Joni. Joni memalingkan kepalanya. Lalu melepas helm yang menutup kepala Kiki. Dipandanginya Kiki dengan berjuta sayang yang berluruhan dalam jiwa. ’Kamu harus pulang, Ki. Nanti mama kamu nyariin,’ ucap Joni sambil merapikan rambut Kiki yang kusut tertindih helm. ’Biarin.’ Telunjuk Joni bergerak lembut menyentuh bibir Kiki. ’Kamu gak boleh ngomong seperti itu. Bagaimanapun, mereka adalah orang tua kamu.’ ’Tapi kenapa mereka jahat sama kamu?’ tangan Kiki bergerak menyentuh telunjukku. Matanya nampak berkaca-kaca. ’Mereka pasti punya alasan untuk itu, Ki.’ ’Iya. Karena mereka sayang sama aku. Karena mereka pedul sama aku. Tapi kenapa mereka tidak mau mengerti perasaanku. Karena mereka ...’ Kiki tidak sempat menyelesaikan perkataannya. Tangis pelannya telah memaksa Joni menarik Kiki dalam dekapannya. ’Aku sayang kamu, Jon,’ ucap Kiki lirih.
Beberapa waktu lamanya, Kiki larut dalam pelukan Joni. Joni menghentikan motornya tepat di depan portal di kelokan jalan menuju rumah Kiki. Sesekali nampak sepeda motor berlalu melewati mereka. ’Tidur nyenyak ya, Ki. Jangan begadang. Kasian kan murid-murid kamu.’ Kiki hanya mencubit lengan Joni mendengar sindiran tersebut. Joni membimbing wajah Kiki dari dekapannya. ’Aku sayang kamu, Ki,’ ucap Joni lembut. ’Sangat sayang.’ Udara seperti berhenti dalam takzim ketika kepala Kiki bergerak mendekat Joni. Sesaat keduanya bertemu dalam ciuman yang dalam. Hangat. Penuh dengan tumpahan keintiman rasa sayang. ’Met bobo, switi. Jaga diri ya, ucap Joni kemudian. ’ Kiki masih rekat menatap wajah Joni. Bekas air mata nampak masih tersisa di sana. Malam semakin tenggelam. Kiki mendekatkan kepalanya ke arah Joni. ’Sekali lagi boleh ya, yank?’

[]

Joni menarik nafas berat. Ia nampak terduduk di salah satu sudut bandara. Ia sama sekali tidak pernah berfikir ia dan Kiki harus berpisah dengan cara seperti ini. Tidak ada pertemuan yang terjadi. Tidak ada nafas yang bisa dibaui. Tidak ada rasa yang dibagi. Hanya sepucuk surat yang dibawa oleh Indah, teman sekolah Kiki. Ada sebentuk rasa marah menjalar di hati Joni. Tapi sebuah tarikan nafas panjang kemudian menghalau rasa itu pergi. Lagi-lagi Joni menghela nafas panjang. Semua telah pergi. Semua telah berlalu. Tak ada lagi yang tersisa. Selain setitik air mata yang bersembunyi di ujung kelopak mata Joni.

[]

...dan sayang, dari sini kita akan mulai langkah kita berdua. Akan kemana kita sekarang? (from the one who loves you). Dan surat itu pun terlipat. Terdiam. Terkungkung dalam keheningan yang panjang.

Friday, January 26, 2007

Ketika Pesta (HARUS) Usai...


Mendung tipis menggelanyuti langit manja. Meninggalkan sepasang kekasih yang sedang berciuman dalam udara membeku. Di sebuah sudut kampus tua. Di antara reruntuhan dedaunan berserakan. Hasrat mereka bertemu dalam kepekatan yang mendalam. Mereka adalah sepasang mahasiswa. Besok mereka berdua akan diwisuda. Dan mereka akan kembali ke rumah masing-masing. Ciuman sore ini adalah ciuman terakhir mereka. Perjumpaan yang penghabisan. Sebelum laku dunia merenggut masing-masing jiwa. ’Kita married saja.

Sementara, di dalam bilik sebuah cyber cafe, sepasang mata bersitatap dalam makna keterdiaman. Kegelisahan penuh berloncatan dalam beku udara yang diam. Bibir mereka tidak bergerak. Tapi mata mereka, jelas mengisaratkan pemilik jiwa yang sedang merana. Lalu, pasangan itu pun luruh dalam sebuah ciuman yang hampa. Bibir mereka menyatu. Tapi kesedihan telah menumpulkan syaraf-syaraf bibir mereka. Nafas mereka nyaris tersengal. Tapi tetep saja tidak ada rasa yang tercipta. Di depan mereka, tergeletak diam di depan monitor, selembar tiket penerbangan ke Singapura. Ini adalah ciuman terakhir. Sebelum si wanita pergi ke Singapura.

Jauh bermil-mil dari cyber cafe, sebuah telpon berdering. Saat itu hujan sedang menderu pelan. Menyisakan aroma dingin yang menebal menyengat. Isak tangis seorang wanita muda terdengar menyembul dari balik ujung telpon. Ia baru menikah beberapa bulan yang lalu. Pastinya ia sangat bahagia. Suaminya, lelaki klimis yang selalu rapi tiap kali pergi bekerja, juga sangat mencintai dia. Apalagi semenjak mereka mempunyai anak. Seolah, dalam tiap laku dan larik nafas yang mereka buat, tiada yang bisa dibaca selain ungkapan rasa bahagia. Hujan semakin tercurah seiring tangis wanita muda itu yang semakin menderu. Tak ada suara terdengar dari ujung telpon satunya. Hanya tangis wanita muda itu yang senantiasa terdengar. Sambil sesekali diselingi beberapa potong ucap. Keheningan makin jauh menyeret malam. Udara semakin terbujur dalam kaku tak berujung. Dari balik ujung telpon, terdengar desah helai nafas memberat. Terdengar kemudian suara wanita muda itu, ’Abang, aku ingin bercerai.’ Tak ada balasan suara dari ujung telepon satunya. Hanya keheningan yang semakin menganga. Menenggelamkan malam itu dalam sebuah keterdiaman tak berujung.

Di bilik sebuah rumah sakit, suara lolongan mengaum membelah. Sedih yang sedari tadi mengintip, meletup dalam sebuah tangis membuncah. Kabar itu baru saja datang. Tentang anaknya yang tidak terselamatkan. Tentang ketakutan yang kini benar menjadi kenyataan. Perempuan muda itu menjerit. Mematung ia menatap pintu ruangan. Sementara di dalamnya, seorang suster baru saja menutupi tubuh sesosok bayi mungil.

Di tepian pantai di suatu sore. Seperti biasanya, sore itu langit kembali memerah. Matahari yang menua, bergerak pelan menyentuh bibir senja. Angin mengalun pelan. Meninggalkan kilau menyentuh pucuk-pucuk air yang beriak diam. Dingin yang makin mengental, membuat lelaki itu menaikkan kerah bajunya. Sudah sedari tadi lelaki itu berdiri mematung di sudut pantai. Matanya menerawang jauh. Menatap hamparan biru laut tak berujung. Sesekali ia menyeret langkahnya yang berat. Memungut benda-benda yang ia lihat bergerak mendekati bibir pantai. Hari ini adalah sore yang ke-25 lelaki itu mengakrabi senja yang menua seperti ini. Tapi, seperti sore-sore sebelumnya, ia tak kunjung jua bisa mengusir sesak yang meringkuk dalam jiwa. Matahari telah mencium senja, ketika sebuah dering telpon mengusik lamunan lelaki itu. ’Ada yang ketemu?’ ’Maaf mas, nihil.’ Terdengar suara telepon ditutup. Lelaki itu nampak tergesa memasukkan ponsel ke kantongnya. Dan mendadak ia berlari. Sebelum kemudian ia melolong dalam sebuah teriakan membahana. Dalam malam yang mulai merayap, lelaki itu menarik sesuatu dari dompetnya. Gambar seorang wanita cantik. Rambutnya sebahu. Dengan senyum manis mengembang menghias. Tangan lelaki itu bergerak menyusur. Menyentuh lembut bibir wanita dalam foto. Nampak tautan emosi mengenangi tatapan matanya yang merindu. Jari lelaki itu kemudian bergerak menyentuh larit nama yang tertulis di bawah wajah cantik itu: Prameswari. Sementara di atasnya, wanita cantik dalam balutan seragam pramugari itu tetap tersenyum. Begitu manis. Begitu cantik.

Dalam waktu yang semakin menua, kita tidak pernah tahu kapan semua akan berakhir. Ketika ciuman yang kita berikan pada kekasih, ternyata akan menjadi ciuman terakhir. Ketika lambaian tangan yang kita berikan, ternyata akan menjadi lambaian terakhir. Dan mungkin, kita tidak bisa memberesi tenda, mencuci piring, menggulung tikar, melepas tamu yang pamit pulang, dalam pesta kita sendiri.

Karena kita tiada pernah tahu, apakah ini pesta terakhir?

Wednesday, January 24, 2007

Siapa butuh agama?



Aku tidak mengenal Mr. O. Sumpah. Meski ia dikenal sebagai pencipta lagu, aku pun baru mengetahui wajah dan namanya baru 5 detik yang lalu. Ketika sebuah infotainment menayangkan wajah dan statementnya. Didampingi lelaki berjenggot dan bersurban, mbak narator bilang dia adalah seorang habib, Mr. O melakukan bantahan bahwa dirinya akan menikahi Sheila, wanita berkulit putih, berambut panjang, yang telah hamil 5 bulan.


Seperti aku bilang di atas, aku tidak kenal siapa itu Mr. O, juga si habib, apalagi si wanita Sheila. Aku hanya terpesona dengan ucapan dari si Mr. O itu. Di infotainment tersebut disebut bahwa Mr. O dan Sheila sudah hidup satu atap selama 1 tahun. Tanpa ikatan perkawinan. Dan kemudian Sheila hamil. Nah, dalam statement yang dikeluarkan, si Mr. O mengatakan bahwa dirinya urung menikahi Sheila (betul ya nikah, karena kalo kawin kan mungkin mereka sudah), karena dia dan Sheila mempunyai keyakinan yang berbeda. Mr. O beragama Islam dan Sheila bukan beragama Islam. Dengan mata menatap mantap, Mr. O dengan gagah berucap bahwa pernikahan beda agama tidak diperbolehkan dalam ajaran Islam. Si Habib pun kemudian nimbrung dengan berstatemen bahwa karena tidak diperbolehkan oleh agama, maka apabila mereka tetap menikah dan kemudian berhubungan badan maka dapat dikatakan mereka melakukan perzinaan. Meski hidup satu atap, si Mr. O ini juga meragukan bahwa bayi dalam perut Sheila adalah buah hasil karyanya. Lewat si habib, Mr. O ini menantang untuk melakukan tes DNA. Dahsyat gak.


Aku tidak dalam kapasitas memberikan penilaian benar tidaknya statemen dari si Mr. O dan si habib. Yang sedikit mengusik ketenangan jiwa ini adalah, lagi-lagi dan lagi-lagi, kita terbiasa untuk memetik penggalan ajaran agama demi kepentingan kita sendiri. Ajaran agama diperlakukan seperti onggokan pakaian dalam gantungan lemari. Ketika dibutuhkan sebagai pelindung, kita comot pakaian itu. Dan ketika kita tidak lagi membutuhkannya, kita buang pakaian itu entah kemana.


Okelah kita bersepakat bahwa perkawinan beda agama tidak dibenarkan dalam Islam. Tapi, hidup satu atap dengan wanita yang bukan muhrimnya apakah merupakan praktek yang dihalalkan dalam Islam? Menimbun benih dalam perut wanita yang bukan istrinya, apakah merupakan salah satu ajaran Islam?


Sekali lagi kita disuguhi tontonan gratis: ketika kepepet, agama dicatut untuk dijadikan pelindung. Dan ketika kenikmatan deras mengguyur, entah ditekuk kemana ajaran agama tersebut.


Sambil bersiap untuk mandi, aku hanya berucap: astagfirullah.

dream.work.die.



And that’s it. Selesailah sudah. Semuanya. Segalanya. Hanya menyisakan diri terpekur di depan monitor. Dengan segelas kopi kosong di sebelah kiri. Tak ada lagi cerita yang terbaca. Kepala ini sudah kosong. Tak menyisakan apa-apa. Hanya lorong panjang kegelapan. Semua sudah terberai. Hangus. Mencair meleleh. Terhisap masuk dalam jiwa, yang juga telah menghitam kelam.
Tak tersisa yang bisa dilakukan. Selain kelebatan kenangan. Potongan pengandaian. Dan jejak-jejak yang menyeringai menjauh. Tertawa lepas dalam busuk kemenangan. Tubuhku masih teronggok di sini. Jiwaku masih terpakar di sini. Hanya kepalaku yang masih bergerak. Merangkak pelan. Melambai. Menuju tungku penggosongan.
Entah sejak kapan ini bermula. Semua tiba-tiba meloncat keluar dari tempatnya. Rentetan rencana yang terjalin indah, terberai entah karena apa. Masing-masing dari mereka melesak keluar. Berlari entah kemana. Meninggalkan deret indah terukur rencana yang terbungkus rapi dalam jilid dokumen kerja. Benar waktu itu tangan ini melambai. Mengais mereka. Mencoba membawa mereka kembali pulang. Tapi, ternyata, semua sia-sia.
Hingga di sinilah aku sekarang. Teronggok sendirian. Dengan kepala yang mulai menggosong. Dan jiwa yang menggelapar dalam pegap kematian.

Tuesday, January 23, 2007

Untuk Cha..

Pagi yang indah.
Cahaya kuning menyusur pelan di antara hamparan tumpukan awan yang melambai.

Tapi, rupanya, selarit kesedihan sedang mengiris hatiku.
Kesedihan memang kerap melahirkan kesedihan.
Dan pagi ini, aku telah membuat seorang teman berlalu dalam hening kesedihan.

Cha, ...
Aku hanya mencoba melakukan yang terbaik.
Maaf bila itu justru melukai kamu.